Romance After Marriage

Romance After Marriage
3.0 | B : Let The Past Go


__ADS_3


Kyra -



Aku menghela napas. Mataku lagi-lagi terperangkap pada gerak-gerik pria di depanku. Sejenak aku memerhatikan Delvin yang sedang sibuk mengetik daftar nama tamu di laptopnya.


"Vin," Tiba-tiba saja aku memanggilnya, tanpa pikir panjang.


"Hm?" Tanpa berpaling, dia hanya berguman menanggapi panggilanku dan terus saja mengetik.


"Ines... Apa kabar?" Seketika itu pula dia langsung menghentikan gerak jarinya. Suara ketik dari keyboard laptop itu pun kontan berhenti total. Kemudian, sorot matanya yang tanpa ekspresi itu lantas menatapku. "Kalian benaran udah mengakhiri semuanya baik-baik, kan?"


Entah aku kerasukan hantu apa sampai berani sekali membuka luka lama. Rasanya otakku sedang bersumbu pendek! Tidak berpikir panjang sebelum bicara. Asal sambar! Kenyataan ini membuatku meringis. Hatiku ketar-ketir seketika. Takut kalau dia mendadak marah karena tersinggung!


Delvin diam saja. Dia pun memalingkan tatapan matanya ke arah lain.


"Kalau emang belum selesai... Cobalah kalian bertemu, dan selesaikan masalah tentang masa lalu kalian dengan baik." Saranku yang menjadi sok bijak dalam sekejap.


Delvin mengalihkan matanya lagi padaku. Dia menatapku serius dalam keterdiaman untuk beberapa saat. Membuatku mejadi agak risih karenanya. Bahkan aku sampai memalingkan mata beberapa kali demi menghindari tatapannya itu.


"Terus... Lo sendiri?" Balasnya. "Apa lo udah selesaikan perasaan lo buat Ezra?"


Aku terdiam seketika. Pertanyaan yang selama ini menghantui hatiku itu akhirnya terdengar jelas di telingaku sendiri!


Pernikahan kami akan terlaksana kurang dari dua minggu lagi dari hari ini. Namun aku masih tak yakin dengan perasaanku sendiri. Perasaan maju mundur menghantui. Kebimbangan dan dilema menyerang, mengoyak-oyak perasaan. Meski begitu aku tetapkan hatiku untuk tetap di jalan ini, bersama berusaha melupakan masa lalu. Namun pada kenyataannya, hati tidak dapat berubah semudah itu!


Payah! Makiku dalam hati.

__ADS_1


Padahal tadi aku sesumbar menyarankan hal bijak pada Delvin untuk menyelesaikan semuanya dengan Ines, tetapi aku sendiri malah tak berkaca!


Harusnya akulah yang menyelesaikan masalahku lebih dulu sebelum aku berani memberi saran untuk Delvin!


"Kenapa diam?" Delvin berkomentar, membuatku kalang kabut. Bingung harus menjawab apa!


"Oh, ternyata belum ya?" Dia mengangguk-angguk. Aku lantas mengernyit. Tak paham atas ekspresinya itu. Meski aku merasa kalau dia sedang menyindirku sekarang!


"Lo tahu sendiri kan, menyelesaikan masalah hati itu nggak bisa semudah itu! Semua ada proses, nggak bisa instan." Elakku.


"Tapi proses lo gimana?" Tanyanya lagi.


Aku mengernyit. "Maksudnya?"


"Apa mengarah ke arah melupakan atau tetap mengenang?"


Pertanyaan yang barusan itu sukses membuatku tergugu. Aku tertohok dengan kata-katanya. Astaga... Kenapa dia blak-blakan banget sih?!


Dia menatapku tak habis pikir. Lalu berdecak, "Kan, gue tanya lo lebih dulu. Jawab dulu kek, baru balik tanya!" Kesalnya.


"Ya, lo harus jawab dulu baru setelah itu gue jawab!" Tegasku yang tak mau kalah.


"Mana ada kayak gitu! Yang pertama tanya, ya yang pertama juga dapat jawaban. Mana ada dibalik gitu!" Dengusnya.


"Yaudah, kalau lo nggak mau jawab, ya gue pun nggak perlu jawab!" Balasku yang tetap tak mau kalah.


Delvin menatapku tajam dengan alis tebalnya yang bertaut rapat. Dan aku paham betul apa arti tatapan yang tak enak dilihat dan dirasakan itu. Namun, dengan cepat aku memalingkan wajahku darinya. Berusaha menghindar, berpura-pura tidak tahu dengan ekspresi wajah kesalnya itu terhadapku. Padahal aku sangat bisa merasakannya karena hawa panas akibat emosi sudah meliputi kami sekarang. Haha, bodo amat lah!


"Jawaban gue... Enggak." Tiba-tiba saja dia bersuara, membuatku mengernyit tak paham.

__ADS_1


Apa pula maksudnya?!


"Enggak ada proses lagi buat gue. Selama cerita selesai, maka permasalahan itu pun selesai. Nggak ada hal yang perlu diingat-ingat apalagi dikenang, karena emang udah terlupakan."


Mendadak, aku membisu saat mendengar kalimat dingin dari bibirnya itu dengan amat lancarnya terucap. Sungguh, aku tak habis pikir. Cowok di depanku ini sangat berhati salju rupanya! Dingin!!


"Udah puas kan, sama jawaban gue?" Dia mengangkat sebelah alisnya. "Sekarang giliran lo yang jawab!"


Aku meringis. Pertanyaan itu benaran nggak bisa dihindari ya??


"Lo mau jawaban jujur atau bohong?" Candaku yang masih berusaha berkelit darinya. Entah kenapa begitu berat untuk jujur mengatakan perasaanku yang masih tertinggal untuk Bang Ezra padanya. Ada perasaan sungkan yang mengganjal, membuatku jadi serba salah.


"Bohong aja." Jawabnya datar.


Jawabannya sungguh berada di luar ekspektasiku!


"Hah?!" Aku merasa kalau barusan aku sudah salah dengar.


Delvin menghela napas panjang. Dia lantas mengibaskan tangannya. "Udahlah, nggak usah dijawab kalau lo nggak mau jawab. Gue bisa menduga jawabannya apa."


Dia adalah definisi "sok tahu" yang sesungguhnya!!



Hai guys, makasih sudah setia menunggu. Mohon maaf karena kemarin libur lagi karena aku sakit, pusing banget sampe gak bisa liat layar hape. Alhamdulillah sekarang sudah membaik dan sudah sehat-sehat. Kalian juga jangan lupa jaga kesehatannya yaaa❤


^^^Salam Icha.^^^


...\=\=\=...

__ADS_1


...JANGAN LUPA VOTE, KOMEN & SHARE NYA YAA BIAR KUMAKIN SEMANGAT! TERIMAKASIIIIII~...


__ADS_2