
Kyra -
Malam ini akhirnya kami memutuskan untuk terus di rumah saja. Karena Delvin mendadak datang pagi tadi dan mengungkap berita mencengangkan, akhirnya keluargaku ini jadi sibuk sendiri dengan rencana mempercepat acara "Nujuh Bulan" kandungan Mbak Intan. Yang sebetulnya sudah direncanakan sejak bulan lalu yang hendak diadakan minggu depan, namun apa daya karena Delvin dan keluarganya pun dikabarkan berencana datang di saat yang sama. Tentu saja hal itu amat mustahil buat keluarga kami mengadakan dua acara dalam satu hari!
Akhirnya, rencana untuk menghabiskan waktu akhir pekan bersama keluarga di luar pun menjadi wacana belaka. Mau nggak mau kami semua harus mengalah untuk rencana yang lebih penting tentunya!
"Dek..."
Aku yang hendak menaiki tangga menuju kamar setelah usai menyantap makan malam pun langsung menoleh setelah kudengar suara Ayah memanggilku dari belakang. Ayah masih di sana. Masih duduk santai di atas kursi makan bersama Mas Kamil dan Mbak Intan yang sibuk suap-suapan tanpa ingat kondisi. Sementara Ibu baru saja pergi ke belakang dapur, entah untuk mengambil apa.
"Coba kamu minta konfirmasi Delvin lagi. Apakah keluarganya jadi ke rumah pekan depan atau malah pekan depannya lagi??"
Aku mengangguk. "Iya, habis ini aku tanyain. Aku ke kamar dulu, Ayah..." pamitku undur diri.
Aku lantas berbalik pergi dan kembali melanjutkan langkah setelah Ayah menyetujui dengan sebuah anggukkan.
Setibanya di dalam kamar, aku menghela napas panjang. Entah kenapa hari ini amat terasa lelahnya, meski aku nggak merasa sudah melakukan hal yang berat sekali pun. Entahlah, sepertinya pikiranku yang terkuras membuatku jadi gampang lelah begini.
Aku memilih duduk di atas ranjang selagi meraih ponselku yang memang aku geletakkan di atasnya. Sibuk menyentuh layar meski tanpa tujuan, akhirnya mataku kembali tertuju ke sana. Tepat ke arah pintu balkon yang masih tertutup rapat itu.
Aku baru ingat... kalau ternyata aku sudah cukup lama nggak membuka pintu itu. Yang padahal biasanya selalu kubuka hampir setiap hari. Ternyata, memilih meninggalkan satu hal turut berdampak pada hal yang lain juga yaa...
Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya aku putuskan untuk berjalan mendekat pintu itu. Bergerak dengan pasti, aku lantas membuka kunci itu perlahan. Menggeser pintunya hingga terbuka lebar. Hingga membuat gorden putih kamarku berkibar ditiup angin malam yang terasa sejuk kala menyentuh kulit.
Aku tersenyum selagi berjalan melawan angin yang menerjang berlawanan denganku. Berdiri di tepi balkon yang ditahan dengan pagar besi, aku menghirup udara malam dalam-dalam. Terasa sudah lama...
"Akhirnya lo buka juga pintu itu!"
Kontan, aku menoleh pada arah suara itu berasal. Tampak Delvin yang sedang balik memandangku dengan kedua tangan yang bersidekap di depan dadanya.
"Ada apa nih?" Aku mengernyit. Membuat tatapan curiga untuknya. "Jangan bilang lo nungguin gue?!" Tebakku asal yang sebetulnya kuniatkan untuk menggodanya semata.
Namun, reaksi yang kudapatkan malah amat berbanding terbalik dengan yang kuharapkan. Tak ada tanda wajah banyol yang biasanya mendominasi wajahnya kala menanggapi candaanku. Kali ini wajahnya datar saja. Malah cenderung malas atau malah... kesal(?)
Aku berpikir, dalam hati aku bertanya-tanya. Si Delvin kenapa lagi nih?
"Ya... kurang lebih." Jawabnya bernada serius.
__ADS_1
Sungguh, dia sangat berhasil mengontaminasi diriku dengan aura seriusnya itu. Membuat sisa-sisa humorku lenyap begitu saja.
"Kenapa?" Aku hanya ingin tahu alasannya. Pasti dia punya alasan yang tepat kenapa bersikap seserius ini. "Ada apa lo nungguin gue? Eh, tapi kalau lo nungguin... kenapa lo nggak telpon aja atau chat gue kek?! Kan, tahu gitu, gue bisa keluar lebih cepat kan? Daripada lo nungguin tanpa kepastian lebih lama lagi. Andai gue nggak kebetulan buka balkon gimana? Pasti bakal jadi sia-sia aja lo nungguin gue di sini,"
Tanpa sadar aku malah berkomentar panjang lebar. Sementara dia tersenyum tipis dan hanya mendengarkanku berbicara. Aku tertegun sesaat melihat gelagatnya yang terlihat aneh di mataku. Delvin jarang sekali bersikap tenang apabila berhadapan denganku. Dia yang biasanya pasti rusuh, selalu menyebalkan, dengan sedikit kondusif. Tapi malam ini... lihat lah dirinya yang tampak kalem seperti itu!
Gelagatnya yang nggak biasa ini sungguh membuatku menaruh curiga padanya. Apa jangan-jangan dia menyesal sudah membuat keputusan menemui Ayah dan keluargaku tadi?!!
"Ayah... gimana? Apa komentarnya tentang gue? Terus Mas Kamil gimana?"
Aku mengernyit, dia telah mengubah pembicaraan kami dengan nggak menjawab apa yang kutanyakan sebelumnya dan malah membuka pertanyaan baru untukku. Aku tahu itu, tapi entah kenapa aku malah memutuskan untuk membiarkannya.
"Ayah nggak banyak komentar. Tapi Ayah suruh gue tanya ke elo... untuk minta kepastian, apa keluarga lo datang minggu depan atau malah minggu depannya lagi?" Jawabku jujur padanya. "Kalau Mas Kamil... awalnya dia masih nggak percaya kalau kita mutusin nikah tanpa pacaran sebelumnya. Tapi malam ini, dia anteng-anteng aja. Kayaknya dia udah mulai percaya," lanjutku lagi.
Delvin tersenyum. Kali ini lebih lebar daripada sebelumnya yang hanya setipis kertas saja. "Berarti, bisa dibilang, sejauh ini responnya positif lah ya..."
"Ya, mungkin, bisa dibilang begitu." Kataku sambil angkat bahu.
"Baguslah..." desahnya sembari menghela napas yang terdengar seperti syarat kelegaan di telingaku.
Apa sebegitu leganya dia mendengar kabar itu? Aku ikut tersenyum. Mungkin, sekarang aku tahu apa penyebab wajah muramnya tadi. Ya, dia pasti tegang takut dinilai negatif oleh keluargaku. Haha Delvin... aku nggak nyangka dia bisa begitu!
"Heh, Vin! Omong-omong... akting lo tadi pagi oke juga!" Seruku berniat memujinya.
Aku berdecak, jengah. "Ih, masa baru tadi aja lo udah lupa sih?!" Dengusku sebal. "Yang soal lo ngeyakinin Ayah dan Mas Kamil sampai mereka ngggak bisa berkata-kata lagi, itu loh..."
"Oh, itu..."
Aku mengangguk antusias. "Iya, yang itu! Seriusan deh, gue sampai salut lo bisa ngucapin semeyakinkan itu sampai semua orang bengong. Bahkan, gue aja sempet bengong lihatnya!"
Delvin menyeringai. "Ya, jelas lah! Gue gitu..." nadanya mulai menyombongkan diri. "Nggak salah kan, kalau selama ini gue sering ditawarin jadi aktor!"
Aku mencebik. Sebenarnya agak malas mengakuinya. Namun apa daya, dari awal aku sudah berniat untuk memujinya. Jadi, biar lah sekali ini aku berikan pujian buatnya. "Dasar sombong!"
"Eh, tapi bener nggak? Gue berbakat, kan?? Iya, kan?!"
"Iya, iyaa... duh, bawel banget, sih, lo!" Balasku, mendesah panjang. Sementara dia berdecih menanggapiku.
"Heh, Vin, kenapa lo nggak jadi aktor aja? Kan, lo jago akting!" Tiba-tiba aku ingin menanyakan hal ini padanya.
"Nggak, ah." Balasnya singkat.
__ADS_1
Aku mengernyit. "Kenapa??"
"Karena, aktor dan aktris itu nggak punya privasi. Hidupnya selalu diurusi banyak orang. Hiii... bayanginnya aja udah ngeri! Ogah banget lah, gue, pokoknya!" Jawabnya sembari bergidik ngeri sendiri.
"Hmm... begitu, yaa..." aku mengangguk-angguk, mencoba memahami perasaan yang dia katakan. Meski sebetulnya, tetap saja nggak bisa aku pahami. Karena menurutku menjadi artis itu juga menyenangkan. Contohnya? Kalau syuting di luar negeri jadi bisa jalan-jalan gratis! Hehe.
"Hei, Ra,"
"Eung?" Aku kembali menoleh kepadanya. Kini, dia tengah menatapku intens dengan matanya tampak lembut dari biasanya. Ah, atau hanya perasaanku saja...
"Gue mau kasih tahu satu hal,"
"Tentang?" Aku mulai penasaran.
"Mungkin hal ini bisa bikin lo sedikit bahagia."
Mataku membulat antusias. "Apa sih, lo jangan bikin gue penasaran gitu dong!"
Nyaris saja aku pukul lengannya itu karena dia nggak kunjung bicara! Sebetulnya dia ingin mengatakan apa? Kenapa seperti sangat susah dibicarakan olehnya??
"Heh! Lo mau kasih tahu apaaa?? Gue nungguin nih!" Lama-lama aku kesal juga padanya.
"Ra," dia malah memanggilku.
Aku mendesah panjang. "Hmm."
"Gimana kalau berita tentang Ezra itu cuman gosip?"
Delvin menanyakan hal yang nggak semestinya. Mengungkit Bang Ezra pada pembicaraan kami. Hal yang paling aku hindari!
_____________________
Halo guys, apa kabaree??
Alhamdulillah, urusan kontrak udah kelar sekarang saatnya fokus nulis. Doakan semoga aku konsisten update di sini yaaa~ hehehe
Eiya, soal janji yg kemarin batal yaa guys berhubung jumlah komentarnya tydac melebihi ekspektasi, jadine aku update sesuai komit di awal yaa.
TAPII...TAPI....
__ADS_1
Kalau komen di sini bisa melebih 50 komentar dari kalian, seloww... aku bakal update 2x sehari buat next days. Only next days yaa... makanee kalo mau aku update yang buanyaaakkk komentar lah sebanyak-banyakknyaaa HOHOHO :P