
Kyra -
Setelah Delvin pamit undur diri dari rumah ini, semua orang yang berkerumun di ambang pintu ini pun membubarkan diri untuk kembali pada posisinya masing-masing. Begitu pula Mbak Intan yang langsung menggamit tangan kananku atau lebih tepatnya menarikku paksa untuk dibawanya ke sebuah tempat yang entah di mana, tepat setelah membisikkan, "Ayo, ikut, Mbak!" di telingaku.
Aku mengerut kening. Bingung atas sikap Mbak Intan yang sekarang sedang melangkah terburu-buru itu. Padahal sekarang kondisinya sudah hamil besar, bisa-bisanya dia berjalan dengan rusuh begitu!
"Mbak, jalannya pelan-pelan dong! Nggak inget ya, kalau lagi hamil tua?" Ujarku memperingatinya segera. Bukannya apa-apa, aku hanya takut terjadi yang nggak-nggak selama dia berjalan grusak-grusuk begitu!
Nggak digubris! Dia tetap pada langkahnya yang terburu-buru, lebih fokus pada tujuannya membawaku. Astaga...
Aku terdiam. Memilih untuk mengikutinya aja meski pun aku nggak tahu Kakak Iparku ini mau membawaku ke mana. Namun, dari arah tujuannya sekarang aku yakin kalau dia hendak membawaku ke arah teras belakang yang di mana terdapat kolam ikan kecil di sana. Yang biasanya digunakan kala keluarga kami ingin mengobrol santai sembari minum teh panas-panas tanpa suara berisik televisi. Hm... sepertinya aku rindu bagian itu!
Benar saja dugaanku, Mbak Intan memang benar membawaku ke teras belakang rumah kami. Dia menyuruhku duduk di atas kursi ayun besar yang bisa muat dua orang itu. Spot yang memang paling aku sukai untukku membaca novel selain di teras balkon depan kamarku tentunya.
Sesaat kemudian, Mbak Intan lantas menyusulku untuk duduk di ayunan ini bersamaku. Kami duduk bersebelahan diiringi suara gemiricik air dari kolam ikan kecil di bawah kaki kami.
Aku menghela napas sebelum akhirnya aku bertanya, "Ada apa sih, Mbak? Apa yang mau Mbak Intan bicarain sama aku?? Aku mengangkat alisku ke atas, menunggu dia menjawab.
Mbak Intan menatapku intens, bahkan dia sampai memeganggi kedua pundakku agar aku juga ikut menatap matanya. "Coba kasih tahu Mbak, yang sejujurnya!" Ujarnya yang terdengar seperti seruan di telingaku.
Aku lantas mengangguk dua kali, tanda setuju meski aku juga nggak tahu apa yang sedang dia cari tahu dariku.
"Sejak kapan kamu pacaran sama Delvin??"
Sontak, aku mengangkat alisku tinggi-tinggi. "Kita nggak pacaran, kok!"
Padahal hal ini sudah jadi bahasan hangat selama Delvin bertamu tadi. Tapi sekarang lagi-lagi aku mendapat pertanyaan yang sama. Yah, Mbak Intan memang nggak percaya pada elakkanku tadi. Apalagi Delvin nggak membantu sama sekali, dia malah membahas hal lain alih-alih mendukung pernyataanku! Huh...
__ADS_1
Mbak Intan makin mengeratkan cengkraman tangannya pada kedua bahuku hingga membuatku jadi sedikit meringis. "Ayo, jawab dengan jujur, Kyraa!!"
Aku mendengus. "Aku udah jelasin itu daritadi. Kami nggak pernah pacaran! Kenapa sih, Mbak nggak percaya?!" Balasku dengan nada kesal meski rasanya emosi itu sudah berusaha aku tahan-tahan, namun ternyata masih keluar juga. Ck!
"Jelas nggak percaya, karena kalian kelihatan kayak punya hubungan khusus dari lama!"
Suara berat khas yang amat kuhapal milik siapa itu membuatku menoleh. Mas Kamil akhirnya mengeluarkan dirinya dari balik pintu kaca berlapis gorden grey ash itu.
Aku mengernyit. Apaan nih? Jadi dia sengaja nguping di situ?!
Mas Kamil berjalan mendekat sembari kedua tangannya yang dia lipat di depan dada. Matanya menyipit ke arahku. Dari sini kutahu, rasa curiganya memang belum sirna meski beberapa saat lalu aku sudah memberi pernyataan yang berisi kejujuran yang amat dalam. Kecurigaan itu membuatku menghela napas lelah.
"Ayo jawab yang jujur, Kyra! Kalian pasti punya hubungan khusus, kan?!" Cecar Mas Kami tanpa jengah.
Sepertinya, meski aku mengelak berkali-kali pun, meneguhkan pernyataan yang aku buat sejak awal mereka pasti tetap nggak akan percaya. Karena mereka yang sudah keras kepala ini nggak akan mau mendengar kecuali aku memberikan jawaban yang memang ingin mereka dengar. Intinya, menjelaskan sekeras apapun aku berusaha mereka tetap saja nggak akan percaya apa yang kukatakan!
"Dibilang, nggak! Ya, enggak!" Aku mencoba mengelak sekali lagi. Siapa tahu kepalanya itu nggak sekeras seperti yang kukira sebelumnya.
Mas Kamil mendelikkan matanya. "Jawab yang jujur, Kyra!"
Aku menghela napas panjang. Lelah. "Iyaa... iyaaa! Kita emang punya hubungan khusus,"
"TUH, KAN!!" Suara Mas Kamil sontak menggema hebat. Aku bahkan nyaris tersentak akibt mendengarnya. Memang seheboh itu dia tuh...
"Kamu dengar kan, sayang, mereka punya hubungan!" Serunya bernada semangat memberitahu istrinya yang masih duduk anteng di sebelahku.
"Jadi sejak kapan? Sejak kapan kalian punya hubungan khusus itu?" Dagunya terangkat naik ke atas seolah ikut menunjuk-nunjukku.
"Sejak... SD!"
"Hah?!" Dahinya kontan mengernyit dalam.
__ADS_1
"Sejak kita pindah ke rumah ini!" Jawabku, yang lantas membuatnya makin bengong. "Mas Kamil nggak tau, kan... sejak kita ketemu pertama kali, kita tuh langsung punya hubungan khusus!"
Aku tersenyum tipis. Kerutan dahinya yang makin dalam itu membuatku paham kalau dirinya pasti sedang berpikir keras. Lagian, siapa suruh nggak percayaan sama Adiknya sendiri?! Huhh!!
Aku langsung membuang napas keras sembari menegakkan tubuhku, berdiri dari dudukku tadi. Aku memandang kedua kakakku itu bergantian. "Sudah dijawab yaa... berarti introgasi sudah selesai!" Putusku sepihak. "Kalau gitu... adik kecil ini pamit undur diri dulu. Permisi!"
Maka, pada detik itu juga aku berjalan pergi. Nggak ada suara yang mencegahku lagi. Aku yakin, Mas Kamil masih berpikir keras meresapi pengakuanku tadi. Sementara Mbak Intan...
"Kyra itu udah jujur sama kita. Dia dan Delvin emang nggak punya hubungab khusus selain pertemanan mereka. Si Kyra pasti kesal banget karena kita nggak percaya sama omongannya..." suara Mbak Intan terdengar pelan di telingaku, namun aku masih bisa mendengar dengan amat jelas pada tiap katanya.
Aku tersenyum tipis. Tetap melanjutkan langkahku ke depan tanpa terpengaruh suara-suara di belakang yang sedang beradu argumen. Ya, kupikir...
____________________
Halo guys!
Mohon maaf atas keterlambatan postnya yaa. Aku masih berusaha buat bisa konsisten update 1× sehari, lebih bersyukur lagi kalau bisa 3× sehari kayak minum obat. Tapi apa daya, free time ku gak banyak makane konsist nulis 1× sehari aku udah bersyukurrrr bangeeett! Hehehe..
Terimakasih yaa sudah mau ikutin cerita ini sampai di sini😊
Ada pertanyaan buat kalian niy, DIJAWAB YAAA!
...•••...
...**Q:...
...Sampai sejauh ini, kesan kamu membaca cerita Delvin, Kyra, Ezra dan Ines apa nih**??...
...•••...
__ADS_1
NP:
Kalau komen jawaban ini nembus 50 lebih, aku bakal kasih bonus post harian. Jadi sehari update 2× tapi kalo kurang dari jumlah yg ditentukan, perjanjian ini tidak berlaku yaaa :p