
SURAT PERJANJIAN
///
PERATURAN : ROMANSA SETELAH NIKAH
Para pihak yang bertanda tangan di bawah ini;
• SHAKYRA sebagai PIHAK PERTAMA
• DELVIN sebagai PIHAK KEDUA
Pada hari ini, Rabu tanggal 03 Juni 20XX, PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA telah sepakat mengadakan perjanjian pra-nikah dengan ketentuan dan syarat-syarat yang diatur dalam 5 pasal berikut:
1. TINGGAL DI RUMAH SENDIRI, BERPISAH DENGAN ORANG TUA
2. KAMAR TIDUR TERPISAH
3. TIDAK ADA KONTAK FISIK BERLEBIHAN
4. PEKERJAAN RUMAH TIDAK BOLEH MEMBERATKAN SEBELAH PIHAK
5. MENYIMPAN RAPAT SEMUA RAHASIA RUMAH TANGGA DI DEPAN PUBLIK TAK KECUALI KELUARGA
**peraturan tersebut berlaku selama belum tumbuhnya cinta dari kedua belah pihak
***peraturan dapat berubah/dihapus/dimusnahkan sewaktu-waktu bila sudah tumbuh cinta
Tertada kami,
Pihak Pertama & Kedua.
_______________________________________
- Delvin -
__ADS_1
Mataku bahkan sampai melotot lebar saat membaca peraturan nggak masuk akal yang tertera di atas selembar ketas A4 ini. Benar-benar nggak habis pikir dengan akal sehatnya yang kurasa hilang kala dia mengetiknya!
Aku mendengus. Membaca sekali lagi poin kedua dan ketiga membuatku menggeleng-geleng dan berdecak keras. Pandanganku pun seketika teralihkan pada dia yang masih setia menungguku selesai membaca meski sudah berkali-kali kuulangi sejak pertama kali dia memberikannya padaku. Wajahnya yang menunggu saat ini seolah sedang berharap-harap cemas persis seperti saat dia menunggu giliran sidang skripsinya waktu lalu.
Aku menatapnya lurus-lurus, bersiap menyeprotnya kalau perlu biar dia segera sadar kalau yang ditulisnya di kertas ini amat sangat nggak masuk akal!
Kyra mengangkat alisnya, menungguku mulai bicara. Membuatku mendengus keras, lalu memutar bola mata.
"Lo... pas nulis peraturan ini udah nggak tidur berapa hari? Kok otak lo nggak ada di tempat sih?!" Aku tahu, kata-kata ini sadis. Tapi apa daya mulutku kadang memang suka nggak bisa direm kalau berucap sesuatu. Apa yang kupikirkan maka itu lah yang akan kuucapkan, termasuk kalimat barusan!
Kontan, Kyra menatapku tajam. Mata sinisnya langsung menyorotku seolah dia ingin mencabik dan merobek mulutku oleh tatapannya itu, saat ini juga.
"Gue gila, gitu, maksud lo?!" Tanyanya nggak terima.
"Ya, emang kan?!" Daguku terangkat, menentangnya. "Coba aja nih, liat!" Aku lantas menunjukkan isi kertas itu lagi ke hadapannya.
Masih di tempat dan hari yang sama seperti janji kami tiga hari lalu, kami membahas syarat yang diajukannya untuk pernikahan ini. Bedanya, kini kami nggak lagi duduk di lantai seperti halnya beberapa saat lalu, melainkan kami saling berdiri agar bisa menatap satu sama lain dengan lebih leluasa tanpa ada jeruji pagar pembatas yang membatasi pandangan kami seperti sebelumnya.
"Coba tolong dibaca baik-baik kalimat yang lo tulis itu!" Seruku, menghentakkan tangan ke depan membuat wajahnya sedikit menjauh karena kertas yang sedang kupegang ini nyaris menabrak hidungnya.
Astagaaaa!!
Aku mendengus keras. Membaca ulang isi kertas itu setelah kutarik lenganku kembali dari depan wajahnya. "Poin pertama, oke! Nggak masalah, gue juga nggak mau tinggal bareng ortu abis nikah." Jelasku mencoba tenang. "Tapi poin kedua?!" Lagi, emosiku kembali menggelegak. Aku nggak bisa santai buat nggak melotot padanya saat membicarakan ini!
"Kamar tidur kepisah itu apa-apaan? Mana ada pasangan abis nikah langsung pisah kamar, woi?!!" Emosiku sukses terbakar sekarang.
"Ada lah! Kita nih, buktinya." Balasnya santai sambil tersenyum. Suwek! Si Kira-kira ini emang nyebelin abis!
Aku menghela napas panjang, mencoba bersabar, meski sudah agak lelah menghadapinya yang saat ini tampak sangat menyebalkan di mataku.
"Hei, Ra, gue ini, nikahin lo bukan buat pura-pura atau main-main aja. Niat gue ini serius. Jadi tolong lah, agak logis sedikit aja gitu kalau bikin syarat. Jangan aneh-aneh kayak gini! Pernikahan itu bukan buat main-main, jadi jangan sembarangan kayak gitu!" Cerocosku panjang lebar.
Di masa depan kelak, aku akan menjadi imam maka nggak ada salahnya kalau mulai dari sekarang aja aku berlatih. Berusaha tegas mengambil sikap tuk nggak ragu mengingatkan bila dia salah jalan seperti halnya sekarang.
Kini, ganti dia yang menghela napas panjang. Yang lantas membuatku menatapnya dengan kernyitan di kening. Pasalnya, yang harusnya lelah itu aku, kan, bukannya dia?!
__ADS_1
"Siapa juga sih, yang mau mempermainkan pernikahan?!" Katanya, menyanggah.
"Terus, kalau bukan??" Tanyaku balik dengan alis mata yang terangkat sebelah.
"Gue bikin syarat dan peraturan itu karena gue nggak mau menodai pernikahan yang suci itu dengan penyesalan besar!" Jelasnya, dalam. Membuatku terdiam seketika.
"Gue itu maunya... pernikahan kita nantinya bisa harmonis seperti pernikahan orang lain yang udah dibumbui cinta. Meski pernikahan kita bukan pernikahan berdasar cinta, tapi gue pun nggak mau nantinya berperan jadi istri lo akibat terpaksa status. Karena gue mau melakukannya dengan tulus..."
Matanya yang menatapku tersirat ketulusan yang untuh hingga membuatku nggak mampu berkedip kala membalas tatapannya itu. Mendadak hatiku terenyuh dengan tatapan juga kalimatnya barusan.
Menjadi istri yang tulus... Aku bahkan nggak pernah terpikirkan sampai ke sana. Benar, Kyra itu punya pemikiran yang luas. Tentu aja dia bisa berpikir sampai jauh ke sana.
"Ekhem!" Aku berdeham, mencoba mencairkan suasana yang sempat membeku tetiba. "Oke kalau itu emang tujuan awal lo buat syarat kayak gini. Fine, gue setuju. Tapi..." aku menahan kalimatku dengan dengusan. Lalu, kutatap wajahnya itu lagi. "...ini agak berlebihan nggak sih?!"
"Yang mana yang berlebihan??" Tanyanya balik padaku.
"Tidur di kamar terpisah, terus nggak boleh ada kontak fisik?? Emangnya itu masuk akal?!!" Aku menaikkan alisku ke atas tinggi-tinggi.
Kyra mengangguk tanpa ragu, menyanggah mentah-mentah pendapatku barusan. "Menurut gue itu masuk akal banget!"
"Coba jelasin ke gue kenapa bisa kedua hal itu masuk akal?!" Aku mencoba memahami pola pikirnya, tapi tetap aja aku nggak bisa. "Soalnya gini, Ra, lo mau kita saling menumbuhkan perasaan masing-masing, kan? Tapi, gimana coba caranya buat numbuhin perasaan itu kalau belum apa-apa jalan untuk ke sananya aja udah ditutup rapat?! Bukannya hal itu malah bikin perasaan kita nggak bisa berkembang dan nantinya jadi stuck di tempat??"
Kyra terdiam. Dengan tatapannya yang serius itu dia memandangku. Aku tahu, bahasan ini bukan perkara main-main. Makanya, aku mencoba untuk bisa mengerti dan memahami dari sudut pandangnya. Karena Kyra adalah tipikal perempuan romantis pendamba cinta. Tentunya, bagaimana pun, perasaan adalah hal yang terpenting baginya.
Dan hal itu sungguh nggak bisa diganggu gugat oleh siapa pun!
Termasuk aku yang sampai saat ini masih berusaha keras menggoyahkannya...
____________________
p.s:
JANGAN LUPA KOMEN & VOTE YANG BANYAK YHAAA~
__ADS_1
Oiya, ada yang inget nama lengkapnya Kira-kira nggak? Kalau banyak yang inget, ku apdet dua kali deh buat besok 😆🤪