
Ines -
"A-ada hal lain yang mau kamu omongin ya? Te-tentang apa??" Karena gusarnya hatiku tanpa sadar membuat cara bicaraku ini menjadi tergagap. Seulas senyum dengan susah payah aku kembangkan di bibir ini. Kuberanikan diriku untuk menatap matanya meski mungkin kemudian dia akan menyadari kerisauan hati yang sudah tercetak amat jelas di sana.
"Nes,"
Mendengarnya memanggil namaku sayup, membuat gemuruh di hatiku makin tak tertahankan. Aku kacau! Namun aku tetap ingin mencoba bertahan dan tak ingin menunjukkan kerapuhanku kepadanya.
Hatiku meracau kacau. Terus merapalkan kalimat yang sama berulang kali. "Aku mohon Delvin... Tolong patahkan firasat burukku, kita akan terus bersama-sama kan?!"
Aku menghela napas gusar. Pupil mataku makin membesar seiring tingkat risaunya hatiku yang makin bertambah. Sementara dirinya masih menatapku dengan tatapan dalamnya, tanpa sepatah kata pun. Hal yang sangat tak biasa, dan itu membuatku ketakutan yang teramat sangat!
"Sebetulnya niat gue hari ini..."
Bahkan kini sebutan untuk dirinya sendiri terhadapku telah berubah drastis. Dia telah mengempaskan dirinya jauh amat jauh dari diriku...
"...ada beberapa hal yang ingin gue sampaikan untuk kejelasan hubungan kita, yang mungkin setelah kejadian kemarin gak ada kepastian yang berarti,"
__ADS_1
Lidahku kelu. Aku hanya mampu terdiam mendengarkan selagi menatapnya dengan hati yang terus terluka.
"Di sini, sekarang, gue ingin memperjelas posisi kita masing-masing." Tandasnya dingin. "Gue tau, mungkin waktu delapan tahun itu bukan waktu yang sebentar, bahkan gue sendiri pun gak pernah membayangkan akan berakhir kayak gini sebelumnya... Tapi mungkin emang kita aja yang gak berjodoh. Sekarang, buat kita berdua, mungkin bukan lagi jadi pasangan, tapi kita masih bisa ber-"
"Berteman?" Tukasku, merebut kata terakhir yang hendak ia ucapkan. "Apa menurut kamu itu mungkin? Mantan pacar yang hampir menikah dan gak jadi, lalu berteman??" Aku mendengus, lalu menggeleng lemah. "Nggak akan ada hal lucu kayak gitu di dunia ini apalagi salah satu di antaranya sudah merasa tersakiti!"
"Hey, hey, tunggu dulu!" Seketika Delvin menyela. "Siapa yang udah merasa tersakiti di sini? Bahkan bukan gue yang mutusin duluan, kan," Kilahnya. Aku paham dia pasti tak akan terima dengan ucapanku barusan. Karena memang aku yang memulai jarak ini, aku tahu, aku akui itu.
"Aku sadar itu aku. Tapi kamu tau persis kan, alasan aku minta kita break itu karena apa?!" Aku menatapnya sungguh-sungguh dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Kalau bukan karena perjodohan konyol itu aku juga gak akan mau break sama kamu, Vin," Kuluapkan keluh kesah yang selama ini hanya bersarang dalam benak hatiku, agar dia tahu kebenaran yang ada di hatiku tanpa terkecuali. "Tapi kenapa ketika masalah itu udah berhasil aku selesaikan dengan baik, kamu malah terus menjauh dari aku, sambil menutup mata dan telinga kamu seolah kamu gak tau apa arti break itu sebenarnya!"
"Tapi coba kita ingat lagi, gue bisa tau alasan itu dari siapa? Apa langsung dari bibir lo sendiri atau malah dari orang lain?" Delvin tertawa sinis. "Bahkan lo gak bisa percaya sama pasangan lo dan lebih memilih bikin keputusan sepihak, yang mungkin lo gak pernah kepikiran kalau itu bisa menyakiti hati gue sebagai pasangan lo waktu itu??"
Dia mendengus. "Hubungan yang baik itu dibangun berdasarkan kepercayaan. Cukup dengan rasa saling percaya biar pasangan yang membina komitmen itu bisa tetap saling bersandar, saling menguatkan..." Wajahnya berubah mengeras, sekilas dia membuang wajahnya dariku sebelum akhirnya kembali menatapku dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Kalau pondasinya aja udah gak ada? Gimana caranya kita bisa lanjutin hubungan yang gak punya rasa saling percaya kayak gitu?!"
"Mengorbankan diri sendirian bukan konsep hubungan yang gue mau. Apa lo masih gak tau bahkan setelah delapan tahun hubungan kita??" Tanyanya yang lantas membuatku terdiam.
"Bukannya lo tau persis gimana kondisi keluarga gue yang udah gak utuh lagi?!"
Lagi-lagi aku hanya mampu terdiam. Ketidakpekaanku selama ini ternyata malah menjadi boomerang yang besar untuk diriku sendiri.
"Gue ini gak pernah mau kejadian nahas yang sama dari orang tua gue terulang lagi pada gue dan pasangan gue nantinya," Delvin menghela napas, berat. "Makanya gue selalu berhati-hati dengan hubungan kita, dulu."
__ADS_1
Aku tertusuk oleh kalimatnya. Kata "dulu" itu terdengar amat tajam oleh indra pendengarku.
"Dulu kita emang sering putus nyambung, dan gue gak pernah masalah meski selalu lo yang minta putus duluan dan selalu gue yang lagi-lagi minta kita balik lagi. Tapi untuk yang terakhir kali kemarin itu sangat fatal, dan akhirnya membuat gue berpikir kalau kita emang gak jodoh."
Aku membuang mukaku darinya. Lagi-lagi air mataku jatuh yang kali ini diikuti oleh rasa penyesalan atas yang dia ucapkan meski aku tahu itu sudah terlambat, tak ada artinya lagi sekarang.
"Meski gitu, gue tetap ucapkan makasih banyak buat lo, Nes, karena lo udah bersedia ikut meramaikan hidup gue yang hampa." Kali ini dia tersenyum. Senyuman yang tulus namun begitu perih saat aku melihatnya.
Aku melipat bibirku, membuat agar mereka tidak bergetar karena tangisku yang deraiannya makin lebat terasa. Aku mencoba menghapus jejak air mata di pipi dengan tisu berulang kali, takut orang lain di tempat ini menyadari dan melihat kesedihanku.
"Selain itu, gue juga mau kasih ini,"
Tanpa diduga tiba-tiba dia menyodorkan sebuah kertas lipat yang berlapiskan plastik bening kepadaku.
Mataku yang masih berkaca-kaca lantas menyipit, mencoba menelaah tulisan yang tertera di atasnya. Rasa penasaran yang menyelimuti membuatku tanpa sadar langsung menerimanya.
Dalam seketika mataku terbelalak. Menyadari kalau kertas itu bukanlah kertas lipat biasa melainkan sebuah kertas undangan pernikahan!
Benar-benar undangan pernikahan! Dan, aku tak percaya dengan yang dilihat oleh mata kepalaku sendiri.
Tanganku bahkan sampai bergetar pun hatiku bergemuruh hebat kala membaca tulisan dengan goresan tinta emas itu. Karena di sana lah tertulis sepasang nama yang amat tak asing untukku; Delvin & Kyra.
__ADS_1
Aku tergugu. Hatiku panas. Rasanya seperti terbakar dengan api yang amat hebatnya. Membuatku tak tertahankan.
"Delvin dan Kyra?" Suaraku tercekat. Jantungku berdetak makin keras saat kusadari siapa pemilik kedua nama itu. Dialah seseorang yang saat ini sedang duduk tepat di hadapanku, dan tentu saja aku mengenal dengan baik siapa pemilik nama itu, Shakyra, gadis yang selalu dia klaim sebagai temannya sejak dulu dan yang selalu aku sangkal.