
Ezra -
Aku menatap Delvin dengan mata melotot. Reflek yang sangat tak bisa aku hindarkan. Sungguh, kali ini aku tidak bisa berakting! Bahkan sekadar menyembunyikan perasaan di raut wajah ini pun aku tak mampu. "Kyra dan Delvin?"
Alis mataku terangkat tinggi saat Delvin tak kunjung membuka mulutnya atas pertanyaanku. Aku pun mendengus, "Please, kalau lo lagi bercanda, ini sama sekali gak lucu, Vin!"
Aku menghela napas singkat dan kembali melanjutkan ucapanku. Bahkan dadaku pun terasa panas karena emosi. Bercandaan Delvin kali ini memang sangat di luar batas wajar!!!
"Gue tau lo emang suka bercanda, tapi nggak begini caranya. Kalau lo makin keterlaluan kayak gini lo-"
"Emang siapa yang lo pikir lagi bercanda?" Sela Delvin yang seketika membuat bibirku terkatup rapat.
Aku lantas menatapnya datar, "Ha?"
"Mungkin itu harapan lo kalau gue bercanda soal ini. Tapi maaf, yang ini bukan candaan."
Bagai mendengar suara petir di siang bolong yang amat keras. Entah ini hanya perasaanku saja, aku merasa kalau telingaku pun jadi berdengung hebat sekarang. Aku bahkan sampai meringis menahannya.
__ADS_1
"Ja-jadi... Kalian... Ini beneran?" Tanyaku sekali lagi, terbata. Sungguh aku tak bisa mempercayainya, namun dengan cepat Delvin mengangguk. Yang bahkan saat aku mencari sorot kebohongan dari tatapan matanya itu pun nihil. Aku tidak menemukannya selain tatapan yang mengartikan kesungguhan di sana.
Aku terdiam sesaat. Tiba-tiba yang kupikirkan adalah wajah Kyra yang selalu marah karena ulah Delvin. "Kyra mau dengan suka rela? Atau... Lo yang paksa dia?"
Delvin mendengus sinis, "Mana mungkin gue bisa paksa dia buat nikahin gue?! Ini nikah loh, di mana hidupnya akan dipertaruhkan, bukan sekadar jalan ke Mall."
Aku tersenyum simpul. Kyra memang bukan tipe gadis yang asal mau kalau dipaksa. Dia memang gadis berpendirian teguh yang pernah kukenal, aku pun sangat tahu itu.
Mataku akhirnya membaca undangan pernikahan itu dengan seksama. Acaranya masih dua minggu lagi dari hari ini. Tempat acara juga sudah tertera dengan jelas di sana, nama masing-masing keluarga besar... Juga nama lengkap orang tua. Semua hal itu pastinya sudah mewakili kebenaran dan tentu saja nggak ada hak lagi untukku meragukannya.
"Kalau gitu, congrats!" Aku tetap tersenyum meski hati kecilku menolak. Mengatakan kata selamat yang sebetulnya membuat hatiku teriris. Aku telah terluka atas undangan pernikahan ini, itu fakta!
"Tapi sebetulnya yang harusnya kasih undangan ini ke elo itu adalah Kyra." Ujar Delvin kemudian yang langsung membuat alis mataku naik seketika.
"Terus kenapa jadi elo yang kasih ini ke gue, Vin??" Tanyaku nggak habis pikir dengan pengakuannya barusan. Bisa-bisanya dia mengatakan hal demikian seenteng itu! Bukankah itu artinya sama saja dia menyela hak Kyra untuk memberika undangan ini kepadaku.
Setidaknya, jika itu Kyra yang memberikannya padaku. Aku jadi bisa menilai seberapa luas hatinya untuk melepaskan hatinya dariku dan bersiap menyambut Delvin di hatinya.
"Sengaja, karena gue mau minta tolong sesuatu ke elo." Jawabnya yang membuatku mengernyit bingung. "Gue mau agar lo bersikap biasa aja atau kalau bisa lo pura-pura nggak peduli ketika Kyra kasih undangan itu ke elo," Ucapnya. "Gue minta tolong sama lo, tolong jangan kasih dia ekspresi dan tatapan yang sama kayak saat ini lo kasih ke gue,"
Ternyata ini adalah siasatnya.
__ADS_1
"Buat apa?" Meski aku sudah tahu maksud hatinya, anehnya aku tetap bertanya kepadanya.
"Karena gue mau ambil hatinya 100%, utuh, buat gue!"
Sudah kuduga dia akan menjawab dengan jawaban itu.
Aku lantas tertawa mendengus, mencemoohnya. "Lo harusnya paham apa konsekuensinya nikahin orang yang hatinya masih untuk orang lain, Vin,"
"Justru! Gue malah mau bantu dia agar dia bisa cepet keluar dari zona itu!" Tegas Delvin. "Gue mau bantu dia buat lupain lo, dengan cara gue."
"Kalau begini sih, sama aja namanya lo paksa dia buat nikahin elo! Itu nggak ada bedanya!!"
"Beda!" Tegas Delvin kukuh. "Semua ini udah atas persetujuan dia, dan gue cuma bantu agar dia keluar dari zona itu!"
"Dan satu-satunya cara jitu yang gue pikirin sekarang yaa... cuman ini," Lanjutnya. "Mungkin cara ini terasa gila buat lo, tapi ini juga harapan buat gue!"
Aku mendengus sinis sekali lagi. Lalu menghela napas jengah. "Kenapa lo gak sabar aja sih, nunggu dia sendiri yang membuka hatinya buat lo, kenapa harus pakai cara curang kayak gini?!"
Kini, ganti Delvin menarik napas panjang. Dia menatap mataku lekat seolah sedang menyombongkan kesungguhannya padaku. "Karena gue tahu betul bagaimana perasaan lo yang sebenarnya ke dia, dan gue gak mau kasih kesempatan yang kesekian kalinya buat lo lagi, Zra!"
Di situ aku tergugu. Mendadak aku terdiam sejenak. Berusaha mencerna ucapan Delvin padaku yang meski aku tafsirkan beribu-ribu kali artinya pun akan tetap sama. Ternyata dia telah menyadari perasaanku yang telah berkembang untuk Kyra!
__ADS_1