Romance After Marriage

Romance After Marriage
1.4 | A : Kecanggungan


__ADS_3

- Delvin -


Dengan langkah perlahan, aku kembali menuju letak kamar itu berada. Lalu menutup daun pintunya yang sebisa mungkin nggak meninggalkan suara debaman keras. Teramat hati-hati.


"Klek."


Pintu itu berhasil kututup dengan amat sempurna. Suara debamannya pelan seperti yang kuharapkan. Setelahnya kuputar kuncinya dengan pasti. Kemudian, aku pun terdiam dalam posisiku yang berdiri membelakangi dan menyender di pintu. Mataku mengerjap-ngerjap menatap suasana dalam kamar yang remang cahayanya. Mengumpulkan kesadaran yang aku yakini nyaris hilang setengahnya. Tanpa sadar kukepalkan tanganku erat. Seketika kilas bayangan yang beberapa menit lalu terjadi pun kembali terulang dalam pikiran.


Tadi... gue bilang apa?!


Begitu sadar, aku langsung meninju-ninju udara. Ingin berteriak melepaskan kebodohan ini tapi tertahankan karena aku sangat sadar jam berapa sekarang!


Astaga, astaga!


Dalam sekejap, aku langsung berlari ke atas kasur. Menutup wajah dengan bantal yang akhirnya kupakai juga setelah sebelumnya kuanggurin. Dan, "AAAKKKKKKKHH!" Aku berteriak sekuat tenaga. Untungnya bisa teredam oleh bantal tebal ini hingga suaranya nggak begitu jelas terdengar.


Sialan! Mulut gue emang kampret!


Sungguhan, ingin rasanya kuluapkan semua cacian dan makian untuk diriku dan mulutku yang bodoh ini! Malu gila rasanya aku setelah bicara bodoh begitu. Kampret, sialan-sialan!!


Puas berteriak, aku langsung merebahkan diriku dan menghadap langit-langit kamar yang masih sama romantis suasananya seperti terakhir kulihat beberapa saat lalu. Dengan napas memburu karena tadi kehabisan napas akibat wajah yang kututup bantal, aku pun kembali mulai mengatur napas agar dapat teratur perlahan.


"Sialan, betapa bodohnya gue." Gumamku lebih pada diriku sendiri.


Mataku terfokuskan pada lampu yang berada paling tengah berwarna kuning remang itu. Aku terdiam. Terbisukan pada reka adegan yang baru saja terjadi beberapa saat lalu.


Lagi-lagi aku teringat akan ekspresinya yang datar kala menatapku setelah kuucapkan kalimat itu tanpa rencana. Dan pada saat itu...


[...]


Dia yang semula membulatkan matanya, perlahan namun pasti mulai dapat menguasai ekspresinya itu kembali.


Kyra tampak datar menatapku. Pandangannya selurus dengan mataku. Nggak lagi kulihat sirat terperangah atau tercengangnya dia, yang tersisa hanya wajah meragukan atau tatapan jengahnya dia buatku.


Rasanya aku tahu setelah ini dia akan melakukan apa.


Yap. Seperti dugaanku, pada akhirnya dia menempatkan tangan kurusnya itu ke atas dahiku. Sementara sebelah tangannya lagi ditempatkan di atas dahinya sendiri. Ini adalah kebiasaannya saat menemukan suatu yang nggak benar menurutnya. Ck!


"Dingin sih? Kok kayak..."


"Itu karena lama kena udara dingin, pinter. Makanya jadi dingin!" Tukasku cepat, menghentikan kalimat lanjutannya karena sungguhan aku pun bisa prediksi dia bakal bicara apa setelah ini. Tentunya bukan hal baik. Aku tahu benar itu!


Lalu, Kyra pun menarik kembali tangannya dari dahiku dan dahinya. Dia menatapku, kemudian menghela napas. "Ternyata yang bikin lo eror nggak cuman pas lo lagi sakit doang ya, Vin? Ternyata pas kedinginan lo juga jadi eror. Ck, ck," dia berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala. Nampak tatapan prihatin dari sepasang matanya.

__ADS_1


"Sialan." Makiku. "Emang siapa yang eror sih?!"


"Ya, elo lah!" Jawabnya cepat dengan mengedikkan dagunya ke arahku. Menunjukku.


"Gue nggak eror tuh!" Sangkalku mentah-mentah.


"Masaa??"


"Iya!"


Dia mencebikkan bibirnya. Isyarat bahwa dia nggak percaya dengan pengakuanku barusan. Meski dalam hatiku pun juga meragukan diriku sendiri. "Terus... sadar nggak sama yang lo omongin tadi?!"


"Yang mana?" Tanyaku balik. Membuatnya langsung menghela napas lega.


"Tuh, kan, lo aja nggak inge--"


"Yang soal gue ajak lo nikah? Atau yang bagian berjuang bareng-bareng?!" Selaku memotong kalimatnya.


Dia tergugu di tempatnya. Terdiam membeku. Aku menaikkan sebelah alis mataku, berpura-pura keheranan akan reaksi yang baru saja dia tunjukkan padaku.


Lalu kemudian, hening menyapa kami berdua. Nggak ada yang bicara lagi di antara kami.


Meski sebenarnya aku ingin menertawai ekspresi wajahnya itu, namun aku pura-pura nggak acuh dan memilih melanjutkan peranku untuk sok serius agar bisa lebih lama menggodanya.


Aku pun menatapnya, begitu pula dia yang membalas tatapanku dengan pupil matanya yang membesar. Terlihat dari sirat pandangannya padaku. Dia mencari kebenaran di mataku. Yang entah bisa dia temukan atau nggak sama sekali.


"Be-berhenti bercanda! Ayo tidur! Gue ngantuk!!" Katanya dengan nada kalimat agak gagap. Aku malah tersenyum dalam hati.


Saat mataku sudah bisa kembali melihat karena terlepas dari tangannya, dia ternyata sudah berdiri dari duduknya dan berderap masuk ke dalam dengan pasti. Membuatku menghela napas saat melihat punggungnya makin menjauh.


Namun setelah lima langkah, tiba-tiba dia berbalik menghadapku lagi. Dengan alis menukik dan tatapan yang tajam dia menyorotku.


"Lo masih mau di situ? Mau begadang sampai pagi di situ ya?!" Dia mengangkat alisnya ke atas. "Cepetan tutup pintunya! Dingin!!" Perintahnya ketus.


Aku menghela napas jengah. "Iya-iya, dasar bawel!"


"Ish, dasar lo!" Desisnya nggak terima.


Namun saat aku menyeringai selagi menatapnya. Mendadak hilang lah wajah ekspresifnya dan seketika pun berganti dengan wajah datar nan kakunya itu lagi. Cukup hanya sampai tiga detik saja, dan dia langsung memalingkan wajahnya dariku.


Lalu berkata, "Jangan lupa kunci pintunya. Gue tidur duluan!"


Dia pun berjalan cepat atau bahkan setengah berlari meninggalkanku berdiri di sini sendirian yang lebih memilih menatapnya dengan seulas senyum yang tertinggal.

__ADS_1


Namun, sebelum itu entah ada hasutan setan dari mana. Dengan isengnya aku yang hendak kembali ke kamarku malah berjalan melewatinya dan berhenti tepat di depan kamar si Kira-kira.


Mengetuk pintu kamar itu dua kali, lalu aku berkata, "Tidur yang nyenyak Kira-kira, Bang Delvin sayang kamuh!"


Dan setelah mengucapkannya aku jadi termenung sendiri.


Barusan itu... gue ngomong apa?!!


[...]


Begitu lah.


Pada akhirnya aku menyesali hasratku buat menggodanya. Padahal ada cara lain yang bisa kulakukan, tapi kenapa malah mengatakan hal bodoh begitu sih?!!


Bang Delvin sayang kamu... Astaga! Aku sampai bergidik risih sendiri mengulang kalimatnya!


Yakin, Kyra yang ada di dalam kamar itu pasti mual atau bahkan muntah-muntah setelah mendengarnya. Bahkan aku sendiri pun jadi mual saking gelinya aku dengan diriku sendiri!


Tapi...


Saat kembali membayangkan adegan demi adegan itu tanpa sadar malah membuatku menarik sudut-sudut bibirku sendiri. Melihatnya yang seperti itu entah kenapa aku merasa kalau dia itu...


"Lucunya," gumamku, tertawa kecil sendiri.


Namun sesaat kemudian, aku lantas kembali tersadar dari akal yang sempat hilang. Senyumku lekas lenyap. Alhasil, kutepuk kedua pipiku sendiri keras-keras hingga terdengar bunyi, "Plak," darinya. Yang kontan membuat kedua sisi wajahku ini terasa panas nan perih yang menjalar. Aku meringis, "Aww, sakit juga ternyata!"


Sambil terus mengusap kedua pipiku yang masih terasa panas, aku menghela napas panjang. Aku kembali termenung dengan perkataanku sendiri beberapa menit lalu.


Sungguh benar itu adalah kalimat spontanku tersebab dari aku yang mendengarkan curhatannya. Tapi sesungguhnya, jauh dari dalam lubuk hatiku, aku nggak pernah main-main dengan ucapanku tadi. Jelas itu bukan candaan. Tapi berbicara langsung ke inti secepat ini pun juga bukan rencanaku.


Huh, semuanya hancur karena otak erorku!


Aku menghela napas, entah sudah keberapa kali selama satu jam ini. Tentu saja dia nggak akan menganggap serius pertanyaan yang terdengar amat asal itu yang bila dilihat dari sudut pandangnya. Padahal aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Mengingat posisi kami berada di kubu yang sama. Patah hati.


Bukannya opsi itu jadi simbiosis mutualisme buat kami berdua?


Aku lagi-lagi menghela napas. Panjang. Sebelum akhirnya aku memilih tuk memejamkan mata agar segera berlayar ke pulau mimpi.


"Kayaknya... emang gue yang terlalu kecepetan." Gumamku tiba-tiba.


Berguling ke samping, memeluk guling. Aku yang masih tersadar meski mata sudah terpejam ini lagi-lagi menggumam sendiri yang seolah sebagai kalimat lanjutan dari gumamanku sebelumnya.


"Nasi udah jadi bubur. Terusin aja apa yang udah terjadi," aku menghela napas panjang.

__ADS_1


Dan, beberapa saat setelah itu, pada akhirnya berlayar lah aku ke lautan mimpi seorang diri.



__ADS_2