Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 1


__ADS_3

Assalamu'alaikum...


Kembali menyapa, jiahaha aku orangnya suka plin-plan, aku kasih kalian ini ya ceritanya, tapi nanti kalau rame aku akan lanjut di sini kok ceritanya. Kalau nggak, ya aku lanjut ke sebelah. Kuyy ramaikan 😁.


Tanpa basa-basi lagi...


HEHEHE maaf yah aku plin-plan 😓😩. Jadinya, entah jadi apa nggak. Aku balik ke sini lagi, wkwkwk 🙂.


Yuklah baca!


...--Happy Reading--...


Anin dan Aksa berbahagia hari ini, benar-benar hari di kenang sehidup semati. Indah sekali, Anin tidak menyangka jika hari ini ia menjadi istri sah kembali. 


Kenangan masa lalu, ia harus lupakan. Masa depan lebih cerah, toh masa lalu pun sudah mempunyai istri. Kenapa masih di kenang terus? 


Kebahagiaan ada di hati Anin, adalah Aksa yang bisa membahagiakan hati Anin.


 


“Mas, aku mau ke kamar mandi dulu. Kamu di sini, nggak papa ‘kan?” Tanya Anin, yang menjinjing bajunya, kerepotan ia. Aksa melirik, lantas ia beranjak dari kursi.


“Kamu ngapain jinjing itu, ya sudah sini aku bantu.” Nah, gitu dong dari tadi. Keburu sampai pucuk, Anin tersenyum dan Aksa membantu Anin untuk ke kamar mandi, mereka sama-sama canggung.


“Heh, kamu nunggu aja di luar.”


“Iya, nanti kalau udah selesai panggil aku. Apa mau di panggilin mbak-mbak MUA (make-up artis) untuk bantuin kamu? Aku bantu,” Anin menggeleng.


Menutup pintu kamar mandi, sementara Aksa kepo. Ia masih perjaka, belum di jamahi sama sekali. Dan ia harus menikahi perempuan yang sudah di regut kebahagiaanya, tapi kandas begitu saja.


Ia tak sama sekali mempermasalahkan.


Hanya saja, kenapa laki-laki sukanya berpikir jauh?


Eh, bentar dia belum ngaca kayaknya. Ia juga laki-laki, dan ia tak mau memberi kesempatan laki-laki lain untuk perempuannya itu, sekarang sudah ada di tangannya. Tinggal jepret, langsung keliengan terus jadi deh.


Pikirannya sudah kacau, Aksa tersadar karena pintu kamar mandi terbuka lebar.


“Hayo, mikirin apa?”


Tok-tok...


Suara ketukan pintu membuat mereka fokus ke arah pintu, mungkin saja MUA yang akan mendandani mereka hari ini. Karena jam selesainya pun malam, jika sore pasti banyak tamu. Apalagi Aksa mengundang beribu-ribu orang, dan media pun menyoroti pernikahan mereka.


Yang pasti, viral mereka.


“Assalamu’alaikum...” Ucap laki-laki beruban putih tersebut dengan baju batik yang menempel di tubuh, Aksa tersenyum dan menyalami laki-laki tersebut.


“Wa'alaikumsalam, masuk Pak...” Aksa meringis.


“Siapa mas?” Anin menyembulkan diri, ia habis memakai kerudung rumahan.

__ADS_1


“Eh, Pah...” Anin menyalami mantan papah mertuanya tersebut, yang tak diundang pun jadi tamum


Entahlah?


Pikir Aksa, Anin yang mengundang laki-laki ini tapi tidak sepertinya.


“Maaf menganggu, ini ada titipan untuk anak papah ini.” Papah menyerahkan amplop tapi isinya tipis, mungkin uang seratus ribu kali. Batin Aksa, dengan melirik tak suka, ia pun masuk ke kamar.


“Ngapain coba, si mantan tetep nggak berubah?” Aksa mendumal pelan, ia pun mendaratkan pantatnya ke ranjang. Mencoba menenangkan pikirannya, yang sejak tadi panas.


Ia kelelahan sepertinya.


“Iya, pah... Enggak papa kok, papah sudah ke sini saja Anin sudah seneng. Pah, ke bawah aja. Di sana banyak makanan, papah ke sini sama siapa?” Papah di persilakan untuk duduk di sofa yang ada di luar kamar.


“Sendiri nak, sama sopir. Kamu sehat ‘kan nak? Papah jarang banget buat ketemu sama kamu. Seringin kamu main ke rumah papah ya, nak! Dan ajak suami mu itu,” papah hanya meringis sama-sama di landa kekecewaan. Papah hanya berharap, suami dari Anin itu tidak melakukan hal sama seperti anaknya itu.


Yang keterlaluan.


Apa janjinya?


Kain kafan sebagai mahar, dan semati ia akan menggunakan kain tersebut, tapi sekarang jadinya?


Papah benar-benar ingin meremas mulut sang anak, dan tidak bisa di percaya sama sekali. Anin melamun, termenung sejenak ia. Apakah boleh? Ia hari ini sudah di pingit dan seutuhnya milik Aksa. Tetap ia harus izin kepada suaminya, jika tidak memperbolehkan makan ia akan menurut.


“Iya pah, tapi aku izin dulu sama suami ku. Aku nggak mau nge-gabah soalnya nanti suami ku takutnya salah paham. Aku sekarang sudah punya suami, jadinya mohon maaf kalau keputusan suami ku kurang tepat di hatinya papah, nggak usah di ambil hati ya, pah.” Papah pun tersenyum.


Pikirnya, Anin akan setuju.


Tapi, iya tak iya juga sekarang Anin sudah ada suami.


Cukup masa lalu di kenang. Anin ingin menghormati dengan kata-kata pelan, ia tidak mau jika mantan papah mertuanya ini jadi salah paham.


“Oke, nggak papa... Papah pergi dulu, ke bawah. Ngobrol sama orang-orang di bawah, salam kan buat suami mu. Kamu pula, jadi istri nggak boleh berbuat kasar maupun berkata kasar sama suami ya, nak!” Anin mengangguk dan papah mengatungkan tangannya ke udara.


Dengan cepat Anin raih, untuk menyalaminya.


“Assalamu’alaikum...”


“Wa’alaikumsalam Pah, hati-hati!” Papah melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Ia tak mampu untuk mengecup kening Anin sebagai tanda perpisahannya, ia sudah tidak berhak atas itu semua.


“Selamat sore, Bu...” Sapa MUA yang lewat dengan membawa beberapa peralatan.


“Eh iya sore, mau ganti dulu mbak... Oh iya, tapi pengantin laki-lakinya ada di dalam.” Anin mempersilahkan masuk, mereka memandang tak jemu-jemu ketampanan Aksa. Sampai melupakan suami yang ada di rumah, palingan keselek sandal kalau istrinya beralih kepada laki-laki lain.


“Bangun! Itu MUA-nya udah dateng,” Ucap Anin sembari membangunkan Aksa.


“Maaf ya, mbak...” Anin kesusahan, dah lah mati baek ja Nin. Daripada bangunin Aksa sampai mau copot rasanya gigi Anin, gemeretuk aja, Anin pun mencabut bulu kumis yang ada di atas bibir itu. Dengan gemas, dan Aksa langsung bangun.


Melotot.


“Kamu apa-apaan, enak tidur nih. Udah pulang tadi?” Tidak melihat ada mbak-mbak MUA, malah melanjutkan tidurnya kembali.

__ADS_1


“Buka matamu tu!”


“Eh, mbak... Kenapa nggak bilang?” Aksa pun beranjak, ia turun dari ranjang. Dan buru-buru, menyebabkan ia terpental dari pintu kamar.


“Matanya itu dibuka dulu! Baru bisa jalan lurus, nggak gitu kali kalau jalan. Mending dibasuh wajahnya!” Perintah Anin, Aksa menatap jengah dan mending ia langsung ke kamar mandi, daritadi emang yang memolorkan waktu adalah Aksa.


“Astaga,” Ucapnya dengan membeliakkan matanya.


Anin di dandani oleh mua (make-up artis) dan sampai di situ, Aksa masih memejam matanya dan memimpikan apa yang di elu-elu ‘kan selama ini, menikah...


Ya, mimpinya adalah nikah.


***


Setelah semuanya berjalan dengan normal, dan semuanya sudah terlewati. Hari ini, dimana hari minggu yang ada libur dan melewati masa-masa dimana masih hangat-hangatnya pengantin baru, tapi ini?


Kamar sunyi dan hanya bunyi AC yang bersliweran, tidak ada orang sama sekali?


Ya, Anin sudah berangkat pagi-pagi. Ia sudah mendapatkan pekerjaan, karena itu ia harus berangkat pagi. Sementara Aksa? Aksa sekarang sudah ada di kantor, sampai asisten rumah tangga pun heran dengan majikannya sendiri.


Kamar terasa dingin, karena semalam pun mereka tidak tidur berbarengan. Hanya saja Anin yang ketiduran di sofa yang ada di ruang TV itu, karena sudah larut malam. Ia menonton film horor kesukaannya, dan film-film yang ia sukai sesuai mood yang ada.


Bangga buatan Indonesia.


Ya, Anin tidak terlalu menyukai drakor dan film-film yang bukan buatan dalam negeri. Karena sesuai pemahamannya, jika film luar negeri membuatnya semakin tersulut oleh keadaan. Dan membuatnya kecanduan dengan film tersebut, entahlah apa yang difikirkan oleh orang di luar negeri.


Semakin banyak film yang diproduksi, sampai ia lupa begadang setiap malam.


Pekerjaan yang tiap hari mendampingi Aksa, kemanapun pergi. Tapi, sebenarnya ia mau resign dari kantor. Untuk mendapatkan kebebasan sedikit, ia akan mengurus usaha kecil-kecilan. Tapi, ia tidak mau ambil pusing sekarang, jika suaminya belum mengizinkan. Ya sudah, ia akan menurut.


“Em, aku mau ke luar dulu ah, beli bakso ... Apalagi ini? Keadaannya hujan, enaknya tidur di rumah. Tapi, kerjaan di kantor pun masih banyak. Nggak ngerti lagi, lah sama mas Aksa ini.


Anin bersiap-siap pergi, dan menyelempangkan tasnya. Ia membuka pintu, sepertinya suaminya nggak ada. Boleh lah ia izin mau pulang dan hari ini bukannya libur malah disuruh kerja. Anin celingak-celinguk, agar tidak ketauan padahal ada CCTV yang mengintainya.


“Aman...” Anin berjalan ke lift. Dan memencet-mencet tombol lift, setelah sampai di bawah. Ia bergegas pergi, ia memesan taksi online.


Anin menghampiri taksinya yang sudah siap di sana, dan langsung masuk begitu saja. “Mbak atas nama Anin?” tanya sopirnya dan Anin mengangguk.


“Emh, mampir ke persimpangan sana ya Pak.” Ucap Anin, sopirnya menangguk dan melajukan taksinya.


Anin menatap jalanan yang begitu macet, dan ia hanya menghela nafas pasrah, mau gimana lagi hari minggu. Orang-orang akan melakukan perjalanan liburan yang pasti, maupun pulang ke kota. Sebelumnya di hari sabtu mereka sudah pulang ke kampung, jadi besok tinggal terima beres untuk berkerja lagi.


“Maaf lagi macet nih, mbak... Sabar ya!” Anin menatap layar handphone, dan di sana ada pesan dari suaminya.


“Iya nggak papa biasa Pak,” Jawab Anin.


Anin membaca pesannya, suaminya itu menanyakan keberadaannya. Yang pasti Aksa sudah tau, apalagi handphonenya pasti dilacak sama Aksa. Nggak mungkin ia akan lepas gitu saja, Anin bergumam sendiri.


“Ah biarin lah, siapa suruh kerja. Minggu bukannya libur malah kerja,” Anin memilih untuk membuka instagram dan melihat baju-baju yang keluaran terbaru.


Eh ingat, Aksa saja belum kasih uang sepeserpun. Ia mau belanja darimana? Apalagi dompetnya tipis, dan yang pasti ini adalah tanggal tua, nggak mungkin ia belanja. Kemarin saja ia lupa mau mengisi e-wallet untuk membayar keperluan pribadinya, pada saat ia tidak membawa uang kas atau gimana.

__ADS_1


... --Bersambung---...


 


__ADS_2