Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 35


__ADS_3

Anin dan Aksa segera untuk pergi ke rumah sakit, sampai Anin tidak bisa lagi untuk menyempatkan waktu memasak pagi ini, Aksa yang sudah lemas dan malah bodohnya Anin memikirkan dia lapar, sampai Aksa tak terasa membentaknya dengan keras.


Membuat Anin ketar-ketir sendiri, perutnya jika tidak terisi ia juga bisa sakit, apalagi dengan kandungan yang masih terbilang sebiji jagung, itu membuat was-was. Tapi, ini demi kebaikan suaminya dan tidak terlalu untuk memikirkan perutnya, jadi ia ikut saja ke rumah sakit. Tidak ada yang bisa memecahkan keheningan di dalam mobil, hanya di dalam hati Anin masih nyelekit dengan kata-kata yang dilontarkan oleh suaminya sendiri.


Aksa yang bisa diam, dan di lubuk hatinya paling dalam, memikirkan keadaan orang tuanya.


“Pak, ini mau belok kemana?” tanya sopir itu, karena sopir itu bingung sejak tadi. Ia sampai cuman diajak doang kagak diberitahukan lokasinya, mau kemana.


Aksa kepalanya yang berdenyut pusing pun mendongak, dan berdecak.


“Kamu ini sejak tadi nggak sampai-sampai ya gara-gara ini! Nggak tahu lokasinya, astaga benar-benar. Saya mau ke rumah xyz, bukan jalan-jalan.” Geram Aksa dan sopirnya itu tampak ketakutan, Anin memainkan mulutnya. Seolah memperagakan suaminya sedang memarahi Si sopir.


Aksa menoleh, dan Anin menetralkan bibirnya.


Tetap saja mata yang dingin nan datar itu kembali menutup dan Anin bernapas lega, untung selamat! Kalau kagak bisa berabe dia, dan Anin hanya membesengut kesal, kenapa punya suami kalau marah, marahnya ngeri kayak mau makan orang.


Sopir sejak tadi hanya melirik dari spion yang di depan, hanya tertawa di dalam hati.


Dan sekarang mereka sudah tiba di rumah sakit, Aksa yang berjalan dahulu dan mengabaikan Anin yang jalannya sambil ngangkat tempurung bekicot, agak lama seperti siput, mungkin jika tidak di rumah sakit ia kepingin dibopong sama suaminya ketimbang jalan harus menyamai langkah kaki panjang Aksa.


“Ck, dasar muka pintu kulkas lima ya begitu kalau disapa orang kagak jawab.” Gerutunya dengan berjalan, orang-orang pastinya kenal yang lewat makanya disapa tanpa ada rasa beban sama sekali sampai mendekat Aksa, dan Aksa tidak memperdulikan karena pedulinya satu sekarang, keselamatan nyawa orang tuanya.


“Hm, apa aku ke kantin saja ya. Tapi, kalau aku ke kantin nanti bisa jadi---,” gumamnya dengan katanya yang terpotong karena bingung, seperti ini lah jika dirinya lapar tidak bisa apa-apa hanya badan yang lemas dan bisa saja, memarahi suaminya tapi tidak untuk sekarang.


Ia pasti tahu, bagaimana keadaan hati suaminya karena pernah mengalami untuk satu kalinya dalam hidup, kehilangan ibu tercinta sampai benar-benar meninggalkan dunia ini untuk selamanya, itu benar-benar berat rasanya meski ia harus mengikhlaskannya, karena tak baik untuk larut dalam bayang-bayang kehidupan untuk memikirkan bagaimana caranya membalikkan ibunya ke dunia.

__ADS_1


Mana mungkin ia bisa menyalahkan takdir Yang Maha Kuasa, karena Tuhan selalu adil untuk umatNya dan ia emangnya mempunyai ilmu, suatu mukjizat jika dia bisa menghidupkan seseorang yang meninggal, seperti nabi Isa AS.


“Udah ah, masa iya nggak nyadar! Kalau nggak nyadar ya, nanti gue gebuk saja!” omongnya, bisa saja omongannya nanti berbalik dengan sekarang, karena nyalinya cukup menciut kala menatap tatapan tajam yang Aksa berikan.


“Hm, pak sopirnya tadi masih di parkiran? Hah, gue harus ngikut sama suami. Tidak, jika terjadi apa-apa, bisa gue yang babak belur di sana.”


Anin menghentikan langkahnya, baru saja ia berbicara mau gebuk suaminya tapi kali ini jika tidak ada yang menemani tentu ia tidak berani, sebenarnya tinggal beberapa langkah saja dan Aksa yang menoleh ke arah Anin, menatap tajam ke arahnya.


“Bentar! Gue mau cing-cing dulu lah,” batin Anin dan Anin menghampiri suaminya.


“Emh---,”


“Siapa yang mengizinkan mu untuk bicara?” tanyanya dengan bersedekap dada, tapi tatapannya tak berani untuk menatap istrinya dan Anin yang mendengar hal itu, seketika ingin nangis rasanya, dadanya bergemuruh dan bergemelatup, emosinya naik-turun.


Emang dia kagak boleh ngomong gitu!


“Iya, pak ... maaf ya pak,”


“Iya deh, ini tadi saya disuruh pak Aksa buat nganter ini.” Dan Anin menerima rantang itu, dengan begitu orang yang tadi itu mungkin pengawal yang ada di rumah, disuruh Aksa untuk mengantarkan makanan.


“Makan saja dulu, apa perlu diantar ke kantin?” tanya Aksa dengan dingin, masih saja itu muka kek pingin ditampol biar kagak datar amat, yang penting sekarang perutnya aman dan Anin mengangguk.


Aksa beranjak, dan Anin memilih untuk mengikuti, jika ia berjalan di sampingnya bukan berarti suaminya akan meninggalkan, pasti ia ditinggalkan dong! Heh, elah jalan lambat amat! Ya, badannya emang tingginya cuman sekitar 145-an kalau kagak salah sih, belum genap 150-lebih, ealah nasib badan kecil pula dan pendek.


Suaminya, tentu tinggi badannya, sekitar 185-an lebih sepertinya, ia belum mengukur sih nanti coba ditanyakan sama dokter, biasanya dokter punya alat buat ngukur tinggi badan.

__ADS_1


“Hm, aku pesankan minum dulu. Duduk di sini saja!”


Orangnya pergi, memesankan minum, ujungnya juga air putih yang dipesan.


Anin pun duduk di sana dan meletakkan rantang itu, makanannya harumnya bikin semerbak kemana-mana, huh tadi ia mau masak saja nggak boleh sekarang ia bersyukur karena suaminya itu tak lupa oleh kewajibannya juga, saling mengingatkan.


Ia membuka satu persatu, enak ternyata. Tak salah emang, karena chef di rumah pasti pembantunya dan sepertinya ia harus menaikkan gaji pembantu di rumah yang sudah memasak makanan ini, mau dipotong uang yang ada di kartu debitnya boleh. Yang penting bisa merasakan makanan ini.


Tak ayal sih, jika pembantu di rumah dilatih oleh chef yang sudah dipercayai oleh suaminya, untuk mengajarkan dan beberapa katanya sih nggak lolos, tetap saja dapat ilmu secara gratis toh calon pembantu yang sudah daftar, yang mau dijadikan chef di rumah mereka.


Aksa kembali dengan membawa air minum, benar ‘kan kalau Aksa hanya membeli air minum. Huh, Anin hanya memberikan senyumnya, walaupun di dada masih dongkol dengan kata-kata yang diucapkannya namun ia masih baik hati.


“Kamu makan saja! Biar aku tungguin,”


Hah apaan? Anin yang makan terus suaminya mau ngeliatin sampai ngeces-ngeces bakalan, ilernya kemana-mana, waduh Anin pun menggeleng sebagai jawabannya.


Ia bisa tersedak karena durhaka tidak mengajak suaminya untuk makan, meski ia lapar bukan berarti akan memakan itu sendirian, Sama-sama jika kenyang ya sama buka salah satu lapar tapi salah satunya lagi kenyang.


“Hm, ya sudah kalau memaksa.” Nah, jawabannya sekarang kebalik lagi. Emang, Anin cuman bisa menyindir di dalam hatinya Tapi tidak bisa untuk dilontarkan dihadapan Aksa. Bisa-bisa rantang ini melayang ke kepalanya, dan kejadian tragis telah dilibatkan semua kasusnya kepada CEO pemilik perusahaan, nama Aksa menjadi trend.


“Jangan bengong!” Aksa menangkap jika Anin bengong saja, tidak jadi makan yang ada. Kesalahan fatal sebagai suami, apalagi di rumah sakit, jika bengong tinggal ‘ngep' nanti. Jangan sampai lah kejadian seperti itu! Tidak bisa dibayangkan lagi.


Bersambung


Ehem, sampai bertemu di episode berikutnya ya gess.

__ADS_1


Terima kasih buat yang dah mampir, boleh mampir ke ig Din yah, follow waae dan kalau mau minta folbek boleh 😌🙏, DM Din waek.


@dindafitriani0911


__ADS_2