Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 11


__ADS_3

Anin di rumah Bude nya, ia melihat TV dan isinya lelucon tentang drama yang muncul di TV. Anin memegang pisang goreng, dan ia melihat-lihat isi handphonenya yang masih ia simpan. Memang handphonenya sudah lama sekali ia tidak pakai, akhirnya ia mencari cas-casan dan mengisi daya baterai di handphone itu.


“Gimana jadi?” Bude datang, dan membawa koran yang begitu banyak. Setumpuk sepertinya datang dari kurir, biasalah Pakde masih sama seperti dulu. Sampai sekarang harga koran pun mahal, nggak sebanding seperti dulu.


“Hem bisa kok bude, ini udah nyala.” Jawab Anin, Anin tersenyum dan mengangkat tubuhnya. Ia pun mengambil minuman di kulkas dapur, ia tuangkan ke gelas dan diminumnya.


“Iya, kamu nggak ngomong sama suami kamu. Kasian tuh, sempet ia ngomong sama Bude. Ya, gitulah pikirannya. Kayaknya lagi gitulah, gundah pokoknya.” Jelas Bude, Bude merapikan majalahnya di bawah meja.


“Mungkin lah Bude, masih males.”


Bude bingung, kok jawabannya nggak ngena gitu ke hati. Ia tidak bisa mengambil keputusan apa-apa lagi, biarlah masalah rumah tangganya. Yang penting ia dan Pakde bisa langgeng, sempurna terus.


“Kamu nggak cek-up ke dokter?” Anin menggeleng, baiklah Bude hanya ingin menuruti saja kemauannya Anin.


***


“Hem, enaknya tidur kali.” Bude menaruh baju-baju Anin di lemari, dan melihat ponakannya itu ingin tidur, ia mengguncang tubuh Anin.


“Pamali Nin, kamu mau tidur jam segini? Nggak bagus buat kesehatan juga,” Ucap Bude sembari mengingatkan.


“Anu Bude, lagi ngantuk. Dingin banget lagi,” Balas Anin dengan mata yang sebentar lagi memejam.


Dan dalam hitungan detik, akhirnya Anin memejamkan matanya. “Hah, iya-iya. Joget dulu Nin, baru semangat nanti.” Bude menertawakan Anin.


Bude keluar dan ada suara mobil sepertinya, masa Pakde pulang. Bukannya lembur hari ini, Bude melangkah ke arah pintu dan membukanya.


“Waduh ada papah sama mamahnya nak Aksa lagi, uhh...” Desah Bude, Bude tersenyum ketika mereka keluar dari pintu mobil.


“Hm, apa sakit beliau?”


Ketika melihat papahnya Aksa dipapah dan dibantu menggunakan tongkat oleh pengawalnya.


“Ck-ck, husst...” Bude membekap mulutnya sendiri dan membuka pintu sebelahnya lagi.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum...”


“Wa’alaikumsalam, Pak.. Bu, masuk! Ayuk masuk!” Ajak Bude dengan senang hati, perasaannya berkecamuk jadi satu.


“Maaf kita ganggu,” Ucap mamahnya Aksa. Mereka pun masuk, melihat TV di ruang keluarga yang mengubung ke dapur berbunyi.


“Siapa yang lihat TV-nya Bude?”


“Oh itu apa saya tadi, Hem bentar saya buatkan minuman dulu sama bapak dan ibu. Maaf lah, gini keadaannya masih kotor, belum saya apa-apain karena nggak sempet.” Ucap Bude, Bude lari ke belakang.


“Aduh, mana Anin lagi tidur pula. Susah kali kalau bangunin dia kali ini,” Benar karena kemarin ia susah dibangunkan. Sampai menggeret tubuh Anin, tidak bangun-bangun juga. Benar-benar, Bude kali ini keteteran. Mau jawab apa di depan mertua keponakannya itu.


“Oke, sebentar! Buang napasnya dulu,” Bude menstabilkan napasnya.


Bude membuatkan minuman untuk tamunya yang benar-benar spesial di kehidupan hari ini, sampai lupa apa-apa Bude. Bude pun merasakan manis enggaknya, pas sesuai takaran.


Ia membawanya dan meletakkan di depan tatapan mereka.


“Anu itu bu, kalau Anin sih ada... Masih tidur,” Mamahnya Aksa terkekeh.


“Anak perempuan kok tidur pagi-pagi, bukannya itu kerja Bude?” Dengan nada mulai serius.


“Ya, itu apa lupa saya inggrisnya woorek fome home itu kayaknya. Sebangsa itulah,” Mamahnya Aksa mengangguk dan mengerti, biasalah ia menerima bahasa Inggris yang meleset dan bisa dikatakan nggak mudeng.


Tapi, ia mencoba memahami.


“Ooh, nih bude... Maaaf oleh-olehnya nggak banyak.” Bude bingung nih, jika diwawancarai makan otaknya akan ngelike tiba-tiba.


Mamahnya Aksa pun membawakan oleh-olehnya, padahal menurut segitu Bude sudah bersyukur karena dikasih dan Bude mengangguk senang.


“Makasih banyak, segini aja udah banyak Bu”


“Nggak papa. Saya mau liat Anin dulu ya Bude, maaf kalau lancang. Pakde kemana biasanya ada di rumah?” Mamahnya Aksa menengok ke sana-sini, tidak ada batang hidungnya sama sekali. Biasanya sekali muncul, langsung mengajak ngobrol panjang, lebar.

__ADS_1


“Maaf, saya mau bangunkan Anin dulu.” Ucap Bude, Bude pun pergi dari pandangan mereka dan niat hati ingin mendengar ucapan mereka.


Biasalah tukang nguping.


“Udahlah, mending bangunin Anin.”


Bude pun membangunkan Anin, sampai Anin marah sekarang. Padahal mau tidur, dan apa-apaan menganggu dirinya. “Baiklah kalau nggak mau nanti mertua mu malah curiga.” Ucap Bude.


Bude sengaja mengancam Anin dan Anin mau tidak mau harus keluar.


Anin mengambil sisir dan menyisir rambutnya, ia mengucir dengan asal-asalan.


“Heh kok nggak pakai kerudung, malu lah... Kamu ini,” Bude mengingatkan.


“Gerah ah Bude, habisnya mau tidur malah digangguin.” Bude membeliakkan matanya, dan mengarah ke Anin.


“Cepat ambil! Kalau nggak, nanti kamu dijadikan liwet sama Pakde mu.” Anin menatap jengah dan ia balik lagi ke kamar, mengambil kerudung.


Dan keluar, dengan bibir yang masih melipat dan Bude nya menapok pipinya.


“Senyum! Nggak ada yang namanya bibir digulung. Kayak dadar gulung,” Kekeh Bude dan Anin hanya menatap tidak jelas.


Ia mengikuti Bude nya dan sampailah Anin di ruang tamu.


Anin menyalami tangan orang tua Aksa, “loh kok matanya ngantuk gitu? Apa kamu habis tidur?” Anin melirik ke Bude nya.


Hahaha...


...... Bersambung... ......


Makasih bagi yang sudah menunggu:)


Tapi, aku usahain besok bisa up lagi🙂

__ADS_1


__ADS_2