Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 24


__ADS_3

Pagi harinya, Anin menyadari jika ia memeluk suaminya, sampai mengendus ketek suaminya. Katanya harum sih, dan untungnya fine saja suaminya itu. Anin mengerjakan matanya pelan-pelan, dan ia meringis.


“Goblok sekali aku,” rutuk dirinya sendiri. Ia beranjak duduk dan memoletkan tubuhnya, ia lantas kakinya ia turunkan dan mengambil kerudung di cantolan.


Ia melirik jam di atas nakas, “jam setengah tujuh.. Astaga, kok bisa kebangun jam segini sih. Terus mas Aksa tadi udah sholat belum? Tapi, kayaknya udah. Dia tidur lagi malahan.” Gumamnya dengan memperhatikan sajadah yang tergeletak di atas ranjang.


Anin berjalan ke luar kamar, ia menatap pengawal dan pelayan masih berkutat dengan pekerjaannya masing-masing.


“Hm, jadi kangen sama bude dan pakde...” entah apa yang ia fikirkan, pagi-pagi melayang ke sana emang nggak jauh apa?


Butuh waktu dalam perjalanan itu, apalagi dengan adanya jalan ditutup itu pastinya akan dibuat ke arah yang jauh lagi. Anin termenung, ia menempel di besi tangga, tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya.


“Oke, aku ke sana aja boleh paling ya?”


Anin balik badan, ternyata suaminya tak jauh dari ia berada. Hampir copot jantung kalau begini, dan suaminya itu melangkah, mendekatinya.


“Kok belum mandi, mas?” spontan tanya seperti itu.


“Nggak, nanti!”jawabnya dengan singkat


Anin menyamai langkahnya dengan suaminya, tapi kalah suaminya itu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum dan ‘bruk’. Anin menabrak punggung suaminya, karena mengekor di belakangnya.


“Hati-hati makanya!”


“Iya, oh iya aku mau ke rumah pakde sama bude, boleh?” tanya Anin, kemarin saja ia sudah kepalang lupa atas tahlilan ibunya di rumah pakde dengan budenya itu, karena malam tadi hujan dan petirnya lumayan suaranya menggelegar.


Suaminya itu sudah lelah, di saat itu Anin tidak bisa merayu suaminya.


Ia memunggungi suaminya dan Aksa mencoba merayu, saat ini kembali ditagih.


“Ya, boleh... Sebagai gantinya kemarin,” Anin tersenyum dan Aksa menegak air minumnya.


Anin berjalan ke arah kulkas, ia membuka kulkasnya dan ia mengambil buah di sana.


Apel tujuan pertamanya. Ia pun mencuci apelnya dan mengambil pisau yang ada di meja makan, pisau makan itu dan Anin mengupasnya, ia memotongnya dengan beberapa bagian. Anin meletakkan di piring, suaminya itu mengendus area leher istrinya. Bikin senam jantung pagi ini, Anin melirik bulu mata suaminya itu, Aksa mencium leher istrinya dan lalu ke atas, bibirnya.


“Uhuk,” Anin mengalihkannya.


Ia menghirup udara dalam-dalam, lalu Anin menatap ke bawah.


Ia malu jika menjadi tontonan para warga yang ada di rumah ini, Aksa tersenyum kikuk. Ia menyomot apel yang ada di piring.


Anin duduk, ia mengambil air minum yang masih tersisa di dalam gelas suaminya itu. Mengalihkan artinya, hahaha iya.


“Maaf bu, menganggu... Ada sekretarisnya bapak, kalau gitu saya permisi.” ucap bibi, lalu pergi begitu saja.


“Ya udah, kamu temui saja dulu!” beo Anin, Anin menyantap apel itu. Aksa beranjak berdiri, ia pergi dari sana. Anin, ia menyiapkan roti yang masih tersimpan di lemari. Ia menghidangkan di atas meja dengan selainya.

__ADS_1


Anin melangkah ke kulkas, ia mengambil sekotak susu dan ia buka. Tuangkan ke gelas, dan Anin meletakkannya di meja makan.


***


“Kamu ke sini ngapain?” tanya Aksa secara tiba-tiba, tanpa memanggilnya nama atau apapun itu, dan sekretarisnya itu berbalik badan sebelumnya ia melihat foto-foto yang terpampang di sana.


Sekretarisnya itu pun memberikannya setumpukan berkas.


“Pak, tadi papahnya pak Aksa nelpon saya. Kalau sekarang, katanya bapak mau diajak papahnya bapak ke kalimantan. Lihat itu pengerjaan proyek di sana, katanya pemimpinnya mau bapak yang mewakili. Gitu pak, saya mah bisa apa cuman nyampein informasi ini kepada bapak.” Aksa terdiam sejenak, ia masih dengan baju tidurnya dan rambutnya saja masih acak-acak'an.


Sementara sekretarisnya itu sudah rapi, wangi, dan bersih lagi.


Beda jauh, sekretarisnya itu menyerahkan berkasnya. Ada beberapa file yang harus ditandatangani Aksa, sementara Aksa sudah berbicara dengan sekretarisnya itu kalau hari ini ia tidak akan berangkat ke kantor dengan alasan akan mengajak istrinya ke rumah orang tuanya.


“Kamu aja!”


“Loh kok saya, pak... Saya ‘kan ini, apa keluarga saya nggak bisa saya tinggal.” Jawab sekretarisnya dengan celengan kepala tidak setuju. Aksa berdecak, ia menatap sekretarisnya itu.


“Saya juga nggak mau! Dan kamu mencoba untuk menyuruh saya,” desis Aksa, ia sudah diajak perang mulut di pagi harinya yang tidak disambut baik.


Sekretarisnya itu menghela napas gusar, tampak dari bosnya itu sedang marah dan ia harus mencoba untuk berbicara dengan papah dari bosnya itu.


“Kamu bicara sama papah saya, jangan sampai papah saya nggak nerima keputusan saya!” pungkas Aksa dengan cepat, ia mengambil pulpen yang ada dihadapannya. Ia lantas menandatangani dengan gerakan cepat, sekretarisnya itu mengangguk lemah.


Ia tidak mau jika dipecat dengan keadaan keluarganya yang masih kacau balau, sang mertua meminta utang mertuanya yang menumpuk itu segera harus dibayarkan. Dan jika tidak, maka istrinya akan dibawa mertuanya kembali dengan cara menjualnya.


***


Sementara seseorang yang sedang makan bersama, ia masih melamun tentang kejadian kemarin malam jika ia menemukan sebuah lembaran yang ada di lemari istrinya, entah apa? Ia masih menyembunyikan, belum sempat ia baca.


“Kamu kenapa, mas?” tanya sang istri dengan memerhatikan gelagat sang suami.


“Nggak papa... Oh iya Put, kamu nanti ikut papah ya?” ucap papahnya dan Putri yang menyandang sebagai anaknya dan Putri itu pun menghentikan gerakannya, ia beralih ke papahnya.


“Emangnya mau kemana, pah?” tanya Putri dan papahnya tersenyum ke arahnya.


“Papah mau ajak kamu ke mall.” Dan Putri mengangguk singkat, ia pun melanjutkan makannya. Istrinya itu terheran-heran, kenapa suaminya ini berusaha drastis? Dan apa yang membuatnya berubah?


“Apa mas nggak salah?” sontak membuat mata suaminya itu memandang istrinya.


Ia menggeleng, istrinya itu menurut saja. Toh, ia juga mau baca isi surat yang kemarin dikirim. Entah apa? Yang penting kurirnya bilang jika ini harus dikasih suaminya, dan ia diam-diam menyembunyikan hal itu.


Tapi, itu tidak masalah karena sebelum itu ia akan membakarnya biru tidak menimbulkan jejak atau apapun, mungkin itu kertas, pasti!


Setelah selesai makan, kegiatan bergulir tetap berlanjut sementara papah dan anaknya itu di mobil. Papahnya mengelus tangan anak itu, dengan lembut.


Ia belum pernah merasakan hal ini, dan belum melakukannya karena ya setiap saat pekerjaan tepat di depan mata menghantuinya.

__ADS_1


Mobil itu berhenti di parkiran mall, Putri tersenyum. Ia lantas menggandeng tangan papahnya, “Bukannya mobilnya pak Aksa yah, pah?” Putri meneliti dan papahnya mengangguk. Kenal sekali papahnya dan Putri hanya samar melihat si plat dari mobil itu.


“Loh, salah pah?”


“Ya udah, nggak usah diurusin! Ayok, kita masuk!”


“Oke, pa—aahh.” Dengan terbata-bata dan ia bingung, lalu mengekor di belakang papahnya.


Drrrttt.


Bunyi handphone, sumber bunyi itu ada di saku milik laki-laki tua itu, ia merogoh kantung celananya dan melihat siapa yang meneleponnya.


Anak buahnya yang kemarin menjadi detektif itu.


“Ada apa?”


“Maaf bos, mengganggu... Kita mau ngomong, jika sudah menemukan beberapa alamat yang termasuk itu menjadi alamat pencarian kita, bos...” ucap salah seorang dengan nada tegas, dan bosnya itu menghela napas.


“Oke, sekarang pokoknya kamu cari! Jangan sampai ada yang janggal,” pungkasnya dengan mengakhiri telepon itu, dan ia matikan.


Termenung sebentar, dan anaknya itu menyenggol bahu papahnya dengan lembut. Membuat laki-laki itu langsung membuyarkan lamunannya, “Ada apa, pah?”


“Nggak, yok kita belanja... Kamu mau apa? Papah belikan.” Putri diam, lah ini jelas saja? Papahnya akan membayarkannya. Hm, kesempatan emas bagi Putri ini.


***


“Maaf tuan, jika mobil itu masih dipakai sama sekretarisnya tuan...”


“Lah?” Aksa dengan bingung, kenapa sekretarisnya itu tidak meminjamnya dengan langsung, dan itu berarti mencuri dong. Yang punya aja belum tentu ngijinin.


“Terus dia pakai dimana?”


“Mau jemput istrinya di mall katanya,” jawab satpamnya itu.


“Ya udah lah, pakai mobil yang lain...”


Satpam itu mengangguk, dan mengeluarkan mobil di garasi.


Ia panaskan dahulu, tapi sebelumnya beberapa menit emang sudah disiapkan.


Anin, ia malah sibuk sendiri dengan sandalnya. Entah yang bermasalah mana?


“Pakai sandal swallow aja lah.” Anin tanpa ba bi bu, ia keluar dengan muka ceria.


Bersambung...


Jangan upa like sama komennya ☺❤️

__ADS_1


Karena saya butuh dukungan, wkwkwk 🤣


__ADS_2