
Pagi-pagi Aksa harus berangkat, tanpa membangunkan istrinya. Padahal ia butuh istrinya jiga, tapi karena Anin masih ada urusan dengan mimpinya jadi ia tidak tega untuk membangunkan Anin.
Anin mengucek-ucek matanya, dan bangun dari tempat tidurnya. Menatap jam di atas nakas, membuatnya membulat sempurna matanya.
Dengan hari ini, hari senin dan ia harus berangkat pagi. Tidak boleh terlambat, Anin tergesa-gesa masuk ke kamar mandi, sampailah ia kejedot pintu kamar mandi.
Rasa sakitnya begitu nyeri, ia pun dengan cepat mandi dan membiarkan keningnya yang memerah keunguan.
Setelah selesai mandi, ia pun ganti pakaian dan asal ambil gitu saja. Ia pikirannya kalau sudah terlambat pasti kacau. Entah nanti sampai kantor, ia tak bawa apa-apa. Kadang saja Anin dimarahi oleh sekretaris Aksa yang lain.
“Ya Allah, aku kok bisa lupa sih... Ah, mana leher masih sakit lagi terus ini ditambah kejedot pintu lagi.” Gumamnya sembari memakai make-up tipis dan kerudung.
“Sekarang tinggal berangkat,”
Anin membuka pintunya dan sedikit berlari dari arah tangga menuju bawah.
Anin keserimpet kakinya dan ‘gedubrak', ia terjatuh. Kakinya nggak bisa digerakin lagi. Anin mengaduh, kesakitan. Jelas saja kenapa hari ini dirinya sudah kena sial dan pelayan yang ada di sana menolongnya.
“Ya Allah sakit banget.”
“Bawa ke rumah sakit aja Pak, ini parah lagi aduh... Bu, kok bisa kayak gini sih...” Pelayan pun bingung, dirasa hari ini mereka seperti ditambahi beban.
Pelayan membantunya untuk berjalan ke mobil, dan tidak ada seorangpun yang mau menggendongnya.
Nasib.
“Alah mending anterin saya ke kantor aja! Saya mau kerja,” Ucap Anin. Membuat pengawal saling menoleh, dan majikannya ini badannya nggak enak atau gimana.
Udah tau kakinya terkilir, dan harus dibawa ke tukang urut. Mereka tidak mau menanggung akibatnya jika terjadi apa-apa. Sebelum terlambat maka harus diobati terlebih dahulu.
“Maaf Bu, kita tolak. Tapi, kalau ibu mau ke kantor, silakan! Kami nggak mau tanggung jawab ketika ada apa-apa.” Sopirnya menjawab dengan alasan yang tepat.
__ADS_1
Dan salah satu pengawal melototi sopir itu.
“Iya kami kan yang menerima konsekuensinya, ibu nggak mikir yang ada... Kami di sini kerja dan kami butuh uang, nggak harus diperlakukan dengan begitu. Ibu seharusnya mikir dong,” Anin terkejut dengan penuturan salah satu pengawal kali ini.
Berani sekali.
“Oke, ya sudah... Saya pakai taksi saja, ketimbang kalian nggak mau nganterin.” Ucap Anin, ia pun berjalan dengan tertatih-tatih, kakinya sakit sekali rasanya. Sudahlah, ia balik saja ke rumah ibunya. Menenangkan dirinya di sana, handphonenya ia taruh di dalam mobil. Agar tidak ada yang tau menau dimana dirinya.
Sakit hatinya dikatakan seperti itu.
“Taksi, Pak...” Ia memberhentikan taksi di depan gerbang.
Taksi itu berhenti, dan membukakan pintu mobil dari dalam. Anin masuk, ia terseguk-seguk. Hatinya sensitif sekali rasanya, apa mungkin ia datang bulan. Sepertinya iya, karena di perkirakan tanggal segini.
“Pak, mampir ke supermarket depan ya...”
“Baik mbak, ini tisunya mbak...” Sopir taksi menawarkan kotak tisu yang ada di dalam taksinya, dan Anin tersenyum.
Tapi, itu sudah lancang jika bertanya-tanya maka sopir taksi itu mengurungkan niat untuk bertanya kepada penumpangnya.
Sampailah di depan supermarket, “Tunggu dulu ya, Pak! Saya nggak lama kok.” Ujar Anin yang membuka pintu, dan ia melangkah ke supermarket. Mencari yang ia beli sesuai kebutuhannya, karena ia tidak membawa apapun dari rumah Aksa.
Setelah selesai berbelanja, Anin membayar ke kasir dan kasir pun membungkus barang belanjaannya. Anin berjalan kembali, ke tempat dimana taksinya terparkir.
“Mari Pak! Jalan saja,” Sopir mengangguk dan menjalankan taksinya sesuai jalan yang ditunjukkan oleh Anin. Anin hanya menatap jalanan yang begitu padat, Anin menangis dalam keheningan. Cuman sopir taksi saja yang menjadi saksi bisu di sana, ia menatap penumpangnya dengan belas kasihan.
Sampai di depan rumah ibunya Anin, ia tidak mau ke rumah Bude maupun Pakde-nya nanti takut ia di curigai jika ia berantem atau gimana. Dan Pakde bisa saja berbicara lewat telepon, mengomunikasikan kepada Aksa jika Anin ada di rumahnya. Anin membayar taksi tersebut, dan masuk ke halaman rumah ibunya.
Ia menatap rumah yang sudah usang, meskipun setiap hari di bersihkan oleh orang suruhan budenya. Yaitu tetangga samping rumah ini, Anin pun berjalan ke rumah tetangganya. Meminta kunci rumah, ia sengaja dulu mengobrol untuk mengobati rasa rindunya.
“Iya bu, makasih ya udah jaga rumah Anin.” Ucap Anin dengan sungkan dan ibu itu tersenyum, menyerahkan kunci rumah. “Oh iya, ibu buatin teh dulu ya...”
__ADS_1
“Nggak usah bu, aku cuman ini kok liat... Gimana ada yang ini nggak,” Ibu itu bingung dan mengangguk saja lah. Anin pamitan kepada ibu-ibu itu dan melangkah ke halaman rumahnya kembali.
“Hah, bu... Kangen sama ibu,” Anin membuka pintunya.
“Masih terawat, makasih ya bude...” Anin melepaskan kerinduannya, dan menenteng plastik yang berisi belanjaannya tadi, ia bawa ke dapur. Ia mencuci tangannya, dan Anin membereskan plastik belanjaannya.
“Hem, bikin mie aja lah... Laper gini, apalagi ini masih pagi sekitaran jam sepuluh keknya.” Anin mengeluarkan mienya dan telur yang ia beli tadi, mahal sekali harganya ketimbang di warung.
“Ngapain pusing-pusing, untung aja aku bawa tabungan di dompet dan bawa semuanya.” Anin mencolokkan kulkasnya dan ia meletakkan sayuran tadi ke dalam kulkas. Walaupun dengan langkah agak berat, ia masih bisa berjalan.
***
Sementara Aksa yang di kantor, kelimpungan ketika tidak ada istrinya di sampingnya.
“Masa belum bangun jam segini,” Gumam Aksa menatap layar laptop, melihat laporan keuangan perusahaannya.
Mengalami penurunan sedikit, karena yang dikeluarkan oleh perusahaan hanya digunakan untuk pembangunan rumah serta apartemen.
“Huh, sudah nggak papa... Tapi capek sendiri aku kayak gini,” Aksa mengeluh sekali lagi. Ia pun akhirnya terpaksa meminta rapat siang ini di mundurkan.
Sementara ini Anin digantikan oleh sekretaris yang lain, dan ia tidak bisa menanganinya sendiri.
Menatap tumpukan berkas yang begitu banyak, dan Aksa hanya menghela nafas panjang. Kenapa tidak ada hari libur baginya? Ia akan protes sama papahnya jika dikasih tumpukan berkas seperti ini, kapan bisa membagi waktu untuk berdua dengan Anin jika dalam keadaan yang begitu padat.
...Bersambung.......
Gimana mau lanjut di aplikasi sebelah apa sini?
Okeh, kalau mintanya di sini ya nggak papa jugaan sebelah gratis kok. Mintanya kemana-mana, author junjung-junjung ke aplikasi sebelah juga nggak papa.
__ADS_1
Yuk ramein wae, nanti kalau rame kabarin biar dilanjut di sini😁. Hem, ayuk lah ajak teman-temannya.