
“Ngomong dari tadi!” Aksa mengkceh-ngoceh menuju ke parkiran tempat mobilnya berada.
“Ya namanya nggak tau om... Ya udah sini biar aku aja yang nyetir,” Aksa menatap tidak percaya. Dan menggeleng, ia tidak percaya dengan bocah ini.
Pintar bicaranya, tapi ia tidak ingin masalah ini tambah melebar kemana-mana.
“Udah malah tambah runyam nanti masalahnya, emang mau disalahin sama mak kamu... Ya udah cepetan masuk,” Anak itu pun masuk ke dalam mobil.
Dan Aksa menjalankan mobilnya, mereka hanya diam tanpa ada pembicaraan secara langsung.
***
Sampai di rumah sakit, Aksa terburu-buru masuk dan ia menggunakan tangga untuk menuju ke ruangan Anin ditangani.
“Bude...” Panggil Aksa dan Bude menaikkan alisnya.
“Kemana saja kamu? Baru datang,” Bude marah. Ya, karena suaminya tidak terlalu mementingkan rumah.
Jadi, Aksa mematikan handphonenya, agar tidak mengganggu pekerjaannya.
“Jadi suami itu siaga, kemana pun istrinya telepon harus diangkat, nanti kalau bahaya sama dirimu sendiri, gimana? Bude nggak habis pikir sama kamu, apa yang ada dipikiran kamu nih?” Omel Bude, Aksa hanya diam. Ia tidak berani menatap secara langsung mata Bude nya Anin yang sudah memerah.
“Hampir setengah jam sendiri dokter di dalam, dan kamu baru sampai. Apa nggak kebangetan itu?” tambah bude dengan suara serak.
Bude menjauh, dan berdiri di depan pintu UGD. Dari tadi memang, dokter masih menangani Anin di dalam.
Dokter pun keluar, dan mengembangkan senyumnya.
“Dok, gimana dengan ponakan saya di dalam? Apa baik-baik saja, atau ada yang lain?” Dokter menggeleng, dan menatap semua orang yang ada di sana.
“Hem, sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Hanya saja karena makan yang aneh, entah itu apa. Tapi, yang jelas itu makanan membuatnya sakit perut yang luar biasa.” Ucap dokternya itu dan Aksa menghela nafas lega.
“Huft untung saja nggak apa-apa,” Batinnya di dalam hatinya dan Bude menyoroti matanya ke arah Aksa.
Sementara dokter pergi dari pandangan mereka, “Bude kalau gitu kami pamit. Segera Anin diangkat penyakitnya, maupun keluhannya.” Pesan ibu tetangga itu dan mereka berdua pergi.
Tinggalah Bude dan Aksa di sini.
“Masuk ke dalam! Jemput istri mu!”
“Baik Bude.” Jawab Aksa, dan Aksa masuk ke dalam.
__ADS_1
“Hm, kamu nggak papa?”
Aksa menanyakan hal itu, Anin merasakan ada sesuatu yang aneh di perutnya.
Anin tersenyum tipis, Anin mengangkat tubuhnya, bangkit dari beda pasien.
Aksa membantunya, “Mau aku gendong?” tawaran Aksa membuat Anin menggeleng lemah.
“Aku bisa jalan sendiri.”
Aksa menaikkan sudut bibirnya. Anin berjalan dahulu, sementara Aksa mengikutinya dari belakang.
“Astaga itu bocah, nggak ada peka-pekanya membantu istrinya atau gimana kek.” Geram Bude, Bude mengepalkan tangannya dan menghampiri mereka.
“Sini Bude yang bantu,” Bude menggandeng tangan Anin dan Anin menatap lemas.
“Aku ke apotek dulu, ada yang ditebus obat yang diresepkan dokter. Hm, tunggu saja di depan rumah sakit itu.” Bude semakin tercetak jelas, ingin marah dari raut wajahnya.
“Itu suami kenapa nyebelin sih Nin? Nggak tau kenapa Bude semakin kesel sama suami kamu tu...” Anin hanya mengangguk singkat, dan Bude semakin mendecak.
“Ya udah kita tungguin di depan sana, daripada di sini. Kelamaan kalau nunggu,” Anin pun digandeng oleh Bude nya.
***
“Bikin kaget jantung aja kamu, ya udah sekarang mana mobilmu?”
Aksa terpaksa ke parkiran, dan menjalankan mobilnya, berhenti tepat di depan halaman rumah sakit.
Aksa keluar dari mobil, membukakan pintu untuk istri dan Budenya.
Sekarang mereka pun melakukan perjalanan pulang ke rumah, Bude memecah keheningan di antara mereka.
“Ke rumah Bude saja, ketimbang di sana. Nggak ada yang jagain, kamunya juga, emang nggak ada waktu luang gitu?” Tanya Bude, ia mengelus-elus tangan Anin dan perutnya.
Anin tertidur di pundak Bude.
“Hm, tapi Bude... Aku bisa kok ngurus Anin,”
“Kalau bisa, mana buktinya? Bude ini dititipkan untuk menjaga ponakan Bude, nggak harus Bude buang ke kamu. Bude bisa menjalankan amanah itu, tapi kamu?” Sergah Bude, ia tidak mau mengalah.
“Aku ‘kan mempunyai hak untuk istri ku Bude. Kenapa Bude semakin kemelut gini? Bisa dibicarakan baik-baik, nggak harus ambil keputusan nggak jelas gini.” Bantah Aksa, Aksa mengendarai dengan kecepatan rata-rata tapi pikirannya tidak tenang.
__ADS_1
Jika istrinya diambil lagi dengan Bude dan Pakdenya, untuk diurus.
Ia beberapa kali mengumpat, karena kebodohannya sendiri. Jika bukan karena pekerjaan, ia tidak akan berantem seperti ini.
Aksa memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Bude, Bude mengerutkan keningnya.
Bude tidak berani bicara apa-apa, hening sekali.
“Biar Aksa saja yang gendong, Bude keluar dulu saja. Ini obatnya!” Bude mengangguk dan menerima kantong plastik berisi obatnya Anin.
Aksa mendesah napas berat, ia tidak bisa berjauhan dengan istrinya. Aksa keluar dari pintu kemudi, dan membuka pintu mobil penumpang.
“Maafkan aku.” Ujar Aksa, Aksa menyapu pipi Anin dan mengecup pipi Anin.
“Aku tidak bisa menjadi suami yang bisa menjaga kamu, apalagi nanti kita mempunyai anak.” Gumam Aksa, Aksa menggendong Anin.
Terbuka lebar gerbang, dan pintu rumah. Aksa melangkah lebar, “Bawa aja ke kamar Aksa! Bude mau buatin kamu teh dulu.” Aksa mengangguk.
Aksa membawa Anin ke kamar yang biasa Anin tempati, dan membuka kamarnya dengan pelan.
Masih sama, hanya sprei dan selimut yang berganti, lalu hordeng pun diganti sama Bude.
Semua masih sama seperti dulu, Aksa menurunkan tubuh Anin di atas ranjang, kemudian ia meraik selimutnya dan menutupi tubuh Anin.
“Cepat sembuh sayang... Aku temui Bude dulu, sebelum ada kesalahpahaman lagi.” Aksa pun mengelus wajah Anin, dan mengecup kening Anin.
Aksa berjalan keluar, pergi meninggalkan Anin yang di sana sudah tertidur pulas.
Efek obat yang diberikan oleh dokter, dan badannya serasa lemas berarti ia harus cukup istirahat.
Aksa menemui Bude nya di dapur, Bude nya sedang membuatkan cemilan untuknya. Tapi, Bude tidak membuatnya sendiri, melainkan pesan di tetangga sebelah yang menjual beraneka ragam kue. Apalagi dengan buatannya, menjadi lebih famous.
“Bude...” Panggil Aksa.
“Iya, tunggu aja di depan... Nanti Bude akan siapakan semuanya.” Aksa menatap heran, ada apalagi ini? Masalahnya nggak kelar-kelar sampe lebaran tahun depan yang ada, nggak dimaafin. Wuih, Aksa benar-benar malu jika seperti itu.
...Bersambung......
Jangan lupa kasih like dan komennya 🙂.
Dah kan dua episode biar nggak dikasih tagihan lagi kayak utang. Maap kadang tu kalau ng update nggak sesuai copasannya jadi ya dah gitulah.
__ADS_1
Makasih udah menunggu, selamat membaca:)