Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 5


__ADS_3

Aksa bersiap-siap untuk ke rumah Bude, tapi ada aja halangannya. Ia harus berangkat pagi-pagi lagi karena ada beberapa client ingin bertemunya.


Baginya sudah beberapa kali ia bertemu dengan client nya tersebut. Membuat ia membatalkan perjanjian kontraknya dengan perusahaan tersebut.


“Huh, gitu aja...” Aksa mengumpat pelan dan ia membawa mobilnya dengan sendiri.


Tanpa bantuan seorang sopir, jarang ia memakai sopir dan pasti ia akan memarahi sopirnya jika terlalu lamban dalam bekerja.


Aksa pun melakukan perjalanan ke rumah Bude dan Pakdenya Anin. Cukup jauh emang, tapi ia harus tempuh untuk menjemput istrinya.


Handphonenya berbunyi, siapa lagi?


“Alah sampai tanganmu copot, bakal nggak aku angkat. Nyesek aku kalau pekerjaan ku banyak di kantor, jadi mengalihkan hal pribadi saja.” Protesnya, ia membalas dengan pesan yang beribu-ribu kata.


“Anjim lah kamu,” Ia pun mematikan daya handphonenya untuk tidak diterori pusat pesan yang begitu banyak dan telepon yang membuatnya pusing.


Coba saja kalau istrinya tidak kabur, mungkin ia bisa tenang sedikit.


Aksa memutar cd player, mendengarkan namanya di sana. Pengang rasanya, dan mematikan audionya.


“SEMUA CARI AKU... Emangnya aku itu apaan? Suruh kerja rodi,” Ucap Aksa dan di depan pintu merah. Ia membeli minuman mineral, agar melegakan tenggorokannya yang masih pekat sekali rasanya.


***


Anin sudah berberes, Bude nya pulang ke rumah dan Pakdenya bekerja.


Karena ada pembangunan perumahan elite, Pakde turun tangan. Yang membuat konsepnya, maupun draft dari perumahan tersebut.


“Allhamdulilah, nggak sia-sia aku... Oh iya, mas Aksa apa nggak cariin aku?” Cicitnya dengan menatap jalanan yang begitu kosong, hening. Tidak ada yang lewat, hanya tetangga yang ada di warung saja. Berkumpul, biasalah hari selasa jatahnya mereka bayar utang ke warung.


“Seperti yang aku katakan dari awal, jika pekerjaannya yang lebih penting...” Anin mendesah nafas berat, dan masuk ke dalam rumah. Ia menonton TV, kebetulan lewat berita tentang suaminya.


Para wartawan menanyakan keberadaan si CEO-nya, kemana bukannya hari ini adalah hari dimana peresmian gedung perusahaannya.


“Hah, ternyata ada peresmian gedung. Kok mas Aksa nggak ada, biasanya paling cepet dia...”


Melihat sekretaris yang hanya menjawab semua pertanyaan wartawan, membuat Anin tertawa lucu dengan sikap si Johan, sekretaris itu yang bikin ngakak.

__ADS_1


***


Aksa sampai di depan rumah Bude, kurang lebih empat puluh lima menit sampai di rumah ini. Karena kemacetan pula melanda wilayah ibukota, “Huft untung bawa buah tangan... Kalau nggak, bisa kacau dunianya.” Aksa pun menyisipkan rambutnya dan mulai melangkah masuk ke halaman rumah.


“Assalamu’alaikum...” Serunya, Bude di sana menyiram bunga langsung cepat ia tinggal pekerjaannya.


“Wa’alaikumsalam, eh nak Aksa... Sini masuk dulu, bentar Bude matikan dulu krannya.” Aksa menunggu, dan Bude mematikan krannya, jika tidak bajir sudah. Dan tanamannya akan mati semua.


“Ya udah masuk!”


Aksa dan Bude pun masuk ke dalam rumah, Aksa menaruhkan buah tangannya tadi.


Ia tidak mendengar siapapun di sini, dan jejak Anin sepertinya nggak ada. Terus kemana istrinya? Ia menggigit bibirnya, bingung harus mengatakan apa kepada Bude nya jika benar-benar istrinya tidak ada di sini.


“Bentar yah! Bude mau buatkan teh dulu cah ganteng, oh iya istri mu nggak ada di sini. Ada di rumah ibunya,” Bude ia sedari tadi menangkap wajah Aksa bingung.


Aksa langsung mengangguk, dan menyambar kunci mobil. “Anu aku mau ke sana aja Bude.” Ia tanpa basa-basi, dan menyalami Bude nya.


“Oalah anak kok nggak punya akhlak yang baik, ngobrol dulu lah... Terus ini oleh-olehnya buat siapa?” Tanpa bertanya, Bude pun membukanya.


“Beuh banyak banget nih,” Melihat isi di dalam paper bag, yang begitu banyak dan isinya bermacam-macam lagi. Jadi nggak enak sama ipar ponakannya itu.


***


Benar saja itu suaminya sudah ada di depan, Anin pun masuk ke dalam kamar mandi, untuk bersembunyi.


“Ya Allah, jangan sampai dah aku ketauan!” Ia berlindung seperti incaran penculik saja.


Sedangkan Aksa di luar dengan penuh semangat, ia mengetuk pintu nya.


“Assalamu’alaikum,”


Tidak ada sahutan sama sekali, ia coba lagi dan berkali-kali ia mengetuk pintu, tidak ada yang membukakan pintunya.


“Kemana ya Anin? Itu TV nyala, terus orangnya ada kemana... Dan baunya kayak gosong gini, wah jangan-jangan!” Aksa sudah curiga, ia pun harusnya tadi meminta Bude kunci rumah. Ia akhirnya balik ke rumah Bude, Anin di dalam kamar mandi dengan nafas tersengal-sengal.


Ia pun mencium bau gosong, “Ya elah masak gini doang, aku mau goreng tempe eh alah gosong... Em, mas Aksa sudah pulangkah? Atau ada di---” Ia dengan cepat mematikan kompor, dan masuk ke kamar. Ia menutup jendelanya, dan mengunci pintu kamar, ia halangi kursi di depan pintu dan beberapa alat di depan pintu.

__ADS_1


“Hah aku nih kayak berandalan gini jadinya, inceran orang.” Ia mengintimidasi dari jendela, dan mobil tadi mendarat lagi ke rumahnya. Jantungnya serasa kayak senam gini, goyang-goyang.


“Sabar nin, udah jangan dipikirin!” Anin masuk ke dalam selimut, dan suara pintu di buka. Membuatnya semakin kalut, ia menutup selimutnya.


“Hem, kemana Anin? Ini belum dimatikan TV-nya...” Ucap Aksa dengan mematikan handphone. Dan mencari di belakang, tidak ada orangnya yang dicari.


“Aninn... Assalamu’alaikum, ini loh suami mu ke sini... Masa aku disuruh pulang lagi, kan jadinya aku yang lemes bolak-balik ke sini...” Ia berdrama dan tingkah lakunya membuat Anin menggigit jarinya.


Aksa memilih kamar ibunya Anin, ia juga tidak tau menau tentang rumah ini. Dan tidak ada orang dan di kamar sebelah. Kok di kunci, sepertinya istrinya mendekam di kamarnya.


“Kamu ngapain ngumpet? Aku nggak gigit kok, cepet bukain....Kan kemarin aku kedinginan jadinya sekarang boleh bukain nggak?” Ini orang edan kali ya? Anin ngakak, dan ia tidak tahan...


Nggak, nggak boleh ia harus ke pendiriannya.


“Kamu marah? Hum ya udah kita selesaikan masalahnya berdua, jangan seperti ini! Kamu mau nyiksa aku pelan-pelan?” Aksa tetap saja mengeluh.


Anin menghela nafas panjang, karena ini sudah jam 5 Sore, suaminya tetap belum pulang. Karena ia melihat dari jendela, mobilnya belum juga keluar dari halaman rumahnya.


Tapi suara suaminya kemana?


“Eh bentar lagi pasti Bude sama Pakde ke sini. Mati aku, oh iya aku jago akting... Dan gunakan kecerdikan mu sekarang juga,” Anin mulai licik, dan menangis semenjadi-jadinya.


Aksa di luar mendengarkan istrinya nangis, ia bingung dan ada rasa khawatirnya, keadaannya pun sama kayak begini.... Ia sudah penampilannya nggak layak untuk ditatap.


Kacau.


“Oke, sabar...”


“Ada apa, kamu kok nangis...” Tanyanya dan Anin mengucapkan kalimatnya.


“Kamu pergi sekarang, jangan nengok aku lagi dan aku masih marah sama kamu... Pokoknya pergi,” Heh Aksa mengerti kali ini. Pasti dia di akali dan di bodohi.


Bodoh sekali dia.


Akhirnya dia tertawa, “Sini kamu nih jago amat kalau nge-bodohin suami, dosa tau kata Pak Ustaz... Nggak papa, aku nggak marah kok.” Huh dasar nggak bisa nih si CEO di bodohi sama istrinya.


Dan Anin mau nggak mau keluar dia, menemui suaminya. Susah payah ia, kaki yang terkilir kemarin belum ia obati sama sekali dan serasa masih nyeri, tapi ia tahan.

__ADS_1


Entah Bude sama Pakdenya tidak mengurusi apa yang ada, keningnya saja ia obati sendiri dan untuk kaki? Ia nanti jika mengurutnya sendiri maka akan salah urat, dan membuatnya semakin tersiksa.


“ADA APA KAMU KE SINI?” Ketusnya dengan nada dingin, Aksa pun mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.


__ADS_2