Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 60


__ADS_3

Senja sudah menghilang, kini sayup-sayup adzan maghrib berkumandang. Tanpa dirasa buka sudah waktunya, dan tak terasa jika hari ini perempuan hamil berhijab itu memenuhi puasanya.


Lancar sampai buka.


“Kamu mau makan apa, mas?” tanyanya sambil mengambilkan peralatan makanan yang sudah tersedia di atas meja makan.


“Boleh nggak kalau itu disingkirkan?” Aksa sejak tadi memandang pemandangan yang tak nikmat dan tidak terlalu membuatnya nyaman untuk melihat.


Anin tersenyum smirk, “Lah kenapa? Bukannya kamu yang mau tadi?”


Iya, Anin menuruti semua perintah Aksa untuk berbuka puasa dengan sesuai apa yang ia jawab. Berarti nggak papa dong, makanan itu disajikan di depan mata apalagi nikmat sekali baunya kek bau kentot.


Aksa rasanya mau muntah, sejak tadi ia menggembungkan pipinya dan terasa sekali nyengatnya sampai menusuk beberapa kali di hidung.


Akhirnya Anin menghela napas, “Kalau nggak mau ... mending aku makan aja,”


“Nggak boleh!” kerasnya dengan mengambil piring itu dengan tahan napas.


Bisa berubah dia kalau di depan orang-orang, istrinya ini memang mampu menaklukkan siapapun. Membuat Aksa kadang ketar-ketir, Aksa mulai mencoba makannya.


Awalan serasa menyakitkan, tapi ini demi istrinya bukan kemauan hatinya yang tergerak untuk memakan makanan tersebut. Ingin memaki, ingat itu di depan hadapan mu sekarang bukan kah istri mu. Mungkin kalau orang lain, bisa ia jadikan kue nastar sekalian buat jajan lebaran.


Anin di dalam hati sedang berbunga-bunga, ia memakannya dan melirik dengan senyuman khasnya tanpa diduga suaminya diam-diam melirik tapi sebenarnya Anin tidak merasa.


Kemudian, selesai berbuka Anin dan Aksa melanjutkan sholat maghrib berjama’ah di mushola yang satu halaman dengan rumah Aksa, bersama para pembantu dan pengawal.


Salah satu pengawal yang sudah di atas umurnya disuruh untuk menjadi imam, lainnya menjadi makmum. Awalnya menolak, tapi ini semua perintah dari majikan maka harus dilakukan. Hanya karena perkara untuk menjadi imam saja jadi agak berat ancamannya.


Aksa, laki-laki itu kini lemas tak berdaya di Mushola. Banyak pengawal yang turut membantu untuk mengangkat tubuh Aksa ke kamar tuan mereka, atas perintah istri dari tuan mereka dan mereka sempat terkejut.


Tapi, semua balik ke kamar masing-masing dan banyak yang lagi nongkrong di luar ataupun di ruangan tersendiri khusus untuk pengawal atau bibi, pembantu di rumah.


“Mas, kamu ini kenapa sih? Akh kayak gini, pasti kamu makan aneh!” tuduh Anin, dia mencari uang koin untuk melakukan kerokan dan meredakan rasa sakit yang menjalar di tubuh suaminya, mungkin ia menggunakan cara tradisional tapi tidak bagi Aksa.


Aksa menggelinjang kaget ketika uang koin jatuh di posisi dirinya dan minyak kayu putih, ia melotot ke arah istrinya yang sudah sedia untuk duduk.


“Mau ngapain kamu?”

__ADS_1


“Ya mau ngerokin kamu lah, emangnya mau apa?”


“Jangan! Mending pakai medis saja biar cepet sembuh,” larang Aksa. Ia juga tidak mau kena kerokan, beuh rasanya seperti digorok sama linggis.


Mantap! Paling pekerjaan yang dihindari, bisa dihitung selama dia hidup dari kecil selalu tersiksa jika ia melakukan ini. Biarkan sakit, yang penting sembuh kata mamahnya tapi Aksa selalu menolak keras ataupun melarang benda koin itu menempel, menggorok bagian punggung.


“Kalau nggak ada perintah, jangan dikerjakan!” sinis Aksa dengan melotot dan Anin hanya menatap santai, sambil tersenyum.


Anin menarik baju suaminya, lalu Aksa berteriak dan Aksa lari ke kamar mandi untuk menghindari. Karena rasa mual sudah tidak terelakkan lagi, gejolak itu muncul kembali.


“Mas, kamu nggak papa?” tanya Anin sembari memutuskan jalan ke arah kamar mandi dan ia melihat suaminya sedang mengucurkan kran kamar mandi.


“Ngapain ke sini?”


“Heh iya, tapi aku mau mewanti kalau bentar lagi lebaran lho, seharusnya badan itu sehat ... fit, bugar dan semuanya sehat jasmani sama rohani. Lah ‘kan aku tadi nawarin baik-baik kok ditolak.” Ucap istrinya dengan mengulum senyum, sebenarnya ia paksakan demi suaminya yang sejak tadi tatapannya menaruh rasa curiga.


Curigaan mulu sama istri terus!


“Nggak usah nggak papa! Mending kamu bobok,”


Sekujur tubuhnya serasa keringat dingin melandanya, membuat dirinya dilema ingin cara tradisional atau cara medis. Kemungkinan cara medis jalan satunya yaitu disuntik, akh serasa kek bikin kejang-kejang kalau disuntik. Hal yang paling dihindari menurut Aksa.


Nah kan padahal dulu pas suntik namanya apa lupa... Kalau nggak salah kudu jika orang mau nikah disuntik itu, biar apaan kadang mikirnya sampai ke situ.


Sampai membekas di hati dan pikirannya tiap ada orang menikah, selalu ia kompori dengan cara yang tidak halal lah atau gimana buat ngerusak otak dari kaum perempuan maupun laki-laki.


Enaknya itu belok kalau belok tinggal ke negara Jerman sana, biar dapet semuanya karena bebas secara kalau di Thailand sekarang ada yang namanya peraturan yang tidak memperbolehkan laki-laki dengan laki-laki.


“Heh, mikir apaan? Cepetan, dari tadi bengong aja ...” kata Anin yang membuyarkan lamunan Aksa, Aksa menggeleng. Ia menyipitkan matanya, lalu ia melirik ke arah istrinya yang menengadahkan tangannya.


“Uang ada di dompet kalau mau bagi-bagi sama kaum dhuafa apa nggak yatim-piatu. Karena wajib kalau bagi aku sih, tiap mau mendekati lebaran. Ya sudah menjadi tradisi turun temurun dari keluarga,” ucap Aksa tanpa mengetahui apa maksud Anin, Anin sedikit geram.


Matanya sudah menandakan bukan tertuju kepada orang lain, tapi suaminya sekarang yang makin ngawur dan ngelantur seperti orang gila.


“Oke, sekarang kita ke rumah sakit dari pada mikir terus ... nah terus kapan rampungnya kalau gini.” Sambil memperagakan gaya gerak memikir, yaitu telunjuk diletakkan di bawah dagu dan suaminya sedikit tersenyum.


“Hahah, iya-ya...” Anin menggelitik bagian paha suaminya.

__ADS_1


Bagian yang paling sensitif, mungkin jika tidak bulan puasa akan ia terkam hidup-hidup sampai di titik terang kehidupannya.


Antara mau milih hidup bersama atau memilih salah satunya.


Dengan syarat memenuhi semua kemauan Aksa.


“Ngelamun lagi?”


Anin menatap malas, ia pun menarik tangan Aksa dan ia menggunakan kerudung asal yang penting sekarang suaminya harus sembuh.


Kalau nggak sembuh siap saja Anin menyentil bagian tubuh Aksa yang mudah rentan sakti.


Oke, Anin toh mau lebaran sama-sama menyadari.


Aksa dituntun ke ranjang, sudah selesai drama beginiannya sampai Anin bingung mengatasinya.


“Ya udah kamu sekarang duduk! Biar aku ambilkan teh hangat dulu, nggak usah tarawih saja daripada loyo kek begitu. Apalagi muntah,” ucap Anin yang mukanya pasrah dan melihat suaminya tentu ia bingung.


Jalan satu-satunya ya harus memaksa suaminya untuk berbaring dan menyelimuti rubuh suaminya, mengeluarkan minyak kayu putih.


Anin membalurkan ke tubuh suaminya, Aksa hanya berserah diri. Ia sudah tak mampu untuk menetapkan matanya, pada akhirnya ia pejamkan matanya.


Anin menelisik, ia pura-pura tersenyum aslinya mah dia di dalam hati dongkol karena suaminya tidak menuruti perkataannya. Beh, sabar!


Nanti sehabis ngapuro (maafan) ulah lagi dia, dan Anin tersenyum smirk. Sudah merencanakan sesuatu yang bakal benar-benar terjadi nanti.


Bersambung...


Makasih buat kalian yang sudah dukung sampai sini, oke maaf jika ada salah kata atau ketikan. Ya maklum karena kadang suka nggak nepatin janji memang. Hehehe, oke see you next episode.


Oke, saya ucapkan buat kalian semua yang muslim SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1443 H DAN SAYA MEMINTA MAAF JIKA ADA KESALAHAN, atau apapun itu...


Minal Aidzin Wal Faidzin 🤗


Sekeluarga dari manapun itu, saya mewakili 🙏😊.


Woke sampai bertemu di lain hari, atau nggak besok kalau aku sempetin 🤣. Nah, baru aja minta maaf, ya tapi nggak janji 'kan.

__ADS_1


__ADS_2