Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 70


__ADS_3

Anin. Perempuan itu kini sedang ada di ruang makan, ia butuh asupan nutrisi untuk mengisi perutnya yang kosong itu. Sampai beberapa kali berbunyi tandanya emang harus dikasih makan.


“Kenapa ya kalau lagi makan nggak ada yang nunggu?” Matanya mengelilingi setiap sudut ruangan, pasti bude dengan pakdenya masih ada di sana. Tidak mungkin ia bisa seenaknya di rumah.


Sementara di kamar, Aksa di dalam kamar. Ia memikirkan pekerjaannya yang awalnya emang pertama masih ada di tangannya, kok sekarang sudah hilang entah kemana.


Ia sudah membawanya tadi. Dan Aksa masih memikirkan gimana dengan kertas itu, kertas tersebut masih dokumen penting yang membantunya untuk pembatalan kerja sama.


“Hm ... hm,” sambil bergumam. Ia ke meja yang ada di kamar, mencarinya di sana. Tapi, di sana tidak ada apa-apa melainkan hanya barang yang bukan tempat pekerjaannya.


Aksa terlihat capek sendiri, padahal AC di dalam kamarnya hidup tapi tidak bisa membuat hati Aksa untuk diam dahulu. Istirahat, Aksa pun duduk di atas ranjang sambil mengingat.


Laki-laki itu lalu mengacak-acak selimut yang di atas ranjang, prustasi yang ada.


“Nggak ketemu juga,” ucapnya dengan resah.


***


Suara itu kembali mendengungkan bagaikan bom yang meledak, membuat Anin berjalan menuju ke sumber suara dan ternyata ada seseorang perempuan yang membawa ransel serta kopernya dengan tampilan urak-urakan.


Anin menyipitkan matanya, “siapa perempuan itu?” Anin terheran dengan perempuan yang kini mendekatinya.


“Eh iya namanya s-siapa?” tanyanya dengan gugup.


Anin, dia tampak terbengong sebenarnya. Tapi, apa orang ini salah alamat?


“Anin, kamu siapa?” balasnya dan bertanya, ia ingin mengulik lebih dalam ketimbang penasaran selalu pikirannya tidak tenang.


Perempuan itu kini memeluk Anin, reflek Anin tak bisa apa-apa sebab badannya kecil tapi tenaganya mengalahi laki-laki saja. Anin hanya menahan tubuhnya untuk tidak limbung di kursi sofa. Apakah orang ini belok sampai-sampai nafas Anin ingin putus.


Perlahan Anin memastikan keadaan sekitar, tidak ada siapa-siapa. Ia menggigit bibirnya dan memikirkan cara untuk lepas dari orang GILA ini. Kasian sekali anaknya kalau kejepit begini.


“Huh, gue kangen banget sama lo.”


“Siapa lagi lo itu?” Anin bingung, ia bertanya kembali mengenai nama orang yang dihadapannya yang perlahan mengendurkan pelukannya.


Orang itu berdecih pelan dan menghela napas kasar, “Ih Anin kok nggak inget sih!” kesalnya dengan menghentakkan ranselnya yang ada di punggung bagian belakang dan melemparkan asal, Anin membelalakkan matanya.


Weh untung nggak kena kepala orang. Tinggal R.I.P kalau kena


Batinnya terheran-heran, ia memegang tangannya lalu mengarahkan ke dahi orang itu.

__ADS_1


“Nggak panas ‘kan? Padahal AC nyala dua puluh empat jam lho,” sindir Anin dan orang itu memutar bola matanya malas.


“Goblok amat punya teman kok gini amat ya,” sinis orang itu dengan merebahkan tubuhnya di atas kursi sofa yang ada dihadapan Anin dan tanpa merasa sopan santunnya rendah.


“Heh gue tanya baik ya, gue atas nama istri dari Aksa nggak pernah namanya temenan sama orang-orang asing, em---”


Ucapan Anin terpotong begitu saja karena orang itu malas untuk berdebat, ia sudah lelah untuk berantem dan adu mekanik, sebaiknya jangan buang waktu dan tenaga untuk adu mekanik.


Sekalian ke lapangan, buat jadi bahan tontonan.


“Ya Allah nin, gue temen deket lu dulu. Gue yang dari Australia, pindah sama bapak gue.” Anin mengerjapkan matanya sambil mengingat, ia pun tersenyum getir.


“Lu kenapa nggak bilang sih?” kelopak matanya melebar kini, perempuan itu pun menghamburkan pelukannya kepada perempuan yang sedang membuncit keadaan perutnya. Anin sedikit terhimpit dan pusing, sebab ia mencium bau tak sedap yang menempel di tubuh perempuan yang mengakui jika dirinya teman kecilnya dulu.


Ya, Anin tak ingat apa-apa. Yang penting sekarang ia percaya saja, walaupun memorinya sedikit ingin mengulik di masa lalunya tetap saja hanya beberapa ingatan yang terlintas di memorinya.


Anin memberikan ruang geraknya, ia menggerakkan tangannya dan di dalam hatinya pasti ia mengumpat kasar.


Anin tidak berani menyembur secara terang-terangan, masalahnya kalau kedengeran suaminya bisa tujuh hari tujuh malam ia akan diberkati oleh ceramahnya yang tidak bermanfaat.


Mana tukang ngadu lagi, dengan apa adanya.


Sok tampang polos di luar eh di dalam minta ampun pokoknya.


Anin hanya menatap cuek, “Lo sekarang punya rumah gede ples lagi punya laki tampan. Beh, kurang apa hidup lo. Dikatakan sempurna pasti sempurna.” Puji perempuan itu dengan berlebihan.


“Lah emangnya lu belum nikah sampe segitunya muji orang.” Ketusnya nada agak emosi. Dateng bukannya silaturahmi buat nanyain gimana kabarnya eh malah muji yang nggak penting, emangnya ini semua hartanya?


Bukan, harta cuman titipan semata Tuhan. Kalau Tuhan mentakdirkan untuk berputar maka siapa harus menerimanya.


“Iya dah, lu dah makan?”


“Oh iya gue laper di sini, mau minta makan sebenarnya mampir tadinya.” Kekehnya dengan muka tak berdosanya mendahului nyonya rumah.


Perempuan itu sebenarnya memang sahabat kecil Anin, Anin sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri artinya perempuan itu benar-benar saudara Anin.


“Suami lo kemana?” tanyanya berbisik, Anin yang tidak mendengarnya itu tidak mengidahkan pertanyaan perempuan itu.


Perempuan itu tampak kesal dan mencolek lengan Anin, sembari memberikan reflek untuk menengok ke samping.


“Hm, aku mau ke kamar dulu. Mau menghampiri suami gue,” ucapnya tanpa basa-basi.

__ADS_1


Membuat perempuan itu memberengut kesal, di sini dia tamu masa iya mau menyusul nyonya rumah buat menanyakan boleh makan di sini apa kagak.


Soalnya ia tadi belum diizinkan sepertinya dari sorot mata dan raut wajahnya yang tidak mengenakkan.


Anin, perempuan itu sekarang memang agak sedikit nggak mood buat menemui sahabat kecilnya itu yang akhirnya sejenak membuatnya nyaris muntah dihadapannya karena baunya menyengat dari aroma tubuhnya.


Apakah ini respon si bayi yang nggak mau dekat-dekat.


Padahal sebenarnya sahabat kecil Anin itu sudah memakai minyak wangi sampai drigennya tumpah hingga tandas ia habiskan.


Anin berjalan menuju ke kamarnya, tak sampai di situ ia dipanggil oleh pengawal yang berbadan tegap dan rahang tegas itu.


Tampan, dekat dengan sempurna tapi masih tampan suaminya.


Kali ini ia puji, karena kalau memuji orang takutnya ada telepati atau apalah.


Suaminya malah mengetahui kan bisa gawat.


Anin membuka pintu kamar, ia mendorongnya dan menutup kembali pintu kamar.


Sebelum ia menatap ke belakangnya, ia sudah heran dengan penampilan dari depan dan suara gemuruh dari kamarnya ada sesuatu yang membuatnya penasaran.


Cepat-cepat Anin berjalan menuju ranjang dan ia menatap dengan tatapan tajam melihat kamarnya yang sudah tidak terbentuk lagi dari tatanan rapi menjadi seperti kacau balau begini.


Ia sempat tercengan dan Anin menghirup napasnya dalam-dalam.


Ia membuang napas kasar, melihat suaminya sudah tersenyum lebar dan terkejut melihat Anin yang sudah bersedekap dada sembari memijit pelipisnya.


“Cari apa sebenarnya mas?” tanya Anin lembut.


Ia tak suka jika ia kasari tapi ujungnya nggak mau jujur.


Seharusnya bubur kacang ijo itu dipatok harga biar sekalian nggak mahal-mahal amat.


Bersambung...


Jangan lupa like sama komen ya🤗


See sama satu follow IG Din pula.


@dindafitriani0911

__ADS_1


Bye:)


__ADS_2