Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 23


__ADS_3

Anin kembali ke kamar, dengan menangis tersedu-sedu dan sampai menabrak beberapa guci yang dibelikan oleh ibunya. Beberapa hari yang lalu, masih baru dan Anin tidak mempermasalahkannya namun ibunya Aksa?


Entah nanti masalahnya.


Aksa menyusul istrinya ke kamar, sebenarnya ia tidak bisa menahan emosinya. Tapi, ia harus bersabar dan itu semua cuman bawaannya pingin marah saja.


Ia membuka pintu kamar, dan berantakan sekali kamarnya.


Kenapa tidak menyuruh bibi untuk membereskannya, dan Anin meringkuk di bawah selimut. Terdengar jika istrinya menangis, Aksa tersenyum tipis.


Aksa pun melepaskan blazernya dan masalah jasnya tadi, ia tinggal di kantor. Besok juga ada hari, ngapain juga memikirkan.


Aksa mendekat, dan menyikapkan selimutnya.


Ia mendekatkan wajahnya dan mencium kepala Anin.


“Ngapain?” dengan nada terseguk-seguk dan Aksa menghela napas kasar. Ia menjauhkan wajahnya dan menatap istrinya, yang membelakanginya.


“Jangan nangis! Nanti jelek jadian,” ucap Aksa dengan menggulung kemejanya.


“Dasarnya emang jelek ‘kan?” nada ketus yang dikeluarkan dari mulut Anin.


Aksa membalikkan badannya, “Aku mau keluar dulu.” Ia beranjak, tapi sebelum beranjak Anin meraih tangan Aksa, agar tidak beranjak dari ranjang.


“Oke, aku minta maap .... Salah terus,” Anin memeluknya dari belakang dengan ingus menempel di baju suaminya. Aksa terkekeh, kalau nangis lucu juga. Lucu apa? Gundulmu, ini juga karena kamu. Mungkin seperti itu balasan Anin jika mengetahui isi hati suaminya.


“Ya, ya udah sekarang kita makan. Udah siang ini,” pinta Aksa, Anin mengangguk.


Ia ke kamar mandi, untuk menghilangkan sisa bekas tangisannya yang menjejak di wajahnya. Wajahnya sampai memerah, dan apalagi matanya. Aksa menunggunya, dan ia sesekali mengecek handphone.


“Oh ternyata si tua bangka itu ngancem, emang dah aku yang disalahin terus.” geramnya, Aksa meletakkan handphonenya di nakas, lantas ia beralih ke tatapan istrinya yang sedang mengitimidasinya dari jarak dekat.


“Jangan mancing!” dengan senyum simpul, tak terlihat jelas. Anin memiringkan sudut bibirnya, ia berdiri dan Aksa ikut berdiri.


“Hm, maaf kalau nggak masak dengan tangan ku sendiri....” ucapnya dengan sendu dan Anin tidak berani menatap suaminya itu, semestinya ada cara untuk menggugah selera makan Aksa jika tidak hasil masakan istri, ibu, apa nggak penjual dan bibi di rumah yang sudah mantap di hatinya. Itu akan membuat Aksa mogok makan, Anin berjalan terlebih dahulu dan sampailah mereka di meja makan.


Aksa duduk, “Hm, mau telor dadar setengah mateng ya.” Dengan tatapan meminta tolong kepada Anin, Anin pun mengangguk. Ia segera membuatkan apa yang dipesankan oleh Aksa.


Aksa menunggunya di meja makan, karena jarak di dapur sedikit jauh dengan meja makan berada. Aksa menuangkan air minum di gelas, tapi salah ia malah mengambil piring kecil dan ia terkekeh pelan karena lebih memfokuskan kepada handphonenya yang ada di genggamannya.


“Ini udah mateng,”


Anin membawa piring yang berisi telur sesuai pesanan, Anin memberikan nasi yang sedikit untuk suaminya dan lauknya yang sesuai porsi. Emang kalau kebanyakan makan nasi, Aksa suaminya itu akan selalu buang air besar jika terlalu di porsi yang berlebihan.

__ADS_1


“Em, mau balik lagi kamu mas?” tanyanya disela-sela makan, itu membuat Aksa mendiamkan sejenak.. Nggak enak diganggu dengan pengalihan obrolan nggak jelas seperti ini, emang sih Anin sudah terbiasa tapi baru kali ini.


“Ya...” dengan singkat, dan Aksa melanjutkan makannya.


“Oo... Ya udah, berarti—”


“Assalamu’alaikum, maaf non sama tuan... Ada tamu,” ucap salah satu pelayanan yang memberitahu mereka, Aksa melirik tajam.


Enak lagi makan, eh ada tamu.


Sudahlah, ia tidak jadi makan.


“Suruh aja nunggu! Kalau nggak mau, suruh saja gabung sama kita!” ucap final yang terlontar dari mulut Aksa, Anin mengangguk. Ia ingin berbicara, tapi ya sudah ia urungkan.


“Baik... Mari tuan, nona...”


“Ya...” jawab Anin, Anin tersenyum. Ia akan mengerjai suaminya kali ini, ah lega akhirnya bisa mengerjai suaminya. Mungkin ini terlalu keterlaluan tapi sudahlah, sekali saja.


“Eum aku mau ke kamar mandi dulu ya, mas...”


Habis sudah kesabaran Aksa, ia ingin damai dengan aktivitas makannya tapi kali ini salah. Ia menatap Anin tajam, “Silakan!” ia tidak berani untuk membentak, tapi nada dinginnya tak kalah dengan kulkas dua belas pintu.


“Oke...”


“Astaga ceritanya mau ngerjain, eh malah aku yang dikerjain.”


Anin melangkah cepat, dan ia melakukan kewajibannya.


***


Setelah itu, Anin duduk di kolam renang. Ia menikmati suasana anyem, tenteram dan segar. Ia pun hampir melupakan makannya, dan ia ingin di sini dulu.


“Ekhem...” suara deheman membuat Anin menghentikan aktivitasnya dan ia berbalik.


Di sana ada Aksa, bibi, dan pelayan. Ada apakah gerangan?


Anin mengeryit, ia meletakkan majalahnya dan ia beranjak berdiri.


“Belum makan kamu... Makan dulu! Aku nggak mau sakit,” ucap Aksa dengan menghampiri Anin. Anin tersenyum senang, akhirnya suaminya nggak jadi berangkat.


Karenanya mengulur waktu yang berkepanjangan.


“Em, tadi enek... Ya udah, nggak jadi deh makan...” jawabnya secara asal.

__ADS_1


Anin melihat wajah Aksa dekat sekali, ingin ia cubit tapi tak mampu untuk itu. Jugaan ini akan memancing birahi sang suami, meskipun ia ingin mengulur tapi tidak untuk saat ini untuk melakukannya.


“Aku ke kamar mandi dulu...” ucap Aksa dengan menyerahkan piringnya dan Anin tertawa pelan, untung saja pelayan maupun bibi tidak mendengarnya.


“Oh iya, kalian boleh kembali!”


“Baik non,” mereka pun pergi dari pandangan Anin.


***


“Gimana, sudah ada kemajuan tentang anak saya?”


“Belum, tuan... Saya berusaha semaksimal mungkin, tapi selama ini kita belum menemukan sekali pun anak anda tuan...” Ya, jarak anak orang itu dengan anaknya terpaut sekitar dua tahunan, dan orang itu meringis.


Kenapa ia belum menemukan anaknya, sekitar Lina tahunan ini pencarian dilakukan dan belum menemukan hasil sama sekali.


Mengusap rambutnya dengan kasar.


Rambutnya yang sudah putih, dan ia tersenyum smirk. Ini yang pasti nggak beres dengan detektif yang ia pekerjakan ini. Sekitar lima orang ini, masa tidak bisa menemukan anaknya. Ia baru nyadar, lantas orang itu berdiri.


“Kalian nggak becus! Jika kalian begini, saya tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian dan saya sarankan yah, jika kalian mau bodohi saya... Jangan di sini tempatnya! Hahaha, bodoh sekali!” mereka berlima saling tatap mata, dan bingung.


“Tapi, tuan. Kami sudah mencarinya, dan itu tidak ada hasil sama sekali!” salah satu orang berucap membuat tuannya itu menatapnya tajam, tajam seperti pisau yang masih mengkilap.


“Lalu saya percaya? Nggak,” dan ‘brakk’.


Suara meja yang ia gebrakan dengan tangannya, masih dalam keadaan tertawa meremehkan pekerjaan orang berlima itu.


“Saya kasih waktu satu minggu, jika tidak menemukan hasil... Saya tidak akan memberikan kepercayaan saya lagi kepada kalian, dan saya nggak bisa berharap jika kalian hidup nyaman, adem, dan tenteram dengan keluarga kalian... Seret berlima itu!” dengan menyuruh asistennya dan ia memutarkan kursinya. Terlihat air mata tidak bisa ia bendung lagi, keadaannya semakin mencekam.


Orang itu terlihat rapuh, ia baru menyesal dengan keadaan seperti ini.


Kemana sajakah? Ia menyesal karena tersentil oleh tangan kanannya sendiri di rumah, merasa ada yang nggak beres dan ia baru menyadari jika ia masih mempunyai anak dari istri pertama.


Ia menggengam kuat tangannya dan ia membuka laci meja, ia menyimpan foto bayi usang serta ibunya, ia mengusap kaca tersebut.


“Kapan aku bisa menemui kamu, nak? Ayah kangen,” ucapnya dengan nada lemah.


......**Bersambung


.........


Jangan lupa like dan komennya ❤️

__ADS_1


Biar bisa update terus 🤣**


__ADS_2