Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 68


__ADS_3

Anin, perempuan itu menunggu suaminya yang tidak pulang-pulang. Entah membelinya di mana, tapi ada rasa khawatir yang tercetak jelas dari sorot matanya.


Ia sempat mondar-mandir, dan hampir mengubungi suaminya. Ternyata, suara pintu gerbang sudah terbuka berarti itu suaminya sudah pulang.


Anin segera ke bawah melalui tangga, ia melihat para pengawal berjejer rapih.


Eh bentar! Ada yang janggal.


Anin pun ke bawah, sampai di bawah pintu utama terbuka di sana menampilan Aksa dengan tampang urak-urakan.


Tidak sedap untuk dipandang.


Anin lalu mendekati suaminya dengan tersenyum hangat, ia harus menyambut suaminya di kala suaminya sudah menenteng plastik putih, agak sedikit kurang percaya sih kalau suaminya bisa membawa buah yang dia inginkan.


“Bawa apa kamu?” tanya Anin, ia tidak ingin kecewa nantinya sudah mengharapkan lebih.


“Iya dapet lah, masa engga ... Aksa gitu lho,” dengan bangganya dan ia membawakan kantong plastik itu ke hadapan Anin.


Anin mengangkat dagunya, “Oke, ya sudah kalau gitu ... kamu mandi, terus sholat maghrib dulu. Keburu habis nanti waktu sholatnya,” perintah Anin lembut dan benar Aksa pulang ke rumah sudah selepas maghrib.


Sebab, ia tak mungkin akan pulang maghrib.


“Iya aku mandi nanti selesai sholat, mau bersih-bersih aja.”


“Hm iya cepat!” ujar Anin dengan mengusir jika tidak Aksa akan mengulur waktunya sampai adzan isya berkumandang pun Aksa masih ada di sini.


Aksa mendengkus pelan, ia melangkah menuju ke kamarnya melewati tangga.


Ia malas buat naik lift, juga kamar mereka masih ada di lantai dua nggak terlalu jauh untuk melangkah. Selagi tangga masih bisa digunakan, kenapa nggak pakai tangga?


Aksa melepas bajunya dan menyisakan perutnya yang terbeber sempurna, untung ia sudah masuk ke dalam kamar. Serasa kepingin teriak, tapi nanti sama istrinya dikira apaan.


Ia pun bersih-bersih dulu, mengganti semua yang menempel di tubuhnya. Dan ia mengambil air wudhu dulu sebelum melaksanakan sholat maghrib, ia sampai lelah sekali mau jalan seperti lem kuat menempel di kakinya. Tapi, ini kewajiban bagi seorang muslim untuk melakukan sholat wajib.


***


Selesai sholat, Aksa melakukan kegiatan mandinya sampai ia benar-benar sekarang sudah segar kembali dari raut wajahnya. Dingin, hawa yang dirasakan sekarang sebab ia pulang tadi merasakan rintik-rintik hujan membasahi bumi.


Aksa sekarang rebahan di ranjang, ia masih ingin beristirahat.

__ADS_1


“Hm, dingin amat ya.” Aksa mengambil remote AC, ia mengecilkan suhunya dan Aksa menyikap selimutnya untuk dibenarkan seperti semula.


Ia pun duduk di atasnya, baru nanti dibereskan.


Aksa bergemelatuk giginya, merasakan hawa dingin yang menggerogoti tubuhnya.


Disaat seperti ini, suara ketukan pintu membuat dirinya tak jadi untuk memejamkan matanya yang sudah ingin ia rapatkan, “Mas. Makan dulu! Ini aku bawain,” Anin. Perempuan itu membawakan nampan.


Berisi keperluan untuk makan malam, Anin duduk di hadapan suaminya. Suaminya mengambil nampannya, “Nggak usah repot-repot sih. Nanti juga aku ke bawah,”


Anin di dalam hati menyindir, “ujungnya kalau nggak makan. Maghnya kambuh,” ucapnya dalam hati dan berusaha menampilkan deretan gigi putihnya.


“Aku tadi sekalian, daripada kamu turun ke bawah.”


“Hm–”


“Udah mendingan makan!”


Anin sudah tidak sabar, hampir saja ia ingin merajuk kalau tidak dimakan makanannya sampai ia rela membawakan makan malam suaminya ini.


Aksa tersenyum tipis, ia memakan makanannya sumpah tidak mendapatkan tatapan tidak enak baginya jika dilihat.


“Sudah sore tadi, kalau malem soalnya kekenyangan.” Jawab Anin, perempuan itu kini mengambil remote TV di nakas dan ia menghidupkan TV di kamar ini.


Ia sudah terlalu jenuh untuk menunggu suaminya selesai makan.


“Kalau sudah selesai, ditaruh di meja aja.” Tanpa mengalihkan tatapannya dari TV dan Aksa mengangguk, sesekali menoleh ke arah perempuan yang diakui sebagai istrinya itu.


Aksa menatap tidak suka ketika orang itu lagi yang muncul di TV, membuatnya ingin mengganti chanel tv-nya. Namun, semua itu tidak semudah yang dipikirkan pasti ada masalah yang akan datang jika mengganti chanelnya.


Beberapa chanel sudah terlewati, akhirnya bisa menghembuskan napasnya pelan bagi Aksa. Tak lama ia membutuhkan waktu untuk menghabiskan makan malamnya hari ini.


Ia lantas beranjak dari ranjang, dan berdiri membuat atensi Anin menunjuk ke arah Aksa yang berjalan keluar dari kamar. Padahal ia baru saja bicara mengenai nampan yang kini sudah ada di tangan Aksa, Aksa membawanya keluar dan ia tidak mau merepotkan istrinya ssndiri.


Istrinya lelah capek, butuh tenaga apalagi berbadan dua sekarang.


Pandangan Anin masih sama. Ia sampai terbengong beberapa menit, suara langkah sandal kembali terdengar. Mungkin suaminya sudah kembali, cepat sekali malah ia belum terlanjur termenung lebih dalam lagi.


“Udah adzan, sholat isya dulu baru nanti istirahat.” Lebih baik memang sholat isya daripada nanti sudah beristirahat eh malah berujung tidak jadi sholat dan meninggalkan perintah yang seharusnya dilaksanakan.

__ADS_1


Anin mengangguk, ia memoletkan tubuhnya dan menggerakkan kepalanya.


Sedikit bahunya pegal, efek hamil memang terlalu dibawa kemana-mana harusnya gerak saja kalau dibolehkan oleh suaminya, mungkin ia sekarang ia akan aktif sampai membuat pusing Aksa.


“Nggak papa ‘kan? Kalau capek nanti aku pijetin,” ucap Aksa bersedia untuk memijit badan istrinya. Sudah lama juga ia tak bercinta di ranjang, tapi masalah itu ia mengingat istrinya.


Tidak boleh egois, ia bisa menahan dirinya walaupun agak susah.


Anin berpindah untuk berdiri, segera ia ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Hanya saja agak lelah, ia jalan saja sampai tidak melihat jika tembok hampir ia tabrak kalau tidak suaminya itu akan marah.


“Huft, kok ya gini. Kalau tembok nggak di sini, aman sih.” Kesahnya dengan menghidupkan krannya.


***


Pagi harinya, perempuan berhijab tidak beraturan lagi bentuknya dan baunya hampir menyerbak kemana-mana. Ia bersuara sampai napasnya terengah-engah.


Lelah sudah, tenaganya terkuras abis karena ia mengeluarkan cairan dalam mulutnya sampai muntah sudah tidak terhitung lagi. Suaminya?


Laki-laki itu sudah berangkat ke kantor pagi, sebab ada meeting pagi hari ini.


Anin, ia sudah tidak bisa berjalan lagi. Pandangannya mengabur, tempat dia sekarang ada di kamar. Mana bisa kalau nggak CCTV-nya yang memantau jika ia pingsan.


“Hah, ya Allah. Astaghfirullahalazim,” Anin duduk di sekitar pinggiran tembok yang ada di kamar mandi, dan benar CCTV tidak akan dipasang di setiap sisi kamar mandi, kecuali kamar ini yang dipantau oleh bosnya langsung.


Hhh... Gabut, pekerjaan melelahkan jika memantau pergerakan Anin di rumah.


Bisa dikatakan posesip.


Anin badannya limbung begitu saja, ia tidak kuat menahan badannya yang sudah lemas tidak berdaya.


Anin ingin mengubungi. Namun, terhalang oleh keadaan dimana handphonenya ada di atas ranjang.


Sia-sia sudah..


Bersambung...


Maaf kalau dikit, dan agak nggak nyambung 🙂😌...


oke see you next episode 🤗.

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungan😇


__ADS_2