
Revino, ia menghela napas pelan dan membenarkan jasnya, dibukakan pintu mobilnya oleh pengawalnya. Revino berdiri di depan gerbang, dan mengode pengawalnya untuk membukakan dan untung saja gerbang itu tidak dikunci, kemungkinan pakde sudah pulang karena ada mobilnya di depan dan motor yang sudah terparkir di sana.
Revino berjalan masuk ke dalam, dan pengawalnya disuruh untuk mengetuk pintu. Di dalam pakde dan bude sedang menikmati acara makan siangnya, namun ada suara ketukan pintu membuat mereka teralihkan.
“Pak, siapa?”
“Biasa, palingan mau bayar kontrakan. Kan pertengahan bulan,”
Pakde menghentikan aktivitas makannya, mungkin jika bisa nanti dilanjutkan. Boleh, sekalian mengajak tamunya untuk makan.
Iya ini sudah memasuki pertengahan-akhir bulan khususnya yang mau membayar kontrakan, atau apa itu dan itu sudah menjadi tantangan bagi orang-orang yang sudah mengontrak di kontrakan pakde, walaupun awalnya suka jatuh tempo sampai pakde kadang mengusir dengan cara keras, tapi ya ada jawaban pastinya.
Pakde membukakan pintu dan ketika membuka pintu, raut wajah pakde langsung datar ketika ada seseorang yang tidak ditunggu untuk kehadirannya hari ini, kenapa wajah itu kembali lagi. Sangat disayangkan jika dia kembali lagi, sia-sia semuanya.
“Ada apa ke sini?” tanya pakde tanpa mengidahkan pandangannya dari tatapan datarnya, dan Revino ingin mencium tangan kakaknya, namun ditepis kasar oleh pakde.
“Kak, maaf ... kalau aku terlambat,” tutur Revino, dan Edi pun berkomat-kamit sendiri, Revino langsung ngedeprok, perlahan ia bersimpuh di kaki kakaknya untuk meminta maaf.
“Jangan! Siapa yang ngajarin buat begituan?” Pakde memang tidak suka cara seperti itu, mau bagaimanapun itu cara salah, dia bukan ibu dari Revino tapi kakaknya, kalau ibunya tidak apa-apa, tapi caranya untuk menghormati kakaknya bukan cara seperti itu.
Revino dibantu untuk berdiri oleh pakde, dan Revino di dalam hati sedikit terbuka untuk bisa mendekati kakaknya, “Masuk saja!” titahnya dengan lembut.
Revino digiring masuk ke dalam rumah, entah masalah terakhir dengan ekspresi istrinya nanti. Kalau mau marah, ya jangan sampai melukai Revino! Itu saja sih, mau ngeluarin kata-kata yang seharusnya didengarkan oleh Revino, boleh saja toh dia pastinya merasa kesalahannya akan banyak sendirinya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Revino dan pakde Edi duduk di kursi single.
“Wa’alaikumsalam,” jawab pakde Edi.
__ADS_1
“Sebenarnya kakak belum meminta kamu untuk meminta maaf, dan hari ini waktu yang belum pas untuk melakukan permintaan maaf, sejujurnya sih kakak masih dongkol dengan kesalahan mu yang terlalu dibayang-bayang. Dulu kakak udah menanti kamu untuk pulang, dan untuk mengakui kesalahan mu itu apa! Kakak dulu percaya kalau kamu tidak salah, tapi sekarang maaf sekali ... hati kakak kecil kemungkinan tidak bisa memberikan maaf, karena kakak percaya jika adek kakak, bukan seorang pengecut yang bisanya lari dari masalah.” Jelas pakde dengan mata berair, dan nada bergetar. Akibat masa lalu yang selalu membayangi pakde Edi.
“Kak, maaf. Kalau dulu aku lari ...”
Bude yang mendengar salam tadi kaget pun keluar dari dapur, selesai berberes, meskipun tadi terjadi dan pakde nanti akan melanjutkan makannya.
“Kakak harap kamu bisa merubah, dan jangan tinggalkan keluargamu itu untuk meminta maaf dan bisa kembali ke keluarga ini. Itu pesan kakak saja, jangan sampai kamu mengulangi masalah itu lagi!” ucap pakde dan bude yang berjalan ke arah ruang tamu itu awalnya tersenyum.
Karena melihat ada mobil yang terparkir apik di halaman rumahnya, berarti orang penting dong. Dan bude mendekati pakde, wajahnya terkejut langsung berubah masam dan kecut.
“Oh ternyata ada orang yang nggak ditunggu kehadirannya, toh ...” celetuk bude, bude pun langsung pergi dari sana. Karena tidak ingin melihat orang yan ia sebut dan menyindir tatapannya saja sudah tidak suka.
“Kak .... maaf banget kalau aku--,”
“Nggak usah, kakak sudah memaafkan kamu ... tapi dengan syarat kamu temui anak kamu... kakak akan bantu, kalau kamu bisa mendapatkan hati anak mu. Berarti kamu bisa mendapatkan hati kakak ...”
“Tapi---,” ucapnya dengan tidak percaya jika dirinya bisa mendekati hati anaknya, kecil kemungkinan saja cuman berapa persen. Revino menatap kakaknya, Edi hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Susah memaafkan tapi mau bagaimanapun Revino tetap adeknya, dahulu ia sudah dititipkan pesan oleh mak sama bapaknya untuk membimbing Revino, ya dahulu mak sama baaknya sebelum meninggal menitipkan salah satu pesan yang harus dijaga sampai tua, sampai pakde menutup mata selamanya.
“Belum berjuang, makanya perjuangkan dulu sebelum menyerah... seharunya begitu... kakak dulu pernah memperjuangkan kamu untuk garda terdepan kakak, supaya nama kamu bersih tapi tetap saja kakak nggak bisa dek, kepercayaan kakak sudah sepenuhnya memudar.” Ucap pakde Edi.
“Iya maaf kak, kalau aku waktu itu lari dan aku dulu bingung untuk memilih siapa ... ujungnya aku memilih keputusan yang salah, aku prustasi kak ... waktu itu tidak ada pundak yang bisa menolongku,” jawab Revino dengan nada bergetar, dan menangis juga kali ini. Karena tidak kuat menerima gunjingan warga pada saat itu. Sampai tidak ada yang bisa ia lakukan, ya jalannya yaitu menikahi perempuan model pada saat ini.
Namanya masih menjadi pembicaraan hangat atas kasus yang menimpa istrinya kali ini, ia sampai bingung dan prustasi karena istrinya. Sempat beredar jika istrinya masuk rumah sakit, dan itulah ia laki-laki yang ingin bertanggung jawab atas kejadian istrinya.
Revino menyuruh orang yang bisa menghapus berita istrinya, api tetap saja menjadi pembicaraan di Tv maupun di majalah. Memang itu sudah kesalahan fatal untuknya namun istrinya memaksa dirinya untuk menghapus berita yang beredar.
__ADS_1
“Salah siapa coba? Kakak pada saat itu tidak memaksamu untuk pergi, tapi selesaikan baik-baik!”
“Iya semuanya salah ku memang...” Revino kali ini lebih mengakui ketimbang ia harus berdebat kembali.
Revino menatap dan sesekali membuang napas pelan. Benar saja pakde Edi kali ini tidak mencuekkan dirinya yang beribu kali memohon maaf dan terpaksa pakde Edi nanti mengepel lantai demi istrinya karena memang semuanya tidak sopan ‘kah memasuki rumah pakde Edi dengan sepatu. Dasarnya kalau orang kaya sukanya mentang-mentang tanpa memandang bawah.
“Ya sudah, kali ini masalah selesai ‘kan?” tanya pakde Edi dan Revino kembali menatap tidak percaya, tapi ia buat semenetral mungkin pada saat ini.
“Emangnya kakak udah menerima aku sebagai adek lagi?” tanya Revino dengan memastikan, dan pakde mengulum senyum. Ia pun merangkul pundak adeknya.
“Kata siapa?” tanyanya dengan menampilkan senyum smirknya.
Revino memandang datar, dan pakde Edi memukul punggung adeknya dengan pelan sebagai kode.
Silakan berjuang dengan caramu sendiri, walaupun awal yang menyakitkan ditusuk beribuan jarum tapi akhirnya bisa mengharukan sendiri. KARENA perjuangan tidak menghianati hasilnya, bakalan hasilnya kita nikmati to? Ya, semangat buat kalian yang lagi memperjuangkan dunia yang hanya sementara ini.
Pakde Edi lantas berdiri dengan memasang wajah tegasnya dan tajamnya, “Kali aja dapet kesempatan untuk tidur di rumah ini ya? Mau ‘kan?” ucap pakde Edi dan Revino mengangkat sebelah alisnya. Apa ia tak salah dengar omongan kakaknya barusan?
Atau sebagai ujian pertamanya, ia menatap pengawalnya yang setia mendampingi dirinya. Tidak ada yang bisa memasang wajah untuk meyakinkan dirinya, huh benar-benar bikin kesal. Emang sih kalau pengawalnya suka masang wajah cuek dimana pun itu, karena sudah dilatih mimik wajah sih. Jadinya hal biasa yang ada di dalam diri pengawalnya.
“Oke aku terima penawaran kakak tadi.” Jawabnya dengan enteng, padahal mah dalam hati pakde sudah terpikir oleh niat yang nggak baik, tapi ya nggak papa sih orang mah ingin yang terbaik menurut hatinya. Sekarang ikuti alur yang pakde mainkan.
**Bersambung...
Maaf nggak up yah, iya kemarin ini apa nggak punya paket dan Yap boleh dikatain ingkar janji, hehehehe maaaf sekali lagi🙏**
Makasih buat yang dah komen dan ngedukung 😚.
__ADS_1
Ye😌, jangan lupa follow IG Din yah kalau mau minta folbek boleh kok DM Din wae.
@dindafitriani0911