Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 46


__ADS_3

Setelah kejadian remote tadi, ternyata Anin salah memasukkan kabelnya dan yang malah dicolok kabel wifi, bisa dikatakan agak grusak-grusuk, mak gedebuk. Anin mengakui jika dirinya kurang memperhatikan, sekarang sudah jam sepuluh pagi atau siang, alah nggak tahu ini bahasanya apaan.


Anin tahunya jika jam sepuluh itu masih pagi, berarti ya masih lagi ya. Tapi, mas Aksa masih di depan pintu tanpa mengalihkan pandangannya dari balik pintu. Emang ada apaan dah?


“Ngapain mas?” tanya Anin sembari membuka majalah yang terpampang muka jelas suaminya, apa ya prinsipnya biar sukses. Kuncinya itu apaan? Tapi di sini tidak ada majalah yang menggambarkan jika suaminya seorang CEO.


“Heh, apaan ini majalah? Kok isinya aneh amat, perasaan kagak amat ganteng. Kok sampai difans sama orang-orang sih! Ah elah punya TV koretan aja bangga bos, sini dong!” ucapnya dengan menantang foto Aksa yang terpampang jijik melihatnya, jika ini bukan suaminya melainkan orang lain saja yang belum punya istri, ia tampil pakai linggis segala.


“Nggak papa, cuman nunggu orang saja.” Dan Anin mengangguk, orang kok ditunggu! Ya kalau mau tamu, sebaiknya nanti saja bukan ditunggu, kagak biasanya ini orang emang istimewa sampai diberikan penghormatan lewat pintu segala.


Anin berdecak kesal, melihat suaminya modar-mandir dengan langkah kaki panjangnya, dan Anin menghampiri suaminya, “Ngapain ditunggu di luar! Mending masuk ke dalam, ayo!” seru Anin mengajak Aksa agar masuk.


Aksa tetap kekeuh, “Nanti ada apa-apa lagi!”


“Heh, siapa yang bilang gitu?” kacaknya dan Aksa menggeleng.


“Ini aku tadi, ya kaget sih. Dapet paket, aneh dan lagi-lagi nggak ada namanya.” Jelas Aksa dan Anin mengerutkan keningnya, siapa orang yang mengirimkan paket tanpa nama atau jangan-jangan orang yang selalu julid atau ada yang lain?


Nggak kira-kira orang itu, Anin sadar dari menjenakkan pikirannya dan Aksa yang memerhatikan, dengan raut wajah datar tanpa mengubah posisinya. Posisinya malah begini, kurang nggak enaknya diliat malah pingin memaki Aksa.


“Kenapa kok nggak kamu buang, isinya apaan?” tanya Anin, Aksa tampak berhenti sejenak dan ia menatap kotak sampah, “Sudah dibuang. Aku tadi sudah nyuruh bibi buat buang ke orang yang tukang ngangkut sampah itu,” jawab Aksa dan Anin mengangguk.


“Berarti nggak ada apa-apa dong! Nggak usah dipikirkan. Sekarang masuk, yuk!” ajak Anin dengan setengah muka memaksa, dan menyeret tangan Aksa, Aksa hanya bisa apa. Ia mah masang muka melas sama muka kejamnya, emang beda hawanya.


Kata istrinya kalau ngamuk serem, kalau begini pingin ia celupin di bakal penampung berak seperti biasa, dikasih varian lengkap. Dasarnya Anin kepingin mancing amarah suaminya, yang ada ***** bengek beneran.


“Ya udah, oke kamu mau ngapain?”


“Ya nggak papa, kamu bisa ‘kan buatkan aku somay pakai sambal kacang, terus yang enak gitu. Nanti aku bantu, kalau nggak bisa ...” Mohon Anin dengan mata berkaca-kaca, kalau tidak dituruti pasti nanges! Keburu dah Aksa yang melakukan pekerjaan yang menurutnya hal aneh saja disuruh buat siomay.


“Minyak mahal! Kagak boleh makan minyak kata pemerintah,” sinis Anin yang langsung kepingin menyatap orang saja dan

__ADS_1


“Lah mati yang ada, nggak boleh makan.”


“Ya nggak, pokoknya harus direbus kalau masak.”


“Oke,” jawab Aksa pasrah. Ia mau mencoba tuk menjelaskan, namun sepertinya kali ini tidak mendukung, dan Anin pun duduk di kursi, melihat Aksa mengeluarkan barang-barang yang sudah ada di kulkas.


***


Setelah semuanya selesai masak, alhasil jadi siomay buatan Aksa dan sepenuhnya emang buatan Anin, ya nggak mungkin jadi kalau bukan Anin yang turun tangan.


Anin menikmati makanannya, dan Aksa yang sudah mandi, ia ke bawah. Sudah sore hari ini, sampai terdengar suara ketukan pintu, membuat tatapan Aksa teralihkan.


“Siapa, mas?”


“Nggak tahu, aku buka dulu.” Aksa berjalan menuju ke pintu utama, tetap hati dan pikirannya positif thinking, tidak boleh kemana-mana.


“Assalamu’alaikum,”


“Pak, masa nggak kenal sama saya? Saya ‘kan dulu itu, apa yang tempati rumah samping bapak, kan satu komplek masih ‘an. Nah, saya herannya kenapa ya pak kok banyak surat yang menumpuk di kotak pos saya,” jelas orang itu, dan ya orang itu memang sudah lama tidak pulang, dan di sini yang berhak untuk semua rumah di perkomplekan ini memang Aksa yang bertanggung jawab.


“Oh, mari pak duduk di dalam!”


“Tidak usah pak, di luar saja ...” tolak bapak itu.


***


“Hm enak kali ya ditambahi bumbu pedas, asal jangan ampe ketahuan. Bisa mati kalau ketahuan, oke sekarang ke dapur!” ucap Anin dengan memindik-mindik jalannya, sampai ia sudah ada di dapur malah tidak menemukan itu barang, sampai ia acak-acak dapurnya.


Tak sampai di situ, ia membuka kulkas dari atas sampai bawah tidak ada boncabe level pedas. Dasar! Manusia pelit, kata Anin di dalam hatinya.


“Cari apa bu?” tanya seseorang tiba-tiba, dan Anin bergidik, ia membalikkan badannya. Siapa yang mengganggu acaranya kali ini? Apakah suaminya, dan seperti dugaannya salah kali ini.

__ADS_1


“Mau cari bubuk pedas, ini buat nambah biar hot.” Ucap Anin dan bibi di sana terkejut saja, padahal di sini bukan tempatnya buat cari pedas, “Bibi paham bu, kalau ibu butuh itu tapi alangkah baiknya ibu mengalah saja, tak baik bu makan pedas.” Ucap bibi, karena awalnya sudah disuruh memang bibi ini buat nyembunyiin yang bener tanpa ketahuan.


“Oh ya sudah kalau gitu, bi kalau bibi milih ya, enak di raja ampat apa ke pulau komodo?” tanya Anin dengan memberikan pilihan dan bibi tampak bingung.


“Sama-sama enaknya mah bu, tapi ada di dalam diri masing-masing saja kalau menilai sih.”


“Iya tahu, kalau masalah itu tapi bingung nanti healing mau kemana...” ujar Anin yang tampak kepingin liburan dari wajahnya saja sudah dicerminkan, dia rindu untuk jalan-jalan tapi kondisi tidak untuk memungkinkan dia bisa menapaki kaki di pulau yang ia sebutkan dan kota-kota yang akan ia kunjungi.


***


Revino, laki-laki itu sekarang menapaki kaki ke rumah yang lebih sederhana dan dikatakan mewah seperti rumahnya, tidak sama sekali hanya bangunan ini yang membuatnya untuk mengulang kembali masa di mana ia harus menikahi seorang perempuan yang membuatnya tertarik untuk menikahinya dan melamarnya.


“Rumah yang aku inginkan dulu, yaitu rumah bahagia dan nyaman untuk istri serta anakku. Tapi, kenapa di posisi itu aku bodoh sekali.” Sesalnya dengan begitu ia memasuki kawasan gang-gang, dan jelas beda kampung sudah.


Laki-laki paruh baya itu ingin menemui kakaknya, karena sudah lama tidak berkunjung dan pengawalnya yang mengikuti hari ini tidak terlalu cukup banyak. Yang penting bisa mengamankan dirinya, tapi emangnya kenapa sih orang-orang yang mempunyai Janata tinggi tentu akan menundukkan siapa saja, termasuk presiden sekalipun.


Mentang-mentang seenaknya, tapi mempunyai batasan juga kali. Dan kali ini Revino sudah sampai di depan rumah kakaknya.


Ia tersenyum senang, akhirnya bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi, rumah kenangan yang selalu ia ingat dana kakaknya tidak mungkin akan pindah dari rumah ini. Mestinya harus berpikir sepuluh kali dahulu.


Bersambung...


Gimana-gimana😇, to the point aku orangnya 😂🤣.


Besok apa reaksi bude dan pakde😚, Tunggu jawabannya besok ya😌.


Sekian deh. Makasih buat yang udah mampir ✋.


See you nect time.


@dindafitriani0911

__ADS_1


Akun IG ya yang dicantumkan itu!


__ADS_2