Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 41


__ADS_3

Aksa sampai di bandara soekarno-hatta dan ia menuju ke parkiran di mana pengawal ataupun kepala pengawal menjemput dirinya, Aksa menatap lesu dan lelah sekali matanya, kemarin tidak bisa tidur ia. Memikirkan orang tuanya, dan sekarang harus pulang ke negara Indonesia kembali.


Emang nggak jauh namun ia sempat memutar beberapa kali untuk memikirkan hal ini, sampai Aksa memarahi asisten pribadinya.


“Gimana kalian, sudah ketemu?” Tanyanya dengan singkat, tanpa mengangkat kepalanya dan fokus ke gelagat pengawalnya, ia masih fokus ke handphone. Buka apa-apa, masih ada urusan bisnis yang belum ia selesaikan.


“Belum, tuan ... sampai sekarang--,”


“Husst, sudah! Saya kagak mau tahu kerja kalian harus beres hari ini!” perintah Aksa tanpa ada bantahan dan pengawalnya saling memandang lekat-lekat karena takut mereka hilang nyawa apa nggak hilang pekerjaan sampai-sampai mereka dimiskinkan, dan tidak tanggung-tanggung jika Aksa memberikan hukuman yang lebih beratnya lagi.


Ia memberi misinya, ‘jika mengganggu siap-siap memilih untuk kesenangan dan kesedihan?’ itu menjadi tantangan bagi pengawalnya yang sudah mengabdi kepada Aksa puluhan tahun lamanya, sampai pengawal ayahnya ada turut untuk bekerja di rumah Aksa.


“Baik, tuan ...”


***


“Hm, kayak gini ‘kan enak. Dah sampai di rumah, oh iya tadi Anin belinya sekalian banyak. Kalau mau minta pakde boleh kok.” Ucap Anin dengan menatap jalanan yang sudah dekat dengan komplek perumahannya dan pakde hanya mengangguk.


“Kamu simpan saja nak! Nanti ‘kan bisa dimakan tuh ampe kenyang,” tolaknya sudah ecara halus dan Anin tersenyum, “Ya elah pakde nggak papa kok, ini juga enak kali.”


Kereta besi pakde pun sudah sampai di rumah Anin dan di belakangnya sama ada kereta besi yang setiap hari terparkir di depan rumah Anin serta Aksa, apakah mungkin itu suaminya. Lah masa iya sudah pulang, Anin mengeryit karena mobil pakde sudah sampai di depan rumah.


Pakde yang duluan keluar, Anin mengambil pempeknya tadi yang ada di kursi belakang, belanjaannya memang banyak sekali, sekalian tadi beli bahan-bahan yang mau ia buat nanti.


Padahal kandungannya sekarang ini masih lemah sih, tapi dokter sudah memberikan vitamin dan Anin bisa deh merayu segala sampai pakdenya mengangguk, benar-benar terpaksa untuk menuruti semua kemauan Anin.


“Pakde, tolong bukain!” dan pakde membukakan pintu mobil untuk Anin keluar, dan menyembulkan wajahnya, serta Aksa juga keluar tanpa mengidahkan pandangannya dari Handphone.


Anin terkejut bukan main, jantungnya ketar-ketir sendiri. Tangannya sudah gemetaran sendiri, pakde tersenyum pun melangkah mendekati Aksa yang sudah ada di depan pintu.


“Nak Aksa,” panggil Pakde membuat Aksa lantas memasukkan handphonenya ke saku dari balik jasnya dan menoleh ke belakang.


Mata pengawal juga ketar-ketir, sebisa mungkin untuk mengeluarkan ekspresi senyum mereka dengan hangat, menyambut majikan rumahnya sudah datang ke rumah.


Aksa kaget melihat Anin, perempuan yang ditunggu dan dicari karena istrinya hilang tanpa ada kabar, Aksa melangkah mendekat ke arah Anin.

__ADS_1


Anin hanya menundukkan kepalanya. Kemudian, ia memberikan plastik-plastiknya kepada bibi yang sudah mengulurkan tangannya, sementara pakde hanya tersenyum dan suara deringan handphone membuat mereka terhenyak.


Pakde mengerutkan keningnya, dan membuka ponselnya ternyata istrinya sudah menunggunya untuk pulang hari ini, pakde ingin berucap namun Anin sudah mengode.


“Pakde pulang dulu ya, nggak bisa lama-lama soalnya. Bude kamu nunggu di rumah,” pamit pakde dan Aksa mengangguk sekilas, dengan tatapan tajamnya dan dingin.


“Ini baju Anin tadi,” pakde menyerahkan ke bibi dan pakde melangkah pergi dari mereka.


Aksa tak menggubris, lantas ia melangkah masuk ke dalam rumah dan Anin panas dingin, ia sudah keterlaluan kemarin, tidak izin dengan siapapun. Siap coba yang bisa mengizinkan untuk itu, karena bahaya juga. Sendiri pula, wah Anin dalam bahaya ini.


Pengawal-bibi sudah membubarkan diri dan Anin belum melangkahkan kaki, karena kakinya serasa berat untuk diangkat, atensinya lalu mengalih kepada Aksa yang sudah menunggu di ruang tamu.


Anin mulai memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam rumah, Aksa yang masih stay dengan tatapan datarnya, matanya yang menahan emosi serta Anin tidak berani untuk mendekat. Ia masih berpijak pada lantai yang masih jauh dengan Aksa, “Cepat masuk!” ucap Aksa dengan nada tinggi.


Anin makin tidak berani, tapi ini demi kebijakannya dan ia melangkah mendekat ke soffa yang ada di ruang tamu, dan ia mendaratkan panggulnya di soffa tanpa mendongakkan kepalanya.


“Jelaskan!” Kedua mata tersirat amarah dan ia tahan, tidak mungkin untuk memarahi istrinya hanya karena masalah kecil. Sebisa mungkin meredakan emosinya, kenapa bisa-bisa ia nanti kelepasan dan ia tidak bisa menahan emosinya jika sudah terlewat batasannya.


Anin menghela napas, “Kamu mau memancing emosi ku? Tidak ada yang namanya napas! Jelaskan sekarang!” Aksa memotong dan Anin membulatkan matanya.


“Mas--,”


“Kenapa kamu nggak meminta saja untuk antarkan pengawal atau siapa itu,” Aksa lagi-lagi memotong, Anin menatap jengkel dan lesu, ia mau menjelaskan dari mana kalau suaminya itu tidak mau mendengarkan ucapannya.


“Iya terdesak,” jawaban Anin yang lontarkan dan Aksa terkekeh sinis.


“Terdesak? Apakah itu jawaban yang betul Anin?” dan lagi-lagi suaminya itu tidak mempercayainya dan Anin menggeleng, rasanya takut itu menyelimuti dirinya sekarang.


“Oke, kalau nggak percaya nggak papa. Emang kalau ngidam itu kagak boleh ‘kah dituruti? Hah, aku juga kepaksa buat nurutin itu semua.” Ucap Anin dengan sengit, dan Aksa kembali memuncak emosinya, napasnya rasanya ingin membuncah begitu saja dan Aksa menghela napas kasar.


“Alasan klise saja ‘kan yang kamu katakan!” tukas Aksa dan Anin menggelengkan kepala, kalau Anin sakit hati mah boleh ya ia balas dengan kata-katanya yang ia ingat dengan perasaan yang dongkol.


“Jangankan klise, aku nggak pernah ya namanya bohong! Oke, aku akan jelaskan tapi bentar aku mau makan dulu. Karena lapar sudah, anak mu nanti mati di dalam.” Gerutu Anin dan Aksa memutar bola matanya malas.


“Nanti! Saya mau kamu jelaskan sekarang!” Nada suara Aksa semakin tinggi, dan Anin berjengit kaget karena terkejut, siapa sih yang nggak terkejut dengan Aksa yang berucap seperti itu. Sampai pengawal saja terkejut juga, dan Anin memilin bajunya.

__ADS_1


Takut saja jika suaminya kali ini tidak mempercayainya.


“Nanti kalau aku ngomong nggak percaya juga nggak papa, aku akan jelaskan dari intinya saja. Aku kemarin malam kepingin cilok di perempatan rumah sana, ya terus sampai sana aku beli tanpa izin siapapun. Aku diam-diam pergi, terus sampe sana aku habisin dah, nah terus mau pulang. Dianter sama tetangga pakde, laki-laki sudah punya istri. Aku disuruh di dekat motor, itu aku terus ke dorong sama orang-orang yang lagi berantem, aku jatuh dan kejedug sama batu, ya sudah pendarahan lah. Aku dilarikan ke rumah sakit, dan ditunggu sama pakde. Pakde dikabari sama orang itu, dan aku ya di rawat sampai pagi tadi. Kata dokter sih baik-baik saja, sekian itu saja cerita ku hari malam itu.” Jelas Anin dengan memberikan kemaksud an itu.


Aksa mengerutkan keningnya, lantas ia duduk di samping istrinya.


“Nggak apa-apa ‘kan kamu sama calon anak ku?” tanyanya dengan lembut, dan Anin menggeleng. Aksa langsung mengusap perut Anin, “Kamu nggak papa ‘kan dek? Maaf tadi, aku menuduh kamu yang nggak-nggak...” Anin bergeming-diam, ia mengangguk.


“Iya aku paham, kamu pasti pusing.” Ucap Anin dengan mendusel ke ketek suaminya, ia kangen dengan suaminya ini dan Aksa mencium kening istrinya dengan lembut, ia juga kangen. Lelah juga terbayarkan sekarang, marahnya sudah karena istrinya sudah memaafkan dirinya, iya tadi akibat dirinya yang terbawa emosi karena lelah juga dengan orang tuanya yang tidak membaik keadaannya.


Tidak ada kemajuan sedikitpun, Aksa lelah saat itu.


Anin mengusap rambut suaminya dan Aksa yang menundukkan kepalanya, mencium perut yang masih terbilang rata dan Aksa sepertinya sudah tidak mengungkit, hanya saja nanti ia coba mengorek informasinya lagi.


Notes : Boleh cari-cari di GOOGLE, searching tentang kehamilan jika pendarahan bukan pendarahan


keguguran dan kalau itu pendarahan masih bisa diselamatkan juga bisa. Iya sih tadinya pendarahannya agak banyak, namun itu masih bisa tergolong di selamatkan kata dokternya.


Nih kalau diwaspadai :


Pendarahan yang deras seperti menstruasi, berwarna merah menyala dan disertai dengan kram pada bagian bawah perut yang tidak tertahankan. Waspada juga bila pendarahan terjadi terus-menerus selama trimester pertama.


Pendarahan yang disertai dengan keluarnya jaringan dari **** *. Ibu hamil sebaiknya tidak membuang jaringan yang keluar tersebut, karena mungkin dokter membutuhkannya untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Pendarahan disertai dengan rasa pusing, bahkan sampai pingsan. Atau pendarahan yang disertai dengan rasa kedinginan ataupun demam dengan suhu lebih dari 38 derajat Celsius.


(Sumber : Halodoc. https://www.halodoc.com/artikel/jangan-panik-ini-4-cara-menangani-pendarahan-saat-hamil-muda)


Bersambung...


Makasih buat kalian yang sudah mampir, jangan lupa follow IG Din, kalau mau folbek silakan DM Din saja.


Hehehe, kalau masih banyak kesalahan tentang dunia medis mohon dimaklumi karena Din belum bisa mengenal namanya dunia medis. Terimakasih 🙏💕


@dindafitriani0911

__ADS_1


__ADS_2