
Revino, ia menuangkan air ke makam istrinya agar terlihat lebih segar lagi dan ia tersenyum tipis.
“Maaf kalau aku belum bisa bahagiain kamu dulu, terus nanti kita akan ber sama-sama lagi ketika aku udah nyusul kamu.” Ucapnya dengan mengelus nama di papan nisan.
Revino membenarkan masker dan kacamatanya, ia beranjak dan menatap tangan kanannya yang sigap itu.
“Jangan sampai saya merobek mulut kamu, jika ini terbongkar!” ancam Revino, Revino melangkah pergi dan makam kini dalam keadaan sepi karena menjelang senja.
Tangan kanannya mengangguk, semua ia tanggung nanti sekarang harus memayungi majikannya sampai ke mobil. Revino menatap semua kawasan makam, ternyata jika senja lebih indah dan menenangkan jika ada di sini.
***
Anin dan Aksa sudah pulang ke rumah bude serta pakde, mereka terkejut dengan kedatangan tamu yang ditunggu sejak malam tadi. Sampai-sampai bude beberapa kali bertanya, kapan bisa menemui ponakannya dan bisa bersama-sama lagi begitu.
Mungkin ‘kah mereka akan menginapa di rumah bude dan pakde, tapi jika menurut Anin sebaiknya menginap karena nanti takut disangka kagak mau ke sini lagi, terus mana nggak enaknya udah dimasakin banyak, malah nggak dimakan.
Kan sayang mubazir.
Anin sekarang sedang menuju ke kamarnya, berberes. Sedangkan Aksa ke kolam ikan, di sana pakde sedang memberikan pakan kepada ikannya. Terutama ikan kesayangannya, sampai dulu pernah mau mati tinggal beberapa detik, nah terus dibawa lah ke tukang beban ikan, eh salah ahli ikan dan tanya-tanya.
Mulutnya kadang nggak bisa diam ketika pakde di saat itu ditipu, sampai berbatasan juta katanya sih rumor yang bude dengar, pakde prustasi karena ikannya juga ikut mati. Sia-sia sudah perjuangannya.
Balik ke Anin, ia sekarang lagi berganti baju dan setelah selesai, ia melangkah menuju ke kamar mandi. Mengingat dirinya kebelet sejak tadi, setelah selesai Anin menuju ke ruang keluarga, di sana budenya sedang menjahit baju yang sepertinya sayang untuk dibuang mending dijahit.
“Bude ...” panggil Anin.
Perempuan itu kini duduk di samping budenya, dengan muka masam dan mata yang cukup memberat. Mungkin pusing yang menjelma dirinya sekarang, kepingin Anin keluar beli makanan pedas-pedas.
Namun itu semua tidak berbuat hasil, karena suaminya akan marah jika dirinya makan-makanan sembarangan ataupun pedas.
“Ada apa dari rautnya, kamu mau apa?” tanya bude yang sedang fokus menjahit dengan jarum dan kacamata yang menempel di matanya sampai-sampai menjahit nya kudu teliti.
“Nanti dimarah sama suami lagi,” jawab Anin dengan raut mengerucutkan bibirnya.
Bude menghentikan aktivitasnya, lalu menatap ponakannya itu.
“Lah kok udah ngejawab gitu, emangnya mau apa?”
“Iya makan ceker ayam itu yang pedes, terus mie ayam ...” sahutnya-
“Nggak ada yang begituan, kamu ini mau makanan begitu ... yang ada masuk rumah sakit,” ucap seseorang laki-laki yang beruban putih, masuk ke ruang keluarga dan disusul laki-laki yang berbadan atletis itu dengan langkah tegasnya.
Laki-laki itu pun mendekati istrinya, “Mau apa tadi? Kok keknya ada yang mencurigakan,” tanya Aksa dengan menyipitkan matanya dan Anin menatap suaminya dengan cengiran khasnya.
__ADS_1
“Istrimu ngidam mie ayam sama ceker pedas,” sontak membuat Anin melotot ke arah budenya, biarkan dia jadi anak durhaka yang nggak tahu diri ketimbang membongkar ucapannya tadi.
Aksa mengeryit, dan menatap istrinya dengan mata tajamnya.
“Ke kamar dulu yuk!” ajaknya dengan merubah tatapannya menjadi lembut, sementara pakde sama bude hanya menatap tidak peduli. Malah mereka pergi tanpa meninggalkan sebait kata untuk mereka berdua.
Emang nggak diwanti-wanti dulu, takutnya nanti kebablasan.
***
“Ganti baju!” dua kata itu spontan bikin Anin kejang-kejang, apakah suaminya mau menuruti kemauannya sampai-sampai disuruh ganti baju.
Aksa mendudukkan dirinya di atas ranjang, dan melirik istrinya yang maish bergeming tanpa menuruti kemauan suaminya kali ini.
Aksa lantas menghela napas, “Mau keluar nggak? Apa nggak jadi? Mumpung lagi baik,” ucap Aksa dengan senyum khasnya.
Anin gelagapan sendiri. Ia pun dengan cepat melangkah ke lemari, cuman ganti kerudung doang yang lebih simpel dan Aksa menatap istrinya.
“Kan aku tadi nyuruh ganti baju, bukan ganti kerudung ... ck, siapa sih yang mau istrinya dilihat badannya sama orang lain.” Mulai kesal Aksa, lalu Aksa beranjak dari ranjang membuat Anin menelan ludah sendiri.
Jika suaminya sudah memerintahkan, siap-siap untuk dituruti bukan dibantah.
“Ini, pakai ini!” Aksa memilihkan baju yang lebih sopan dan Anin menerimanya, tanpa menolak sama sekali.
“Maaf atas perkataan ku tadi, yang membuat kamu takut ...” ujarnya dengan melihat mimik bibir istrinya yang sejak tadi berkedut, dan Aksa mengerti dengan kondisi seperti ini.
Anin, perempuan itu segera berganti baju di dalam kamar mandi namun langkahnya terhenti oleh Aksa yang mencekam pundaknya.
“Ganti di sini! Oke, bentar lagi juga mau maghrib ... jadi, sebaiknya kamu ganti di sini. Nggak baik ganti di kamar mandi,” hah suaminya itu mau modus atau mau apa sebenarnya.
Benar-benar Anin menggelengkan kepalanya, dan Aksa tersenyum smirk.
“Berarti nunggu sehabis maghrib dong?” Anin mengalihkan, dengan cepat Aksa mengangguk. Ia tanpa pikir panjang, takutnya mendadak adek di dalamnya kepingin lagi.
Nunjuk-nunjuk, bikin malu emang kadang-kadang kalau lagi badmood.
Pakai segala ngode-ngode lagi, aduh astagfirullah...
“Ya udah, a-aku mau wudhu dulu ... ini juga sudah jam segini, bentar lagi adzan udah kumandang ... oh iya kamu nggak mandi lagi mas?”
Aksa menggeleng, “Nanti malem! Sekalian habis keluar rumah.” Jawab Aksa melangkah ke ranjang dan ia duduk bersila, seperti biasa. Ia membuka handphonenya, mengecek terlebih dahulu email yang tadi dikirimkan oleh sekretaris kantornya.
“Maghrib, jangan main HP mulu! Takut dosa nanti,” peringat Anin, ia melangkah keluar untuk menuju ke dapur. Mencari makanan biasanya, suaminya yang melirik tanpa mengindahkan omongan istrinya.
__ADS_1
Setelah selesai, ia baru menyadari jika istrinya menarik telinganya sekarang.
“Ogeb, kalau maghrib gimana janjinya tadi?” dengan tatapan mengerikan dan menantang, Aksa langsung menciut, ia berkedip dan menatap ampun kepada istrinya.
“Bentar lagi terawih, jadi nggak usah pergi.” Ucap Anin dengan muka pasrah, padahal dirinya sudah sholat maghrib eh giliran ia balik ke kamar ternyata suaminya belum ngapa-ngapain.
Benar-benar bikin dugong keserimpet jenggot, bikin istighfar banyak dan harus tabah menghadapi suaminya.
“Iya-ya, aku mau sholat dulu ... oh iya pakde sama bude ada nggak?”
“Di masjid mereka,” jawab Anin dengan cepat.
Anin membuatkan teh hangat, ia berjalan ke dapur untuk itu ia lupa jika tadi budenya sempat bilang disuruh ke supermarket buat beli gula putih dan benar pada saat ia ke dapur. Toples yang biasanya berisi gula putih habis tak tersisa.
“Hah, terus gimana? Apa aku ke warung, tapi motor? Eh naik sepedanya pakde ya. Oke, tunggu mas Aksa dulu baru ke warung,” ia menatap jam dinding. Menimang bahwa waktunya cukup nggak karena sebentar lagi mau terawih ke masjid.
***
Benar saja adzan isya berkumandang, Anin bersiap-siap untuk ke masjid. Suaminya sama sudah tampan dengan sarung dan kokonya, serta peci yang menempel di kepalanya.
“Jangan dekat-dekat! Aku berangkat dulu, assalamu’alaikum ...” ucapnya dengan berangkat, Aksa lebih dulu berjalan keluar sementara Anin menutup pintunya sebelum berangkat. Ia benar-benar merasa ditinggal, dan menoleh ke mana suaminya berada.
“Mas, jangan ditinggal ateuh! Susah ini,” keluhnya dengan berpura-pura. Alangkah baiknya ia tidak ditinggal, dan suaminya mengangkat bibirnya.
“Iya, mana kuncinya?” sedang menghimbau untuk memberikan bantuan.
Anin cepat-cepat memberikannya kepada suami, dan Aksa mengunci pintu rumah dengan gesit tanpa beralasan panjang lebar, ya namanya konsekuensinya. Di mana jika perempuan tidak bisa, maka laki-laki yang akan turun tangan.
Mereka berangkat bersama-sama, tanpa diduga Anin sudah memegang suaminya. Dan benar itu membuatnya mengoceh di sepanjang perjalanan, apalagi dengan anak kecil yang bermain kembang api, membuat dirinya lebih waspada. Jika terkena bisa bahaya untuk dirinya dan calon bayinya.
Sementara suaminya hanya diam tanpa menjawab, kok jadi rada aneh suaminya ini. Apakah nggak mood mungkin untuk ke masjid, dan suaminya lalu mengaduh pelan ketika ia mendadak mengerem sampai di masjid.
Dan Anin nemplok begitu saja badan depannya ke punggung suaminya.
“Eh ya Allah, bikin mendadak jantungan wae lah!” protes istrinya dengan turun dari sepeda, dan berlari cepat menuju tempat wudhu, lantaran iqamah sudah dikumandangkan. Berarti harus siap-siap untuk berdiri melaksanakan kewajiban sholatnya.
Bersambung...
Makasih udah ya! nungguin berabad-abad, hahaha bisa up sekarang 😤🙂...
Maap mengembalikan mood itu susah ternyata, kagak apa-apa yang penting up.
Jangan lupa lho ya difollow IG Din, biar dapet info apa kagak kalau up🙂😆.
__ADS_1
@dindafitriani0911