Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 27


__ADS_3

Anin menunggu Aksa yang sedang berteleponan dengan rekan kerjanya, ia menunggu di lobby kantor, ia sekalian ikut bekerja suaminya kali ini. Anin sudah pulang dari rumah Bude serta pakdenya, selama satu minggu mereka menginap. Dan Anin sudah benar-benar puas, tapi kepuasan itu hanya sementara.


Anin belum bisa untuk mencapai keinginannya, supaya memberanikan diri untuk berbicara kepada suaminya, jika ia ingin tinggal di rumah ibunya dan ingin melanjutkan keinginannya.


Anin berjalan ke resepsionis, bertanya-tanya kabarnya gimana.


Tapi, mereka malah tertawa ketika Anin mengajak untuk lelucon dan kenapa tiba-tiba berubah? Aksa meminta mereka, jika mereka akan mengejek istrinya, ia tidak akan segan-segan untuk membunuh maupun mematikan orang itu dengan secara perlahan, membuatnya menderita terlebih dahulu ketimbang mulutnya itu yang membuat istrinya semakin di pojokkan dan ia geram.


Salah satu orang kantor, tidak ada yang berani berkutik atau apapun itu karena mereka tidak ingin mencari suatu masalah, bisa saja mereka dipecat sehabisnya tidak akan ada perusahaan yang menerima mereka, dan bisa saja jika bekerja memungkinkan untuk gajinya sangat kecil, di luar ekspetasi.


“Hm, kalau gitu saya ke dalam yah?”


“Iya bu. Makasih loh, udah nyempetin waktu.” Kata mereka, dan Anin tersenyum tipis.


“Gimana bisa berubah drastis semua? Nggak biasanya loh,” lirihnya, Anin berjalan ke lift sampai di lift ada tangan yang mencekam tangannya, mencegah dirinya untuk masuk.


“Hehehe, maaf aku tadi kelamaan. Ya udah yuk! Kamu ke ruangan aku aja,” tanpa berdosa. Wajah ini kembali dilihatkan lagi, Anin hanya mengangguk datar. Ia menimang-nimang nanti malam akan bertemu oleh mertuanya kembali, kemarin mertuanya berkata “kami minta maaf telah menjauhi kamu karena ada hadiah buat kalian berdua nanti malam.” Ucap mereka, mereka selama ini emang ada di London seperti biasa mereka sedang melakukan perjalanan bisnis.


“Kamu kenapa?” Aksa menggandeng tangan Anin, dan melihat raut wajah istrinya sejak tadi murung. Ia kepikiran untuk menanyakan, tapi sejak tadi ia urungkan.


Saat ini mereka ada di ruangan Aksa, dan Aksa menggiring tubuh istrinya.


Ia duduk di kursi kerjanya, Aksa memangku tubuh istrinya.


Aksa mengecup tangan istrinya, dan Anin yang mendapat itu melirik. Dekat sekali dengan mata suaminya itu, ia seketika gugup dan gemetaran. Aksa terkekeh di dalam hatinya, istrinya ini seperti biasa. Padahal ia tidak mau apa-apa juga, toh istrinya malah dibawa kemana-mana.


“Jawab pertanyaan ku tadi,” lembutnya dan menyisir tangannya ke wajah istrinya, mengusap-usap dan Anin yang tadinya duduk, ia pun beranjak berdiri.


Tapi, tenaganya tak kalah kuat dengan tangan suaminya yang sudah melingkar di pinggang. Candu baginya, wangi tubuh istrinya. Aksa tidak mau melepaskannya, Anin menghela napas kasar. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya, Aksa mengelus hidung istrinya.


“Kamu kenapa tadi, sayang?” heh makin ke sini, bikin leher Anin merinding seketika.


“Heum, aku nggak mikirin apa-apa kok mas. Dan aku juga nggak kenapa-napa....” ucapnya dengan meyakinkan suaminya, tapi tatapan Aksa seolah mengerti jika ada yang ditutupi oleh istrinya.


Anin sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain, Aksa mengetuk-ngetuk meja kerjanya, ia berpikir dan kedamaian menyelimuti dirinya sekarang, ia tersenyum picik.

__ADS_1


“Kita pulang aja, yuk!” ajaknya dan Anin yang hatinya dari tadi nggak bisa diajak kompromi. Ia mendesah pelan, ia menatap suaminya dan Aksa benar-benar licik sekarang.


Tadi, katanya suruh nemenin dirinya eh sekarang ngajak pulang. Nih anak maunya apa sih? Bapak Mirza ini gimana? Anak kamu tuh, sekarang benar-benar seenak jidatnya main pulang nggak mikirin apa tuh si karyawan lagi pusing gara-gara bosnya absen terus, nggak pernah hadir sekali hadir mungkin malas.


“Ini kamu niat kerja nggak sih?” kesal Anin, Anin mulai kesal karena ia sudah bersiap-siap sejak tadi pagi juga dan diingat suaminya itu malam tadi, mewanti agar Anin bisa ikut ke kantor. Katanya ada meeting terus kemana tuh meetingnya?


“Iya, suka-suka aku dong yang punya perusahaan siapa?” balas Aksa, Anin mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


“Kalau gitu, yang punya perusahaan ya harus nyontohin yang bener! Bukan seenaknya aja.”


“Oh gitu. Berarti mereka semua nggak butuh uang ku lagi ya, terus nanti--.”


“SST, diem ah. Aku temenin nih, sekarang kamu kerja.” Gerutu Anin, Anin menatap tumpukan berkas yang ada banyak sekali. Ini saja belum seberapa, nanti akan bertambah berkasnya. Anin menggeleng, ia palingan sudah masuk rumah sakit kalau begini.


Ia saja lulus kuliah tidak, mungkin sudah jadi orang gila.


Ndekem di rumah sakit jiwa, huft benar-benar ini suami apa bukan sih?


“Tapi, aku tuh nggak fokus kalau ada kamu. Malahan bikin gitu lah,” alasan apa ini? Anin menjambak rambut suaminya, ia sudah benar-benar kesal kali ini karena banyak alasan dan tidak mungkin ia memukul suaminya, katanya sih pamali. Dengan keras, dan mendengarkan suara rintihan.


“Ini juga udah punya kamu, sayang...”


“Jangan manggil seperti itu lagi!” bantah Anin, ia tidak suka dengan begitu malah semakin ngelunjak suaminya itu. Dan Aksa terkikik, ia membuka laptopnya serta ia mengaduh pelan.


“Heh, tadi kamu bawa kacamata nggak?” pertanyaan apa tuh?


Anin menggedikkan bahunya, “Lah aku aja nggak tau kamu meletakkan kacamatanya, masa tanya aku dong. Aku nggak tau apa-apa, tapi kayaknya tadi di tas kerja kamu ada tempat kacamata deh,” Anin beranjak dan mengambil tas kerja Aksa di atas meja tamu. Aksa menatap dengan raut bingung, ini istrinya bener nggak? Kalau nggak gimana tuh, bisa-bisa ia akan mengeluh setiap kegiatannya menghadap ke layar sinar biru itu.


“Ini!” Aksa tersenyum. Menerima tas kerjanya, ia membuka resleting tas kerjanya dan Anin duduk di kursi tamu. Ia membuka tas kerjanya, dan mengambil handphone. Agar menghilangkan rasa jenuhnya.


“Allhamdulilah, untung nggak ketinggalan.” Ujarnya dengan sumringah.


“Iya, kamu gampang lupaan...”


“Heem, makasih ya...”

__ADS_1


“Oke, oh iya mas aku keluar bentar yah. Cari makanan di bawah,” ia sudah lapar bayangkan padahal ini masih pagi dan sehabis sarapan, Aksa melongo.


Bukannya gitu, bukan takut gendut dan miskin. Tapi, apa nggak kekenyangan itu perut? Aksa mengangguk, dan menatap kembali ke layar laptop, dengan di sampingnya ada berkas.


“Assalamu’alaikum,”


“Iya masuk, wa’alaikumsalam...”


Aksa mendongakkan kepalanya sekilas, dan menatap kembali.


Lah, teman lama!


Aksa membulatkan matanya, tak percaya. Ia pun menghampiri, dan Aksa memeluknya, biarkan dikatakan kek Ragil, ini beneran si temannya itu?


Astaga, Aksa membalikkan tubuh temannya itu.


“Why?”


“Sok-sok’an bahasa Inggris,” sindir Aksa dan orang itu tertawa sarkas.


Orang itu memegang perutnya, Irsyad teman lamanya yang sekarang itu menjadi dokter dan menjadi suami untuk istrinya, serta bapak untuk anak-anak nya.


Wkwk, ahahaha aku pertemukan mereka :(


Bersambung...


Makasih buat teman-teman yang udah nemenin aku dari 2020, dan 2021 pun telah berlalu. Sekarang dah 2022, udah berjalan kurang lebih 2 tahun, hehehehe ☺... Tapi, mungkin belum bisa aku ngejar target ☺. Dan ya allhamdulilah, oke silakan dukungan kalian buat ini novel yah.


Semangat, happy new year 2022. Semoga bisa berkarya dan menunjukkan sesungguhnya 😇


Makasih:)


1 Januari 2022


Dinda Fitriani

__ADS_1


__ADS_2