
Irsyad terkekeh, akibatnya ia mendekati Aksa dan hampir terjungkal ke belakang, karena Anin membuka pintu dengan keras, dengan napas terengah-engah. Aksa sama, ia terkejut sampai melotot, dan Anin duduk. Wajahnya sampai memerah, Aksa bingung.
Aksa mendekati istrinya, istrinya yang menetralkan napasnya pun terkejut ketika ada tangan di bahunya dan berteriak.
“Aaaa.” Jeritnya dengan kencang.
Aksa membekap mulut istrinya, Irsyad itu menahan telinganya agar suara itu tidak masuk ke gendang telinganya, dan kemungkinan akan terjadi kerusakan. Emang lebay tuh, Irsyad menatap pasangan suami istri itu.
“Kamu kenapa?” tanyanya dengan lembut, dan Anin langsung menghamburkan ke pelukan suaminya itu. Aksa mengelus-elus punggung Anin, Aksa mengidentifikasi Irsyad agar mengambilkan minum di dispenser.
“Oke, iya...” anggukannya dan Irsyad mengambilkan di pantry kantor.
Anin menghela napas kasar, ia menganggukan kepala.
“Dikejar doggy tadi,”
“Kok bisa?” tanya Aksa dengan mengerutkan keningnya.
“Yah nggak tau, kok tanya aku...” Aksa menghela napas, ia pun menatap istrinya, yang telah berkeringat seperti orang mandi air, dan padahal ini ruangan AC. Malunya sampai ke ubun-ubun, Anin membayangkan tadi ingin tertawa.
Tapi, ia tahan dan Anin menggigit bibirnya.
Jika nanti jadi bahan ejekan bagaimana?
Irsyad diam-diam, ia menahan tawanya yang akan menggelegar kemana-mana. Irsyad dengan tampang berdosa, ia pun membuka pintunya dengan keras membuat Aksa dan Anin terkejut, hampir jantung mereka copot gara-gara Irsyad ini.
“Woy, santayyy!!!” dengan begitu Aksa melemparkan jasnya ke wajah Irsyad, Irsyad langsung menangkisnya dengan cepat.
“Nggak sia-sia lo belajar sabuk hitam,” cibir Aksa dengan tersenyum devil.
“Lo ngenyek (ejek) gue, gue juga dapat peringkat itu.” Angkuhnya dan Aksa tersenyum, ia menerima uluran gelas itu yang berisi air.
“Minum!” perintahnya, dan Anin menerimanya. Menatap mereka dengan tatapan sungguh tak mengerti maksud mereka apa.
Anin meneguknya sampai habis, tak tersisa sedikitpun. Irsyad mengode Aksa, istrinya cantik juga! Hahaha, batinnya gitu.
“Mau lo embat istri gue? Lo sudah punya istri di rumah, nggak nyangka saja kalau lo bisa ngembat istri gue. Gue nggak segan-segan bisa bunuh lo sekarang juga, dihadapan keluarga lo.” Ancamnya dengan tatapan tajam, Anin melotot tajam. Ia memukul paha suaminya itu, dan Irsyad tersenyum tipis.
__ADS_1
“Nggak gitu-gitu amat kali, oh iya ini istri lo darimana kok napasnya bisa gitu?” tanya Irsyad sebagai pengalihan pembicaraan dan Aksa menyipit, ia mengerti temannya kali ini basa-basinya cukup basi sekali.
“Lo mah, sensi amat sih. Gue suer nggak akan ngapa-ngapain istri lo. Tenang bro!”
“Iya. Itu dikejar doggy di bawah, mungkin punya satpam kantor. Biasanya sih dibawa,” jawab Aksa dan Anin menempelkan wajahnya ke dada Aksa, Irsyad mengangguk.
“Oke, em ... aku ke sini ngasih nih, tolong bantu donasi atas nama yayasan ini!”
“Lo nggak punya duit apa gimana? Kok minta bantuan sama gue,” sanggah Aksa dan Irsyad menatap lesu, ia pun kembali menatap manik mata Aksa yang sesungguhnya mengartikan jika dirinya mengejek atas nama teman.
“Lo nggak punya hati apa gimana? Ini buat bantu-bantu donasi bro, lo pelit. Kalau gini, gue minta sama om saja, nanti palingan malah besar transferannya.”
“Lo mau korupsi!” tuding Aksa dan Irsyad tertawa sumbang.
“Oi gue nggak suka namanya korupsi, kalau butuh uang ya tinggal minta, gimana sih lo?”
Aksa terkekeh, “Oke...”
Irsyad senang, ia seperti mendapatkan kabar yang menggembirakan sekaligus menyenangkan. Anin hanya bingung dengan mereka, orang nggak waras ... sinting kali ya! Wkwk, batin Anin dan Anin mengelus-elus tangannya yang berkeringat. Perasaan tadi sudah nggak keringatan lagi, kok sekarang bikin ini keringatnya.
Tak nyaman, Anin berlari ke kamar mandi.
Irsyad menunggu, ia menunggu kertas yang berisi cek dan Aksa belum menuliskan apa-apa di lembar tersebut.
“Lo niat nggak sih? Gue ditunggu nih loh.”
“Eum, tapi gue sebenarnya nggak niat sih. Ini gue kasih kertas doang, masalah transfer nanti. Sampai jonggol, tahun depan pun gue nggak akan transfer tuh uang. Ya sudah, lo boleh pulang sekarang juga!” usirnya dan Irsyad itu menatapnya kesal.
“Lo tuh, teman nggak ada akhlak! Gue ke sini cuman minta gitu doang kok, kalau lo nggak ngasih juga nggak papa. Gue nggak masalah, tapi jangan ngarep lo ke rumah gue lagi,” Irsyad melangkah pergi tanpa mengucapkan salam atau apapun dan Anin yang baru saja muncul kembali ke ruangan Aksa terkejut, melihat teman dari suaminya itu membanting pintu dengan keras.
Apa nggak takut copot apa?
Eh, kok gitu? Nggak mungkin lah, pintu kantor saat mungkin dibuat dari baja atau silve6, eh emas. Bukan deh, halah mikir pusing, sudah sampai sini saja!
“Kamu apain tadi teman kamu?”
“Kamu nggak tau apa-apa! Diam!” sentak Aksa, Aksa membuka bajunya dan melemparnya ke sembarang arah.
__ADS_1
“Loh apa-apaan ini? Kamu mau bugil? Heh, astaghfirullah ... jangan gitu mas! Sudah punya istri, kok nggak malu. Mungkin setelah kejadian itu, ada akibatnya yaitu malu sampai ke ubun-ubun. Sudah--,” hardik Anin dengan keras dan Anin sudah tidak tahan, menahan kepiting rebus yang ada di wajahnya, menyala api.
Ia tidak menerima jika suaminya buka baju, jika sesuatu bisa kapan terjadi. Nggak! Anin tidak bisa membayangkan lagi, Anin memalingkan wajahnya.
“Aku mau pulang,” final Anin.
Heh, itu keputusan apa?
“Marah? Silakan!” dingin Aksa dan Anin mengerutkan keningnya, ia menatap kesal kepada si suami. Kenapa membiarkan begitu saja? Gara-gara dia juga temannya pulang, bukan Anin.
“Fine oke ... aku pulang, bye...”
Aksa menahan tangan Anin, dan memeluknya dari belakang.
“Jangan pergi! Aku tadi khilaf,”
“Maksudnya?”
“Yailah namanya ngomong seperti itu, nggak disaring gitu?” sambung Anin dan Aksa menggeleng.
“Maaf.” Sendunya dan Anin tersenyum simpul, bisa jadi ia akan membalas kemarahan suaminya dengan mengerjai suaminya itu.
“Ya, tapi ada syaratnya!”
Aksa mengangguk, “Nanti ke mall ya?” permintaan yang mudah.
Tapi, tidak! Aksa ada acara penting nanti, palingan sampai jam malam. Dan Aksa menggaruk tengkuk lehernya, ia harus menjawab apa?
“Nggak bisa, ya?” tebak Anin, Aksa mengangguk.
“Masalahnya nanti ada acara,” balas Aksa dan Anin menggerakkan sudut bibirnya.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Nanti aku tunggu di rumah,” tanpa mengucapkan salam dan menjalani suaminya. Anin begitu pergi saja, Aksa hanya diam dan menggantungkan bibirnya.
Ia berpikir, oke ia kali ini izin dahulu dan acara nanti akan digantikan oleh sekretarisnya.
Aksa menelepon sekretarisnya, dan tidak menerima bantahan. Aksa memakai baju serta jasnya kembali, bentuknya saja sudah acak-acakan dan Aksa memasukkan handphone ke dalam jasnya, ia menyambar tas yang ada di atas meja kerjanya.
__ADS_1
Berjalan keluar dari ruangan, menutup pintunya dan mengejar istrinya. Pasti istrinya itu menggunakan lift yang biasa karyawan pakai, satu-satunya jalan.
Bersambung...