
Anin pun tersenyum malu, karena ia habisnya digoda terus sama suaminya dan Aksa semakin tidak memperbolehkannya untuk dekat-dekat dengannya karena bau katanya. Apakah efek ngidam mungkin, jadi Aksa yang kecipratan kali.
“Udah ah, bau kamu tuh. Harusnya pakai minyak wangi yang soft gitu, kan gini nggak enak kayak minyak wangi orang mati saja.” Celetuk Aksa, Aksa tadi tidak jadi ke kantor dan berakhir di rumah, meskipun menyesakkan baginya.
Tapi, tidak mau mau jauh-jauh dari istrinya juga. Permasalahan kemarin selesai sudah, Aksa tidak mempermasalahkan hanya ingin mendengarkan gimana keluh kesahnya istrinya dan Aksa menjadi teman pendengar yang baik, tanpa banyak omong dia mah kalau diceritain.
“Ehm, mas ... emang kantor nggak ada kerjaan?”
“Banyak, sejibun malahan.” Jawab Aksa dengan menatap istrinya yang sedang membawa kue untuknya, dan pempek palembang kemarin yang dibeli oleh istrinya, Anin duduk di samping Aksa dan Aksa mukanya sudah menahan muntah-muntah.
“Sayang kamu itu udah mandi belom sih? Kok baunya makin nyengat gini,”
Aksa menjauh dan berlari ke kamar mandi yang ada di dapur, sementara Anin mengerutkan keningnya. Mencium bau, emang dari mana dah. Anin dari tadi saja sudah mandi kok, bisa-bisa nya suaminya menyebutnya belum mandi. Mungkin dirinya yang belum mandi, dengan santai ia masih ada di sini dan memakan pempek Palembang nya dengan muka yang menghayati.
Aksa balik lagi dengan muka menutup hidung dan badannya lemas semua rasanya, “Jangan dihabisin! Aku minta,” dengan raut wajah ucul dan Anin menawarkan, dengan piring dilayangkan ke udara.
“Jadi, nggak?”
Anin keburu kesal karena suaminya ragu-ragu untuk mengambilnya, “Yang ini nggak habis kamu ketekin ‘kan? Kayak gorengan di India itu?” Anin melotot dan menampol suaminya dengan pempek, ia masukkan tuh ke dalam mulut.
Emang kagak kira-kira suaminya kalau nyebut, iya sih ia melihat video yang ada di ponselnya itu yang hampir dihujat warga netizen +62, ya emang sih tingkat bully di Asia Tenggara pastinya yang menang ya warga +62.
“Makan kok kebanyakan komen wae, ujungnya itu dimakan ‘kan.Susah cari makanan itu kalau nggak lagi dipinggir jalan saja, ya kamu orang kaya mentang-mentang itu ... nggak higenis lah, lah ‘kan makanan nggak bikin kita cepat mati ‘kan kecuali diracuni?”
Aksa menghentikan kunyahannya dan menyebik, “Iya, tapi harus hati-hati .... masa iya kamu mau itu gorengan, jajanan India itu mau kamu beli? Aku sih ogah,” ucap Aksa dengan mengamati satu persatu pempeknya, enaknya emang dia suka yang agak krispi tapi ya tidak yang terlalu berminyak begitu lah.
Entah ajarannya siapa, ya kali Anin mau komentar panjang lebar kalau Aksa memakan makanan berminyak, tapi Anin herannya kenapa suaminya itu tidak gendut perasaan kalau makan malam terus ini-itu sampai heran dia.
“Nanti ke pasar aja yuk! Mau belanja soalnya, udah lama nggak ke pasar.” Ucap Anin dengan memikirkan belanja apa yang ingin ia beli nanti di pasar tradisional, dan Aksa menggeleng ribut.
“Aku mau ke kantor,” balasnya dengan memanipulasi agar tidak diajak istrinya.
__ADS_1
“Alah bohong, kamu itu mau ngalihin ‘kan?”
Mata Aksa bisa ditebak emang, keliatan banget nggak jujurnya.
“Iya ada masalah ...”
Anin memilih beranjak, dan Aksa tetap menikmati kuenya, the best pokoknya kalau buatan istrinya sampai kadang habis satu loyang, terus mana istrinya tiap saat marah, menanyai kue buatannya kemana. Aksa beralih membuat alasan, dan dimakan pengawal ataupun bibi yang bekerja di rumah.
Anin menghela napas pelan, dan membalikkan tubuhnya.
“Oke, aku berangkat sendiri saja.” Lantang Anin dengan keras, dan Aksa melebarkan matanya. Sontak ia berdiri mengejar istrinya, ia akan menurutinya jika tidak. Maka, istrinya dalam bahaya lagi kalau tidak ditemani.
Ahh, merepotkan!
“Heh kalau ada apa-apa gimana?” tanya Aksa dan Anin menggedikan bahunya, ia tidak tahu itu salah suaminya sendiri. Diajak kok nggak mau, ya sudah suaminya harus tanggung jawab pokoknya.
“Oke, aku akan antarkan.” Pekik Aksa dan memberhentikan langkah Anin, Anin tersenyum samar. Ia pun balik badan, dan berlari ke arah suaminya. Suaminya menatap tajam, lalu Anin memelankan jalannya dan memeluk suaminya.
“Hah iya, tadi katanya bau ya?” goda Anin dan Aksa mengendurkan pelukannya, lantas menaikkan sudut alisnya, maunya apa sih istrinya itu. Dibaikkin bukannya malah senang malah menggoda begini, kagak salah sih istrinya emang.
“Hahaha, iya lupa soalnya.” Prik amat sih, Anin menoel pipi suaminya dan mengecupnya.
Aksa tersenyum smirk, “Jangan mancing dah! Keburu lagi nanti,”
Anin gelagapan sendiri, dan memilih untuk mundur. Berjalan menuju dapur, Aksa mengikutinya. Anin berdecak sebaliknya kalau diikuti begini rasanya risih, ia kepingin suaminya itu duduk manis di ruang tamu dan ia melayani suaminya, secara lahir saja. Kalau masalah batin ya, ke kamar saja jangan di luar.
“Huh capek aku dari tadi diikutin terus, mending duduk sana!” pinta Anin, Aksa menggeleng dan Anin menghela napas kasar.
“Ya sudah, duduk ya sayang! Jangan kayak gini, capek aku liatnya.” Dengan cara halus ia jadi luluh, dan Aksa akhirnya menurut, duduk nyaman di soffa atas perintah istrinya.
Aksa menatap datar, “Gabut amat gue seperti ini, nggak jadi bucin kali ini. Mendingan ke kantor saja ya, kagak jadi ke pasar. Pasar mah urusan belakangan, kalau dimarah ya sudah pikir belakangan.” Gumamnya dan Aksa meminum air putih yang ada di meja.
__ADS_1
Suara langkah sepatu mendekati menuju ke arahnya, dan atensi Aksa menoleh kepada pengawalnya yang membawa paket, siapa yang mengirimkan paket yang dibawa oleh pengawalnya.
“Dari siapa?” tanya Aksa, pengawalnya memeberikan paket itu.
“Tadi katanya dari orang yang maksa banget buat ngirim paket ini, tuan.” Jelas pengawalnya dengan undur diri, dan Aksa mengangguk. Siapa lagi yang mau mencari gara-gara olehnya.
“Ada apa lagi? Hah, apaan ini sih njir. Paket aneh bentuknya,”
Aksa membukanya dengan pisau kecil yang selalu ia bawa kemana-mana, untuk berjaga saja bukan untuk kejahatannya dan Aksa membuka secara pelan, kalau kasar. Ingat kagak boleh kasar! Nanti malah jadi kebiasaan.
Anin yang tiba-tiba datang, membuat Aksa terkejut. Berjengkit kaget, “Lah paket siapa ini mas? Kamu pesan? Nggak biasanya kamu pesan barang online,” cerocos Anin dengan mengaduk jus jeruk yang ada di gelas bening itu.
“Hah apaan? Batu sama kertas,” cengo Aksa dan membuka perlahan.
“Kembalilah, maksudnya apaan ini njir?” Aksa membaca dan Anin melotot tajam, kata-katanya tolong diperbaiki lagi ya pak! Jangan gitu, nanti malah anaknya kedengaran dari dalam perut Si ibu. Emang ajaran nggak benar.
“Mungkin salah alamat kali mas,” ujar Anin dengan menimpali dan Aksa mengambil plastik yang tadi, dan membaca alamat yang akan dikirim. Benar rumah ini, dan Aksa mengeryit.
Maksudnya apa ini?
Aksa mencoba menghayati kata-katanya, “Apa jangan-jangan mau ada yang hancurin rumah ini lagi?” Anin yang sambil meminum, ia lantas menaruh gelasnya dengan kasar.
“Jangan su'udzon dulu. Mending khusnudzon dulu!” ucap Anin dengan memperingati.
Aksa menyamarkan senyumannya dan membuang semuanya ke kotak sampah, Anin tidak bisa mencegah karena itu paket aneh saja tiba kagak pakai nama. Patut dicurigai ‘kan?
Bersambung...
...Makasih buat pembaca yang sudah mampir ke cerita Din yang nggak jelas ini🙏. ...
Hehehe 😂, patut lah dikoreksi ya teman-teman kalau ada typo. Banyak kesalahan emang, ya sudah jangan lupa follow IG Din kalau mau minta folbek boleh DM saja Din yang selalu stay terus di IG.
__ADS_1
@dindafitriani0911