Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 2


__ADS_3

Malamnya, Anin menatap jengah karena bosan melihat jam yang terus berputar pada ujungnya dan suaminya? Aksa belum pulang sedari tadi dari kantor, ia lelah. Akhirnya memutuskan untuk menonton TV di kamar, dan menayangkan film-film thriller untuk melepas hawa bosannya.


“Belum pulang...” Anin mondar-mandir.


Terpaksa ia turun ke bawah, melihat pelayan masih sibuk, berkutat di dapur.


Tidak ada satu orang pun mengajaknya untuk mengobrol, akhirnya ia menunggui di bawah tangga sampai dikira ada setan yang duduk di bawah tangga itu. Anin memegang handphone, dan ingin sekali ia mencetak tombol telepon, ia ingin menelepon suaminya. Kenapa belum pulang-pulang? Ia sudah lapar, cacing yang ada di dalam perutnya meronta-ronta ingin diisi.


“Ah, belum pulang. Aku udah lapar, ingin dia melihat istrinya mati gara-gara lapar.” Ucap Anin dengan begitu di sana pengawal menghampirinya.


“Ada apa?” dengan nada ketus. Dan pengawal terlonjak kaget, tersenyum.


“Maaf Bu, katanya Tuan Aksa suruh makan duluan, kalau begitu saya permisi dulu bu.” Ucapnya dengan lembut.


“Bentar! Jangan panggil saya ibu! Emangnya saya ibu kamu, nggak pantes saya dipanggil begituan. Udah panggil nama saja!” Anin mendahului pengawal tersebut, ia menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada makanan yang tersaji di atas meja, ia menghalangi air liurnya untuk tidak menetes. Anin malu.


Hal yang konyol sekali dalam hidupnya, ingin mempermalukan dirinya sendiri dihadapan para pelayan maupun pengawal yang ada di rumah ini. Anin pendiriannya tetap kuat, ingin menunggui suaminya pulang.


Jika ia mendahului, maka ia juga tidak sopan kepada suaminya sendiri.


“Nggak usah mbak! Biar nanti saya saja,” ucap Anin memberikan perintah karena pelayan ingin menyiapkan piringnya untuk Anin dan air minum, tapi Anin larang.


“Baik bu...”


“Huft, dasar kalian ini. Saya udah bilang, jangan sesekali panggil saya bu! Nggak suka, ya nggak suka. Udahlah, saya mau ke kamar saja. Silakan kalau mau makan!” Anin yang menawarkan makanan yang ada di meja, dan mereka membulat sempurna. Ini baik sekali majikannya, benar-benar mereka salut kepada majikannya.


Tidak ada yang namanya melarang.


Benar-benar rezeki tak akan kemana.


Mereka akhirnya mengambil lauknya masing-masing, dan dibagi rata. Anin hanya berfikir, kenapa buat banyak-banyak makanan dan salah satu di antara piring pasti tidak akan tersentuh, membuat makanan tersebut terbuang karena Anin dan Aksa makan menyeimbangi porsinya.


Nggak tau lagi lah, Anin sama suaminya ini.


“Ah, mending tidur aja daripada ngantuk begini.” Anin melihat jam di atas nakas, terlihat jam di sana berputar di angka jam 11 malam. Dan Aksa belum juga pulang jam segini, Anin matanya sudah kriyep-kriyep, ingin tidur.


Anin pun tertidur di sofa kamar, dan TV yang masih keadaan menyala.


Ia tidur dengan posisi yang salah, besok jadinya ia tidak bisa apa-apa jika dengan posisi tidur yang salah.

__ADS_1


***


Sementara Aksa, Aksa bersiap untuk pulang. Melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, ia sudah keterlaluan. Melibatkan pekerjaan dengan larut malam, dengan besok ia akan meeting pagi-pagi.


Aksa menghela nafas, ketika sadar jika sudah berapa banyak kopi yang ia habiskan. Ia juga lupa dengan istri yang ada di rumah, membuatnya segera beranjak pergi dan sesampainya di bawah. Ia langsung pergi ke parkiran mobilnya berada, langit yang sudah gelap. Aksa masuk ke dalam mobil, ia pun menjalankan mobilnya.


“Kenapa bisa lupa sih, udah punya istri. Harusnya pulang cepat, usahakan besok-besok gitu.” Dengan memuku-mukul stir mobil dan melajukan dengan kecepatan sedang.


Mobil pun sudah mendarat sempurna di kawasan komplek perumahan, dan ia memasuki halaman rumah. Di sana masih terpantau keadaan rumah, pengawal masih berjaga. Aksa melangkah ke dalam rumah, ia bergegas ke kamarnya dengan menggunakan tangga.


“Astagfirullah, ternyata masih belum tidur.” Aksa melihat sorot lampu kamar yang masih terang benderang, dan dia belum memasuki kamarnya. Setelah masuk, melihat Anin yang tertidur di sofa.


Aksa menggeleng dan menggulung kemejanya sampai ke lengan, ia mencuci tangannya terlebih dahulu dan membersihkan diri ke kamar mandi, setelah selesai. Ia beralih ke Anin sekarang, Aksa mematikan TV-nya dan menggendong Anin.


Anin yang tidak sengaja mendengar suara decakkan, ia membuka matanya. Melototkan matanya, ia berontak dan meminta Aksa untuk melepaskannya.


“Udah diam aja! Aku cuman mau gendong kamu dan kalau tidur ya, jangan posisi kayak gitu!” Cerocos Aksa dan Anin menurut, ia pun diletakkan di ranjang. Aksa tersenyum, dan menyibakkan rambut Anin.


“Cantik.” Puji Aksa.


Anin bersemu merah, dan perutnya yang serasa minta diisi, berbunyi.


Aksa mengeryitkan keningnya, “Kamu nggak makan?” Tebak Aksa dan benar saja Anin belum makan, ia baru ke ingat dan Anin langsung menjawabnya dengan gelengan kepala.


“Mas, maaf tadi ‘kan aku mau nunggu--.”


“Udah, mending makan dulu. Aku ke bawah dulu, kamu mau ikut nggak?” Potong Aksa dengan cepat, Anin menganggap. Ketika ingin beranjak dari ranjang, ia merasakan tidak enak di bagian lehernya.


“Aduhhh...” Anin mengaduh dengan keras, sehingga membuat Aksa bingung.


“Kenapa? Kok—” Aksa bingung.


“Anu, leher...”


Anin memegangi lehernya, dan Aksa cepat tanggap ia. Ia mengambil minyak pijat, dan kompresan air hangat.


“Eh mau ngapain?” Anin bingung dengan sikap dadakan Aksa, melihat dia membawa mangkuk dan minyak urut.


“Makanya kalau dibilangin itu jangan ngeyel kayak anak kecil! Jadinya gini ‘kan... Udah sini aku pijat, dan urut sepertinya urat kamu yang bermasalah dengan posisi slaah tidur.” Jelas Aksa, Anin mengangguk-angguk saja.

__ADS_1


“Ya kan nggak tau,” Anin tidak terima.


Anin mengerucutkan bibirnya, dan Aksa pun gemas melihat Anin seperti itu. Aksa mengompresnya terlebih dahulu, dan ia pijat-pijat leher istrinya itu.


Padahal di sini yang capek dirinya, tapi melihat istrinya kesakitan. Ya sudah, ia lebih memperbanyak belajar tentang bersabar. Rasanya double bagi Anin, ia bersyukur dengan suaminya ini. Baik sekali menghadapi tingkah lakunya, demi pijatan dan plus mengurut, Anin menatap tak jemu-jemu dan membayangkan suaminya, jika di belakangi begini.


“Sudah enak?”


“Sudah, tinggal lapernya sekarang.” Ia bersemangat untuk berdiri, tapi Aksa mencegahnya.


“Biar aku aja yang ngambilin makanan, kamu di sini!”


Aksa bergegas pergi, meninggalkan Anin yang di kamar melamun sampai terbawa ke alur suasana suaminya.


“HAH, udah jangan kebanyakan memuji mas Aksa!” Ucap Anin dengan cepat.


Anin menyibakkan selimutnya, “Kebanyakan bengong. Makan terus hasil lamunannya sendiri.” Gumam Anin.


Anin berjalan ke sofa lagi, kembali ke tempat semula. Ia menyalakan TV-nya, bosan sekali jika menunggu suaminya yang super duper lama sekali jika sudah berurusan dengan yang ada di bawah.


Ini dan itu.


Nggak ada yang benar pokoknya.


Anin mengingat masa kalau itu, setelah menikah memang ia langsung di boyong ke keluarganya Aksa, dua hari.


Dan setelah dua hari di rumah orang tua Aksa, Anin dibawa ke rumah ini dan Anin terperonjak kaget, ia tidak percaya jika ini rumah harganya bisa beli mobil sepuluh kalau nggak salah.


Anin melongo, ia pikir akan hidup layaknya seorang manusia biasa dan sederhana, yang nggak glamor begini. Dan tetap saja mereka akan disorot dari kamera, karena wajah-wajah pebisnis sudah sukses tayang di berita TV.


Ia heran, berapa banyak sih uang yang akan dibayarkan TV kepada Aksa, apalagi manager Aksa yang super juga. Itu keras, dan bisa saja mereka tidak diizinkan untuk menyoroti wajah-wajah Aksa.


“Udah?”


Aksa yang tiba-tiba datang, tanpa membuyarkan lamunannya.


“Ini dimakan!”


“Makasih mas,” Ujar Anin. Aksa membalasnya dengan senyuman tipis.

__ADS_1


Bersambung....


Baca yuk! Gimana nih, nggak ada ramenya 🙂. Semangat yuk! Ramein ayuk😁


__ADS_2