
Anin menangis sesegukan karena tertampar oleh kata-kata mamahnya Aksa, dan sengaja ia pertahankan sampai sekarang. Bude nya sampai bingung, ia mau telepon Aksa tapi takutnya malah jadi runyam masalahnya.
Bude mengelap sudut tepi mata Anin, dan mengelus-elus punggung Anin supaya tidak menangis terus-terusan.
“Gunanya kamu nangis ngapa coba? Bude udah bilang, Nin! Nggak usah dengerin apa yang nggak baik buat kamu!” Ucap Bude, Bude yang ada geram sendiri.
“Oke tapi Bude, aku sendiri aja pingin ngalamin buat bahagia. Nggak ada hidup itu yang adil, semua rata gitu Bude?” Bude menggeleng, dengan aduan yang dikatakan Anin itu ada benarnya.
Tapi, kita bisa apa? Hanya takdir yang menentukan kita, bahagia atau tidaknya seseorang.
Karena semua yang diketahui hidup tidak ada yang sempurna, jika ingin sempurna maka sempurnakan lah separuh hidupmu.
Artinya separuh hidup itu berarti kita diberikan waktu untuk menyempurnakannya. Dunia tidak sama semua, karena Allah yang tau bahwa setiap hambanya akan mengalami keadaan, dan segi kondisi masing-masing.
Tidak ada orang yang bahagia itu selamanya, karena setiap ada kebahagiaan kembali terjadi musibah yang akan melubangi bahtera di antara rumah tangga.
“Udahlah Nin! Bude pusing, mana lagi koyok cabe di warung abis lagi. Bude harus apa sekarang? Dengerin alunan tangisanmu yang nggak jelas itu? Bude pusing, udah sekarang tidur! Bude mau nyiapin makan malam nanti Pakde mu pulang nggak ada apa-apa lagi.” Bude beranjak dari tempat tidur, Anin semakin ingin meluapkan emosinya.
“Semuanya akan jelas, dan bisa dilihat secara tak kasat mata. Gimana mau hidup nyenyak? Kalau salah satu di antara mereka nggak saling menguatkan.” Sesal Anin, Anin melempar sandalnya ke arah kamar mandi.
“Hah, apa aku bicarakan saja sama mas Aksa. Ini sudah aku ingin sebar luaskan, nggak harus ditutupin lagi.” Anin pun mengambil handuk, dan ia pergi mandi sore, untuk itu ia malam ini akan menemui Aksa.
***
Setelah semuanya selesai, Anin bersiap-siap dan meminjam handphone Bude nya untuk menelepon Anin. Anin canggung, ia gugup sekali.
Pada akhirnya ia menyerah, tak bisa berbicara rasanya.
“ASSALAMU’ALAIKUM Bude...” Sapa dari yang di seberang telepon.
“Wa’alaikumsalam mas...” Anin sedikit menjauh, dan sampailah di belakang rumah.
Ia mantap untuk ke belakang, karena suasananya bikin hati jadi plong. Ia pun duduk di ayunan belakang, dan Anin tersenyum.
“Ini beneran Anin?” Ucap Aksa yang sepertinya kayak dapet hadiah gitu.
“Iya, ini aku Anin... Apa kabar mas? Udah lama nggak ketemu.”
“Apa perlu aku ke sana? Nggak papa, demi kamu aku perjuangkan cinta ku untuk kamu.” Ucap Aksa, Aksa hanya menyampaikan itu tidak ada yang lainnya kah?
“Emh, nggak usah... Aku mau nyampein beberapa pesan dari orang tua kita mas...” Aksa pun beralih ke video-call dan Anin menerimanya.
Di sana begitu banyak orang-orang yang mengumpul.
Anin meneliti satu-satu, ia paham ini orang proyek. Kenapa bisa Aksa ada di sana? Apakah ia lagi melakukan pengecekan suatu proyek yang akan ia pasarkan.
“Di proyek kamu mas?”
“Iya, maaf kalau suaranya agak berisik. Biasalah, lagi negecek. Kalau nggak dicek nanti takutnya ada yang kelewatan lagi, bikin pusing aja nanti masalahnya.” Balas Aksa, Anin hanya mengangguk.
Tanpa permasalahan, tapi ada suatu masalah yang menyempil di hatinya sekarang.
__ADS_1
“Eh kenapa itu sekretarisnya mas Aksa jadi perempuan ya?” Gumam Anin, Aksa ia beralih ke handphone dan ia berbicara tidak jelas karena Anin melamun, tidak sengaja ada beberapa orang yang lewat berlalu lalang.
“ya Allah, hindari niat buruk ku ini. Sebaiknya khusnudzon daripada su’udzon mulu, tapi kebanyakan orang kalau di dunia hidupnya pesti nggak akan jauh-jauh dengan namanya ghibah dan su’udzon, setiap orang memiliki karakter masing-masing.” Gumam Anin panjang, Bude sampai mendengarkan kenapa sih lega karena pengajaran yang ia selalu dapatkan dan dipelajari untuk Anin, akhirnya dipelajari kembali.
“Kenapa diam?”
“Ngga kok, aku mau ketemuan sama kamu mas... Di cafe itu aja!” Aksa hanya memberikan helaan napas, sepertinya kecewa jika istrinya ingin menutup sambungan telepon.
“Aku suami kamu Nin, aku berhak—” Anin mematikan sambungan telepon dan menyerahkan ke Bude. Bude heran dengan Anin yang mendadak menyerahkan handphone dengan kasar, dan tidak mengucapkan kata ‘terima kasih'.
“Loh, ya Allah kok gini amat ya?” Bude pun ditelepon kembali dengan Aksa.
“Nin... Nin, jangan dimatiin dong belum selesai udah main matikan aja!” Adu Aksa, membuat Bude naik darah jika begini.
Ghosting lagi.
“Anin, jangan menghindar! Karena menghindar itu nggak baik nak.” Akhirnya penasehat ini pun memulai berceramah, mendengarkan pun membuat Anin pengang rasanya.
“Kamu itu harus nurut apa kata suami kamu! Sekarang suami kamu juga berhak untuk mendapatkan kejelasan sedetail-detailnya dari kamu, nggak harus marah. Dengan cara marah nggak akan nyelesain setiap permasalahan.” Ujar Bude membuat Anin menyunggingkan senyumannya.
“Ya aku tau tapi—” Bude menggeleng.
“Udah sana mending ajak ketemuan tu suami, mesti harus dibicarakan permasalahannya. Apa dan apa! Berpikirlah dewasa, kalian kepingin punya anak ‘kan, nah sudah tua makanya kalau berpikir dengan otak yang dingin.” Jelas Bude, dan Anin hanya menganggukkan kepala.
Ia sepertinya tidak bisa melahap apa yang dijelaskan Bude nya tadi, entah kenapa pikirannya nggak sampai di situ. Karena masalah mamahnya Aksa yang membuatnya menahan beban seumur hidup kayaknya.
“Udah, berat sama dijinjing, ringan sama dipikul! Harus sama-sam merasakan juga berarti dong.” Karena Bude nya yang cerewet dan bikin kebakaran seisi rumah, akhirnya ia menemukan suaminya.
Bertemu di caffe dekat dengan kantor Aksa, Anin masih menunggunya. Sudah sekitaran 5 menit kurang lebih, Anin berdecak sebaliknya karena menunggu terlalu lama membuatnya capek.
Udah hilang tah? Bikin repot aja lah, Anin pun mengaduk tehnya yang sudah dingin itu dan menyesapnya. “Halah mana janjinya, ketemu jam segini eh nggak taunya dia nggak dateng!” Ucap Anin menatap jalanan yang begitu sepi, tidak ada yang lewat.
Anin beranjak pergi, ia melangkahkan kaki ke kasir.
Eh tak taunya ketemu mantan suaminya, ia pun tersenyum tipis dan ia bukan tipikal orang yang suka basa-basi, ia membayar apa yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
“Apa kabar nin?” tanyanya dengan menoleh sedikit.
“Yah beginilah, allhamdulilah nggak ada masalah. Oh mana istri mu yang selalu kamu agung-agungkan itu? Nggak nemenin kamu ngantor?” cibir Anin, Rifa’i hanya tersenyum smirk.
“Emh, kamu ke sini nggak bareng sama suami kamu itu!” Tanyanya balik, Anin mengalihkan pandangannya dan beralih untuk pergi, akhirnya Rifa’i hanya menatap punggung Anin yang sudah jauh dari ia berdiri.
“Kamu nggak berubah, sama...” Gumamnya, ia melanjutkan pekerjaannya dan sambil santai-santai begitulah.
***
Anin menghentak-hentakkan kakinya, jadi malu dianya.
Suaminya juga kemana nih? Ia hanya menatap lesu dan menghentikan taksi, tepat di saat itu mobil suaminya berhenti di depannya.
“Ngapain lagi? Uhh,” decaknya dan Anin memberengut kesal.
__ADS_1
“Pak jalan saja!” Ucap Aksa yang memerintahkan untuk jalan.
Dan taksi itu jalan lagi, Anin menatap bosan.
“Jam berapa nih? Dari jam janji udah nunggu lama.” Sentak Anin, Aksa pun mendiamkan istrinya terlebih dahulu untuk lega tetapi jika tidak ditanggapi yang ada Anin semakin marah.
“Ini umum, mending masuk aja ke dalam mobil!”
“Iya aku tau, tapi jika kamu tidak bisa menangani masalah ini. Toh, aku mau pulang saja ke rumah Bude dan Pakde, pulang kan saja aku kehadapan mereka!” pungkas Anin, dan Aksa menarik tangan Anin untuk masuk ke dalam mobil.
Ia malu jika mengumbar, ataupun adu mulut dihadapan orang lain.
Kasian juga istrinya jika dirinya memalukan sendirinya, Aksa memasuki kursi kemudi dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
“Apa aku salah untuk membicarakan ini semua? Biar semua orang tau, jika kota—” Aksa menggeleng, dan ia melirik istrinya yang menangis terisak.
“Udah! Aku belum jawab apa yang kamu bicarakan... Kita pulang ke rumah!”
“Turunkan aku di sini saja! Jika kamu mengajak aku pulang ke rumah.” Sentak Anin, Anin mengelap air matanya ingin berancang-ancang untuk membuka pintu mobil.
“Bahaya nin!” Jerit Aksa, dan ia pun memilih untuk memberhentikan mobilnya di tepi jalan.
“Kenapa? Kamu ada masalah? Cerita! Nggak harus dipendam nin, aku suami kamu. Berhak atas penjelasan apa yang kamu pendam selama ini, yang setiap aku telepon kamu selalu menghindar. Nggak baik nin, kamu durhaka sama suami sendiri...” Anin semakin terisak karena ia dimarahi oleh suaminya.
Mendengar bentakannya, membuatnya tersinggung dengan perkataan Aksa barusan bilang.
“Cukup nin, aku nggak mau seperti ini. Sudah?” Dengan lembut Aksa mengelap air mata Anin yang merembes keluar, membasahi pipinya dan ia beralih mengambil air mineral yang ada di dalam mobil. Ia tadi lupa jika ingin minum, karena ia banyak sekali yang harus dikerjakan hari ini.
Makanya, ia terlambat untuk menemui janjinya kepada istrinya.
Ia tidak menyangka malah kejadian seperti ini.
“Minum dulu!” Aksa memberikan botolnya dan Anin sesegukan ia meminum airnya.
“Kebanyakan marah, membuat kamu jadi pusing, lelah, capek. Kamu istirahat, oke aku akan bawa kamu ke apartemen saja.” Anin hanya mengangguk pasrah.
Aksa melanjutkan perjalanan dan tersenyum tipis melihat istrinya tertidur.
***
Sampailah di depan apartemen dan Aksa menggendong istrinya, ia tidak tega membangunkan istrinya jika karena kesalahannya membuat istrinya begini.
Aksa menaruhkan kunci mobilnya di atas meja, dan melihat istrinya yang nyenyak dalam mimpi. Ia pun melangkah ke kamar mandi, mencuci tangannya lalu ia pun ikut ke satu ranjang oleh Anin.
“Allhamdulilah udah reda gini enak.” Aksa mengelus-elus hijab Anin, ia pun melepaskan kerudungnya dan terlihat wajah sembap begitu.
Aksa termenung, “Apa masalahnya ya?”
Aksa sejak dari kantor, sudah dihantui beberapa pikiran yang tidak jelas di benakmu pikirannya
“Hm, coba nanti tanya baik-baik.” Aksa memeluk istrinya dan mengecup kening istrinya. Agak hangat badannya, banyak pikiran membuat Anin sepertinya lelah.
__ADS_1
... Bersambung......
jangan lupa kasih like, vote, apa nggak hadiah sama komennya ❤. Makasih sebelumnya, tapi aku minta maaf jika ada typo!