
Putri mengajak Rifa'i untuk cek-up, apakah ada masalah dengan kaitannya mereka berdua. Rifa’i tetap menyalahkan Putri, dengan begitu papahnya Putri sepakat jika mereka harus memeriksakan diri dengan keadaannya masing-masing.
Di sana papahnya Putri menunggu, dan mamahnya memilih untuk masuk ke dalam menemani anak tercintanya dengan harapan yang begitu besar untuk mendapatkan cucu yang bisa diandalkan secara turun temurun.
“Pah,”
“Hem...” Laki-laki itu memilih untuk diam dan menatap layar handphone.
Rifa’i menatap mertuanya jengkel, ia kesal di dalam dirinya masih menggelora adanya mertuanya yang pulang tiba-tiba dan merasa keputusan itu yang sudah tepat, ia pun mendaratkan bokongnya ke lantai, menggelosor sampai papah Putri tidak menyadari.
“Huh ....” Ia pun berdiri, dan melihat pintu ruangan itu terbuka.
“Silakan pak! Boleh masuk,” Ucap suster itu yang memberikan kabar jika istrinya sudah selesai diperiksa.
“Iya,” Mereka pun masuk di sana menampilkan Putri yang dipeluk oleh mamahnya dan Putri menangis di dalam dekapan mamahnya.
“Bagaimana dok?”
Dokter itu menghela napas panjang, dan “Saya menyatakan jika keduanya ada gangguan dari dalam kelamin masing-masing. Bermasalah, dan tidak bisa dipungkiri jika kemungkinan kecilnya mereka tidak akan ada keturunan dalam dirinya masing-masing. Dan saya menyatakan, jika hal ini untuk bu Putri masih ada harapan dan jika Pak Rifa’i, saya katakan sangat kecil harapannya. Tapi, ada harapan. Ya mudah-mudahan Tuhan bisa memberikan sesuai keinginan ibu dan bapak. Saya hanya memberikan pengarahan saja.” Jelas sang dokter dengan raut wajah mencari aman, papah pun keluar tanpa kata dari ruangan itu.
Serasa engap, karena anak satu-satu nya tidak bisa memberikan keturunan untuk orang tuanya. Dan Rifa’i menatap bawah, Putri menatap bengis ke arah Rifa’i dan ia memilih untuk keluar bersama mamahnya. Mamahnya hanya mengelus pundak Rifa’i, dan mengatakan kode yang sebenarnya.
SABAR.
Ya, ini ujian untuk mereka.
“Terima kasih dok...” Ia pun melangkah keluar, dan dokter itu mengulum senyum.
“Ya kasian sama Pak Rifa’i, dulu mempunyai istri yang baik dan bisa memberikan keturunan, eh ya namanya takdir mau dikemanain. Semuanya berubah seratus persen,” dokter itu membatin, dan melanjutkan pekerjaannya.
***
“GIMANA?” Bentak papah, dan Rifa’i menggedikan bahunya.
Mamah tersentak kaget dan menahan bahu papah yang mengguncang, Putri di sana meletakkan kepalanya di ceruk leher Rifa’i.
“Jika itu tidak terjadi! Maka papah tidak akan segan-segan untuk memisahkan kalian berdua, kalian harus konsul ke dokter! Papah ingin kalian yang terbaik, dan bisa memberikan papah cucu untuk meneruskan keturunan di antara keluarga ini.” Sambung papah, iya papah tidak main-main dengan ucapannya.
“Kalian berdua pulang! Mah, kamu pulang sama mereka. Antarkan mamah mu pulang ke rumah, nggak usah mampir-mampir kalau nggak penting. Papah ada urusan dulu, nanti malam kalau pulang.” Mamah mengangguk dan papah mencium kening mamah, mamah menggapai tangan papah dan menciumnya.
“Jaga ucapan papah tadi! Papah nggak main-main!” Papah melenggang pergi, dan mamah menggandeng tangan Putri.
Rifa’i membukakan pintu untuk mereka, dan ia melangkah ke kursi kemudi, ia putar arah dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
“Nak tolong jaga ucapan papah tadi! Mamah kasian sama kamu dan Rifa’i.”
__ADS_1
“Iya mah,” jawabnya serempak.
***
“Heh, aduh aku gimana ini jadinya? Milih jalan pintas aja lah, tapi kasian sama tukang sayur ini. Gimana bisa ngutang segitu banyaknya buat operasi, ya Allah...” Anin menatap handphonenya, ia mengecek m-banking.
Dan di sana sangat tipis uangnya, dari apa yang diucapkan tukang sayur tersebut. Apalagi ini tanggal tua, ia belum mendapatkan apa-apa dari perusahaan. Dan ia juga harus mengurus resign dari kantor. Itu pasti membutuhkan biaya untuk mencetak surat resign, ia pun berpikir keras.
“Anu bude---,”
Mobil Aksa pun berhenti di depan rumah, ia menghembuskan napas kasar.
“Ada apa ini?” Aksa menenteng tas kerjanya, dan di lengannya ia membawa jas kerjanya.
“Hm, maaf mengganggu pak... Ini saya lagi, mau ini---,” Anin menarik tangan Aksa, untuk masuk ke rumah. Aksa terkejut, ia mengeryit. Kenapa istrinya menariknya dengan tatapan tajam.
“Iya, Bude itu mau ngutang uang dua puluh juta. Nominalnya nggak main-main, dua puluh juta itu bisa beli motor satu. Dan itu Bude ngutang ke rentenir,” Kata Anin dengan bersedekap, Aksa menggelengkan kepala.
“Membantu, dengan cara meringankan utangnya nggak papa.”
“Iya bagi kamu yang duitnya banyak,” sergah Anin. Aksa terkekeh, dan membuka dompetnya.
“Oh iya aku lupa bawa cek, tapi apa ibu di depan itu punya rekening?”
“Kayanya nggak ada mas,” sahut Anin, Anin berjalan keluar dan Aksa menjemput istrinya ke depan. Anin menanyakan hal itu, dan ibu itu menjawab tidak.
“Nggak ada pak, namanya orang nggak punya. Mana mungkin uang kecil bisa dimasukkin ke bank, saya aja nyimpen allhamdulilah... Tapi, ya mau gimana lagi kami udah makan kenyang bersyukur. Tapi, kadang ya banyak ngeluh juga. Namanya manusiawi Pak,” Ucap ibu itu.
Aksa menatapnya agak tidak suka dengan orang itu, karena kebanyakan drama dan basa-basi tanpa begitu pula, mendengar keluh kesah orang tersebut.
Tidak ingin berniat untuk mengusir ibu tersebut, tapi Aksa sudah bosan dengan orang yang seperti ini. Meminta-minta cuman gara-gara uang untuk rentenir, kenapa alasannya tidak masuk akal seperti mengorbankan sang anak saja untuk alasannya.
Dari raut wajahnya sudah bisa dikenali.
“Hm, maaf Bu... Saya belum punya uang kas, tapi mohon maaf atas penolakan ini. Saya tidak bisa memberikan uang cuma-Cuma untuk ibu, dan saya di sini... Maaf, tapi bukannya tidak bisa memberikannya. Tapi, saya butuh kejelasan yang tepat untuk masalah hutangnya. Dengan siapa ibu mengutangnya, saya akan membayarkan.” Ibu itu menatap bengis ke arah Aksa, bukannya hidup Anin sekarang sudah mapan dan dilihat orangnya bisa diboongin.
Tapi, kali ini ia gagal.
“Jangan coba-coba untuk membohongi kami bu. Kali ini kami menang, lain kali jika pinjam uang dengan semata untuk bersenang-senang. Jangan deh bu!” Kata Aksa, membuat Bude itu geram dan meninggalkan rumah itu. Anin tersentak, memasuki rumah ia pun pergi melangkah ke kamarnya.
“Nin, kamu kenapa?”
Aksa menyusul, Anin bungkam. Ingin sekali Aksa membuka mulut Anin agar tidak hening seperti itu.
“Mas, malu tau?”
__ADS_1
“Loh kenapa? Mas ‘kan bilang seadanya,”
Anin memberengut kesal, dan ia menangkupkan wajahnya ke bantal. Ia gusak sampai wajahnya memerah, dan Aksa terkekeh.
“Laper nggak?”
“Iyalah, namanya juga dah sore.” Jawabnya dengan nada sedikit halus. Dan Aksa menarik tangan Anin, Anin terkejut.
Ia sampai mau terpeleset karena tarikan tangan Aksa kuat sekali dan sampailah di dapur.
Aksa pergi ke depan, Anin mengintip dan Aksa membawa paperbag. Entah isinya apa?
“Ini kamu siapkan! Aku mau mandi dulu,” Ucapnya singkat. Aksa pun berjalan ke kamar mandi. Anin pun patuh menyiapkan makanannya yang masih ada bungkusan, ia buka satu persatu.
Ternyata isi dari paperbag tersebut adalah makanan yang sebenarnya. Tapi, tadi Anin tidak jadi berbelanja sampai sedikit ada masalah.
***
Setelah makan malam, Anin menyenderkan kepalanya di pundak suaminya yang masih berkutat dengan laptopnya malam hari ini. Anin berdecak, ia pun tidur dengan membelakangi suaminya itu.
“Kasian istri ku, jadi gini dia.” Aksa sesekali melirik dan mengarah ke jam tangan yang masih melingkar di punggung tangannya.
“Ya Allah, udah jam setengah satu. Hah, nanti aku meeting pagi. Aduh kok bisa lupa sih, pantesan marah istri ku. Eh, ternyata aku lupa waktu.” Ia meletakkan laptopnya, dan mematikannya.
“Maaf ya, aku jadi lupa sama kamu.” Ucapnya dengan membelai rambut Anin yang sudah tidak memakai kerudung. Anin masih mendengar samar, ia belum tidur sebenarnya.
Berkomat-kamit tak jelas. Dan ia mendongakkan kepalanya, ternyata suaminya keluar.
“Ish, jadi suami nggak perhatian sama sekali.” Ucap Anin dengan menyibakkan selimutnya dan mengambil handphonenya. Untung handphonenya sudah balik ke sini, ia tidak harus sibuk dengan cara gimana ngambil handphonenya di rumah Aksa.
“Ekhem...” Suara mengagetkan bagi Anin, ia meraba-raba dan cepat ia meletakkan handphone di atas nakas.
“Belum tidur kamu pastinya?” seringai Aksa, ia mendekati Anin. Dan memeluk Anin dari samping.
“Yuk!”
“Kemana?” sok polos lagi, Aksa memiringkan sudut bibirnya.
“Belum siap yah? Ya udah, aku nunggu kamu siap.” Aksa langsung percaya gitu saja, tapi Anin sadar jika istri sepenuhnya harus menerima apa adanya.
“Boleh.”
......Bersambung... ......
Jangan lupa kasih like sama komennya 🤗.
__ADS_1
Makasih❤️