Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 7


__ADS_3

Malam harinya, Anin menyiapkan hidangan untuk makan malam, dan Bude serta Pakdenya sudah ada di sini. Mereka menyesalkan atas semua kelakuan ponakannya kali ini, meminta maaf kepada Aksa.


“Mereka tu ngapain coba, minta maaf?” Anin bergumam sendiri di dapur, sambil mencicipi hidangannya. Sudah pas atau belum? Allhamdulilah, sudah pas semuanya.


“Bude, tadi bawa apa ke sini? Aku tadi liat sekresek plastik besar lagi,” Tagihnya seperti rentenir yang begitu teliti dalam memperlihatkan sebuah barang.


Aksa melotot, kelakuan istrinya memalukan sekali.


“Kamu nih, nggak sopan seperti itu sama orang tua.” Sindir halus Aksa, Anin menatap tajam ke arah suaminya.


Kodenya : ‘Belum selesai urusan kita!’


Wkwkwk, Aksa hanya menurut dan Budenya memberikan Anin belanjaan.


“Ini tadi, Bude ke pasar sekalian belanjakan kebutuhan kamu di rumah. Awalnya, sore tadi Bude ke rumah kamu. Eh, malah banyak orang. Nih, kaki Bude jadi bengkak gini.” Bude memperlihatkan kakinya yang bengkak, Anin hanya mengangguk.


“Makasih Bude...” Ucap Aksa.


“Iya, yuk kita makan. Sudah siap ‘kan nak?” Anin mengangguk dan Bude, semua orang pun berjalan ke ruang makan dekat dengan dapur.


“Kalau gini ‘kan enak. Jadi, akur nggak selalu marah-marah.” Pesan Pakde, dan Bude manatap heran dengan Pakde, tidak biasanya Pakde memuji seseorang.


“Hal yang paling langka sekali,” gumam Anin.


“Mau ini?” Anin mengambilkan mangkuk yang berisi ikan bakar dan Aksa menggeleng.


Ia masih waspada karena takut alergi dengan ikan yang berbau ikan laut, Anin meletakkan kembali.


“Oh iya, gimana pekerjaan Aksa? Lancar?” tanya Pakde dan Aksa menatap hanya termenung.


“Hem, ya gitulah... Kalau diposisi yang enak, tapi nggak enaknya terus dikejar sama orang-orang ya, begitulah...” Balas Aksa, Pakde mengerti keadaan Aksa.


Karena tak mudah juga seorang pebisnis untuk melakukan hal yang bebas, sekali bebas setiap detik ada orang yang mencarinya.


“Ya namanya gimana lagi, urusan sama orang-orang yang mempunyai jabatan besar, sama pekerjaan yang menyulitkan, kalau kita lupa dunia kita ya sulit untuk di maafkan lagi. Karena waktu bersama tidak akan menjadi memori kenangan lagi,” Ucap Bude, hati Aksa tertohok dan hanya tersenyum getir.


“Udahlah mending makan dulu, baru ngobrol-ngobrol...” Celetuk Anin, Anin melanjutkan makannya dengan senang hati ia menambah makanannya.


Selelah apapun, Anin tetap cantik untuk dipandang bagi Aksa. Ia melihat Anin dari kursi, Anin mencuci piringnya dan Aksa melihat layar handphone, emailnya penuh pesan karena mereka menyampaikan lewat email dan Aksa segera mengonfirmasikan kepada semua orang kantor, lewat grup.


“Mas...” Seru Anin, Aksa pun beralih ke mata Anin.


“Masih ada pekerjaan? Ya udah, selesaikan dulu...” Ucap Anin dengan lembut, dan Aksa mengangguk. Ia membalas pesan satu-satu dan Anin membuatkan Aksa teh hangat.

__ADS_1


“Ini mas, aku mau ke kamar dulu. Kalau mau bareng? Yuk, ke kmar aja daripada dimakan nyamuk di sini.” Anin melangkah ke kamar, Aksa mengikutinya dari belakang. Ia awalnya ingin di meja makan tapi Anin mengajaknya ke kamar, ya sudah mengikuti saja.


“Emh, aku mau beli makanan dulu ya mas.”


“Mau kemana?” tanyanya dengan bingung.


“Ya ke depan, jalan perempatan itu. Di sana banyak yang jualan kalau malam-malam.” Balas Anin.


Anin mengambil dompetnya dan memoles bedak tipis.


“Kok dandan?”


“Hem, cemburu ya?” tukas Anin.


Aksa menggeleng, ia pun meraih tangan Anin dan menggandeng nya.


“Yuk keluar! Kalau mau keluar, ngomong dulu sama aku!” Sergah Aksa, melihat raut wajah Aksa yang memerah dan matanya seperti mau keluar.


Anin tertawa pelan, “Pakai motor aja!” Ketika Aksa mengambil kunci mobil, ia meletakkan kembali ke tempatnya.


“Emang pakde tadi sama bude ke sini, bawa motor?” tanyanya dengan memastikan.


“Yah...” Jawabnya dengan singkat. Lalu, Aksa melihat ke sana-sini. Tidak ada penampakan hidung Bude dan Pakdenya Anin. Kemanakah?


“Kayaknya ada di depan, ngobrol sama para tetangga. Itu kunci motornya,” Anin menunjuk kunci motor dan Aksa menyambarnya. Anin keluar dari rumah, ia meminta izin terlebih dahulu kepada Pakdenya. Walupun, ditanya dengan para tetangga.


Beberapa menit telah berlalu, mereka sampai di perempatan jalan. Anin menatap perempatan ini, ia mengingat memori yang ia ingat-ingat. Itu warung masih buka, dan itu dahulu ia nyebur ke selokan sampai mencari jalan pintas untuk tidak dikejar-kejar pencopet.


“Ada apa?” Aksa menangkap wajah Anin yang tersenyum.


“Nggak papa, cuman mengingat dulu... Oh iya, kita pesan apa? Aku maunya bakso,” Anin melihat gerobak bakso langgananya dulu yang masih tetap stay di situ.


“Babeh, apa kabar?” Anin menghampiri Babeh, si tukang bakso yang tetap mangkal di sini. Babeh terhenyak, dan mengingat-ingat perempuan ini.


Cantik, berhijab, dan setingginya sama dengan perempuan yang lalu.


“Siapa ya?”


Babeh tersenyum, lantas ia mengangkat tangannya.


“Anin, anaknya si siapa itu?” Anin menyalami tangan Babeh.


“Siapa coba ini?” Gumam Aksa, Aksa menggaruk tengkuk lehernya.

__ADS_1


Babeh tertegun dengan Anin, Babeh menunjuk Aksa.


“Siapa kamu? Kok kayak nggak kayak asing sama orang ini,” Tanya Babeh dan Anin mengangguk cepat.


“Hem, ya gimana nggak asing Beh... Itu setiap hari lewat di media elektronik maupun non-elektronik, hehehe... Buatin Anin sama Aksa bakso ya Beh... Lagi kepingin soalnya,” suruh Anin. Babeh membuatkan baksonya.


Aksa memandang jalanannya yang begitu ramai, Anak-anak remaja yang pacaran sembari berkumpul dan memakan jajanan yang ada di sini. Dan Aksa mengingat masa lalunya, “Ngapain hayo?” Tebak Anin.


Anin sudah memegang sempol ayam, dan Aksa menghela napasnya.


“Kamu nggak takut gemuk?” Lontar Aksa, Anin kaget dengan ucapan Aksa barusan.


“Kok gitu?” Anin menatap sebaliknya, dengan raut marah.


Ia pun segera menjauh, dan Aksa bingung. Kenapa istrinya hari ini masih marah saja, ia harus sabar menghadapinya. Sepertinya hormon yang membuat mood istrinya hari ini rusak.


“Ini,” Aksa menawarkan sapu tangannya.


Karena melihat Anin makannya belepotan seperti ini, ia langsung turun tangan. Saosnya yang menempel di tepi bibir Anin, ia gemas ingin membersihkannya.


“Simpel sekali kalau makan, dan nggak nyadar kalau makannya belepotan.” Anin mengelap nya dan Anin memaksa memakannya kembali.


“Ini bakso buatan babeh udah jadi,” Babeh mengantarkan baksonya dan Anin tersenyum.


“Oh iya selamat menikmati! Babeh mau ke sana dulu, melayani pembeli babeh.” Pamit babeh, dan Anin menikmati baksonya, sempolnya sudah habis. Giliran sekarang makan baksonya, Aksa menambahkan sambalnya.


“Tadi, aku mau bahas yang tadi! Katanya mau minta lagi, apa?” Ungkap Aksa, Anin menaruh mangkuk baksonya lalu menatap mata Aksa.


“Ya ini, permintaannya... Nggak banyak kok, cuman aku mau bilang... Aku maunya kita tinggal di daerah perdesaan, kan aman dan nggak banyak gangguannya.” Sahut Anin, ia mengambil baksonya, Anin memakannya kembali.


“Jadi itu permintaannya, gampang tapi susah amat ya...” Aksa terkekeh dan Anin mengeryit.


“Mau nggak?”


“Akan aku pertimbangkan.”


Mereka pun menikmati malamnya, dan sampai benar-benar larut malam.


......Bersambung.........


...Komen yah kalau ada typo yang merusak mata dan seduniawi mata jadi berubah burem🙂....


Oke, makasih jangan lupa kasih dukungannya 😌.

__ADS_1


Wkwkwk maap kalau kemarin gue ulang episodenya, ternyata salah copas 😂. Ya udah, sekarang gue perbaiki dan ada dua bab lagi yang gue update. Selamat menunggu!


__ADS_2