
Anin, perempuan itu kini meringkuk di samping permakaman ibunya dan memegang rumput yang tumbuh di atas makam ibunya.
“Bu, kapan ayah bisa dateng nemuin aku terus bilang kalau ayah sebenarnya bukan ayah kamu gitu, bu. Terlalu muak buat hidup kalau ayah masih hidup,” Aksa hanya mendengarkan tanpa memberi nasihat takutnya ia salah paham.
Tapi, mendengar pasti sakit ketika ibunya masih mengandung dirinya waktu tujuh bulan dan ia tidak pernah melihat batang hidung wajah asli bapaknya sendiri meski orang-orang mengetahui. Anin, perempuan itu tidak pernah melihat bentuk wajah ayahnya bagaimana.
Kapan ayah datang bu?
Kapan ayah pulang, bu?
Dimana sekarang ayah, bu?
Pertanyaan itu yang selalu ditanyakan melalui mulut yang tergerak ada rasa bahagia jika ayahnya hidup. Namun, sekarang semua ketika ia dewasa baru menyadari laki-laki itu yang telah meniduri ibunya tidak pernah yang namanya tanggung jawab.
Meski ibunya pernah mengatakan, “Kalau kamu menemukan ayahmu, jangan benci ayahmu! Tanyakan beliau, apa masalahnya.”
Pesan dari ibunya dan itu semua dilontarkan ketika ia beranjak dewasa barulah ibunya berani berkata.
Hidup tanpa seorang ayah, suami untuk ibunya yang pasti hidupnya tak mudah sebab merasa semua pasti tidak terlewati oleh yang namanya bahan omongan para tetangga tapi itu semua hanya dianggap angin.
Sebab merasa jika Anin anak haram, tak pantas dilahirkan.
Begitu para gunjingan warga, warga pernah mendapatkan kabar jika ibunya Anin yang berselingkuh dengan istri dari ayahnya.
Tidak, yang pasti mengingat semua bukan hanya batasa kenangan. Tapi, semuanya nggak bisa akan terkubur dalam-dalam.
Banyak memang di luar sana, nggak bisa memangnya mencontoh begitu prinsip hidup dari Anin dan ibunya. Ibunya selalu bernasihat, kamu jangan terlalu berpikir dari hidupmu saja! Banyak orang, yang memiliki orang tua hanya sebatas anak yang tak dianggap kehadirannya di rumah.
Korban dari orang tua juga bisa, dan menjadikan tempat traumatis terhadap anak.
Wajib masih bersyukur bisa diberikan ibu yang masih sehat.
Aksa menaburkan bunga setelah berdo'a, ia menatap istrinya yang sedang menangis dan mengelap papan nisan yang terukur nama ibunya di sana.
“Bu, kalau ibu di sana sedih. Pasti ngeliat aku sedih di sini, dipastikan aku bahagia kok bu. Pasti ibu di sana tersenyum,” ucap Anin lirih dan tersenyum.
“Nin, jangan terlarut dalam bayangan terus. Yuk pulang! Dah mau senja,” ucap Aksa yang berjalan menghampiri istrinya, karena istrinya ada di hadapannya mereka saling bertatapan tanpa bersampingan.
Anin, ia menggeleng dan mengucap istighfar banyak.
Semoga diberi ketabahan.
“Pulang, yuk! Besok lagi kita ke sini.” Aksa mengiming-imingi, supaya istrinya menurut ketimbang terlarut dalam kesedihan yang seharusnya dia bahagiakan dan muliakan, eh malah air mata merembes keluar dari kelopak mata cantik istrinya.
Jadi, nggak tega juga Aksa.
Anin beranjak berdiri, ia pun menatap senyum dari itu semua ada luka dalam di hatinya dan Aksa mengangkat langkah kakinya, menggandeng istrinya.
Di sana tempat di mana angin bersatu merdu suaranya, hawa yang sedikit dingin. Anin meletakkan kepalanya di pundak suaminya sebagai tumpuannya.
__ADS_1
“Kalau lelah, tidur!” perintah suaminya dengan nada yang tak terbantahkan, Anin mengangguk saja toh dia juga matanya sungguh berat jika ingin melek.
Anin duduk di samping suaminya dan suaminya hanya menatap datar ke arahnya, sebab dia tidak mau jika tangan suaminya ataupun pundak suaminya itu capek buat menumpu kepalanya.
***
Setelah berziarah, kini Anin sudah bergelung dengan mimpinya tak terasa sore tiba dan Anin dibangunkan oleh suaminya. Suaminya hanya menggeleng lantaran Anin sulit untuk dibangunkan.
“Nanti kasian loh babynya,” ucap Aksa itu pada Anin yang matanya masih memejam tapi pendengaran masih normal. Dan Anin membuka matanya, menatap Aksa yang menunggu dirinya dengan bersedekap dada.
“Jam berapa sekarang?” tanya Anin menampakkan tatapan muka bantalnya, masih mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul.
“Jam lima sore,” dengan tampang tak berdosa Aksa menjawab seperti itu, membuat Anin kelabakan. Ia langsung mental terperanjat kaget, secara ia belum mandi terus belum sholat ashar lagi.
“Jangan terburu-buru! Nggak baik,” ujar Aksa mengingatkan.
Anin baru menyadari jika perutnya berisi, ia lebih memikirkan calon bayinya ketimbang dia kenapa-napa. Oke, ia akan menunggu lebih sabar jika ini demi kebaikan calon bayinya, masalah kesehatan paling ia utamakan dan keselamatannya lebih dipentingkan lagi. Harus berhati-hati sebelum bertindak.
Karena tindakan yang salah, bisa jadi berakibat fatal.
Ia berjalan, tapi kakinya terkantuk oleh pintu kayu itu dan Anin mengaduh pelan.
“Nah, kalau nggak hati-hati juga gitu ‘kan?”
Aksa sudah memperingati dan Anin hanya mengangguk, mengandalkan untuk tidak diceramahi ia langsung berlari ke kamar mandi tapi sebelum itu Aksa yang menatap tajam, menusuk tatapannya.
Anin melihatnya tanpa sadar ia memutuskan kontak matanya.
Aksa menghela napas, “Kalau nggak bisa mandi ... boleh mas bantu,” ucapnya dengan nada genitnya. Kembali ke semula, memang suaminya ini sudah kek buat jantungan mendadak berhenti.
“Haish, jangan gitu!” Anin memerah mukanya sambil menutup senyumnya yang agak sedikit memalukan kalau diperlihatkan.
Anin berjalan ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
***
“Nak, kapan ayah bisa memeluk kamu?” ucap orang itu pada bingkai foto, terdapat foto anaknya dengan seorang laki-laki yang ternyata tender dari orang yang selama ini berkerja sama dengan perusahaannya.
Tak main-main jika anaknya menikah dengan pengusaha muda yang terkenal.
Ia saja hampir kalah dengan menantunya itu, membuat ia harus bersaing kuat lagi dan sementara perusahaan pusat memang ia yang memimpin lantaran masih tidak ada rasa percaya untuk menantunya yang satu ini.
Ya, laki-laki itu bernama Revino. Dirinya sekarang sedang ada di mansion, dimana ia tinggal sendiri di sini tanpa diketahui oleh orang lain jika ia punya mansion pribadi, dan tidak ada yang mengetahui soal ini.
Maupun istri dan anaknya sekarang.
Revino di sini juga menghilangkan stress karena di rumah pasti tidak ada canda tawa, hanya hidup yang penuh dengan kedinginan tanpa ada basa-basi. Menurutnya ia menikah juga karena terpaksa, dan tidak akan pernah luluh hatinya sama istrinya, lagi pula dulu ia tidak pernah yang namanya meninggalkan istri pertamanya.
Hanya kesalahpahaman yang terjadi pastinya.
__ADS_1
Sementara ini, ia ingin sekali mengatakan jujur kepada anaknya jika dirinya ingin menjadi ayah hanya dalam kurun waktu untuk semasa hidupnya melihat anaknya bisa mendampingi dirinya.
Di masa tua pastinya ia akan membutuhkan sosok penyemangat, bukankah dirinya tidak dianggap oleh anaknya. Lantas kenapa ia ingin sekali untuk menjadi ayah?
Iya, dia belum pernah memeluk tubuh kecil Anin pada saat kecil.
Anin juga darah dagingnya, anaknya.
Bukan orang asing, dan bukan anak haram.
Sebab, Revino sudah menikah dengan Siti pastinya anak baik-baik.
Tapi, tidak pada saat itu dengan keadaan yang memanas membuat Revino bimbang untuk memilih. Revino, laki-laki yang humoris dan ramah. Pastinya disegani, dan sekarang dia berubah menjadi dingin serta hidupnya dengan penuh kekejaman, pastinya tidak akan mulus membuat orang hidupnya sempurna.
Jika main-main dengannya.
“Nak, ayah pingin peluk kamu. Terus nanyain gimana perasaan anak ayah, kalau ayah masih hidup. Tapi, sepertinya kamu tidak membutuhkan ayah lagi ya, nak? Ayah memang lelaki pengecut dulu, nak.” Ucapnya dengan nada bergetar.
Tak terasa ia lama-lama menangis dengan sesegukan.
Anaknya.
Darahnya.
Buah hatinya.
Penyemangat hidupnya.
Senyumnya.
Melihat itu semua Revino bisa menjadi orang yang humor lagi dan bisa menjadi ramah, jika kehidupannya balik lagi seperti dulu. Namun, ada kata tidak mengenakkan jika istrinya telah meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Padahal, dahulu Revino berjanji untuk menjelaskan sedetail mungkin walaupun Siti tidak akan pernah percaya dengan omongannya seenggaknya bisa menerima dirinya sebagai suami dan ayah untuk anak mereka.
“Maafkan aku Siti, jika aku dulu tidak menjelaskan. Bisa kemungkinan aku juga orang pengecut, tapi aku akan mengambil hati anak kita buat menerima aku sebagai ayahnya. Mungkin ‘kah aku bisa diterima dengan lapang dada jika aku ayahnya, Siti?” Revino menatap langit dan awan biru itu, di sana gelap gulita tapi bintang dan bulan menyinari setiap malamnya hanya angan-angan yang ada di pikirannya.
Bersambung...
Maaf gess, seharusnya aku punya jadwal buat up tapi aku udah usahain buat up juga dari hari apa itu, tapi nggak kekumpul juga idenya🤣.
Dan bentar lagi mau tamat😌.
Seterusnya mau pindahin ini ke judul yang selanjutnya, biar spesifiknya sih kehidupan mereka berdua 🤣, ngurus anak-
Heheh... jangan lupa follow IG Din buat dapet info, tapi aku tuh sebenarnya nggak pernah buat story sih😙....
hahaha nggak papa yang penting follow
aja.
__ADS_1
@dindafitriani0911
Makasih, see you next episode 😎