Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 31


__ADS_3

Hari ini Anin bisa pulang ke rumah, ia senang jika sudah kembali ke rumah. Sekarang masih dalam perjalanan pulang ke rumahnya, dia sudah tidak betah untuk ke rumah. Pakde dan Bude mengikuti, karena mereka ingin menginap di sana. Pakde juga mau cari pekerjaan, ngganggur juga nggak enak. Cuman nongkrong diliat sama tetangga, bisa jadi bahan ghibahan para tetangga.


Dasar emang, kalau tetangga dekat begitu. Pagar saja rumahnya nggak tinggi, mesti harus di pagar lagi biar nggak ada yang jadiiin bahan nantinya. Ah, nggak kepikiran. Buat apa toh? Mereka yang dosa, sebaliknya Pakde yang dapat pahalanya.


“Assalamu’alaikum, aku pulang. Heh, mana redmerah?”


Aksa tiba-tiba mengeryit, dan mencerna ucapan istrinya.


“Ya ‘kan red artinya merah sayang, apanya coba?” tanya Aksa dengan gemas, ia mencubit pelan pipi tirus Anin, ia teringat jika Anin pinginnya dimanja.


“Hehehe iya, maaf kata-kata ku tadi salah ya?” ia menggaruk dan malu, ia pun tersenyum dan Aksa pun mengelus kepala istrinya, mengecupnya.


“Nggak papa kok, istri ku ...”


“Oh iya, bude mau pulang dulu ya nin ... kata pakde ada urusan yang belum diselesaikan, jadinya kita hari ini nggak jadi nginap, nggak papa ‘kan nin?” jelas bude, bude meminta izin karena ia tak jadi untuk menginap hari ini dan pastinya tidak ingin mengecewakan sang ponakan yang nantinya kesalahpahaman terjadi.


Anin menggulung bibirnya, kenapa tidak di waktu yang tidak pas begini.


Akhirnya ia menganggukkan kepala dan tersenyum, kemudian Aksa memberikan usapan lembut dan memberikan kode dengan mengikhlaskan mereka, nanti mereka akan ke sini jika sudah menyelesaikan urusannya.


“Tapi hati-hati ya!”


“Iya tenang saja, bude kau pesan taksi dulu.”


“Biar asisten saya saja bude, yang mengantarkan.” Ucap Aksa dengan mengeluarkan handphonenya dan mau menelepon, tapi bude menggeleng.


“Takut merepotkan nak, biar saja kami naik taksi.” Sungkan bude dan pakde ikut mengangguk, padahal menantunya memberikan tumpangan gratis lagi diantarkan, huh pakde hanya bisa mengangguk. Takut nanti istrinya marah, bisa jadi-jadian nanti kalau di rumah.


“Bude nggak papa, biarin ... nanti asisten suami bisa makan gaji---,”


“Ehem ...” pakde melebarkan matanya untuk tidak menjelekkan orang kepercayaan suaminya atau itulah, nanti bisa jadi masalah.


“Kenapa sayang?”


“Nggak kok, ya sudah kalau bude sama pakde maunya itu.” Pungkas Anin, karena ia tak mau jika dia orang itu tidak ke sini lagi cuman gara-gara itu.


Bude menyenggol tangan pakde yang masih fokus dengan ponselnya, dan pakde lekas itu membuyarkan, pakde dengan bude berjalan keluar. Sementara Anin, ia memilih untuk mendahului suaminya itu yang sedang memerhatikan dirinya.


“Kamu kenapa?”

__ADS_1


“Nggak ngapa-ngapain, emangnya apaan?” tanya Aksa, dan Anin menggeleng.


“Bude sama pakde pulang dulu ya?” Mereka pun melangkah keluar dari rumah, dan Anin memerhatikan Aksa yang sedang kebingungan, entah apa yang ada dalam benak pikirannya tadi bisa terucap seperti itu.


“Mas, maaf perkataan ku tadi agak mau menyinggung.” Aksa mengeryit, memangnya istrinya tadi bicara apa? Soalnya ia nggak ngerti, dan Aksa tersenyum kikuk. Ia menjawab karena tidak mungkin akan menyakiti hal ini, apalagi dengan istrinya yang lagi hamil mengandung anak mereka, penerus dari keluarga mereka.


“Oke nggak papa, ya sudah kamu mau apa?” tanya Aksa, Anin menggeleng.


Anin berjalan ke ruang keluarga, ia lupa jika hari ini ada filmnya yang tayang dan ditunggu sejak bulan lalu, katanya mau coming tapi kok ditunda terus. Ya sudah sih, kita tonton sama-sama belum tentu ekspektasinya yang awalnya begitu jadi tambah menyukai.


“Kamu mau nonton TV?”


“Iya, filmnya udah tayang yang aku omongin bulan lalu.”


“Oh,” jawab Aksa dengan singkat.


“Heem, mas tolong buatin jus ya? Enak kali minum jus mangga,” beo Anin tanpa mengalihkan tatapan matanya dan menatap TV, sementara Aksa berdecak dan ia gemas.


Mengacak-acak kerudung istrinya dan memeluknya.


Anin malah tambah kesal, ia menggigit tangan suaminya karena menghalangi jalan matanya untuk lurus di TV, dan Aksa mencium kening istrinya dengan lembut. Masalah tangan bisa nanti, karena ia tak mau dikit-dikit marah. Apa nggak ini dan itu, pikiran Aksa cuman satu demi kesehatan calon jabang bayi di dalam perut istrinya.


Namun sama.


“Hm, enak kali ya ngupload tok-tok, kek gitu. Wuah, ngajak suami wae daripada sendirian.” Ia menatap sekilas dari TV, emang itu lagu lagi trendnya dan sabi lah ngajak suaminya.


Anin pun membuka handphonenya dan membuka aplikasi tok-tok, ia kemarin pas lagi gabut mau mencoba tapi malu, malahan di rumah sakit dan tidak bisa bebas.


Ia lantas menggerakkan tangannya, malah jadinya ngakak liat ekspresi sendiri.


Aksa yang selesai berteleponan, ia kembali ke ruang keluarga dan perasaannya seperti ada yang ngganjal di hatinya, entah apa itu, ia membuyarkan. Semoga saja tidak terjadi apa-apa!


“Mas, coba sini deh! Liat, kamu ‘kan orangnya kaku kalau di luar, nah ini coba praktekkin gerakan yang di tok-tok nih, kamu gerak nanti aku upload. Biar viral gitu,”


Aksa menatap tak percaya, suruh gerak persis tapi seenggaknya persis lah, ini terlalu sulit baginya untuk menahan malu apalagi plus wajahnya yang tiap kali masuk ke televisi.


Nggak bisa, ia milih untuk kabur saja lah kali ini.


Entah tuh, lagunya yang bikin ia is totally banget.

__ADS_1


Anin menatap menantang, “Eh gimana? Oh, aku ada urusan di kantor. Tadi, yang telepon sekretaris ku untuk kembali ke kantor lagi. Soalnya ada yang beberapa diurus dan harus meeting.” Jawab Aksa dengan mengalihkan, Anin menatap dengan intimidasi, apakah suaminya itu berbohong.


Ia membesengut kesal, dan memilih untuk meninggalkan suaminya kali ini tapi tangannya dicekal oleh tangan Aksa, Aksa lantas mengangguk ragu.


“Cepetan!” ucapnya dengan ngegas.


Aksa pun gelagapan sendiri, ia memikirkan cara agar tidak video itu tersebar cepat apalagi dengan orang yang ternama seperti dirinya, eh maaf bukannya sombong loh. Pasti kesebarnya akan lebih cepat nggak nunggu berjam-jam saja mungkin sudah fyp, hahaha. Tapi nggak ngerti pula lah, Aksa gerakannya.


Oke, ada ide baru.


“Eh, nanti kalau suaminya diliat sama tante-tante girang gimana terus diembat.” Elak Aksa, ia tak mau jika wajahnya selalu jadi incaran orang-orang luar, dan Anin menggeram marah. Iya, tak iya juga ada konsekuensi yang harus diterima.


Tampaknya ia berpikir, dan Anin kemudian mengangguk, hatinya masih belum ikhlas sih jika suaminya ini nggak ngelakuin apa yang ia pingin kan, tapi lain dari pikirannya.


“Nah gitu, jangan nangis ya!”


Anin lantas meluruhkan air matanya dan mendusel ke dada bidang suaminya, Aksa menuntun Anin untuk duduk di pangkuannya dan sesekali memegang tangan istrinya, mengecupnya dengan sayang.


“Udah ya, aku nggak mau lho kamu nangis! Terus nanti kelelahan lagi,” tutur Aksa dan Anin masih menyempil di dadanya dan Aksa menatapnya teduh.


Ya, ia maklumi karena faktor hormon dan kehamilannya. Maunya orang hamil itu kadang berubah-ubah apalagi kalau masih hamil muda, biasanya seperti itu. Tapi, jika tak dituruti ya udah nanti siap-siap jabang bayi keluar, malah ngeces. Hah, Aksa menggelengkan kepalanya. Apa ia turuti saja ya, tidak! Jawabannya itu.


Mau ditaruh mana mukanya?


Oke, ia memenangkan istrinya dan Anin mengelap air matanya dengan kasar, Aksa mencekal tangannya, “Jangan dilap kasar, ini ada tisu!” ia menyerahkan tisu dan membantu istrinya untuk mengelap air matanya serta ingusnya.


Bersambung...


Maaf nggak bisa up ya selama ini, karena faktor ini dan itu nggak bisa ngejelasin. Oke, akan up setiap hari nanti bisa dibaca lagi dan kembali.


Comeback yah, makasih buat yang sudah baca dan memberikan komennya.


Di sini author sehat, allhamdulilah bisa diberikan kesehatan dan bisa menjalani aktivitas seperti


biasanya:)


Boleh follow IG Din yah, @dindafitriani0911


DM, aja boleh saling folback Din gitu yah🙏😆

__ADS_1


Nanti tak folbeck balik.


Makasih-


__ADS_2