
Anin, ia pagi-pagi sudah dibantu berdiri oleh suaminya karena sudah lemas sekali. Ya, dirinya terlalu banyak mengeluarkan cairan dan sesekali memuntahkan cairan bening itu ke wastafel.
“Sudah?”
Anin menggeleng, wajahnya sudah pucat pasi dan tenggorokannya serasa kering. Tapi, ia berusaha untuk menahan, keringatnya sudah bercucuran dan Aksa membantu Anin untuk meredakan.
“Minum dulu!” Aksa menyodorkan segelas air minum dan membantunya, tadi ia menyuruh bibi untuk mengambilkan air minum agar istrinya bisa terisi cairan.
“Bentar!” ucap Aksa dengan memerintah, dan Anin sudah lemas sekarang, tubuhnya pun limbung dan Aksa terkejut ketika ia membalikkan badan, malah istrinya pingsan. Ia segera membopong tubuh istrinya, dengan cepat ia terburu-buru ke bawah.
“Siapkan mobil sekarang juga!” teriak Aksa dengan napas memberat, karena ia juga ikutan bingung dan khawatir pastinya. Aksa segera lari ke depan rumah, di sana mobil sudah terparkir apik dan pengawalnya membukakan pintu mobilnya.
Aksa masuk dengan menyangga kepala Anin, dan ia pun masuk juga karena menjaga tubuh Anin biar seimbang. Aksa meletakkan kepala Anin di pundaknya, agar lebih enak saja kalau di itukan sih sebenernya.
***
Tak sampai di situ, Anin sampai di rumah sakit sudah membuka matanya tapi malah lari ke kamar mandi, ia semakin mual tatkala melihat sekelilingnya ada bau obat-obatan, memang rumah sakit mau bau minyak wangi? Ya, enggak ‘kan?
“Mas, pulang yuk!” serunya karena ia tidak betah di sini.
Aksa tetap menggeleng, ia sudah susah-susah buat napas. Istrinya meminta untuk pulang, yang ada sia-sia perjuangan buat ke sininya.
“Kamu itu kalau dikatain perempuan kuat, jadi lemah. Eh malah lemah jadi sok pura kuat lagi, jangan nanges! Kesinggung dikit, nanges!” ejek Aksa dengan mengusap tangan istrinya, Anin melirik dan menarik kuat pinggang suaminya itu, mencubit sampai Aksa tertunduk olehnya.
“Heh, siapa yang bilang gitu?” kacaknya dan Aksa meringis, karena cubitan istrinya tak main-main. Ia sampai mau nanges! Tapi, ia ingat jika nanti kalau nanges ketahuan oleh orang yang ada di sekitar malah jadi bahan ghibah atau apa nggak jadi rusak reputasinya sebagai CEO yang terkenal kejam.
“Ish, cepat mau pulang apa nggak ini?” tanya Anin dengan wajah cemberut.
“Iya sebentar! Ini beneran deh? Periksa bentar, nanti kalau ada apa-apa gimana?” Aksa ingin istrinya diperiksa baru pulang. Tapi, Anin tetap menggelengkan kepala dan Aksa menghela napas pelan.
“Iya pulang,” dengan berat hati ia menjawab seperti itu.
“Beneran?”
__ADS_1
“Iya sayang, beneran deh. Ya udah sekarang pulang,” sambungnya dengan begitu menggandeng tangan istrinya, Anin dengan pelan-pelan jalannya. Siapa tahu nanti kalau pelan bisa itu selamat sih, karena pelan yang penting selamat.
“Mas keadaan papah sama mamah gimana?”
Tiba-tiba Anin bertanya seperti itu, emang nggak biasanya sih Anin menanyakan.
“Baik, ada kemajuan sih. Tapi, belum sepenuhnya itu sembuh.” Jawab Aksa dengan membukakan pintu mobil untuk istrinya, ada beberapa orang yang melihat aneh, ya sebab mereka tidak jadi masuk. Entah apa yang membuat mereka tidak jadi masuk, berpikir mereka itu salah satunya pemilik rumah sakit mungkin.
“Noh diliatin ‘kan?” gumam Aksa tapi Anin mendengarnya, Anin melirik dengan sengaja dan Aksa menatap itu, langsung merubah mimik wajahnya.
“Biarkan, emang ngapain sih? Diliatin orang aja ‘kan, nggak ampe gigit.” Jawabnya dengan ketus, dan Aksa menahan tawanya, mana ada orang gigit orang. Yang ada masuk penjara kali, kalau gigit orang. Masuk ke rumah sakit jiwa buat proses penyembuhannya.
Mobilnya pun berjalan dan yang mengendarai mobilnya ya sopir Aksa yang biasanya mengantarkan Aksa kemana-mana.
Seperti biasanya, kalau mood kadang nyuruh asistennya atau tangan kanannya.
“Pak, ke minimarket ya?”
Aksa menatap Anin, mau apa ke minimarket. Sebelum bertanya, Anin sudah dahulu menjawabnya. “Mau beli keperluan yang habis di rumah,” Anin tanpa mengalihkan pandangannya ke mata Aksa.
Matanya sesekali melihat jalanan, ia melihat ada beberapa orang yang jualan demi mencari nafkah anak dan istrinya, melihat itu Anin meringis serasa ada yang menyayat hatinya. Tergores melihat orang tua yang memperjuangkan keringat dan sebagai tulang punggung keluarganya, untuk membahagiakan anak serta istrinya.
Masya Allah.
Anin kagum dengan orang yang mempunyai kesabaran tingkat tinggi, ketika menghadapi ujian ataupun takdir di mana mereka diperlakukan layaknya orang yang nggak punya apa-apa, dipandang rendah dan remeh di mata orang-orang yang sudah punya apa-apa. Di mata orang sih memang orang kaya itu sempurna, namun dibalik kesempurnaan belum tentu kebahagiaan menjamin jika orang kaya itu bisa sempurna hidupnya.
“Mas, kamu nggak lihat orang-orang tadi mas?” tanya Anin dan Aksa yang memainkan ponsel pun menoleh ketika namanya dipanggil oleh istrinya, “Ada apa?”
Hah pertanyaan apa yang dilontarkan suaminya tadi, memang bikin kesel saja. Anin berdecak kesal, dan menatap tajam, dingin sekali tatapannya.
“Ngapain sih kesel gitu?” tanya Aksa dengan meletakkan handphonenya yang tepat letaknya, dan meraih tangan istrinya, “Nggak boleh kesel gitu ya, nah kalau orang hamil itu bawaannya harus cukup bersabar!” nasehat Aksa, Anin membola matanya.
“Yang sabar bukannya kebalik dah?” kesal Anin, dan Aksa mengumpat di dalam hati.
__ADS_1
“Anjirr, akh malu gue. Ya sih sebenernya, tapi ya harus belajar untuk bersabar kali ini dan menerima apa adanya, kalau lo nanti ngumpat di depan istri lo yang ada digampar nanti.” Batin Aksa dengan ketar-ketir di dalam hati.
Anin hanya menatap raut tak mengerti, dan mengalihkan pandangannya ke luar lagi. Malas bertemu netra suaminya yang kebodohannya meningkat kali ini, iya suaminya terlalu kurang peka sama keadaan apa gimana? Mungkin masa puber kali ya, jadinya ngomong suka ngelantur. Apa nggak dirinya sendiri yang sukanya sensi.
“Sudah sampai tuan, bu.” Suara itu melenyapkan pikiran mereka, dan Anin menatap Aksa. Aksa hanya membuka pintu mobil, dan Anin mengikut. Ia malas mau membuka pintu sampingnya. Masa bodo mau dikatain kagak bisa buka pintu mobil.
Keluar dari mobil serasa panas emang, cuaca kali ini benar-benar panas. Terik matahari di atas kepala rasanya, dari tadi Anin memang menyadari sih jika orang-orang memilih berteduh untuk membeli jajanan di jalanan tadi. Tampak jika hari ini panas yang amat terik. Aksa saja membuka kacamata hitamnya untuk menangkal terik matahari, Anin hanya menatap cuek dan tidak peduli.
Mau kepanasan, mau jongkok. Toh, ia maunya ngadem di minimarket. Sekali saja boleh ya, lama dikit.
“Kamu tunggu saja di mobil! Nanti kalau kelamaan di dalam, marah-marah lagi.” Ucap Anin dan Aksa menggeleng, ia tetap menggandeng bahu istrinya untuk jalan masuk ke minimarket.
Anin melepaskan tangan Aksa yang menggandeng dirinya, “Malu!” desisnya dan Aksa pun nyadar diri ia, jika istrinya tidak mau digandeng. Ya udah ia lepaskan saja, tapi jika istrinya hilang bisa kelimpungan ia.
“Masa kalah sama anak muda yang belum nikah, yang.” Ucap Aksa dan Anin menoleh, ia melayangkan tatapan tajam.
“Iya, mau kayak mereka? Cinta memang tak selamanya indah dek, kadang membuat hati terluka. Itu kata-kata diinget! Bukannya mencontohkan yang baik, nggak guna pula nikah malah mencontohkan yang tidak baik kepada orang-orang.” Celetuk Anin, kata-kata itu membuat Aksa kicep sendiri.
Ia mengambil keranjang belanja, karena ia juga mau belanja hari ini. Siapa tahu ada cemilan favoritnya di minimarket, ia sudah lama nggak belanja. Berkat ini semua ia bisa belanja, jika tidak belanja toh uangnya yang bejibun itu nanti jadi keras kek tanah, harus jungkir balik mau ngambilnya.
Belanja juga tidak membuatnya buruk-buruk amat, lantaran belanja biar happy kayak orang-orang, nggak mulu berkas saja yang diurus.
Bersambung...
Hehehe, kemarin nggak up ya... Maaf ini aku up ya😓😩.
Jangan lupa berikan dukungannya yah🤗.
Follow IG Din.
@dindafitriani0911
Biar tahu info atupun bisa tanya-tanya tentang novel Din juga boleh, kalau masalah hidup mah jangan yah! Apalagi dengan percintaan, hukumnya mah saya masih jomblo karena jomblo bukan abdinya percintaan.
__ADS_1
Hehe, kan jomblo belum praktek jadi harap dimaklumi 🙂.
See you next episode-