
Anin, perempuan itu sendiri dan tanpa diduga ia melamun sendirian. Padahal baru beberapa menit suaminya melakukan perjalanan ke bandara. Tapi, ada rasa tak rela dan ikhlas untuk suaminya pergi.
Bukan berarti ia tak mengizinkan, tapi di saat nanti ia membutuhkan bagaimana. Dan tak terasa air bening itu turun ke bawah dengan deras dan ia menangis terisak.
“Papah jahat ya, nak? Ninggalin ibu di sini sendiri ... Ah, pingin aku suruh balik terus aku bikin drama gitu?”
Anin menangis lagi dengan penuh kekesalan, ia melempar batu ke arah kolam ikan pakde meski nanti ia kena marah ujungnya lantaran ikannya ngambang mati, dan Anin yang harus menggantikan ikan yang sudah terapung.
“Akh, gimana mau ngomong? Nanti salah aku kalau ngomong,” sesalnya dengan mengusap cairan bening itu dan ia mencari kontak suaminya.
“Telpon nggak? Telpon, nggak?” ia ragu, benar-benar calon anak di dalam tidak ingin papahnya ke luar dari jangkauan ibunya sendiri.
Anin merasakan jika ada sesuatu yang mengganjal, dan ia meringis.
“Eh apaan ini?” ketika ia bangun, maka di situ ia menemukan jarum yang menusuk di kakinya. Untung saja tidak masuk ke dalam kaki, hanya saja tertancap jarum.
“Pertanda apa? Eh, sabar ... nggak boleh negatip thinking takut dosa ...”
Anin mengambil jarum tadi, dan ia letakkan di tempat yang lebih aman. Lalu, ia berjalan masuk ke dalam, ia sudah legowo meski harus ikhlas dan sabar menunggu hari di mana suaminya pulang.
Anin menghela napas ketika ada pakde dan bude yang sedang melakukan kegiatan tak seharusnya dilakukan di bulan puasa. Bisa batal kapan saja.
“Inget batasan!” ucap Anin dengan mata yang tak teralihkan karena ia malas memandang orang itu, bisa saja ia kepingin juga bucinan sama suaminya.
Bude dan pakde mengerti, jika ponakan mereka itu lagi badmood. Kagak enak lah kalau mood lagi anjlok benar-benar dah bikin seketika amsyong terus gosong sekalian.
Tergoyah sudah hatinya, ia pun melangkah ke kamar untuk ber teleponan dengan suaminya itu yang kini mungkin entah sudah sampai di bandara. Jika ia tidak hamil, kemungkinan besar akan rela tapi ya juga ia harus ikut dengan Aksa.
“Nggak usah lah,” tapi hatinya seperti berat sekali.
Anin mencoba untuk menetralkan pikirannya dan ia meletakkan handphonenya kembali di atas meja. Ia berdiri, tanpa ditunggu akhirnya ia mendapatkan suara getaran notifikasi dari suaminya lewat pesan whatsapp.
Ia membukanya, dan matanya memandang foto yang dikirim suaminya.
Anin tersenyum lebar tatkala suaminya sudah mau terbang dari bandara Jakarta menuju tempat tujuan. Anin mengelus perutnya, “Semoga bapakmu selamat ya nak!”
***
Revino, laki-laki itu sedang menemani putrinya belanja di mall. Karena hari ini putrinya yang meminta maka ia akan turuti tapi satu nggak boleh banyak-banyak. Karena takut nanti ngitung hisabnya macem mane?
__ADS_1
Putri sampai beberapa kali bertanya, jika ini cocok atau pas nggak di badan Putri pah!
Bikin pusing kadang, tapi Revino hanya mengangguk membuat Putri memberengut kesal karena Revino memang kalau diajak laki-laki itu masa bodoh mau beli itu dan ini ia tidak akan peduli.
“P-pah, bisa nggak kalau papah itu bedain sama mamah gitu!” Putri kesal, unek-unek di hatinya ia keluarkan.
Dan Papahnya yang dimaksud Putri, Revino itu diam saja hanya memandang handphone tanpa mengalihkan Putri yang berkecak pinggang.
“Pah! Ish, mending pulang kalau begini ... anyep amat hidup,” sindir anaknya. Berulang kali Putri menganggap papahnya itu memang manusia menyebalkan dan mukanya sama persis dengan tembok yang lagi di cat itu, masih mulus kek pinggul bayi.
“Bener kata mamah, ngajak papah sama saja emosi sendiri.”
“Iya kamu tinggal pilih nak! Jangan lah samakan sama papah! Papah juga nggak tahu apa-apa.” Akhirnya sekian lama Putri mengoceh bagaikan kata A-Z, Papahnya hanya menengok sekilas sudah.
Padahal di sampingnya itu anaknya bukan orang asing.
“Iya deh iya, kalau papah itu laki-laki jadi nggak ngerti apa-apa.”
Putri kesal, ia menghentakkan kakinya dan berjalan menjauh dari jangkauan papahnya. Revino hanya menghela napas, perempuan itu memang ribet hidupnya selalu menyalahkan laki-laki.
Bermuka dia, cih. Batin Revino dengan menyunggingkan senyumnya.
“Pah, ini bagus kagak? Jangan bilang nggak gitu, mending kita pulang sekarang! Daripada malu di sini, aish .... punya papah nggak peka,” Putri yang langsung menjawab karena papahnya hanya menggedikan bahunya dan tertawa sendiri.
Lantas, Revino terkejut dan menatap horor anaknya.
“Ada apa sih nak?” tanya Revino dengan menghembuskan napas kasar.
“Terus diabaikan gitu, pah mending pulang yuk!”
“Lah nggak jadi belanja’kah?”
“Iya, keburu jadi ikan asin di sini ...” jawab Putri dengan mengatupkan bibirnya.
Revino menaikkan sudut alisnya, “Oke, papah minta maaf kalau tadi ada kerjaan yang nggak bisa ditunda, makanya papah mengabaikan kamu nak.” Revino mengelus surai rambut anaknya dan Putri menempelkan kepalanya ke pundak Revino.
Bagaikan suami istri memang, karena Revino tampak lebih muda dan bersinar sampai Putri beberapa kali menanyakan, ia sebagai anak kek dipanggil sama persis seperti ibu-ibu. Untung saja ia memainkan kedudukan orang tuanya, jadi orang itu tanpa memandang pasti sudah tahu.
Sampai ia menyelendot dan menciumi jas papahnya, terasa aroma maskulin dari papahnya memang candu dan pasti kalau suaminya melihat, alangkah baiknya mundur ataupun mamahnya. Secara ia akan mendapatkan ceramah dari dua mulut yang berbeda itu.
__ADS_1
“Pah beli mobil enak kayaknya,”
“Iya enak. Terus di garasi itu apa? Banyak pilihannya,”
“Kan itu koleksi papah, aku nggak senang yang namanya mobil kek gitu ... enakan itu yang sederhana, tapi tampak kalau bukan orang kaya ...”
“Naik gerobak dong,” jawab langsung papahnya, dan Putri tanpa terduga ia malah menggeplak lengan papahnya.
“Naik itu saja papah! Kalau ngomong barang itu, secara papah pilihnya yang unik dan mewah, nggak bikin mual. Eh, itu ada angin sebagai sumber pendinginan tanpa harus pakai AC lagi. Mewah malahan,” ucap Putri dengan membalas dan Revino menipiskan senyumnya.
“Anak papah bisa aja,”
“Iya dong, gini pinter kek bapak sama maknya. Nggak kayak papah,”
“Lah situ emang anaknya siapa? Kalau bukan kek papah,” balas Revino.
Dirinya sudah gemas dan mencium pipi anaknya yang tampak tirus, Revino sudah bingung beberapa kali kalau ditanya perawatan anaknya. Tapi, tidak ada yang bisa merubah segalanya.
“Pah katanya mamah tadi suruh ngapa?” anaknya mengingatkan, siapa tahu tadi suaminya ini dipesankan oleh-oleh buat pulang ke rumah.
Tampak Revino sedang berpikir dan ia lalu menggeleng, keryitan dahi Putri membuat sang papah langsung mempatrikan senyumnya. “Ada, satu tapi!”
“Iya, cepetan pokoknya kalau belanja!”
“Nggak ngerti ukurannya nak,”
Membuat jawaban seperti itu, Putri bingung sendiri dan ia melongok ke sana-sini. Siapa tahu ada orang lain jika bertanya tentang privasi mamahnya di sini.
“Pah kalau ngomong bisa nggak volumenya dikecilin!” Bisik Putri dengan memegang jas papahnya, siap untuk mencubit atau memukul papahnya. Selalu sedia tangan dan tatapan tajam.
Tapi, kalau papahnya yang tindakan masalah anaknya. Pasti selalu nomer satu, marah dulu baru baikan.
Minimal batas kemampuan sang papah sampai darah titik penghabisan. Jika anaknya minta apa selalu dituruti, dan menjadi nomer satu jika anak perempuan satu-satunya, kadang mikir gimana caranya ngebahagiain anak itu dan bisa menjadi pribadi yang lebih dekat dengan anak.
Bersambung...
...Makasih udah nunggu 👉👈... ...
Heheh, kalau nunggu bisa kok baca cerita yang lain atau di satu hati sama author...
__ADS_1
Wkwk 🤣...
Oke, see you next chapter yah🤗.