Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 34


__ADS_3

Ada seorang laki-laki yang sedang menghisap rokoknya di ruang kerjanya, yang terlihat begitu besar dan tampilannya dengan tembok berwarna hitam kegelapan, jadilah kegelapan yang menemani laki-laki paruh baya itu.


“Bagaimana bisa, ada laporan seperti itu?” Ia mengangkat kakinya ke atas meja.


“Ya, saya tidak tahu tuan.” Jawab orang yang sudah gemeteran dan keringatnya sudah membanjiri tubuhnya, lantas orang itu berdiri dengan rahangnya yang tegas dan orang itu duduk di atas meja.


“Bukan kah saya sudah mempercayai kamu untuk meninjaunya,” ucap laki-laki itu dan orang yang menundukkan kepala itu lantas mengangguk.


“Cih, emang orang itu tidak bisa dipercaya,” dengkusnya dengan menghisap kembali rokok yang masih menyala itu, lalu mematikannya dengan melemparkan ke bawah dan memijaknya dengan kuat.


“Saya tidak mau laporan itu terbuai begitu saja, sebarkan atas dasar penipuan dengan perusahaan yang kerja sama dengan saya!” tegasnya dengan begitu orang yang disuruh mengangguk.


“Tapi tuan, saya memberikan informasi jika--,”


“Uusstt, jangan mendramatisir begini! Saya hanya ingin kamu kerjakan perintah saya,” datarnya, laki-laki itu adalah Revino yang menerima laporan jika pihak perusahaannya telah dirugikan oleh perusahaan yang pemilik perusahaannya yaitu Aksa.


Entahlah, ada kesalahan yang menilai di mata dia adalah Aksa yang bersalah.


“Silakan keluar!” serunya dengan memegang tengkuknya dan menaikkan kain bajunya di lengan. Orang itu menggeleng, ia belum selesai menjelaskan. Bisa salah paham, dan kepalanya yang akan menjadi sasaran berikutnya.


“Saya menyuruh kamu untuk keluar! Bukan di sini, apa kamu mau cari mati! Hah,” sarkasnya dengan mengeluarkan pistolnya dari balik jas itu, dan orang itu yang digadang sebagai sekretaris pribadinya itu menggelengkan kepala.


Ia siap untuk mati, namun ia bisa menjelaskan biar tidak salah sasaran.


Akh, sialnya sekarang Revino malah mendekati dirinya.


Dengan gelagapan, ia mulai buka mulut dan tepat di hadapannya sekarang. Pistol itu siap untuk dipelatuk, gigi Revino sudah mulai dieratkan dan matanya yang tajam membuat nyali sekretaris pribadinya itu mengendur matanya.


Oke, memperjuangkan kesalahan dan memperbaikinya, tidak ada yang salah.


“Mohon maaf tuan, saya ingin menjelaskan jika pak Aksa tidak salah.” Ucapnya dengan lantang, dan Revino menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


“Apanya yang tidak salah, saya melihat kesalahan itu terjadi.” Geramnya dan sekretaris pribadinya itu menggeleng, kesalahan untuk laporan bisa menjadi salah sasaran.


“Tuan saya ingin membela kebenaran, jika tuan tidak percaya. Saya akan memperjuangkan kebenaran bukan menutupi kebenaran yang ada, karena itu pak. Ada seseorang yang mencoba untuk menggagalkan kerja sama Tuan dengan pak Aksa, tuan. Begitu, pak Aksa tadi menelepon saya, jika dirinya juga benar-benar merasa ceroboh. Dan meminta maaf, perusahaan mereka kena impasnya dan kita sama-sama ditipu oleh orang itu.” Jelasnya membuat Revino memegang pelipisnya, dan menggenggam tangannya.


“Cari orang itu! Dalam satu hari tidak ada laporan, maka kau akan dipecat!” tekannya dan sekretaris pribadinya itu mengangguk, “Maaf tuan, jika boleh minta waktu untuk bernapas dulu tuan, jangan garang-garang amat! Saya mau mati rasanya,” pintar sekretaris pribadinya dan Revino menatap nanar, rasa aneh sekretaris pribadinya ini. Memang dulu sohibnya, tapi sekarang beda jauh lah.


Tapi, Revino selalu menganggap sekretaris pribadinya itu adalah saudaranya walaupun kadang amat gesreknya, suka menggoda hal yang aneh menurut Revino. Mungkin jika tidak memikirkan istrinya dan anaknya, ia tak akan begini. Dan meninggalkan istri yang sedang mengandung, itu hal berat yang pernah ia jalani sampai sekarang masa lalunya terbayang-bayang dengan kejadian masa lampau.


“Kamu keluar saja lah! Daripada di sini, pernapasan kau kek orang tua. Nggak enak kalau didengar!” cibir Revino, dan sekretaris pribadinya itu memandang tajam, apa-apaan ia begini juga karena dia.


Huh, dasar kalau bukan bosnya dan menjadi sohibnya mungkin ia akan habisi dengan babak belur, walau dirinya mengakui jika yang akan kuat itu Revino buka dirinya, hanyalah omongan kosong yang bisa membuatnya terhanyut dalam alur.


***


Pagi harinya, Anin diributkan dengan orang kang sayur yang lewat tiap pagi di depan komplek, mau ikan salmon kagak ada, terus Anin malah marah-marah tidak jelas, katanya kurang lengkap lah, mending kagak usah jualan daripada jualan malah begini pada ujungnya ia juga beli.


Sampai membuat malu suaminya, Aksa yang panas dingin ditatap oleh ibu-ibu, karena ia berlari dan kaget, mendengar teriakan istrinya padahal ia masih mendengar penjelasan dari pengawalnya jika kemarin ada masalah tentang rumahnya, dan belum selesai. Aksa mendengar sampai dari belakang, menjemput istrinya di depan.


Mana ada ikan salmon yang dibawa kang sayur, palingan adanya ikan lele apa nggak ayam. Eh, alah Aksa menggaruk tengkuknya dan menarik istrinya untuk masuk, ia menghela napas gusar.


Aksa yang mengusap kepalanya dan menelan ludahnya, kalau begini jadi tatapan maut yang selalu diberikan oleh istrinya. “Kamu ya, aku itu pinginnya ikan salmon yang ada kang sayur bukan dari supermarket.” Ucapnya dengan tak terbantahkan.


Bisa ia diancam tidak jelas jika begini, istrinya palingan mendiamkannya dan Aksa menampilkan deretan giginya, ia memegang baju istrinya.


“Jangan gitu lagi ya!”


“Hm, awas aku mau masak buat kamu!”


“Iya sayangku, nggak ngambek ‘kan?”


“Hm bisa dibicarakan nanti!” jawabnya dengan melangkah menuju ke dapur, hati Aksa serasa ketar-ketir dibuatnya dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Suara deringan handphone membuat Aksa yang lagi memikirkan untuk menghindari ancaman istrinya pun terbuyar, Aksa mengambil ponselnya dan mengangkat ponselnya yang di situ tertera nomer yang tidak jelas arahnya, tapi sepertinya dari rumah sakit.


Ada apakah.


“Halo dengan siapa?” tanyanya dengan ragu, ia suka was-was jika ada orang yang nggak kenal tapi Aksa lebih memahami soal beginian, jika nomernya disingkat bukan berarti orang yang mau menipu dirinya ‘kan?


“.... ” Hah?


Apa, Aksa menatap tidak percaya, mendengarnya sungguh terkejut.


Ia meluruh, kakinya tidak bisa ia gunakan dengan baik karena mendengar kabar jika orang tuanya sedang kritis sekarang dua-duanya sementara dia di sini baik-baik saja, ya Allah.


Aksa menghela napas pelan, “Mas ini, bumbunya habis. Kamu---,” Anin yang berjalan yang menghampiri Aksa, melihat Aksa yang lemas dan ndeprok begitu, ia mengeryit dan mendekati.


“Apa yang terjadi, mas? Kok--,” ia heran dan Aksa menggelengkan kepala.


Napasnya memburu, “Papah sama mamah, nin...” jawabnya dan Anin semakin bingung, ketika Aksa sudah beranjak berdiri, dan Aksa langsung memeluk Anin, ia butuh sandaran untuk hari ini.


“Kenapa, mas?” tanyanya dengan nada sedikit ngegas dan Aksa menggeleng.


Lah, Anin mengelap keringat Aksa yang sudah membasahi dahinya dan Aksa mengecup tangan Anin, “Kritis nin.” Jawabnya dan Anin mendengar jawaban itu spontan melebarkan mulutnya dan matanya.


Benarkah?


Bersambung...


Makasih buat kalian yang sudah mampir, dan jangan lupa follow IG Din yah, kalau mau minta folbek boleh DM Din, oke🙏.


@dindafitriani0911


InsyaAllah akan diselesaikan satu-satu dulu, maaf kalau nanti jika up telat ataupun itu libur, nanti Din akan beritahukan lewat story IG Din.

__ADS_1


Jaga kesehatan yah, semoga kita sehat semua:)


Sekian, bye sampai ketemu besok🙂


__ADS_2