Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 29


__ADS_3

Satu bulan berlalu, setelah kejadian itu membuat Aksa mengurungkan diri di rumah bersama istrinya, ia melaksanakan honeymoon di Bandung dan jalan-jalan, biar lebih fresh begitu. Tidak jauh-jauh dari kota Indonesia, sebenarnya ia ingin ke kota Labuan Bajo tapi memungkinkan untuk kondisi suaminya yang melakukan krja sama, pertemuannya di Bandung. Ia nurut saja, lain kali bisa ke sana juga apa nggak ke Papua bulan depannya lagi. Ada pelaksanaan proyek membangun villa di sana.


“Emh, mas bosen." Suara itu mengedarkan Aksa dari pandangannya, beralih ke istrinya.


Aksa menoleh, ia menatap istrinya itu yang sedari tadi lemas, terus bibirnya pucat pasi. Padahal sudah diberikan makanan juga.


Makan lebih dari biasanya.


"Kamu mabuk sama apartemen ini?" tanya Aksa dengan menurunkan kacamatanya, Anin menggeleng. Ia berdiri, dan mengambil minumannya.


Segar sekali rasanya, tinggal segitu lagi. Aksa tercekat tenggorokannya, ingin minum itu kayak orang ngidam gitu.


Pingin itu, Aksa ingin menyerobot botol itu dan blashh, ia tidak-tidak akan … bisa-bisa istrinya akan marah dengannya.


"Yang, boleh minta?" Anin menggeleng, ia pun tak paham maksudnya itu apa?


Hahaha, Aksa menahan agar tidak *********** semakin meradang, bukan apa-apa luh ya!


"Hwek … Huek," Anin mengeluarkan cairan bening itu, dan ada sedikit minuman tadi yang ikut terbawa.


"Kamu kenapa?" Nada itu ikut khawatir, Aksa mendekat dan memijat leher Anin, supaya meredakan peningnya dan mualnya.


"Hwa, sakit mas …" Pekiknya dengan menangis, leleran air kata ikut terbawa karena Anin muntahnya ikut pengang rasanya. Ulu hati, ada kayak nyelekit gitu.


Aksa bingung, "Iya yang sakit mana?" Pertanyaan macam apa itu. Anin menatap gelengan kepala, dan menepuk ulu hatinya.


"Minum dulu!" Aksa memberikan gelas yang habis ia minum tadi, dan Anin menerimanya. Meneguknya dengan tandas.


"Ya Allah, sakit banget." elunya dengan menahan isakkan itu.


"Terus gimana, dong?" Bingung. Mata Aksa tidak bisa dibohongi, ia panik juga.


Cemas, karena tidak biasanya Anin seperti ini. "Sudah, kalau gitu ke rumah sakit." Jawabnya dengan cepat.


Tangan dan kaki, seluruh badan Aksa ikut gemeteran dan Anin menatapnya, bingung juga. Heh, masa sama-sama bingung. Jadi, gimana ini?


"Hiks, hiks. Ibu, Anin sakit … hiks, hiks. Ya Allah," Aksa menelan ludahnya kasar dan menggendong cepat istrinya itu.


Dengan tergesa-gesa, Anin jadi takut sendiri, suaminya ini terlalu liar emang. Otaknya ada di mana?


Hadeuh, Anin nahan sesek dan memukul dada suaminya.


"Sesak." raung Anin, Aksa memencet lift dan sampai di basement di mana tempat mobil Aksa, Aksa memutar arah.

__ADS_1


Berjalan ke kursi samping kemudi, ia sebelumnya bingung malah mau meletakkan istrinya di kursi kemudi. Terus siapa yang mau ngemudikan?


"Sabar, tenang!" Bentaknya, dan isakkan kecil pun terdengar kembali.


Mood istrinya sekarang sesuai tidak baik-baik saja, Anin menangis terisak sampai sakit dadanya.


Karena itu, Aksa bingung. Mau nenangkan istrinya pakai cara apa dulu?


***


Laki-laki itu sedang duduk, melihat layar monitor yang ada di depannya. Mengetuk-ngetuk tangannya di atas meja yang berlapis kaca tersebut.


"Huft, sudah selesai." Penampilannya yang masih terkenal dengan CEO licik, kejam yang diam-diam secara penanganan pun sungguh benar-benar di luar kendali orang-orang.


Orang-orang yang sudah berkecimpung di situ, maka taruhan nyawanya yang akan menjadi tantangan bagi mereka.


"Apa aku harus ke rumah sakit, untuk menanyakan penyakit ku ini?" tanya laki-laki itu, dengan begitu ada suara ketukan membuatnya menatap pintu.


"Hai, mas …"


"Hm,"


Perempuan itu bernama Putri, ia membawakan makanan untuk suaminya itu dan Rifa'i sekarang menjadi orang yang pingin makan hak orang lain.


Benar-benar licik, dan sekarang Rifa'i sedang memegang kendali atas perusahaan W.K corporation, W.K singkatan dari Wijaya Koesomo. Yang ia resmikan pergantian nama dari sebulan lalu.


Menarik tangan suaminya, dan meletakkan ke pundaknya. Ia menarik kacamata yang masih bertengger di telinga itu dan mengecup kening suaminya.


"Kamu harus makan! Jangan capek-capek, ingat kondisi kamu!"


"Oke,"


Huh, Putri benar-benar harus sabar mengurus sikap suaminya ini. Benar, suaminya itu berubah karena penyakit yang dideritanya dan itu tidak akan membalikkan yang dahulu lagi.


Putri membuka paper bag yang ia bawa, dan menyajikan makanan itu, ia ambil satu persatu dari itu wadah, dan beralih ke piring yang sudah ia bawa dari pantry kantor.


"Selamat siang, pak bos." sapa karyawan yang mendadak nongol gitu saja tanpa permisi atau apapun.


Sang CEO tidak mengalihkan pandangannya, ia fokus ke istrinya yang sesuai menyuapi dirinya.


"Emh, pak. Hello, bapak Rifa'i yang terhormat. Saya jauh-jauh ke sini, ingin memberikan kabar, jika ayah anda masuk ke rumah sakit, titik nggak pakai kome." Dengan bahasa yang typo, Rifa'i melototkan matanya mendengar informasi dari asisten sekretarisnya itu. Menggantikan sementara sekretarisnya, Rifa'i beranjak.


"Lo, nggak salah 'kan?"

__ADS_1


"Yaelah bapak, gue nggak pernah salah."


"Semua orang punya salah, bro!" sentak Putri, ia kesal karena menunda pekerjaannya dengan suaminya itu. Suaminya dengan cepat keluar, sementara dirinya harus mengurus makanan yang belum tersentuh itu.


Kasian sekali makanannya.


"Lo, sih! Akh," decaknya dengan kesal.


***


"Saya nggak mau ke rumah kakak, saya! Kalian pokoknya harus membawa anak saya ke hadapan saya sekarang!" Perintahnya dengan tegas tanpa terbantahkan.


"Lah, Tuan … maaf ya, kalau ngebantah apa gimana. Kami di sini, menyarankan ke sana saja! Daripada nambah masalah baru," jawab salah satu dari mereka.


"Apakah dengan itu, akan menyelesaikan masalah? Nggak akan, malah nambah terus sampai bebuyutan." sanggahnya dengan mata elang tajam.


Menelan ludah kasar, "Tapi, alangkah baiknya dicoba dulu!"


"Kalian berani, nantang saya?"


"Oke, Tuan. Sabar! Kami akan usahakan, namun jika tidak ada hasil. Mohon jangan frustasi!" apa itu ngejek apa gimana?


Oi.


Lo semua digaji sama yang ada dihadapan kalian!


"Nggak akan."


"Iya deh, yang merasa benar sendiri." cibir salah satu di antara mereka, ingin mereka membekap teman mereka itu.


"Ini, saya menemukan beberapa draf agar kita lebih berjalan, maju lebih cepat."


"Oke, jalankan itu! Jika itu tidak bisa, lakukan yang bisa!"


Mereka saling pandang, mereka menatap bos mereka dengan tajam.


"Pak, saya nyerah saja deh. Nggak kuat kerja sama bapak, kalau bapak nemuin kakak bapak, pasti masalah akan lama-lama selesai dengan sendirinya. Tenang serahkan semuanya kepada Tuhan," ucap seentengnya dengan mudah dan orang itu benar-benar pusing karena anak buahnya yang nggak becus.


"Akh, sama saja! Kalian nggak bisa diandalkan, biar saya saja yang turun tangan sendiri!" cetusnya dengan meninggalkan mereka semua, mereka semua bernapas lega. Untung nggak matek!


Bersambung...


...Oke, makasih buat yang sudah dukung dan gabung untuk acara membaca kali ini, bacanya jangan setengah-setengah ya. Jangan lupa ninggalin jejak😍. ...

__ADS_1


Author baik-baik saja, allhamdulilah.


Semoga kalian juga baik-baik saja, sekian terimakasih:)


__ADS_2