
Samar-samar Anin mengerjapkan matanya, ia pun melihat sisi kiri dan kanan. Dan matanya kini menyipit ketika suaminya sudah dihadapannya dengan membawa piring.
Sambil memakan santai Aksa pun terdiam ketika ada suara dari decakan mulut, yang membuat Aksa menatap istrinya.
Tidak terlalu lama Anin mengumpulkan nyawa, “Kalau makan itu di luar .... nggak di sini. Orang ini kamar kok,” saran Anin dan memoletkan badannya.
Ia lantas bangun, dan pelan-pelan ia turun dari ranjang.
“Kamu mau kemana?”
“Belum maafan sama pakde dan bude...” jawab Anin dengan melihat muka kusutnya ples lagi kerudungnya sudah tidak beraturan bentuknya.
“Di luar masih ada tamu, jadi nanti saja!”
Aksa bukannya melarang, tapi ia malas nanti jika orang itu macam-macam. Dan meracuni otak Anin yang masih dibilang ia kepingin bahagia dengan caranya sendiri bukan dari orang tua yang nggak selamanya menganggap dirinya ada.
Kenapa tiba-tiba orang itu bisa ke sini? Ingat Aksa memang punya batas kesabaran, namun sebaiknya bisa jauh atau setidaknya tidak pernah nemui istrinya lagi, kalu makin membuat istrinya tidak bahagia.
“Oh gitu, tapi siapa?” giliran begitu ditanya membuat Aksa mengangkat sudut alisnya dan meletakkan piring di atas meja.
“Jangan kebanyakan nanya! Itu makan, udah aku siapin tadi.” Perintah Aksa dengan memajukan wajahnya menatap makanan yang sudah tertata di piring itu.
Dan Anin mengeryit, “Tumben baek...”
Anin pun jalan dan duduk di samping Aksa yang sedang fokus ke makanannya.
Apakah terlalu enak jadinya bisa menikmati sepuasnya.
Anin duduk sembari memegang piringnya dan mengangkat kakinya agar lebih leluasa buat makan, sementara Aksa menyipit tidak suka.
Ia pun memilih untuk merebut piring Anin ke tangannya dan menatap tajam, membuat Anin merasa was-was. Takut yang pasti, Anin menatap penuh tanda tanya.
“Perempuan kalau makan, jangan seperti itu!” geram Aksa dengan begitu Anin mengangguk dan menurunkan kakinya.
“Baru saja maaf'an, eh dah buat marah aja..” celetuk Anin membuat atensi Aksa beralih kepada Anin yang menyinggung perasaannya, jika begini siapa yang disalahkan kalau nggak punya adab?
“Oke, siapa yang mancing duluan?” tanya Aksa dengan mengangkat sudut bibirnya, Anin refleks menatap tajam tidak terima yang pasti.
“Iya deh, kalau itu maaf ... lah kamu ini minta makan sama siapa?”
“Sama bude tadi, terus dikasih .... katanya kalau mau lagi suruh nunggu tamunya pulang.” Balas Aksa hanya bisa diam menunggu istrinya sampai habis makannya, Anin yang diam-diam diperhatikan hanya risih saja.
__ADS_1
Anin mau berucap, tapi sudah disambar oleh suaminya “Kalau mau makan, makan! Jangan bicara terus. Kapan selesainya?” tanya Aksa untuk memerintahkan Anin diam sebentar.
“Iya, ck .... bawel amat jadi orang,” Di akhir kata Anin mengucapkan kata tersebut, Aksa hanya mengukir senyumnya.
***
Kadang emang ‘maaf’, kata yang tidak terlalu penting tapi di hari raya kini kata itu termasuk kata yang amat penting jika seseorang mempunyai kesalahan atau apapun itu dari lisan, hati dan pikiran bisa bercokol lalu bisa dimaafkan.
Anin, perempuan itu kini sudah halal bihalal dengan bude sama pakdenya walaupun terasa begitu berat bagi Anin jika mengingat dahulu. Ia ingin punya ayah, ia ingin punya laki-laki cinta pertamanya. Namun, pupus sudah harapannya mengingat anak-anak di sekitar mem- bully dirinya.
“Bude, ayah itu orangnya kayak apa sih?” pernah Anin menanyakan seperti itu, tapi sekarang pertanyaan itu basi. Karena harapan Anin semuanya sudah terkubur dalam, hanya saja kebencian yang ada di dalam dirinya.
Ia tidak akan pernah menganggap ayahnya ada, jika itu masih HIDUP.
Baginya ayah bukan laki-laki pertama di dalam hidupnya melainkan orang asing yang telah mengingkari janjinya untuk menemui dirinya pada tahun keberapa ia dilahirkan di dunia ini. Ibunya berkata, ‘jangan benci ayahmu! Selagi masih hidup, meski ayahmu telah meninggalkan ibu mu ini.” Kata-kata yang selalu dilontarkan oleh ibunya supaya tidak ada ujaran benci.
Kini harapan yang awalnya menuju kebahagiaan, akhirnya memanas dan ia benci. Rasanya ingin menghapus kata ‘ayah' di dunianya.
“Nak kamu kenapa melamun?” tanya budenya membuat Anin tersadar dari lamunannya.
Anin menghela napas dalam, “Bude boleh aku iri?”
Bude sontak mengeryit ketika Anin bertanya seperti itu. Memangnya iri kenapa?
Apakah ikatan batin antara anak dan ayah begitu kuat, sehingga Anin bisa merasakan hawa jika ayahnya bentar lagi akan dihadapannya. Tapi, Bude tidak bisa jika sudah dititipkan pesan oleh adik iparnya maka ia harus menjalankan amanat tersebut.
“Nak, perasaan dulu kamu mau ketemu ayah? Kok sekarang beda lagi,”
Bude mengelus surai hitam ponakannya, sekarang Anin belum memakai kerudung dan Anin menatap manik budenya. “Memangnya kenapa kalau aku benci ayah, bude?”
Bude gelagapan sendiri, dari tadi di belakang tembok. Diam-diam laki-laki beruban putih itu mendengarkan dan yang pasti Pakde tak kalah telak di sana.
Jawaban apa yang harus diberikan pakde jika adiknya kepingin jika ponakannya itu segera menemui dirinya dan adiknya akan mengatakan jika dia ayahnya.
“Nak nggak sebaiknya kamu pikirkan, dulu ibu hanya ingin kamu melihat ayahmu dalam keadaan sehat. Seenggaknya kamu bisa menerima kehadirannya, memeluknya.” Masukan bude dan Anin hanya memalingkan wajahnya, tak bisa dipungkiri jika di dalam hati ada perasaan yang aneh. Tapi, Anin tetap sama.
Keputusan itu tidak akan pernah ia rubah.
Kesabaran dari dalam hatinya tidak pernah ia lupakan pada saat itu, menunggu ayahnya bisa menjemput dirinya dan bisa tinggal bareng lagi bersama ibunya.
Semua itu hanya mimpi yang digambarkan saja.
__ADS_1
Bukan di depan mata secara langsung dan bisa merasakan kebahagiaan keluarga yang indah dan seperti pohon cemara.
Bude lantas memandang perih ke arah ponakannya, ketika mengingat jika adik iparnya (ibu Anin) menceritakan bisa jadi ia tidak akan pernah memaafkannya.
Pakde mengusap dadanya sedikit sesak. Ini semua kesalahannya, tidak pernah menanyakan ada apakah dengan masa lalu mereka. Hanya mereka yang tahu, pakde bisa memikirkan jika ada kesalahpahaman atas kejadian itu.
Rasanya ingin laki-laki beruban putih itu mencecar semua pertanyaan, tapi tak mampu baginya bibir dan lidahnya untuk menanyakan macam itu.
Semua orang yang menjalani kehidupan prahara rumah tangga, memang pasrah ada dukanya. Pakde lama-lama bosan, ia menunggu dari tadi sebab ia ingin mendengarkan unek-unek yang dikeluarkan oleh Anin, ponakannya itu sendiri.
“Hm, bude nggak bisa jelasin nak ... jika itu bude paham kalau kamu benci, tapi satu kata yang terselip dibenci bisa saja pudar menjadi sayang lagi.” Terpatri dalam senyuman bude, namun, Anin hanya membalas senyuman palsu.
“Nggak ada yang lebih sesek ketika anak melihat orang tuanya bertengkar, maka kamu sudah termasuk beruntung nak. Tidak melihat orang tua mu berantem,” akhirnya keluarlah pakde dari persembunyiannya.
Membuat bude menyentak tajam ke arah suaminya, apa yang dikatakan suaminya?
Benar-benar tidak waras!
Siapa yang mau orang tua yang bertengkar!
Siapa yang mau orang tua cerai!
Kata CERAI emang dilarang, tapi mulut manusianya saja yang menganggap enteng jika kata CERAI itu mudah dikatakan, tapi tidak untuk menjalankannya.
Susah, sebab anak pastinya tahu dari seluk beluk semuanya jika anak itu di depan mata orang tua yang menyaksikan kejadian tersebut.
Akh, senyumin saja! Yang penting sekarang sudah menikah, jadi seenggaknya bisa bimbing anaknya untuk tidak melakukan hal sama.
Sebab tuntutan orang tua harus mengajarkan anak-anaknya supaya tidak melakukan halal sama yang pernah dilakukan oleh orang tuanya.
Bersambung...
Makasih buat kalian yang udah mampir-:)
Buat kalian yang belum mampir ke IG, boleh follow IG author (Din) ...
@dindafitriani0911
Butuh teman buat curhat, baek apapun itu...
Din anggap semuanya saudara ☺, karena kita harus hidup layaknya orang yang bersaudara. Malah kadang hidup saudara saja bisa memutuskan talu silaturahmi 😌.
__ADS_1
Oke, makasih bye:)