
“Kok marah sih? ‘kan aku ke sini cuman mau bilang minta maaf. Ya udah maafin napa? Kan nggak enak kalau didengar.” Cicitnya, ia menghampiri dan meraih tangan Anin. Anin menghempaskannya dan Aksa mengeryit.
“Mau kemana? Lagi baik nih, kalau ditolak berarti ya... Nggak jadi dong,” Ucapnya dengan tersenyum jahil.
“Udahlah, aku nggak kepingin kemana-mana. Tapi, aku masih marah sama kamu....” Aksa mendekat dan menelisik setiap jengkal wajah Anin.
“Kenapa tu? Lagi sama laki-laki lain kah, nggak enak banget liatnya.” Ia malah menatap dengan bosan, dan Anin memukul kepalanya.
“Nggak sopan banget kamu ini, aku tanya baik-baik. Ngapain jawabannya seperti yang nggak pernah aku bayangkan gitu,” Cecarnya membuat Anin menghela nafasnya.
Menepis semua kejahatan yang ada di dalam dirinya, merasuk ke hati maupun pikirannya.
“Oh jadi gini, seorang CEO itu biasanya lebih teliti menghadapi segala hal, bukannya gitu ‘kan?” Anin menatap dalam-dalam dari dekat wajah suaminya.
Suaminya terperanjat kaget, “Hohoho... Kamu ini sukanya su'udzon aja... Nggak baik, dosa sama suami sendiri.... Udah ah, ini kenapa coba? Aku tanya gitu doang aja... Malah rumit banget masalahnya,” Anin pun duduk dan mengaduh pelan ketika Aksa memegang kepalanya yang kebiruan, keunguan begitu.
“Jadi itu kenapa sayangkuh?” Sekali lagi ia tanya, dan Anin menatap jengkel kepada suaminya.
“Ulangi lagi perkataan mu tadi! Udah membuatku sekali lagi marah ya, awas aja kalau kamu sayang tapi dengan perasaan kamu itu nggak cinta sama aku.” Ucapnya dengan mata memandang ke arah lain.
“Emh, ya-ya... Marah, ya udah... Sekarang tenangkan dirimu dulu! Nggak usah marah-marah... Oke, aku nggak akan ulangi.” Aksa menurut, dan menatap senyum indah yang terpencar di wajah Anin, sepertinya mimpi ia.
Benar, nggak terjadi.
Akhirnya ia membuatkan teh untuk istrinya, untuk rileks dan tetap fokus.
Anin menyesapnya, “kurang manis.” Jujur Anin. Aksa menghela nafas, “Udahlah langsung ke intinya saja. Tanpa itu-ini!” Aksa ingin langsung, ceplas-ceplos saja biarkan ia dimarahi istrinya jika ia bersalah. Toh, ia selama ini merasa baik-baik saja.
“Oke sebelumnya makasih.” Ucap Anin, ia kembali mengintimidasi suaminya dan Aksa tiba-tiba canggung, dan tegang. Kenapa istrinya seperti ingin mencekiknya.
“Ya, tapi jangan gini-gini amat mbak!”
Aksa lebih takut jika di sidang oleh istrinya, selagi ia tidak bersalah maka di dalam keputusan sang istri di matanya tetap bersalah. Aksa menggeleng pelan, Anin mengidentifikasi. Ada yang terjadi? Atau hal yang lainnya?
“Jadi, aku minta maaf...” Lanjutnya, membuat Anin menatap jengah kepada Aksa.
“Alasannya kurang! Apa-apaan minta maaf, sementara aku?” Ucap Anin, Anin bersedekap dan Aksa meraih kedua tangan Anin.
Dengan mata berkaca-kaca, “Oke... Silakan!” Akhirnya setelah dimaafkan Aksa membuang nafasnya dengan kasar dan menatap Anin dari dekat. Jarak wajah mereka bisa dihitung dengan inchi.
“Baiklah aku mau cerita, sayang... Aku selama beberapa hari ini ‘kan kerja, dan begitu padat sekali—” Ucapan Aksa terpotong karena ada beberapa warga yang melihat TV tadi, tidak sengaja menemukan wajah sang CEO, dan di TV wara-wiri. Para wartawan memberikan spanduk atau iklan.
__ADS_1
‘Jika bertemu dengan orang ini, segera telepon kami. Dan kami akan membayarnya dengan uang sepuluh juta.’
Mereka berbondong-bondong ke rumah Anin, dan sampailah di situ. Para pengawal Aksa pun di sana, karena dikabarkan oleh pihak kantor jika majikan mereka tiba-tiba menghilang.
Aksa pun segera menemui orang-orang yang sudah merusak pikirannya. Dan Aksa sekali menatap desakkan para warga tersebut, untuk mengakui. Siapa yang menyembunyikan bos mereka?
“Stop!”
Menyembulah wajah si majikan, dan aura ketakutan menelisik di setiap organ tubuh mereka.
“Sudah bubar! Untuk apa kalian ke sini? Saya ‘kan nggak butuh kalian... Bukannya saya suruh kalian bekerja, bukan mencampuri urusan orang lain.” Lugas Aksa, dan salah satu pengawal maju untuk membubarkan para warga yang ada di sini.
“Eh saya nih mau masuk, kok nggak dibolehin? Ada apa nih?” Bude yang terdesak oleh semua warga yang akan pergi dari rumah Anin.
“Wei, ini kaki gua lu injak... Emangnya nggak sakit gitu,” Bude memarahi orang tersebut, karena menginjak kakinya.
“Waduh, duhh...” Bude ikut terbawa tubuhnya dengan orang-orang tersebut.
Sampai sekarang badannya mungkin babak belur, dan Aksa menyuruh pengawalnya untuk segera pulang.
Awalnya, ingin emosi. Tapi, ia tidak ingin mengeluarkan tenaganya untuk emosi yang sia-sia... Karena di sini dekat dengan para tetangga takutnya malah mereka yang diciduk para warga nantinya jika marah-marah.
Yah, setiap orang berbeda-beda tidak selalu sama dalam mengambil suatu keputusan.
“Ya Allah, kenapa lagi istri ku? Huh, aku kurang baik apa coba?” Aksa mengetuk pintunya sekali lagi.
“Aku minta maaf, karena aku butuh penjelasanmu juga! Kenapa kamu marah?”
Anin di dalam hanya terdiam, sejenak ingin ia berfikir dengan jernih. Tapi, moodnya sekarang lagi hancur. Ia akan membenahinya dan Anin memandang Aksa dari jendela yang sudah frustasi, menatap asa istrinya dari luar.
“Aku nggak papa, pulanglah jika itu membuatmu serasa terbebani!” Ucap Anin dengan mengembangkan senyumnya, Aksa pun mulai mengangkat kakinya, tetap pendiriannya.
Jika ia pulang, maka ia akan selalu bersalah dari luput hatinya memendam amarah yang begitu dipendam.
“Nggak, aku mau kamu bukain pintu Nin... Aku akan bicara baik-baik!” Pinta Aksa.
Suatu rumah tanggal yang baru saja ia bangun untuk berdiri kokoh, kenapa sekarang goyah begitu saja?
Hanya karena masalah kecil, tapi ia tidak mau membesarkan masalah ini biar saja istrinya ingin mempelajari suatu masalah ini.
Anin pun membuka pintunya, “Kalau mau pergi silakan! Tadi katanya ada kerjaan yang nggak bisa ditinggalkan. Kasian mereka, menunggu kamu untuk mengonfirmasi masalah di kantor.” Aksa menggeleng cepat.
__ADS_1
Ia mencegah pintunya, dan masuk secara kasar.
“Jangan! Aku-aku nggak mau kamu kayak gini! Menyiksa seluruh hatiku, dan pasti kamu mengalami hal sama... Aku, kepingin kamu nggak kayak gini lagi.” Aksa menatap sendu, meminta kepastian kepada Anin.
Aksa memeluk Anin, dan Anin merasakan kesedihan yang mendalam. Dan ia menumpahkan air matanya ke baju Aksa, Aksa mengelus punggungnya.
“Maaf sekali lagi, aku butuh waktu untuk membicarakan ini sama papah...” Ujar Aksa, Anin ingin menjerit sekencang-kencangnya, dan “Awww.” Dari raut Anin kesakitan, dan memegangi perut.
Aksa bingung, “Kenapa kamu?”
“Apa ini, coba sini aku elus-elus!” Ia mendaratkan tangannya ke perut Anin, dan Anin segera menyingkirkan tangan Aksa.
Aksa terkejut, “Aku nggak papa... Cuman datang bulan saja,” Aksa menghela nafas.
“Aku kirain—”
“Hem, gimana apa kamu mau terima lagi aku?” tanya Aksa, Anin hanya mengangguk pasrah.
Aksa mengembangkan senyumnya, dan mencium kening Anin.
“Tapi, aku minta kamu membalikkan omongan mu yang tadi!” Anin mengatakan dengan canggung, dan malu-malu. Aksa menjadi bingung sendiri, omongannya yang tadi. Yang mana? Ia nggak mengatakan apa-apa.
“Yang mana?” Ia bertanya, tanpa dosa Anin memukul kepala suaminya itu.
“Pelupa... Tadi yang liburan, kan kamu yang ngajak.” Aksa tersenyum tipis, dan mencubit pipi istrinya.
“Inget aja! Aku ‘kan cuman mau menawarkan---”
“Ooh jadi nggak berlaku lagi yang tadi?” Anin memotongnya dengan cepat. Aksa menarik napasnya dalam-dalam, dan menggeleng.
“Iya oke... Nanti aku carikan tempat yang paling nyaman dan bisa tentram, tenang. Adem, istri ku... Jadi permintaan maaf ku itu saja ‘kan?” Anin menggeleng dengan cepat, ia ingin mengerjai suaminya.
“Nanti malam...” Hah, apaan? Aksa berpikir keras, tidak menemukan jawaban apa-apa.
Anin memegang tangan Aksa, dan Aksa menekuk wajahnya.
...Bersambung......
Jangan lupa like dan berikan komentar ☺
__ADS_1