Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 26


__ADS_3

Laki-laki itu menyelidiki, dengan cepat ia mendapatkan informasi dan akhirnya bertahun-tahun lamanya, ia bisa menemukan info dengan cepat mengenai istri pertamanya. Statusnya emang dia belum menceraikan, namun ia menutup rapat-rapat tentang ini. Dan anak buahnya? Ia berikan uang, atupun ancaman yang melanda bagi siapapun yang membongkar siapa dirinya sebenarnya.


“Beneran ini?”


“Iya, tuan. Kami mendapatkan info jika istri anda tinggal di sini tuan, gang sekitaran sini.” Tempat yang sama sedikit jauh dari kota, laki-laki tua itu pun menghela napas.


Kenapa ia telantarkan anaknya serta istrinya?


Ia menyesal, dan hampir prustasi. Semua itu cuman gara-gara uang, yang menutupi matanya untuk kembali ke istrinya dan anaknya.


“Coba kamu tanya, ulik dulu infonya!” ia turun tangan akhirnya hari ini, karena sedikit demi sedikit ia membuahkan hasil, sangat diyakini jika anak buahnya hari ini benar-benar bisa diandalkan. Dan salah satu dari mereka keluar dari mobil, menanyakan sedikit informasi.


Tentang istrinya serta anaknya.


*


Aksa menatap istrinya, lantas ia mengecup kening Anin.


“Nggak ada yang salah kok, yang penting kamu bisa di sini hati Aksa cukup baik.” Jawab Aksa dengan menunjukkan dadanya, menunjukkan hatinya sedang baik-baik saja. Namun, disaat itu Aksa pikirannya berkecamuk, karena istrinya yang membuatnya seperti ini.


“Beneran emangnya?” Aksa mengangguk.


“Hm, kita ngemall yuk mas!” sambung Anin, Anin ingin dirinya dan Aksa hari ini quality time bareng-bareng begitu.


Anin masih ingin menanyakan jati dirinya bagaimana?


“Kenapa emangnya? Kok nggak biasanya aja kamu ngajak gini,”


“Iya nggak papa sih sebenernya.” Jawab Anin, Aksa tersenyum dan menggandeng tangan istrinya. Anin mendadak terkejut, ternyata suaminya akan membawanya ke mall.


Padahal, di sini rumah pakde dan bude sangatlah jauh untuk menempuh jarak ke mall di kota. Anin tiba-tiba mengatakan begitu saja, Aksa menyetujuinya.


“Mau kemana?” tanya pakde dengan menatap mereka.


Kacamata pakde diturunkan dan mereka tersenyum.


“Mau ngemall...”


“Lah, jauh loh mending ikut pakde ke rumahnya pak Jaidi.”


“Halah, nggak usah ngebosenin nin... Udah berangkat aja sana! Jangan lupa bawa makanan!” teriak bude yang ada di dapur, dan pakde berdecih. Bude selalu begitu, menjawab sesukanya dan pakde hanya benci saja jika orang seperti itu.


“Maaf ya, pakde kita berangkat dulu assalamu’alaikum...” mereka tidak menerima, dan mereka tetap lanjut untuk berbelanja ke mall begitulah, daripada nggak jelas main kemana gitu.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam,”


“Niat banget kita, mah...” kekeh Anin, Aksa tersenyum tipis.


Mereka sudah berjalan, Anin ia memikirkan dengan kata-kata bude tadi.


Sebaiknya mah, ia nggak usah tanda-tanda. Karena itu akan menimbulkan beberapa masalah yang akan datang nantinya, eh emangnya punya anak tuh enak gitu?


Tapi, masalah ekonomi mah udah diselesaikan sama suaminya. Nggak ada yang harus dipikirkan, tapi masalahnya mah Anin belum siap ajah jadi ibu.


Katanya sih, kadang caranya beda-beda tiap ngasuh anak, tapi Anin belum siap ajah ngedidik anak itu mempunyai tanggung jawab besar. Membesarkan, dan itu pasti nggak mudah.


Bagaimana perjuangan ibu dan ayah?


Huh, Anin tidak bisa membayangkan jika ia tidak bisa menjadi panutan untuk anak-anak yang nanti. Anin belum siap saja, tapi Aksa? Kasian dianya ingin menimang anak.


Sampailah mereka di mall.


*


“Gimana? Ketemu apa nggak,” sebuah pertanyaan dan mereka mengangguk.


“Ini tuan, kampung ini dan jalan ini. Itulah yang kami dapatkan dari informasi warga sekitar, dan istri pertama anda tuan, sudah meninggal beliau dan anak anda tuan. Sudah menikah, dengan orang kaya sih katanya, hm menurut informasi mereka kakak anda juga tinggal di sebelah desa situ tuan. Mungkin tuan bisa tanya ke kakak anda, tuan.” Sahut detektif itu, yang masih muda belia belum menikah.


Laki-laki itu bernama Revino, ayah dari Putri dan satu anaknya lagi masih dalam pencarian. Revino menjawabnya dengan lantang, tidak biasanya ini bos mereka seperti itu. Revino, trauma dengan kejadian itu, dimana sang kakak telah mengatainya seorang pembunuh dari orang tua mereka.


Revino trauma, ia sudah mencoba untuk memendam tapi tidak akan sepenuhnya hilang begitu saja. Mendengar nama ‘kakak’ pasti akan mudah menyambungnya, dan Revino benci dengan kakaknya itu yang sudah menghancurkan masa depannya untuk menjadi seorang dokter, begitu pupus saja harapannya.


Sekarang?


Dirinya malah berbalik, ia malah menjadi CEO di perusahaan. Dia membangun, dengan orang tua angkatnya yang mengangkatnya untuk menjadi anaknya. Mudahnya, dia akan menjadi garis pewaris karena orang tua angkatnya itu tidak mempunyai anak.


Sekarang diteruskan oleh menantunya, ngomong soal besan. Pak Rahmat emang memang sekarang sakit-sakitan dan perusahaan telah dikelola oleh menantunya juga. Jadi, dirinya hanya membantu.


“Saya maunya anak saya,”


Lima orang itu bingung, “Tapi tuan. Kan sebaiknya kita tanya dulu, apakah hubungan anda dengan kakak anda lagi nggak baik, tuan?” Revino pun menggebrak meja dan melotot tajam, karena di antara salah satu, berani menjawab dan menentang ucapannya.


“Apa maksud kamu?” tiga kata itu membuat mereka berempat, yang temannya itu meliriknya tajam, sudah tahu bosnya tidak ingin kakaknya. Ish, emang teman nggak bisa jaga mulut apa gimana? Mereka yang akan kena imbasnya.


“Ng-gg-akk, nggak...” Revino diam, ia berdiri dengan senyuman khasnya yang mengerikan.


Semua orang hanya bergidik ngeri saja, tapi mereka juga punya ciri khas masing-masing. Tapi, tetap satu ciri mereka yang sama. Misterius, itu misi mereka.

__ADS_1


“Kalian bisa?”


Apa maksudnya? Hah, bisa ngapain. *******, apa buang air.


Heh, pertanyaan apa? Mereka sama-sama melirik, dan saling bertanya di hati mereka.


“Bisa nggak?” geram Revino, dengan mengepalkan tangannya dan mereka tegang.


Pelipis Revino, menyembul urat-urat hijau dan tanda keriput pun belum ditunjukan di tubuh Revino, Revino masih dibilang tua tapi tubuhnya masih kayak orang muda.


“Bisa.” Jawaban mereka, karena mereka sudah takut jika digertak kembali.


“Oke, besok saya akan ikut mencari.” Keputusan tidak tepat bagi mereka, bisa-bisa mereka jantungan gara-gara nggak nemu-nemu alamat yang mereka kasih, karena itu alamat atas dasar informasi dari sekitar warga.


Benar-benar.


Revino keluar dengan menghidupkan pematik api, untuk membakar putung rokok yang sudah ia genggam dan membawa rokok itu ke dalam mulutnya. Melangkah keluar, suara derap sepatu mengerikan bagi mereka.


“Untung saja—”


“Untung apanya? Kita itu besok kudu harus siap,” jawab mereka.


“Ish, maksud gue tuh yah kita selamat..”


“Slamet gundulmu! Masih ada besok monyed!”


“Heh, nama gue bukan monyed mangky. Akh, kalian tuh teman nggak ada yang normal semua. Semuanya nggak mau ngedukung aku kali ini,” ucapnya dengan kesal dan memberikan hawa mengerikan bagi mereka berempat.


Dengan tertawa sarkas, ini nih gilanya kumat.


Bersambung...


Gimanah? hehehe maap aku ngga bisa up tiap hari, karena aku mau ngomong jika kalian punya aplikasi K B M - A P P boleh mampir ke ceritaku judulnya Lentera Kehidupan.


Itu menceritakan anaknya Anin dan Aksa yang pertama, laki-laki anaknya dan menantunya perempuan.


Seruh juga, boleh kalian jika ada masih memori di download terus daftar deh. Dan masih gratis kok, tenang aja sampai bab 10.


Ceritanya hm, berbanding balik dengan ibu dan ayahnya kali ini🐱... hehehe, kejam pokoknya.


Aku mau promosi ajah, makasih yang sudah mau mampir ke sana. Tapi, kalau nggak ke sana juga nggak papa, nggak ada unsur pemaksaan.


Oke makasih atas dukungannya 😌

__ADS_1


__ADS_2