
Pagi harinya Anin bersiap-siap untuk pergi, suaminya tidak bangun-bangun.Entahlah urusannya gimana sama kantornya yang terpenting sekarang Anin bisa lega, akhirnya ia tidak kesiangan bangunnya.
Entahlah urusannya gimana sama kantornya yang terpenting sekarang Anin bisa lega, akhirnya ia tidak kesiangan bangunnya.
“Udah siap semuanya, tinggal bangunin mas Aksa.”Anin pun ke kamar, dan menyibakkan selimut Aksa yang telah menggulungnya sampai begitu menjadi gulungan lemper.
Anin pun ke kamar, dan menyibakkan selimut Aksa yang telah menggulungnya sampai begitu menjadi gulungan lemper.
“Mas... Aduh, gue lupa kemarin 'kan olahraga malem.Jadinya, bikin ini yah.Mana mas Aksa nggak pake apapun lagi,” Ia berniat membuka tapi sudahlah ia urungkan saja dan Anin membuka jendelanya agar terik sinar matahari mengenai Aksa dan angin segar bisa masuk ke dalam kamar.
Mana mas Aksa nggak pake apapun lagi,” Ia berniat membuka tapi sudahlah ia urungkan saja dan Anin membuka jendelanya agar terik sinar matahari mengenai Aksa dan angin segar bisa masuk ke dalam kamar.
“Huft, apa gue ini ya...”Anin tetap ingin merasakan rasanya, tapi tak mudah baginya untukkan Aksa.
“Mas, udah siang ini lho...” Aksa menerpa kedinginan karena Anin menarik selimutnya sambil menutup kepalanya, dan meraba-raba.
“Astagfirullah...” Pekik Aksa, dan ia berlari ke kamar mandi yang ada di dapur.Mana belum nyadar dirinya telanjang lagi.Aduh, miris banget.Anin melengos, untung saja ia belum membuka pintu depan rumah.Ya, yang ada gawat sampek kelurahan kalau ibu-ibu lewat habis belanja di warung.
Ya, yang ada gawat sampek kelurahan kalau ibu-ibu lewat habis belanja di warung.
***
Aksa dan Anin akhirnya berangkat, Aksa sampai kebingungan klien meminta untuk bertanggung jawab atas waktunya yang sudah mengulur waktu.
“Ya Allah, mana waktunya bentar lagi.”
Iya, dirinya terjebak terjebak sekarang apa ia harus berjalan kaki sampai kantornya, sejauh itukah.Reputasi kantornya semakin menurun jika Aksa telah melalaikan waktunya.
Reputasi kantornya semakin menurun jika Aksa telah melalaikan waktunya.
“Astagah anjir lah, gue nggak bisa lagi ngejar itu waktu.Udahlah biarin, banyak kok perusahaan yang masih ingin bekerja sama dengan perusahaan ku.”Sejauh ini memang penyeleksian di perusahaan Aksa masih ketat, sampai beberapa perusahaan menginginkan untuk bekerja sama dengannya.
Sejauh ini memang penyeleksian di perusahaan Aksa masih ketat, sampai beberapa perusahaan menginginkan untuk bekerja sama dengannya.
“Loh itu Anin, kok dia ke sini... Tadi, kenapa nggak bareng?”Aksa keluar dari mobil, ia melihat istrinya sudah di depan lobi perusahaan.
Aksa keluar dari mobil, ia melihat istrinya sudah di depan lobi perusahaan.
“Mari Tuan...” Tangan kanannya sudah bertemu dirinya dan Aksa mengangguk.Ia memberikan tasnya kepada tangan kanannya.
Ia memberikan tasnya kepada tangan kanannya.
“Sekarang nggak ada pertemuan lagi kan?”tangan kanannya mengacungkan dan Aksa mengangguk, melangkah menyusul istrinya.
tangan kanannya mengacungkan dan Aksa mengangguk, melangkah menyusul istrinya.
“Tapi, pak... Aduh,” Sudahlah ia harus menanganinya sendiri.
Sementara Aksa masih tetap mengikuti kemanapun istrinya, loh HRD.
Masih memperhatikan HRD dirinya, ia tidak meminta apapun kemarin.
Ah, sial.Batin Aksa, Aksa pun ikut ke ruangan HRD.
Batin Aksa, Aksa pun ikut ke ruangan HRD.
“Lah, pak...” Mereka sama-sama terkejut atas kedatangan Aksa yang kemari.
“Kamu kenapa di sini?Apa jangan-jangan nih HRD banyak maunya nih?”Aksa langsung menuduh begitu saja, tanpa pandang bulu mata.
Aksa langsung menuduh begitu saja, tanpa pandang bulu mata.
__ADS_1
“Heh, aku inget ya pak.Sama istri di rumah, nggak kayak bapak.”
Sama istri di rumah, nggak kayak bapak.”
“Loh saya kan mau tanya istri saya, lo yang nyolot nih.”HRD itu menajam menyukainya, membuat sudut sudut bibir Aksa terangkat.Tertarik bukan.Batinnya.
Batinnya.
“Iya sabar bro, gue nggak ngapa-ngapain lo kok cuman tahan mental doang.Gue uji lo, kan biasanya HRD itu nggak takut sama siapa pun kecuali bosnya sendiri.”Aksa slap bahunya, dan memiliki istri yang lagi sibuk memainkan handphone.HRD itu kesal, untung tenaganya pagi ini tidak terbuang oleh si bosnya yang agak sinting ini.
HRD itu kesal, untung tenaganya pagi ini tidak terbuang oleh si bosnya yang agak sinting ini.
“Kamu ke sini ngapain?Bukannya tadi mau ke rumah temenmu.”Aksa mendekat dan duduk di samping Anin.
Aksa mendekat dan duduk di samping Anin.
“Suami tanya, jawab ya sayang!”Ucapnya dengan tegas, Aksa meraih handphone Anin.
Ucapnya dengan tegas, Aksa meraih handphone Anin.
“Berhenti pak!Jangan di sini, awas mata gue nanti bawaannya pingin pulang kalau liat bapak sama ibu sama-sama bucin di sini.”Memandang mata malas, HRD itu pun keluar karena jarak Aksa dan Anin tinggal beberapa centi saja.
Memandang mata malas, HRD itu pun keluar karena jarak Aksa dan Anin tinggal beberapa centi saja.
Aksa memandang lembut, “Udah!Aku ke sini ada urusan sama HRD.Mau ngurus surat undur diri dari perusahaan,” Ucapnya dengan jelas.
Mau ngurus surat undur diri dari perusahaan,” Ucapnya dengan jelas.
“Ooo, jadi kamu menarik mau diri dari perusahaan.Ya papa kalau gitu, mana surat pengunduran diri kamu.Kalau nggak bawa, aku udah izinin kamu kok.”Hah, yang benar saja ada angin lewat atau gimana ini.
Hah, yang benar saja ada angin lewat atau gimana ini.
Padahal, ia sudah berjuang untuk mampir ke fotokopi tadi, sampai harus mengantri demi membuat surat pernyataan pengunduran diri dari perusahaan.
Gara-gara mikirin ini, nih udah jadi...” Ucapnya dengan memberengut, sampai Aksa pun terkekeh.
Mencubit hidung Anin, dan menerima amplop tersebut.
Mulut Anin masih setia dengan apa yang ia terima, tapi sebaliknya tidak terlalu penting dokumen-dokumen tersebut.Aksa membuka amplop itu, dan isinya membuat tertawa.
Aksa membuka amplop itu, dan isinya membuat tertawa.
“Nggak gini juga kali kalau buat... Aduh ngakak bener, kamu nyontoh dimana sih sayang?Coba baca lagi, kek surat cinta gitu.Untung nggak di tangan HRD itu yang ada kamu makin ditambah malu jadinya.Aduh, hahaha...” Anin langsung menjitak kepala suami itu, enak saja ngomong seenak jidat.
Aduh, hahaha...” Anin langsung menjitak kepala suami itu, enak saja ngomong seenak jidat.
“Enak aja kalau bicara, mbok ya direm.Untuk panjang!Ini gue nyontek di google, dan gue berjuang mati-matian demi mendapatkan izin dari perusahaan ini.Banyak beut lagi peraturannya, aduh aku pingin marah.Ya Allah...” Ia sedikit berteriak, dan menyobek kertas tersebut.
Ya Allah...” Ia sedikit berteriak, dan menyobek kertas tersebut.
Aksa masih tertawa akibat kekocakan istrinya.
“Udahlah, nanti aku ajarin bikinnya.”
“Dah, ah aku mau bikin ulah aja sekalian dipecat gitu.Daripada bikin ginian, malunya masya Allah.Udah, aku mau keluar dulu.”Aksa mengeryit, Kemana-mana.
Aksa mengeryit, Kemana-mana.
“Eh jangan!Kamu mau bikin masalah, tambah runyam nanti.Tidak akan kelar, jika masalah yang Anda ingin keluarkan dari perusahaan.Malahan, kamu yang gambar untuk bertanggung jawab karena kamu bikin ulah.”Iya tak iya juga, haduh apa-apaan tadi.Jika memang benar, nanti siapa yang akan merusak itu semua.
Jika memang benar, nanti siapa yang akan merusak itu semua.
__ADS_1
Nggak ada, dirinya sendiri.
Anin lihat, “ke ruangan ku yuk!Bentar aja.”Anin menajam ketika Aksa merengek seperti itu.Apalagi ini di kantor, nggak mungkin pula ingin melakukan ini-itu.
Apalagi ini di kantor, nggak mungkin pula ingin melakukan ini-itu.
“Mau apa emangnya?”
“Ya biasa...” Mata Aksa abadi.
Dan istrinya ia gendong secara paksa, di situlah ada mamahnya yang sudah duduk di kursi biasanya ia pakai bersama papahnya yang di sofa.
Mata Aksa memandang papahnya yang masih fokus dengan handphone, “Em.Aku keluar dulu mas.”Anin sungkan dan malu, ketika ia mengingat kejadian kalau itu.Ingin marah lagi rasanya, tapi membuat dirinya lelah.
Ingin marah lagi rasanya, tapi membuat dirinya lelah.
“Selangkah kamu pergi, mamah tak akan mengakui kamu sebagai menantu mamah lagi.”
Deg.Serasa jantung lompat, pacu jantung serasa lebih cepat dari biasanya.Aksa menyalang tajam ke arah mamahnya.Apa-apaan ini?Aksa pun menggebrak meja di hadapan mamahnya.
Aksa pun menggebrak meja di hadapan mamahnya.
“Tolong jaga mulut mamah!”sentak Aksa, papah beranjak berdiri.
sentak Aksa, papah beranjak berdiri.
“Udah mah!Papah ke sini cuman mau bicara sama Aksa, nggak bahas berantem gini.Papa ingin kamu tinggal ke Amerika dan urus perusahaan di sana.”Aksa membocorkan begis ke arah mamahnya, dan menarik tangan Anin.Ia meninggalkan ruangannya, Anin tersentak bukan maen.Tapi, mau gimana lagi.Aksa tetap satu pendirian.
Aksa tetap satu pendirian.
***
“Ada apa dengan papah dan mamah, sebenarnya apa yang terjadi?”Berang Aksa dengan kesal, sebenarnya apa yang terjadi?Sampai mamah dan papahnya berulah lagi.
Sampai mamah dan papahnya berulah lagi.
Bikin pening orang aja.
“Kamu kenapa sayang?”Tiba-tiba ia melihat Anin sudah pucat pasi seperti itu.
Tiba-tiba ia melihat Anin sudah pucat pasi seperti itu.
“Beli minum dulu mas, aku mau minum.Haus,” Aksa dengan cepat, ia melesat ke minimarket terdekat.Untuk membeli minuman, ia lupa tadi untuk membawa air mineral di mobilnya dan akhirnya begini, ia tergesa-gesa untuk masuk.
Untuk membeli minuman, ia lupa tadi untuk membawa air mineral di mobilnya dan akhirnya begini, ia tergesa-gesa untuk masuk.
“Ini...” Ia memberikan botol tersebut, dan Anin mengangguk.
“Masuk angin kamu ini mah... Ke hotel aja daripada begini nanti.”Anin hanya mengangguk lemas, dan Aksa melajukan mobilnya ke hotel.
Anin hanya mengangguk lemas, dan Aksa melajukan mobilnya ke hotel.
Aksa melirik padanya yang tetap memejamkan matanya.
Eh, dia 'kan goblok sekali kenapa nggak langsung bawa ke rumah sakit saja.Aduh, nggak kepikiran.Kepikirannya ke hotel saja, Aksa goyang.Akhirnya, ia pun memutar arah dan melakukan perjalanan ke rumah sakit.
Akhirnya, ia pun memutar arah dan melakukan perjalanan ke rumah sakit.
Bersambung...
__ADS_1