Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 45


__ADS_3

Aksa memanaskan air yang akan ia buat dengan bihun kesukaannya, entah kenapa tiba-tiba dia kepingin ini mie mana lagi pagi, istrinya belum keluar kamar. Ia mau membujuk takutnya dikira mau itu lagi, berharap banyak.


Yang tidak disukai oleh Anin, orang yang terlarut dalam harapan yang bisa membuatnya sempurna kembali. Anin suka heran dan bingung dengan orang-orang yang meminta harapan itu, hanya kembali ke diri masing-masing saja lah.


***


Anin di kamar bosan sendiri, ia melihat orang yang sedang makan bakso di handphone, sampai kepingin ke sana. Tapi, nggak memungkinkan untuk dia bisa ke sana juga. Dan tempatnya tidak terlalu jauh sih, masih satu pulau.


Anin mematikan handphonenya dan ia beranjak dari tempat duduknya, ia ingin membicarakan ini kepada suaminya sekalian liburan, toh ia masih marah kalau marah mah obatnya liburan cepat baik-baik lagi.


Anin keluar dari kamarnya, dan ia berjalan menuju tangga. Sebenarnya ia masih memikirkan untuk gimana caranya agar bisa mendapatkan makanan itu, lewat online ya kagak mungkin palingan datangnya ke rumah, pas dibuka basi mana.


“Mas Aksa,” panggil Anin dengan keras dan Aksa yang di dapur hampir saja tangannya terkena air kuah yang ada di panci, Aksa menunjukkan ekspresi semenatural mungkin untuk menghilangkan rasa kagetnya itu.


Anin berjalan ke dapur, ia melihat punggung suaminya ada di sana. Seperti yang sudah ia tebak, jika suaminya juga lagi membuat makanan spesialnya dia. Entah apa yang dibuatnya, Anin mendekat ketika didekati malah Aksa membalikkan badan dan menutupi semuanya.


“Buat apa?” tanya Anin dengan membuka kulkas, yang ada di samping Aksa dan Aksa menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal itu.


“Anu nggak buat apa-apa,”


“Lah kok nggak buat apa-apa, dapur aja seperti ini. Kagak mungkin kan ya kalau nggak buat apa-apa?” tanya dengan tatapan menyipitkan matanya, artinya sudah kepergok kagak mungkin ‘kan mau bohong lagi?


“Iya nggak apa-apa,” ucap Aksa dengan meyakinkan dan Anin mendekat, membalikkan badan Aksa dengan cepat dan Aksa hanya diam, jika dipergoki tidak masalah.


“Lah ini apa? Enak kagak, bentar we coba dulu. Enak apa kagak,”


Anin mengambil sendok dan Aksa ketar-ketir sendiri, Anin mengeryit dan rasanya ini aneh sekali. Kebanyakan apaan, mau ngeracunin dirinya sendiri apa? Anin pun mengambil air secara terburu-buru karena rasanya menyangkut di tenggorokan Anin.


“Aneh,” ucapnya setelah selesai minum, dan Aksa melotot.


Apaan yang aneh, Aksa mulai mencicip dan Aksa meringis.


“Iya, tapi enak kok.”


“Hm, iya kurang apa gitu dan kelebihan bahan itu, entah apaan.”


Anin menatap suaminya yang sedang memakan makanan itu, dan Anin kepikiran buat beli kucing, ah kok jadi kepikiran itu. Entah apa yang mengalihkan dirinya untuk mengasuh kucing, tapi kucing siapa yang mau dia asuh coba?

__ADS_1


“Mas,”


“Hm, ada apa? Mau minta apa, mas beliin.”


“Mau kucing,” jawab Anin dengan mendaratkan panggulnya ke kursi dan Aksa menyipit, ia menghentikan makannya, Aksa membawa mangkuk itu di meja makan.


“Kucing? Buat apaan dah,”


“Ya dipelihara lah,” jawab Anin dengan raut wajah kesal dan Aksa menoleh.


“Minta kok nggak yang lain, ada itu di rumah mamah.”


“Hah, nggak boleh gitu mas. Namanya itu nyuri, mamah kalau nanti udah pulang ke rumah terus nanya gimana.” Balas Anin, Aksa menelan satu persatu dahulu dan meminum air yang ada di sampingnya bekas dari istrinya.


“Nggak papa, nanti bilang sama mamah kalau sudah pulang ... nggak ada yang merawat jugaan, mamah cuman nitip sama pembantu biar merawat kucing mamah, tapi nyatanya mereka malah cuman kasih makan dan minum doang,” ucap Aksa dengan membeberkan dan Anin melebarkan pupil matanya.


Hah, selama ini cuman dikasih itu doang? Orang kaya mah biasanya kalau punya hewan peliharaan diurus baik-baik, mungkin saja makan tidak teratur.


“Ya udah aku adopsi aja,”


Aksa menghentikan makannya, dan menatap istrinya baik-baik. Yang beneran saja, istrinya sedang mengandung dan mau diadopsi, berarti bagaikan anak dong! Beh, Aksa tidak mau kalah ini sama kucing, harus diperhatikan.


“Ya, nanti kalau ada apa-apa gimana?”


“Hah gimana maksudnya?” tanya Anin dengan tatapan cengonya, ia tak mengerti masalahnya sekarang yang ada di benak diri Aksa.


“Oh nggak ada, anu itu kita konsultasikan kepada dokter dulu. Tanya gimana, boleh apa nggak kalau adopsi kucing, kalau boleh ya nanti kita adopsi. Aku bakalan rawat juga, kita sama-sama rawat.” Ucap Aksa dengan memberikan penjelasan, walaupun itu lembut tapi Anin tetap saja sadar jika ini menyangkut pautnya dengan calon bayi yang ada di dalam kandungannya.


“Ya, nggak papa ...”


Suara ketukan sepatu menggema di setiap lantai rumah ini, dan para pengawal berlari menuju ke Aksa, dengan memasang wajah datar dan Aksa membalikkan badannya dengan tegas.


“Sok tegas!” cibir Anin dengan menurunkan kakinya dan ia melangkah pergi, Aksa menatap datar kepada orang-orang yang menatapnya penuh raut ketakutan.


“Jangan takut! Lo semua di sini sama orangnya, hadepin tuh orangnya, kagak membicarakan di belakang dengan kekagumannya.” Ejek Anin dan Aksa di dalam hati terkekeh, kenapa jadi sensitif amat itu istri yang berjalan pergi malah balik badan lagi dan bersedekap dada.


Sepertinya istri Aksa tidak suka orang-orang yang minta dihormati, kan emangnya dia siapa? Sama-sama orang ‘kan? Iya, orang di sini cuman kerja dan membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

__ADS_1


“Pak ini panci bentar lagi melayang, pak. Saking panasnya,” ucap Anin yang ada di ruang keluarga dan para pengawal terkikik geli mendengarnya, “Sst ... sudah!”


Kode itu membuat mereka bungkam dan diam, kembali ke seperti semula.


“Begini, tuan ... ada orang yang akan menemui tuan, sekitar jam sepuluh pagi ini.” Ungkap pengawal-pengawal itu yang berkepala plontos agak sedikit itu ya berambut, mungkin ini peraturan bekerja dengan Aksa, selalu Anin dapatkan jika pengawal selalu berkepala botak apa nggak plontos, tapi tidak untuk asisten maupun kepala pengawal yang ada di sini.


“Siapa?” tanya Aksa dengan datar dan dingin.


“Nggak tahu, orangnya misterius.”


“Maksudnya?”


“Iya, orangnya diam-diam mengirim paket dan kami buka, ternyata orang itu membawa masalah perusahaan tuan dengan tuan Revisi, tuan.” Jawab pengawal satunya, dan Aksa memijit pelipisnya.


“Masalahnya ‘kan sudah selesai, kok diungkit lagi sih.”


“Iya orangnya beralasan seperti itu,”


“Apakah tuan Revino?” tanya Aksa dengan pelan, dan pengawal itu menggeleng, semuanya menggeleng dan Aksa diam, ia berpikir jika itu tuan Revino, tapi kemungkinan jika ia mengatakan dengan spontan bisa jadi Revino.


“Kenapa kalian tidak menyetujui pendapat saya yang saya katakan?”


“Saya tidak mau tuan beranggapan yang tidak jelas seperti itu, tuan ... berbaik sangka ketimbang berburuk sangka.” Peringat pengawal itu yang sudah memberanikan diri untuk memperingati Aksa yang selalu mengambil keputusan yang tidak tepat ataupun omongan yang tidak jelas untuk menuduh orang itu.


Sementara Anin disibukkan dengan mencari remote TV, ia ingin menghilangkan kebosanannya dengan menonton TV, mungkin ada film yang akan ia tonton sekarang ini. Masih pagi, biasanya ada suara hati istri, film yang mengajarkan untuk jadi istri yang bersuara di hatinya, dan disalurkan melewati tangisan.


“Heh kok TV nggak hidup?” tanya Anin dengan memencet tombol remote, dan memencet-mencetnya sampai kesal sendiri. Anin membesengut kesal, membanting remotenya membuat yang ada di ruang makan terkejut, mengarah matanya di ruang keluarga. Ya, suaranya sampai ke ruang makan, dan Anin terkejut juga.


Yap, remotenya hancur sampai berkeping-keping dan Anin menggigit bibirnya.


“Kok bisa?” tanyanya mendadak berhenti pola pikirannya.


Bersambung...


Makasih buat kalian yang sudah mampir, dan jangan lupa follow IG Din, kalau minta folbek boleh DM Din.


@dindafitriani0911

__ADS_1


See you tomorrow ☺👋✌👊


__ADS_2