Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 50


__ADS_3

Anin, ia sampai-sampai menunggu beberapa kali di sini. Bosan melandanya karena menunggu orang itu belum pulang-pulang, mana nggak ada yang bisa menyelamatkan dirinya. Apalagi ketiga orang itu di depan mana, nggak ada jalan pintasnya sekarang.


Anin memilih untuk menutup mukanya dengan tas apa nggak kerudung pasminanya ini ia gulung sampai menutup wajahnya.


Anin berjalan dengan cepat, supaya tidak ketahuan bisa saja dijadikan bahan gonggongan anjing bro, nggak sadar diri emang orang-orang itu. Bukannya nyadar malah menyadarkan orang lain, salah ‘kah gitu?


“Ngentot pokoknya. Huh, dasar pakai amat.” Gumam Anin karena sebal sendiri, ya matanya tetap saja tidak bisa diajak kompromi untuk melihat Rifa’i yang nggak sengaja menatap dirinya. Padahal cuman lewat, apa juga kesalahannya.


***


Anin sampai di parkiran dan di sana ia menghela napas kasar, sudah dipastikan ia kepingin buang muka tadi, keburu ia mau nabrak orang jadinya nyadar lah dirinya.


Anin mencari taksi untuk ia berhentikan, dari pesanan Aksa tadi sopir akan menjemput Anin, sudah disuruh suaminya kalau mau pulang lewat pesan saja, ketik di sana.


“Eum, nanti kalau nggak kebaca ujungnya akan tidak terbaca oleh mata rabun Aksa itu. Ngeselin pake banget lho pokoknya,” ucap Anin dengan mendengkus kesal. Matanya sudah menandakan marah sebenarnya, tapi ia tahan.


Anin menggulung bajunya, ia menatap jam yang melingkar di tangannya ternyata sudah siang dan ia menatap sekitar jalanan, tidak ada taksi yang lewat ‘kah? Apakah tidak membutuhkan pekerjaan lagi orang-orang, sekiranya kalau nggak mau ke sini ya satu taksi saja berhentikan di sini.


“Cepat atau lambat sih jalannya? Keong amat,” Anin yang melihat taksi yang berjalan ke arahnya dan mana jalannya lama, membuat Anin hanya berdecak kesal.


Nggak pakai bintang lima segalaan, ia masuk ke dalam mobil taksi itu dan mobilnya berjalan melesat sempurna, perasaan tadi jalannya lambat kok sekarang cepat sekali.


“Pak, kok cepet amat kalau jalan?”


“Oh itu mbak, saya sudah dipesan oleh orang laki-laki tadi terus suruh njemput istrinya, mbak istrinya ternyata? Ya, saya waspada takutnya beda.” Jawab sopir taksinya dan Anin mengerutkan keningnya.


“Hah maksudnya bagaimana pak? Oh suami saya atas inisial bernama Aksa ya, pak? Apa bukan,” tanya Anin, takut saja kalau dia salah taksi. Ia mau memberhentikan taksi tadi, tapi kok mobil taksinya mendekat ke arahnya.


Jadi, Anin tancap gas masuk tanpa bertanya lagi.


“Nggak tahu mbak, soalnya orangnya cuman bilang jemput istri saya. Nanti saya kasih uang lebih apa nggak ongkos lebih,” ucap abangnya itu bingung dan Anin heran, nanti saat ini ia masuk ada orang yang mengejar-ngejar. Tapi, suara notifikasi membuat Anin kaget.

__ADS_1


Ia membuka handphonenya, dan membaca notifikasi pesan whatsapp dari suaminya.


Itu taksi kamu, saya tadi pesankan


Anin tampak mengangguk, ia menatap jalanan depan.


“Iya Pak, suami saya udah bilang.”


“Oke, iya ini di mana mbak mauan? Mau mampir kemana?” tanya sopir taksinya, Anin tampak bingung. Ia pun menggeleng, akhirnya taksi itu belok sesuai arahan dari lokasi yang ditujukan. Anin hanya diam, ia tidak tahu apa-apa yang dimaksud.


***


Sampai di rumah, kini Anin berjalan dari kawasan luar gerbang karena ia ingin berjalan kaki saja tidak mau merepotkan dan adanya kaki emang buat apa? Begitu, sempat menjadi timbul masalah bagi sopir taksinya tadi. Tidak mungkin jika sopir taksinya tadi dengan sengaja menurunkan Anin di sekitar perkomplekannya ini.


Mana mau, apa lagi dengan orang yang berkuasa secara bisa dikondisikan lebih baik lagi mungkin ke depannya.


Anin dengan muka pucat itu pun merebahkan tubuhnya ke ranjang, setelah sekian pijakan kaki yang ia lewati, mungkin jika ketahuan suaminya palingan dimarah atau disuruh pergi. Tinggal memilih Anin, secara suaminya mau mengusir dirinya yang lagi hamil. Kan dikira orang yang nggak bertanggung jawab lagi.


Anin pun bangun dari tidurnya, ia mana sempat mau memejamkan matanya.


Karena mau dipejamkan juga ini nggak tidur-tidur.


“Mau apa ya enaknya? Ngadem di kulkas kali, terus gantungan.”


Anin pun beranjak dan mengambil sandal jepitnya yang ada di rak, ia melangkah pergi dari kamar ingin merasakan gimana jadi es emangnya nggak bosan apa kok jadi es terus, dingin yang ada.


Anin berjalan ke anak tangga satu persatu, ia menatap sekeliling rumah. Tidak ada siapa-siapa, kok nggak seperti biasanya kadang ada yang ngumpul jadi satu, mungkin ngeghibah kali. Pikir Anin, kan siapa tahu juga mau bahas siapa gitu. Yang lagi hangat, Anin hanya bisa pasrah kalau masalah ngomongin majikan pelit.


“Mau buat es campur kali enak ...”


Anin sekarang ini mau buat es campur, eksperimen yang nggak mungkin gagal kalau menurutnya.

__ADS_1


Anin melangkah menuju dapur, sama sepi senyap suasananya. Bikin merinding, bulu kuduk Anin saja meremang dan serasa was-was rasanya. Ia mengambil bahan-bahan yang ingin dibuat, sepertinya tidak terlalu membutuhkan banyak bahan.


Ia membuka kulkas, dan sekali ia berdecak. Karena isinya full, tanpa ada renggang sedikitpun. Anin hanya mengadem di sini, gara-gara cuaca panas jadinya Anin ngadem dulu.


“Jadi, aku mau buat apa dulu?”


Anin bingung dibuat beberapa bahan yang sudah ia keluarkan satu persatu dari kulkas, sebenernya mau buat es campur ala dia sendiri. Tapi, nanti kalau suaminya pulang tidak ada makanan. Dia bakal kena cap sebagai istri yang tidak berguna buat suaminya yang lagi capek pulang ke rumah, tidak ada apa-apa.


“Healah, mau buat apa. Jadinya melenceng ke sana-sini.” Dengkusnya, ia malas mau mikir banyak seharusnya mau buat cemilan dan es campur sesuai minatnya saja.


Anin menyikap lengan dan kerudungnya, lalu ia sampirkan agar tidak mengganggu proses pembuatan. Masa iya mau dicelupin sekalian sama es campur apa nggak jadi buntelan gorengan.


“Oke, buat pisang goreng enak sama es campur ...”


Anin mengendus bau aroma yang tidak sedap sebenarnya dari tadi, sampai hidungnya gerak-gerak, merasa ada yang aneh saja baunya.


“Eh lo siapa? Ada orang nggak di sini, baunya kok rada aneh gini. Apa gue yang hanya merasakan hawa dan bau beginian ya?” Anin merasa ada yang aneh dan ia balik badan dengan mata menutup, membuka demi sedikit. Ternyata tidak ada siapa-siapa, apakah memang ia yang hanya terlalu kegeeran dengan berbau mistis.


“Kecerdasan dan perasannya lebih pekat ya buk? Hahaha, emang sebau apa sih?” tanya seseorang yang di balik tembok, membuat Anin menghentikan aktivitasnya dan merinding sendiri.


Apa ada orang jahat yang masuk tanpa meminta izin kepada orang-orang yang sudah dipercayai Aksa untuk menjaga rumah dengan memiliki tim keamanan yang lebih detail.


“Hm, ternyata mau mengeksekusi apaan buk?”


“Ngeksekusi matamu! Sini! Gue nggak mau tahu, lo ngadep nggak kek gitu caranya!” tantangnya walaupun berat di hati perempuan berjilbab hitam itu, tapi ia yakin semuanya ia serahkan kepada Tuhan sang Maha Pencipta dan Maha Pelindung.


Bersambung...


Maaf kalau nggak up😓😩... Ya karena sekolah alasannya 😌... Jadi, maklumi aja, mulai besok dan seterusnya kalau ada waktu up terus kok🤣.


Ya udah bye, see you next episode 😄

__ADS_1


__ADS_2