Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 33


__ADS_3

Malamnya mereka, Anin dan Aksa sedang melakukan sholat Isya' berjamaah di Mushola yang ada di rumah sekalian dengan para pengawal serta pembantu yang ada di rumah, semuanya diangkut kecuali orang-orang yang non-muslim. Ada lima orang yang bekerja di sini yang berbeda agama dengan majikannya, namun Aksa tak mempermasalahkannya karena itu semua sudah menjadi ia seorang muslim, harus menghormati dan sebaliknya.


Setelah selesai, Aksa berdzikir dan Anin sudah selesai, ia kelamaan jadi agak mules-mules, alhasil ia menahan buang air kecil dan segera berlari ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.


Aksa yang terusik pun, ia mengakhiri dzikirnya. Belum juga selesai, Anin sudah tahu jika suaminya itu protektif di mana pun itu sampai secuil itu, akan tetap Aksa utamakan. Aksa pun beranjak dengan menggunakan sarung dan peci yang masih menempel di kepalanya, menambah demage nya bertambah, hah. Jangan lah lu embat! Dah punya istri, hanya saja memuji bukan di luar keterbatasan ya.


Aksa mengikuti langkah istrinya, dan mencegah istrinya lebih dahulu.


Ini ada apa dengan suaminya?


Anin menyalang tajam tatapannya, “Awas! Minggir! Mau lewat, pi-ppis.” Ucapnya dengan menahan dan Aksa pun mengangkat tubuhnya dengan hati-hati, ia pun ikut masuk ke dalam.


Pada saat Anin diangkat, Anin melotot tajam. Mau diapain dia?


“Heh, aku mau piipis, nggak kemana-mana bakalan.” Sentaknya dan Aksa diam, ia meletakkan tubuh Anin di closet.


“Kalau mau pipis, silakan!” Anin melongo, dan Aksa ini suami apaan sih! Ia juga mau buang air kecil, bukan mau mati juga.


“Lah, ya mana bisa?” tanyanya dengan keras, dan Aksa bergeming. Lantas Anin berdecak, ia saja mau begini, kemana-mana ini pasti akan diikuti.


Ah aneh amat jadi orang.


“Ya udah, ck ... balik badan! Baru aku mau buang air kecil, kasian anakmu di dalam pasti nahan kencing.” Ucap Anin dengan beralasan, mana mungkin dah saluran kencing sama rahim sama, eet dah Anin sontak memukul mulutnya yang tak berdosa.


Aksa menurut, dan mereka setelah selesai, Aksa mengangkat tubuhnya kembali.


“Kamu kalau jalan jangan lari!” Anin semakin bingung dibuat seperti ini, dan ia tadi sudah berada di pucuk, kok bisanya suruh jalan pelan gituh yang ada ngompol dia.


“Dibilangin kok ngeyel sih sayang!” Aksa mencium kening istrinya ketika Anin dibaringkan ke ranjang, heh udah sampai saja ke kamar mereka.


Aksa menggerayangi ke perut, dan mencium dedek utun yang ada di dalam.


“Kamu pasti capek gara-gara lari tadi! Coba saja kalau aku nggak cegah kamu bisa celaka yang pastinya,” ucap Aksa dengan mengelus-elus perut Anin, dan Anin hanya memberengut kesal. Ya lah, dia pantas digituin sih tapi nggak terlalu gitu juga kali.

__ADS_1


“Oke, kamu tadi belum makan ... sekarang makan ya!” Aksa beranjak dan mengelus kepala Anin, Anin hanya diam tanpa ada balasan dari mulutnya yang akan ia katakan, hatinya sedang terasa penuh kepingin ia lampiaskan tapi ini malam, mana mungkin si suami protektif itu bakal izinin dia keluar walaupun dengan dirinya.


Anin hanya mengangguk, sementara Aksa melangkah pergi dengan sarung yang masih menempel dan pecinya, Anin hanya bisa diam karena jika membantah pun percuma saja karena nih adek utun mintanya nggak boleh itu nolak.


“Ehm, gimana ya caranya biar bisa beli Pulau Padar yang ada di Nusa Tenggara Barat itu, pastinya itu ‘kan pulaunya bukan pribadi tapi milik negara, alah mungkin juga kagak kebeli ujungnya, malahan ujungnya bakalan nyakitin kok!” cicitnya dengan membuka handphone, ia dari dulu mengiming-imingi pingin ke pulau Padar, dan bisa ngeliat komodo yang ada di sana, liburan ah rasanya mimpi ketika bisa ke sana.


Palingan kagak boleh ya ke sana, sudah lah mimpinya terabaikan begitu saja ketika ia sedang mengandung anak mereka yang seharusnya dijaga, nanti malah kesalahpahaman bisa kapan saja terjadi, malah makin rumit.


Aksa yang memasuki kamar mereka membuat Anin tersentak, membalikkan posisi dan Aksa mendekat dengan tersenyum lebar.


“Ini makan! Apa perlu aku suapi?”


“Emang kagak ada kerjaan gitu?” sontak Anin bertanya seperti ini, dan Aksa hanya menggeleng. Kasian istrinya jika tidak ada yang menemani, masalah kerjaan bisa dicancle.


“Oh, oke.” Ia gak mau lama-lama karena itu pasti suaminya pasti menjawab hanya satu persatu saja. Allhamdulilah.


Aksa tangannya memegang sendok itu pun dihentikan oleh Anin, “Makan sendiri ae lah. Malu soalnya,” ucap Anin dengan menolak lembut dan Aksa menggeleng.


“Mau makan apa ribut nih?” tantang Aksa dan Anin menggedikan bahunya.


Tempe goreng jawabannya.


Anin pun memakan dan Aksa yang menyuapi dirinya, Anin melepaskan peci yang ada di atas kepala Aksa, “Hm, mas kapan ya bisa ke---,” matanya menangkap handphone Aksa berdering, dan Aksa terlonjak. Ia pun mengangkat teleponnya, dan meletakkan piring di atas nakas.


“Heh, gimana mau ngomongnya?” ia tampak berpikir dan Aksa akembali lagi, setelah berucap dengan sekretarisnya, matanya memerah dan Anin melotot, kenapa suaminya jadi kek mau makan musuhnya gitu.


“Kenapa? Kok marah-marah sepertinya,” tanya Anin baik-baik dan Aksa menggeleng, ia menghela napas kasar. Pastinya kantornya sedang dalam masalah, “Ada orang yang licik mempermainkan kerja sama kami dengan perusahaan Dalbert J.” Jelas Aksa dengan membawa piring itu di tangannya kembali.


“Bukannya itu yang dipimpin oleh pak Revino,” tanya Anin. Karena ia pernah mendengar kabar jika Revino itu seorang bos besar yang bisa memimpin perusahaannya sampai cabangnya ada dimana-mana, dan pusatnya ada di Washington sana.


Masya Allah, kagum ia. Bukannya apa-apa, suatu kebanggaan sih emang. Tapi, suaminya jiga tak kalah dari bersaing dengan pebisnis yang lain, di usianya yang muda.


“Lah emang kerja sama apa sih? Kok segitunya,” tanya lagi Anin. Ingin saja mengulik sedikit apa sih rahasianya bisa menjadi sukses dan ternama, apalagi dengan istrinya yang bisa dikatakan tiap hari menjadi model, pun beritanya sliweran di media yang pasti.

__ADS_1


Tapi, jangan salah!


Jika mereka itu adalah mertua dari mantan suaminya itu, Anin sempat berpikir dulu dan mencoba menggali informasi, dan benar saja Putri Dalbert Johnson namanya, putri satu-satunya keluarga Dalbert Johnson, anak dari Revino serta Kylie, istri dari Revino seorang model dan blasteran.


Namun, Anin melupakan hal itu tapi kembali lagi dibuka oleh suaminya.


“Mau ngerencanain sih, membangun pabrik yang bisa memajukan industri dan lapangan pekerjaan buat orang Indonesia, nah kita mencoba dalam industri perdagangan, bagaimana hasilnya. Soalnya jika terus-terusan masalah proyek bangunan, hal yang biasa. Dan kita sih sudah melakukan perjanjian untuk membangun pabrik itu,” jelas suaminya dengan helaan napas.


Yang pasti lelah ya, karena Aksa setiap saat meninjau keberadaan lokasi sampai beberapa hari itu memikirkan dengan lahan yang akan dibuat untuk letak pabriknya dan orangnya mempercayai Aksa, Aksa sih iya tapi kok masalahnya sekarang nambah rumit lagi.


“Hah, begitu. Terus gimana dong?” Anin menatap suaminya dengan celengan kepala jawabannya, Anin nggak bisa kalau kayak gitu. Karena ia bisa saja menambah masalah bukan menambah hal yang baru, mencari solusinya malah tambah ngeriwehin.


“Ya gimana lagi, harus butuh tenaga lagi dan rumit sudah. Besok coba dirapatkan sama beliau lagi,” ucapnya dengan lemas dan Anin mengangguk.


“Besok nggak papa ya, aku ke luar kota?” dengan mendusel ke perut istrinya, sebelumnya ia meletakkan piringnya yang sudah kosong, tadi sambil makan Anin bicara namun ia telan dahulu ketimbang tersedak.


“Ya nggak papa, emangnya kenapa?” Lah bukannya Aksa yang tiap bulan kudu harus keluar kota, ya seenaknya pergi dari luar kota. Entah berapa waktu yang ia gunakan, tanpa harus izin dengan istrinya. Sebelum nikah juga begitu, akh aneh saja suaminya ini.


“Tapi, aku nggak bisa jauh sama kamu.” Sendunya, ia sepertinya lelah pastinya. Emosinya saja belum stabil dengan keringat yang masih menempel di pelipisnya, dan Anin meniupnya serta mengelapnya.


“Eum, ya gimana lagi? Emang boleh kalau aku ikut, ya nggak papa sih sekalian liburan.” Ucap Anin dengan mesam-mesem, ia sudah lama tidak liburan sekalian refresing lah. Kagak mulu di rumah dan Aksa menggeleng jawabannya.


“Aku takut kenapa-napa, soalnya kasian dedek utun nanti kecapean.”


Lah gimana konsepnya, tadi saja minta nggak bisa jauh terus ya gimana solusinya?


“Ya udah, sekarang ‘kan sudah ada vid-call, ngapain susah-susah.” Jawab Anin enteng dan Aksa mencubit pipi istrinya, beranjak bangun. Menggigit kecil pipi Sang istri, Anin hanya diam tanpa ada balasan. Ia mah sukanya nambah beban dan pikiran malahan, kalau membalas sikap Aksa yang jadi begini.


Bersambung...


Jangan lupa mampir ke cerita Din yang lain yah🙂🙏.


Thanks buat kalian yang sudah mampir-

__ADS_1


Dan jangan lupa follow IG Din yah, dan kalau mau minta folbeck boleh, DM Din aja.


@dindafitriani0911


__ADS_2