Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 38


__ADS_3

Anin pun dibawa ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan dari pihak rumah sakit yang sudah semestinya menolong, dan Anin hanya merapalkan do'a agar bisa selamat bayinya dan abangnya itu pasti cemas.


Sampailah di rumah sakit, kurang lebih perjalanan ditempuh selama 15 menit, dan Anin sudah lemas, karena terlalu banyak mengeluarkan darah dan teman abangnya itu tidak tega sendiri, ia juga lemas jika begini.


Dan sudah sampai di rumah sakit, abangnya berteriak dengan suster yang ada di resepsionis itu dan suster berdekatan dengan menggunakan brankar, dan abangnya menggendong dengan pelan, mereka seketika menghela napas kasar.


Melangkah ke ruang UGD, abangnya itu tidak mempermasalahkan bajunya yang sekarang terkena darah dan abangnya pun mendaratkan bokongnya ke kursi tunggu, sementara perempuan yang dibawa oleh abangnya kali ini benar-benar pucat, abangnya menoleh.


“Lo nggak papa Din?”


“Nggak, ya ... gue hanya lemas saja,” jawabnya dengan mempertunjukkan wajahnya yang ia paksakan untuk tersenyum dan ia pun hampir mati sendiri, “Oke, lo di sini dulu! Aku mau ke rumah pakde dan bude dulu, kasih tahu mereka.” Ia mengangguk dan abangnya beranjak dari sana, ia ketar-ketir sendiri.


***


Abangnya berjalan ke arah parkiran, ia menghela napas pelan dan kemungkinan jika diteliti, tadi ada kejadian sebelumnya dan itu sudah diluar batas, tapi sebisa mungkin abang yang di sebut ternyata bernama Rakai, Rakai pun menjalankan motornya.


Ya, dia orang biasa mah, infonya cuman anak dari seorang pedagang dan buruh, Rakai biasanya hanya membantu perekonomian keluarganya dengan bekerja sebagai kuli bangunan yang pastinya.


“Huh, aku nanti pulang yang ada dimarah sama istri ku lagi.” Ucapnya di perjalanannya, dan ia mengucek matanya, karena melihat ada penampakan sosok misterius dan ia langsung tancap gas tanpa aba-aba, karena ini sudah pertengahan malam takutnya ada setan yang jahil malah menemuinya. Kan jadi nggak enak, Rakai hanya menggeleng takut.


Karena penampakan itu selalu pada malam hari, membuatnya terngiang-ngiang karena sudah pernah ia temui pada saat jalan pulang.


 


Sampailah Rakai di depan rumah bude serta pakde, Rakai memarkirkan motornya dan Rakai meletakkan helmnya, menyugarkan rambutnya sebelum mengetuk pintu rumah pakde dan bude. Jangan sampai mah ia bakalan ditendang dari sini!


“Assalamu’alaikum, pakde.”


“Wa’alaikumsalam,” ada sahutan di dalam dan terbuka lah, muncul pakde yang sedang memakai pecinya, dengan begitu Rakai menyerikan senyumnya.


Rakai pun menatap dari atas bawah, supaya nanti nggak gelagapan sensor karena melihat orangnya bukan bentuk orang melainkan makhluk halus, akh tidak ternyata . Ia sadar juga tidak semua hal dianggap aneh.

__ADS_1


“Pakde, aku mau ngomong ...”


“Ck, ngomong ya tinggal ngomong!” sarkasnya dan Rakai pun menggelung bajunya, ia memilin karena takut jika dimarah oleh pakde.


“Anin di rumah sakit ...”


Pakde melebarkan matanya tidak percaya apa yang barusan dikatakan oleh Rakai, pakde meminta penjelasan dari kontak matanya, Rakai menjelaskan satu persatu dan pakde pun bergegas, mengambil kunci cadangan pintu utama dan menutupnya.


“Oke, tidak apa-apa? Kamu pulang sana! Kasian sama bini kamu.” Suruhnya dan Rakai menggeleng, bisa kena tampol dia karena belum memulangkan temannya tadi dan Rakai menerima pesan dari handphonenya, ternyata temannya sudah pulang menggunakan taksi yang masih berliar di jalanan.


“Oke, ya nggak papa pakde? Besok saya ke rumah sakit, nanti kalau ada apa-apa bisa tanyakan sama Rakai ya pakde. Kalau suaminya minta tanggung jawab, tanya ke Rakai saja pakde. Biar meluruskan,” ucap Rakai dengan penuh tanggung jawab dan pakde mengangguk.


Rakai beranjak, dan menjalankan motornya. Memang rumahnya tak jauh dari rumah kedua orang tuanya, pakde pun menghidupkan mesin mobilnya dan ia menjalankannya.


Untung saja istrinya sudah tidur, mungkin besok ia akan pulang ke rumah pagi-pagi sebelum istrinya bangun, tapi jika istrinya terbangun pada saat ia pergi kemungkinan pulangnya ia akan diamuk oleh bude.


“Lah kemana Aksa? Kok bisanya ia nggak ngawasin istrinya, emang itu anak kalau suka ninggalin ya tolong lah diberikan peringatan. Akh, jadi begini ‘kan.” Ucap pakde dan melihat jam sudah di angka setengah satu kurang, tengah malam sudah.


Setelah ditempuh kurang lebih lima belas menit, pakde memasuki kawasan rumah sakit dan pakde memarkirkan mobilnya ke parkiran khusus mobil, pakde menguncinya sebelum masuk ke ruang rawat Anin, lah tadinya lupa mau tanya.


Pakde pun menuju ke resepsionis, dan bertanya nama ruangan yang menjadi pilihan perawatan Anin, ponakannya sekarang.


“Bentar ya, pak! Saya cari dulu,”


Dan resepsionis itu menjelaskan satu persatu, pakde langsung paham itu ditunjukkan dengannya. Pakde menuju ke sana, memang ponakannya sekarang ada di ruangan bukan Vvip namun ia sudah pastikan sih jika perawatannya sama-sama baik.


Kagak usah belagak jadi kepahlawanan, karena pakde stok uangnya menipis. Tidak mencukupi untuk ke depannya, jika membayarkan ruangan VVIP.


Pakde membuka pintu ruangannya, “Terus nemu dokternya kemana?” tanyanya dengan menatap sekelilingnya, dan melihat Anin yang terbaring pun, pakde terkejut karena ponakannya dipasangi infus, pakde menatap sendu.


“Nak, kok kamu ke sini lagi sih! Emangnya nggak bosan apa?”

__ADS_1


“Huh, pakde saja serasa kek mau mati kalau ketemu rumah sakit.” Kekehnya dengan bercerita dan mengusap kepala Anin yang masih berbalut dengan hijabnya.


“Oh iya Aksa diberitahukan besok saja ya kali?” tanyanya dengan sendirinya dan pakde berjalan ke soffa, ujungnya juga di sini mau tidur.


Masalah Aksa bisa diselesaikan besok, karena ia mendapatkan kabar jika Aksa ke Singapura untuk melakukan perjalanan bisnisnya, kabar yang beredar di berita.


***


Pagi harinya, pakde dengan cepat bangun, kalau tidak bisa-bisa ia ditendang dari rumah dan bude dengan cepat ditelepon. Pakde menatap Anin yang masih begelung dengan mimpinya, karena tadi pagi, ia menemui dokter yang berjaga. Nanti ada dokter yang akan mengecek lebih lanjutnya, emang yang berjaga cuman dokter umum. Itu saja katanya masih bisa diselamatkan calon bayinya, jika tidak cepat-cepat mungkin kemarin calon itu tidak hadir di dunia ini.


Pakde hampir terkejut mendengar penuturan dokter dan emang fasilitas nggak kalah sama yang dilakukan Aksa agar mendapatkan penanganan terbaik untuk istrinya, emang kalau orang berduit jika mau apa-apa tinggal dituruti pun, dokter harus menangani lebih lanjut dan ditangani oleh dokternya langsung bukan seperti ini.


Pakde menghela napas ketika handphone istrinya tidak aktif, sebab apa kemarin ia lupa jika mau memberikan handphone bude karena pakde juga yang meminjam dan belum dikembalikan.


Oke, sekarang telepon rumah saja dan diangkat oleh seseorang.


Pakde menjelaskan panjang lebar, sampai prustasi sendiri dan Anin yang samar-samar mendengar jeritan pakde, terbangun dari pingsannya akibat dari bius yang terlalu lama dan ia ketiduran.


Ia menatap sekelilingnya, ada pakde nya yang masih membelakangi dirinya.


Benar-benar ruwet dah kalau budenya marah dan mendiami pakde nya, ini kesalahannya yang terlalu ceroboh tidak menghindar. Anin menghela napas pelan, ia mengambil air minum yang ada di nakas, selesai sudah pakde yang hanya menatap lesu.


Kenapa? Istrinya sedang mode ngambek, dan mau bagaimana pun harus didiamkan selama satu hari, kagak lama sih tapi yang ada jadi ikan asin.


 BERSAMBUNG...


Besok lagi ya, sampai ketemu besok. Maaf kalau terlambat 🙂, hehehe ...


Jangan lupa mampir ke cerita Din yang lain ya, dan follow akun IG Din, kalau mau minta folbek boleh. silakan DM Din saja😌🙏.


@dindafitriani0911

__ADS_1


__ADS_2