Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 44


__ADS_3

Aksa pulang dengan keadaan baik-baik saja, ia melihat istrinya sedang membuat teh. Entah itu mau dibuatkan oleh siapa? Karena yang ia tahu jam segini istrinya belum tidur matanya, Aksa lantas mendekati.


“Assalamu’alaikum,” Bisiknya dengan begitu Anin menjawabnya.


“Wa’alaikumsalam,” Anin menjawab singkat, dan Aksa meletakkan tas kerjanya di meja makan dan menggulung kemejanya sampai lengan. Memperlihatkan otot yang kurus kerempeng, ya kagak lah ya kayak biasanya.


Sesuai dengan ekspetasi, Anin menyeruput tehnya dan Aksa ikut menyerobotnya, tanpa diduga Anin melebarkan matanya, “Heh kok main nyerobot wae ini mah nggak adil,” ucap Anin dengan suara sedikit tertekan, dan Aksa hanya tersenyum.


Tangannya menggerayangi bahu istrinya, “Menyenangkan suami pada malam jum'at baik, bukan?” tanya Aksa dengan begitu Anin bergidik ngeri, ia mah masih kesal dengan tadi dan masih malas buat begituan.


Cepet bosen terus kadang keringet bikin lelah sendiri, weh pendapat Anin sendiri ya bukan siapa-siapa. Menurutnya bikin kesel saja pas puncaknya, Anin ingin memberhentikan di tengah jalan tapi suaminya berkata ‘nanggung amat, adeknya nanti nangis loh.’


Aksa tersenyum mengerikan, ia ingin mengangkat tubuh istrinya namun Anin sudah memberikan tatapan tajamnya, menurut Aksa itu mata apa bukan, gemas banget soalnya. Aksa menoel pipi Anin, lalu mengecup kening Anin.


“Heh siapa yang nyuruh?” tatapannya dengan dingin dan Aksa tersenyum kikuk, ia pun menggandeng istrinya untuk ke pangkuannya sekarang.


***


Pagi harinya Anin hampir saja kalang kabut, ya kemarin acaranya gagal karena Anin sudah berjanji untuk libur dulu. Dan Anin hampir nyerah begitu saja, melihat tatapan melasnya Anin membuat Aksa bermain solo di kamar mandi sampai dua jam sendiri.


“Mas, bangun!” bisik Anin berada tepat di telinganya, karena pasti kalau digerak-gerak nggak bakal bangun juga dan mendapatkan desiran angin membuat Aksa merinding sendiri, ia lantas terbangun dengan napas terengah-engah.


“Astagfirullah, siapa tadi?” katanya dengan suara memekak dan Anin menutup telinganya sebelah, memang teriakannya mengalahi anak kecil saja. Mungkin kalau bukan istri yang sabaran ataupun suka emosi, bisa-bisa ia dipukul sama rotan dan pukulan keras untuk hatinya.


“Hm, mandi dulu ... mau kerja ‘kan?” tanyanya dengan nada ketus.


“Bentar masih ngantuk,”


Aksa kembali bergelung lagi, karena ia tahu tadi suara istrinya dan ia masih kesal dengan suara yang mengerikan itu, memang terbayangkan dulu ia menemui suara yang bikin auto gagal lari dan Aksa itu orangnya parnoan.


Anin bersedekap dada, “Kalau kesiangan, jangan salahkan aku ya nanti!” ancamnya dengan menarik kaki putih Aksa dan melemparkan selimutnya, what?


Pemandangan apaan ini? Aksa cuman pakai sarung doang. Astaga!


Anin menggeleng, ia menutup akses matanya untuk tidak menatap benda yang membahayakan baginya, dan Aksa melihatnya ketar-ketir sendiri.

__ADS_1


“Mau nanya itu kenapa pakai sarung doang?”


Anin kesal sendiri lama-lama, Aksa hanya memasang raut wajah yang biasa.


“Iya males, aku kemarin mau cari baju tapi enak kayak gini.” Jawabnya dengan santai tanpa merasa beban, Anin menarik kulit Aksa dan mencubitnya dengan raut wajah kesal.


“Dah lah, mandi sekarang!” teriaknya dengan begitu Aksa berjengkit kaget. Ia buru-buru bangkit dan terjadi apa lagi ini, bah sarungnya mana kecantol lagi dan melorotlah, Anin segera menutup pintu dan keluar dari kamar.


“HUH, dasar ...”


Anin berjalan menuju ke bawah, ia pun mengambil makanan di dapur serta membuatkan susu untuk suaminya, pagi hari tidak ada jatah untuk minum teh atau apaan itu, kopi, tidak ada di rumah ini, hanya saja para pengawal mungkin dan itu diam-diam.


Karena kopi bagi Aksa itu sangat mempengaruhi setiap sisinya, kopi itu pahit nggak manis. Mencoba untuk itu akan ia akan mengancam berbagai cara, dan itu pasti terjadi.


***


Aksa yang sudah selesai mandi itu pun, menggunakan kaos oblong warna putih dan celana pendek, rambutnya masih basah dan handuknya masih menempel di pundaknya.


“Cem mana lagi, aduh kalau hari ini libur nggak papa kali ya?” ucapnya dengan menyomot permen yang ada di toples. Aksa itu melangkah keluar dan sampai bawah hampir saja ia kecengklak karena jalannya pakai segala mundur, karena katanya ingin merasakan sensasi mungkin. Aksa baru membenarkan posisi jalannya, dan sampai bawah, ia menuju ke ruang TV yang ada di dekat dapur.


Aneh ‘kan?


Anin menatap bosan, selalu nggak pakai rem kalau ngomong. Bicara tinggaal bicara kagak pakai segala teriak juga kali, Anin membawakan susu dan Aka menyambutnya dengan baik, dan senyum-senyum sendiri mana. Kek orang gila!


Aksa pun menghampiri, Anin menatap tajam tanpa dugaan jika yang dipakai suaminya itu kesalahan yang dianggap fatal baginya, masa iya tubuh suaminya dipamerkan untuk bibi-pembantu di rumah.


Anin berdecak, “Ngapain pakai segala kaos oblong gitu? Pakai segala mau mamerin badan ‘kan? Huh, cepat ganti!” perintahnya dan Aksa didorong badannya oleh Anin.


Weh kesalahannya apaan? Ia bingung dan menatap heran Anin.


“Apaan dah mau mamerin badan ke siapa?” tanya baik-baik Aksa dan Anin menatap malas, sok nggak peka lagi aduh, mana itu perut terpampang jelas dengan baju putihnya itu kan jadinya nerawang mah.


“Ya kamu lah, tuh badan kurus kerempeng gitu dipamerin apa nggak jadi bahan tertawaan.” Hardiknya dengan begitu Aksa melihat badannya, hah kurus kerempeng macam mana?


Ia saja merasa kalau lagi narsis gitu, gantengnya MasyaAllah. Membuat kaum hawa yang lagi liat panas dingin sendiri, mungkin senyam-senyum. Terus kok istrinya bilang begini, “Ya nggak papa, lagi panas ini.” Dan Anin merasa tersindir dengan kata ‘panas', ya dia cemburu dengan badan suaminya dan sementara badannya, yang lagi berisi malahan tambah berat badan.

__ADS_1


“Akh, udah lah nggak usah dipermasalahin.” Ujarnya dengan begitu Aksa meminum susu yang dibuatkan oleh istrinya itu, dan Anin hanya menatap malas.


Ia pun meninggalkan nampan itu di meja, dan melangkah pergi dari sana.


Anin ingin ke dapur saja, makanan yang tadi dibuat olehnya ingin ia makan tanpa seperizinan Aksa, Anin membuatnya. Sementara Aksa hanya memandang biasa, ia membuka handphonenya, dan ia ingin menonton series terbarunya.


Kemarin nggak jadi nonton, dan hari ini ia ingin libur kerja lagi. Toh, ia yang punya perusahaan tapi nggak ada kepikiran buat kerja-kerja, karena kalau kerja itu harus difosir bukannya malah melupakan semua waktunya untuk kerja terus.


“Aduh meleyot gue kek gini,” ia senyum-senyum sendiri dan Anin yang mendengar, hanya menatap jijik. Melanjutkan makannya, iya suara Aksa terdengar sampai ke dapur.


“Heh kok nggak kerja dia?” ucap Anin dengan heran, dan meninggalkan mangkuk itu yang sudah setengah habis, ia pun berjalan menghampiri lagi suaminya.


Aksa menatap sekilas, “Kok nggak siap-siap kerja?” Apa mentang-mentang dirinya seorang CEO, pemimpin perusahaan dan seenaknya main libur, kalau ada keperluan kan nggak papa dan buktinya sekarang Aksa hanya beralasan mungkin.


“Males,” sahutnya tanpa mengidahkan pandangannya dari handphone.


Anin melirik sekilas di handphone, mana gambarnya foto-foto artis Korea lagi dan China, beuh mata suaminya ini kepingin ia congkel atu-atu biar tidak terlalu kecanduan dengan yang namanya cewek-cewek cakep.


“Oh jadi sekarang aku nggak cantik gitu?” tanya Anin dengan tiba-tiba dan ia melipat kedua tangannya di dada. Aksa meletakkan handphonenya dan belum sempat dimatikan, malah Anin mengambilnya.


Beh, ketar-ketir sendiri. Anin membesengut kesal, ia matikan handphonenya dan menarik rambut suaminya dengan kasar, “Kalau mau minta istri yang cakep, seharusnya dulu kagak usah nikah sama aku, nikahnya sama itu orang.” Sinis nya dengan kata-kata yang dibumbui oleh hawa-hawa panas.


“Lah ‘kan cuci mata doang, emang nggak boleh?”


“Ndiasmu, cuci mata sama istri hukumnya sah. Tapi kalau gitu, ya kagak sah.” Ucapnya dengan tidak bersahabat, dari raut wajahnya kepingin jadikan Aksa adonan dan diletakkan di molen biar sekalian muter-muter.


“Ya udah,” Anin menghela napas dalam-dalam. Menatap tajam ke suaminya, ia langsung buru-buru ke kamar, moodnya hancur seketika hari ini.


“Lah emang kenapa, njir?” tanyanya dalam hati dan menelan ludah susah payah, siap dah satu bulan kagak dikasih jatah.


Bersambung...


Maaf kemarin nggak up, yok baca lagi! kemarin kepingin free, ya udah sekarang lanjut lagi. Makasih buat yang udah mampir, jangan lupa follow IG Din yah biar dapet info up apa kagak.


Hehehe, kalau minta folbek boleh, silakan DM Din.

__ADS_1


See yu nect time🤪


__ADS_2