Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 55


__ADS_3

Sampailah mereka di area pemakaman dan Anin lebih dahulu keluar, karena ia ingin mencuci mukanya yang penuh dengan bekas makanan, tadi sempat kemana-mana dan akhirnya lemas semua sudah, ia habis memuntahkan makanannya.


Aksa sedang membuang plastik ke tempat sampah, biar lebih enak saja dan tidak mengganggu kenyamanan orang sekitar jika melakukan perjalanan ke area pemakaman, apalagi tanah makam pastinya suci terbebas dari apapun itu.


“Habis ‘kan air bersihnya?” Aksa memegang tengkuk Anin sekaligus membawakan air mineral botolan dan Anin menerimanya.


“Eh lemes amat ya, padahal tadi nggak ngapa-ngapa lho.”


“Iya mana mungkin kamu tadi salah makan, jadinya begini sekarang....”


“Oh bisa jadi sih, tapi kayaknya aman saja tadi ... kok baru sekarang, apa ada udang dibalik gajah .... eh salah udang dibalik batu, nanti ada apa-apanya lagi.” Sempat menjadi curiga Anin sejak awal jika dibelikan makanan itu, tapi ia tidak ingin menolak secara mentah untuk di hadapan suaminya.


“Mau pulang sekarang apa nanti?” tanya Aksa yang melihat istrinya serasa ketar-ketir sendiri, dan Anin lantas menggeleng.


“Nggak mau, nanggung ... udah sampai masa mau balik lagi,”


“Oke, ya udah kamu mau apa? Biar aku belikan ...” tawar Aksa dan Anin tetap menggeleng, mau dibelikan apa tetap saja jika perut menolak alangkah baiknya jangan dimasukkan apa-apa kecuali air putih itu saja bagi Anin.


“Hem, ya sudah kalau begitu ... enakkan apa belum?”


“Tanya terus dari tadi, mumet aku kalau gini mah ...” ucap Anin dengan mata sayunya, Aksa kini terkekeh dan memijat kecil bagian tengkuk istrinya.


“Iya ‘kan nanya, kalau nanti nggak ditanya terus dikatain cuek lagi nggak peduli ...”


“Hm, udah lah ... nggak usah kebanyakan ngomong, mending pijetnya yang enak dikit, kali ya gini ....” tidak terima jika dipijat seperti itu, karena pijatannya sama sekali tidak terasa dan Anin menatap depan, ternyata sudah berada di kawasan permakaman.


Jalan utama permakaman, banyak orang yang berlalu lalang menggunakan mobil ataupun motor, dan banyak juga yang berjualan bunga di sekitar sini.


“Eh iya belum beli bunga,” ia ingatkan kepada suaminya, agar Aksa membelikan bunga untuk memperindah makam ibunya. Sudah lama tidak mengunjungi makam ibunya, karena ia belum menyanggupi untuk menjadi anak baik dan sholehah buat ibunya.


Tapi, setiap sholat pasti Anin mendoakan ibunya agar tenang di alam yang berbeda dan semoga diberikan tempat sisi Allah yang terbaik.


***


Sementara Revino, sekarang ia sedang melakukan perjalanan. Atas dasar untuk mengunjungi makam istrinya dulu, yang belum ia lakukan gugatan perceraian. Masa itu, tidak pernah ia mengucapkan kata perceraian, hanya saja meninggalkan istrinya di kala mengandung.

__ADS_1


Revino menggunakan jas lengkap dengan topi dan kacamata hitamnya untuk menutupi wajahnya agar tidak terlihat siapapun itu, dan sebentar lagi memang sudah menjelang senja berarti banyak orang yang sedang melakukan ziarah.


Ia akan menunggu dan setelah adzan maghrib berkumandang baru ia akan mengunjunginya, sampailah di kawasan permakaman umum kampung ini, entah nama kampungnya apaan. Yang penting ia mendapatkan informasi yang lebih rinci nya jika istrinya dikebumikan di sini.


“Tuan, apakah mau sekarang? Biar saya yang menyuruh mereka semua buat bubar, Tuan?” tanya anak buahnya dengan gugup, maksudnya tangan kanannya yang ada di depan dan sopir yang ada di depan sementara dirinya ada di belakang.


Revino melirik dingin dan datar, ia mengeratkan giginya.


“Kalian mau ngusir? Siap-siap nanti malam akan saya eksekusi kalian,” ancam Revino dengan menyunggingkan senyum smirknya, sudah lama tangan ini tidak mengincar orang-orang yang terlalu membantah ucapannya.


“B-baik Tuan, maafkan ucapan saya tadi ...”


Revino tanpa mengidahkan pandangannya, ia lurus menatap anak serta menantunya sedang mengunjungi makam istrinya, dan ia mengusap dadanya.


Rasa hati ingin bergejolak keluar, dan menyatakan apa adanya. Sejujurnya, ia ingin membuktikan bukti kuat, tapi belum lengkap ia mengumpulkan semua bukti karena ia ingin semua bukti terkumpul barulah diungkapkan secara nyata di depan anaknya.


Bahwa dirinya AYAH KANDUNG.


BUKAN ORANG PENGECUT.


Yang tidak sanggup membuktikan kenyataannya, “Nak ... tunggu ayah buat membuktikan itu semua, ayah kepingin kamu jadi anak ayah ...” liriknya dengan menitikkan air matanya dan menundukkan kepalanya.


“Tutup mulut kamu! Jangan sampai semua orang tahu, mengerti!?” ucapnya dengan sedikit keras dan tanpa tersenyum sedikit pun.


“B-bb-baik, Tuan... Kami akan tutup rapat-rapat,” sahut mereka dengan bersama-sama dan menunjukkan bahwa mereka sanggup mengerjakan itu semua.


Revino menunggu dengan sesekali melihat anaknya sedang melakukan do'a bersama suaminya, dari balik kaca itu memang dari dalam terlihat jika dari luar tidak ada siapapun orang itu yang bisa melihat.


Tangan kanan maupun sopirnya memilih bungkam, tidak ingin membicarakan sesuatu yang tidak penting, takutnya nanti salah sangka di mata majikan mereka. Dan anak peluru pastinya akan bersarang di tubuh mereka, entah itu bagian apa dan pisau tumpulnya pasti sudah mengorek bagian tubuh mereka.


Revino memandang arah jam tangan yang ia pakai, berarti bentar lagi mereka akan pulang dan benar saja ia tunggu beberapa menit akhirnya mereka berdua pulang, dengan mobil yang ada parkir di depannya, untung tidak mengenali mobilnya.


Sudah sejak tadi ia benar-benar siapkan matang-matang takutnya terbongkar sudah rencananya untuk menemukan bukti-bukti yang kuat.


“Tuan sudah tidak ada siapa-siapa,”

__ADS_1


“Iya saya tahu, saya nggak buta kek kamu ...” sindir keras dan menukik membuat tangan kanannya menahan emosi yang tidak terima jika diejek seperti itu, tapi apa daya lah orang bawah mah nggak ada apa-apanya dengan orang yang terlalu memihak semuanya tanpa boleh dibantah sama sekali.


Tangan kanannya lebih dahulu masuk, dan menuju ke pintu di mana akan dibuka oleh Revino sendiri. Revino sudah lengkap dengan masker hitamnya, ia pun menyugarkan rambutnya yang masih menghitam tapi ada beberapa yang putih.


Dan ia menggunakan topi serta kacamata hitamnya. Ia keluar dan pintu mobil terbuka otomatis, ia membenarkan jasnya serta tangan kanannya memayungi dirinya.


Ia berjalan dengan langkah tegas, walaupun ada beberapa orang yang mau pulang melihat aneh. Mungkin ada orang yang tidak mau dikenali begitu, tidak ada basa-basi di antara mulut mereka. Capek sendiri kalau dah bosan.


Revino melangkah di mana tempat peristirahatan terakhir istrinya.


Dan ia melihat tangan kanannya itu yang sedang memayungi, “Tutup saja payungnya ...” bisik Revino dan tangan kanannya itu sigap dengan cepat.


Revino duduk di antara pinggiran makam, ia pun menatap papan nisan yang terukir indah nama dari sang istri sudah terpampang di sana.


Ia sedikit membuka topi serta maskernya, dan ia mengelus pusara makam istrinya.


“Dek, aku ke sini lagi ... inget nggak sama suami mu yang dulu ninggalin kamu? Dek, maaf kalau mas ke sini dalam waktu yang tidak tepat, di mana kamu sudah menutup mata untuk selamanya. Padahal, aku di sini ingin memperjuangkan hak ku untuk menjadi ayah serta suami yang baik lagi, selama ini aku dihantui berbagai masalah. Maaf, jika aku dulu sempat meninggalkan mu ...” ungkapnya dengan mata sudah membengkak sekarang, dan tangan kanannya hanya mode diam, kaku tanpa ingin sedikit untuk membantu atau bagaimana.


“Maaf, hanya itu yang aku bisa ucapkan dan do'a ku akan selalu ku rapalkan untuk mu ... semoga kamu bisa menjadi wanita surga Allah untuk kamu yang kuat di kehidupan nyata dulu, aku minta maaf ... kalau belum bisa menemukan bukti yang sesungguhnya, untuk kembali menjadi ayah untuk anak kita ...” jelasnya dengan menyambung, dan matanya kini sudah beraliran air mata sampai ia mengepalkan tangannya, ia menggenggam tanah-tanah suci itu.


Revino tanpa banyak bicara, ia pun langsung menuju ke do'a yang selama ini ia pelajari, di kala ia mendapatkan ganjaran akan adanya informasi kematian istri pertamanya.


Setelah selesai, Revino menaburkan bunga yang ia beli di toko bunga tadi dan ia melirik ke arah tangan kanannya yang membawakan bunga.


“Maaf kalau aku nggak bisa membahagiakanmu dulu, tapi insyaallah aku akan perjuangkan untuk hak ku menjadi ayah kandung untuk anak kita ... walaupun itu aku belum dimaafkan tapi, aku akan berusaha ...” paparnya dengan mengelap air matanya dan tangan kanannya memberikan sapu tangan.


Revino mengode agar tidak memberikan, tangan kanannya langsung tanggap.


Revino mengecup pusara papan nisan itu, yang bernama istrinya.


Ia mengelus nya dan “kamu di sini pasti kesepian ... maaf belum bisa menemani kamu,” ucapnya dengan beribu kata ‘maaf' ia akan ucapkan di dalam do'a maupun itu di sini.


Bersambung...


Hehehe bisa up lagi, walaupun kemaleman tapi insya Allah akan diusahakan 🙂🤣...

__ADS_1


Yak selamat menjalankan bagi yang muslim ibadah puasa semua, semoga lancar dan diberikan kesehatan untuk kalian semua🙌🙏...


See you next episode...


__ADS_2