Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 14


__ADS_3

Ruang HRD


Anin semakin tegang, dari sorot mata HRD-nya itu merah padam.


“Ada apa sebenarnya? Boleh kamu ceritakan sedetail-detailnya!”


“Lah?” Anin bingung, kenapa jadi begini? Apa Aksa belum mengenalkan kepada HRD-nya jika ia sudah menikah dengan bosnya sendiri.


Jadi, Anin tidak jadi mengajak HRD ini ke kantin karena ia sudah lancang jika mengajak HRD-nya sendiri ke kantin. Apalagi banyak orang yang sudah menggosipi dirinya dengan HRD ini.


“Gini Pak, saya sudah menikah de-ng-an pak A-a-ksa.. Iya Pak Aksa,” Dengan membuang napas, tangannya sudah panas dingin dan mata HRD itu melotot.


Anin tidak berani menatap HRD itu.


“Emh, ya-ya... Sudahlah, saya terima... Terus kamu ke sini mau ngapa?” HRD itu mencoba untuk menerima, mau gimana jika tidak menerima kemungkinan besarnya ia akan dipecat.


“Beneran pak?” Huh, Anin seperti mendapatkan cahaya yang begitu terang.


“Oh iya lupa, saya ke sini ingin membahas masalah saya sendiri dengan kantor ini. Saya ingin resign dari kantor ini pak,” Sambung Anin dan HRD itu mengeryit, bingung ia.


“Kenapa kamu resign? Ada masalah?” Dengan menopang dagunya.


“Anu Pak, saya cuman mau resign itu karena saya ingin fokus saja sama pekerjaan rumah.” Jawabnya dengan berbohong, dan ia mengalihkan itu agar suaminya percaya sama-sama mempercayai dirinya. Apalagi kelihatannya HRD ini pantas di cap sebagai karyawan yang berbakti sama bosnya.


“Hem, gimana ya... Tapi, biasanya ada surat pengunduran dirinya. Mohon untuk di itu ya, buat. Karena nanti akan menjadi dokumen penting untuk perusahaan.” Anin menarik-narik bajunya. Ia saja ke sini nggak bawa apa-apa, terus gimana caranya resign. Dia aja belum tau, Anin saja cuman orang biasa, yang lulus SMA terus kuliah nggak jadi. Anin diam sejenak, memikirkan apa alasannya.


“Oke, pak... Besok saya akan antar ke sini,” Sanggup Anin, ia akan menyanggupinya dan siapa tau ia bisa colek teman-temannya yang ada di kantor.


“Ya sudah, tidak ada masalah ‘kan? Nanti bisa saya bicarakan dengan pak Aksa.” Ucap HRD itu dan Anin beranjak berdiri.


“Tidak, saya permisi dulu ya pak. Makasih atas waktunya untuk saya,” HRD itu mengangguk, dan Anin melangkahkan kaki keluar dari ruangan HRD.


“Nambah kerjaan lagi, coba aku tanya sama Nisa aja dulu ya. Dia ada di ruangannya apa nggak ya... Tapi, gue takut kalau nanti ketemu si---” Bernapas lega, dan menuju ke ruangan temannya itu. Untung saja masih satu lantai, dan ini satu lantai dengan ruangan bos.


“Ya Allah, mudah-mudahan nggak ketemu.” Ucap Anin di dalam hatinya, ketika beberapa jangan lagi akan di depan pintu ruangan suaminya sendiri.


Pasti yang ada ketemu, pada saat di lift. Tiba-tiba Aksa keluar dari lift, membuat Anin gemetaran satu badan. Dan keringatnya merembes keluar, Aksa yang masih mengobrol dan tidak memerhatikan istrinya yang ada di sana.


Anin masih diam ditempat. Sampai tidak berani melangkahkan kaki lagi, ia berkomat-kamit.


Orang yang diajak mengobrol Aksa pun naik kembali ke lift, dan Aksa baru memerhatikan sekitar. “Hm, siapa kamu? Kok gemeteran gitu,” Aksa melangkahkan kaki untuk mendekat.


Anin mulai membalikkan badannya, dan cengengesan. Ia menampilkan deretan giginya.


“Kamu di sini? Ngapain?” Aksa menatapnya dengan tatapan lembut, dan memerhatikan sekitarnya. Ia pun menggandeng istrinya untuk masuk ke ruangannya.


“Duduk dulu, aku ambil minum ya...” Aksa melepas jas kantornya dan bikin Anin menelan ludahnya, ia melamat-lamat mulutnya, yang terasa kelu seperti bertemu dengan setan saja.


Aksa mengambilkan minum, dan meletakkan dihadapan Anin.


“Minum dulu! Biar nggak gemeteran gitu,” Aksa mengeluarkan sapu tangannya dari saku celananya dan mengelap keringat Anin yang bercucuran, hahaha... satu ember kayaknya.


Jarak mereka sangat dekat, berapa mili saja bukan centi.


Anin merasa jantungnya mau lompat, semoga suaminya tidak mendengar suara jantungnya yang bergemuruh sejak tadi.


“Minum saja! Nggak papa, aku nggak ngapa-ngapain kok.” Ia meyakinkan, dan sampai hidung sampai mata semua berkeringat.


Bedak yang dipakai Anin palingan luntur, dan menempel di sapu tangannya Aksa.


Aksa memilih untuk mencuci tangannya ke kamar mandi, ia merasa kasian dengan istrinya yang sejak tadi tidak bernapas. Dan yang ada napasnya paling nanti tersengal-sengal.


“Ya Allah... Bisa mati aku kek gini,” Anin menghembuskan napas kasar dan meminum airnya. Tercekat, tegang, yang ada semua bercampur padu menjadi satu sampai ia tidak bisa bernapas.

__ADS_1


“Nggak anu, aku-aku...”


“Hm, aku kasih kamu waktu. Aku mau ke ruangan HRD dulu, mengurus beberapa data ya, ada masalah yang harus diselesaikan dengan adanya karyawan maupun karyawati baru.” Ucap Aksa yang pergi meninggalkan ruangan, Anin menatap bahu Aksa sudah menghilang dari pintu, ia bisa saja kelimpungan ini.


Siapa tau itu HRD membeberkan semua yang ada, termasuk Anin yang akan mengundurkan diri dari perusahaan. Anin gigit jari, ia takut jika suaminya akan marah karena ia melakukan itu secara mendadak.


“Oke, sekarang jangan takut! Hm, napas!” Ia tidak bisa tenang, akhirnya ia pun melangkah pergi meninggalkan ruangan ini yang begitu membuat auranya semakin kental. Mengingat keringat sudah membasahi tubuhnya, ia takut dan menduga jika Aksa akan marah.


“Iya aku pergi, daripada di sini bikin senam jantung aja...” Anin pun naik ke lift, tiba-tiba suaminya sudah feeling, mempunyai insting yang begitu kuat karena istrinya akan pergi.


“Hufttt... Katanya apa? Disuruh diam! Jangan kemana-mana aja nggak mau! Kenapa kamu? Kok kayak takut gitu dari tadi,” Anin celingak-celinguk. Mudah-mudahan ada yang mau menolongnya dari keselamatan dunianya ini.


“Mas...”


“Aku mau pergi dulu, aku mau ke caffe ketemu sama temen-temen ku.” Aksa menghela napas, kenapa istrinya ini jika ditanya mengalihkan pembicaraan.


“Hm, kamu mau pergi? Bukannya tadi kamu mau ke sini,”


Waduh, gawat nih. Anin bisa apa sekarang?


Em, bentar munculah ide cemerlang tapi Aksa melihat gelagatnya Anin yang berbeda dari biasanya. Aksa menunggu, ia cekikikan sendiri di dalam hatinya.


“Udah, mendingan ke ruangan ku!” Aksa menarik tangan Anin dengan lembut, dan Anin duduk di sofa, Aksa membuka jas kerjanya, menyisakan kemeja yang masih rapi dan Anin sedikit gagal fokus.


“Kamu kalau bohong, jangan mudah ditebak!” Kekeh Aksa, Aksa setelah itu kelurahan dari ruangan. Anin mengintip, sepertinya ia menemui orang.


Anin mendesah napas berat, beban yang dipikirannya membuatnya tidak tenang.


“Hah ... Apa aku harus jujur?”


“Jujur saja! Nggak akan marah kok, aku tetap menerima kamu dalam keadaan suatu apapun. Karena aku sudah berkata, tidak ada namanya pernikahan itu saling egois, memikirkan keadaan masing-masing dan terlalu membesarkan ego. Maka ya, begitulah masalah kecil akan diperbesar.” Aksa membawa paperbag sepertinya ada makanan di sana.


“Iya aku, aku jujur. Tapi, kamu bawa apa?”


Aksa mendekat ke arah Anin duduk, dan meletakkan paperbag tersebut dihadapan Anin.


Aksa duduk di samping Anin, dan membukakan makanannya.


“Kalau buka makanan, jangan pakai emosi! Nanti cepet tua, sampai kamu nanti uratnya keluar semua. Gimana?” Aksa pun menghadapkan ke Anin. Dan Anin mengerucut kesal, kenapa sih setiap ada permasalahan pasti ada nasihat yang mencampuri hidup.


Ah, sudahlah.


“Mas... Kamu nggak ada meeting gitu hari ini?” tanyanya dengan santai, dan Aksa menjawab dengan gelengan kepala dan Anin mengangguk.


“Sudah diganti dengan orang lain, aku sih mintanya kamu untuk jujur. Kenapa sikapmu aneh gini, terus dari tadi aku liat kamu ada yang aneh.” Anin membuang napasnya pelan-pelan.


“Mas... Maaf sekali kalau aku mengecewakan mu, tapi berharap aku untuk kamu, agar tidak marah jika keputusan ku ini sudah bulat di hati ku, tapi bagimu nggak.” Aksa melotot tajam, ada apa ini?


Apa tentang nafkah batin? Eh, nggak-nggak mungkin Anin bisa sekejam itu menjadi perempuan. Aksa pun menggeleng lemah, “lanjutkan!” Ia tidak boleh asyik dengan keputusannya, siapa tau pikirannya meleset apa yang akan dibicarakan secara jelas oleh Anin. Dan Anin meletakkan makanannya di meja.


“Sini aja!”


“Iya, aku nggak kemana-mana kok... Hm, sebenarnya aku mau resign dari kantor ini mas... Aku mau dari segala dunia kerja, aku serahkan sama kamu.” Ucapnya dengan pelan, ia tidak punya nyali untuk mengatakan hal itu.


“Ya Allah... Kamu itu dari tadi, mau ngomong gitu susahnya minta ampun. Ya, nggak papa dong karena kamu juga sebagai istri harus mengerjakan apa yang ada di dunianya masing-masing, kita sama menjalankan. Tapi, kamu adalah ibu dari anak-anak ku nanti.” Anin reflek terkejut, ia memeluk Aksa. Dan menangis, tidak seberat itu. Ia sampai keluar mau ngomong.


Aksa pun terkekeh, dan mencium kepala istrinya yang sudah berbalut hijab.


“Kamunya dari tadi, cuman mau ngomong itu?”


Masih lucu sih, dari raut wajah Anin penasaran.


“Kamu mau ngejek aku? Hih, aku dari tadi nahan takut lho. Kamu nih,” Anin memukul dada Aksa pelan, dan Anin memerah wajahnya.

__ADS_1


***


Setelah itu, mereka pulang bersama.


Mereka tidak jadi untuk menghadiri acara ulang tahun perusahaan.


Padahal, Aksa sudah mengajak Anin untuk ikut tapi Anin memilih untuk pulang dan Aksa mau nggak mau harus ngikut, ia tidak mau Anin menjadi marah-marah jika ia sendirian di sana. Banyak wartawan yang menyorotnya, dan apalagi banyak perempuan yang masih kimis-kimis seperti sayuran yang masih segar begitu jika dipandang. Bukannya memilih untuk hal keburukan, tapi Aksa memilih untuk menjaga dirinya sendiri. Sebelum, Anin marah dengannya.


“Aku ada urusan bentar di gang sana, kamu pulang dulu nggak papa?” tanya Aksa sembari memutar-mutar stir mobil.


“Iya aku nggak papa, tapi hati-hati!” Ingatnya dan Anin membuka pintu mobil, ia masuk ke dalam rumah ibunya dan Aksa menjalankan mobilnya, ia ingin menemui temannya di gang sana. Yang terdekat dari rumah ibunya Anin.


“Sayur... Sayur, sayur... Sayur, seger...” Lah, bukannya pagi kalau jualan kok malah agak siangan ini. Kenapa?


“Boleh lah, aku cek dulu. Bude....” Ia meneriaki tukang sayur yang berkeliling, berjualan. Memikul gerobak dorong, ya begitulah. Saat ini kenapa tukang sayur jalannya siang, mungkin ada kendala dari rumah ke pasar.


“Bude... Kok siangan Bude?” Anin memilih-milih sayurnya dan Bude itu hening.


“Iya, anu tadi anak Bude kecelakaan, jadinya Bude nggak ini. Jualannya agak siang, nungguin anak di rumah. Tapi, kalau Bude nggak kerja. Nanti siapa yang mau biayain anak Bude yang satunya masih sekolah—.” Ucapannya terpotong ketika ada ibu-ibu yang menggerombol menghampiri tukang sayur.


Seperti yang dibilang kalau mak-mak ini marah bakalan.


“Aduh bude, kalau niat jualan itu ya pagi nggak siangan gini. Udah tau, ibu-ibu sini sibuk. Ngurusin kerja, dan kita harus siap dong masakannya kalau pagi. Dan gara-gara tukang sayur nggak lewat, kita melewatkan sarapan. Tau...” Cerocos ibu-ibu itu.


“Halah ini sayuran layu gini, dijual.” Salah satu ibu-ibu komplen dan Anin menghela napas.


Kasian ini Bude, sudah tau tukang sayur ini tidak mempunyai suami malah ibu-ibu yang nggak punya otak malah marah-marah, dan tukang ngebully gini jadinya.


Tukang sayur itu menunduk ke bawah.


“Masih seger kok bu. Ini masih enak kalau disayur.” Bela Anin, Anin merasa kasian dengan tukang sayur ini. Geram sekali, dan ibu itu mendecih.


“Sok-sok an... Udahlah kita pergi,” semuanya pada kabur, ingat jika mereka ke sini mau belanja. Eh malah cuman mau nyerocos komplen mulu. Emangnya ibu ini punya lapak buat dagang sayuran gitu.


Anin menatap dengan berarti, “Bu... Emangnya ada apa sih? Kok kayaknya berat banget,” Anin mulai bertanya lagi dan ibu itu menangis, Anin tersentak bukan main.


Ia mendekat dan menggandeng tangan bude itu untuk duduk di depan rumahnya.


“Duduk dulu Bude!”


Anin mengambilkan minum di dalam, dan menghampiri kembali.


“Minum dulu Bude! Maaf, kalau air putih. Soalnya nggak ada es di dalam kulkas.” Tukang sayur itu mengangguk dan Anin membantu Budenya.


“Emm, maaf nak...”


“Iya to the point aja Bude, kalau ada yang mau dibantu. InsyaAllah Anin bantu jika permasalahannya mudah untuk diselesaikan.” Pelipis tukang sayur itu mengkerut, dan menatap lama ke arah jalanan.


“Anu nak saya mau pinjam uang boleh? Uangnya juga besar nak, makanya anu saya nggak kuat bayar untuk utang operasi anak saya. Pengangkatan darah yang ada di otaknya, dan saya masih berutang dengan rentenir yang kejam itu. Dan saya diberikan waktu satu minggu.” Anin melongo, dan Bude itu memohon sangat.


“Berapa bude? InsyaAllah atas pemberian yang sesungguhnya, Allah mengajarkan untuk saling berbagi. Gimana bude?” Bude itu matanya berkaca-kaca, turun sudah peluh keringatnya. Sedikit ada keringanan untuknya.


“Dua puluh juta nak,” jawab ibu itu.


Dapet darimana duit segitu banyaknya? Ia saja belum dikasih apa-apa oleh Aksa, bagaimana ini? Anin sudah menyatakan kesanggupan jika dirinya akan membayarkan hutang ibu itu.


...Bersambung......


Kalau ada typo, tolong di komen yah biar dibenerin!🙏


Saling mengingatkan saja 🤗, jika ada kesalahan harus diingetin.


Jangan lupa Like dan Komennya 😌

__ADS_1


...Makasihh


...


__ADS_2