
Anin dan Aksa sekarang sedang menuju perjalanan ke rumah pakde dan Bude Anin.
Anin sampai beberapa kali menguap, lantaran sekarang sudah siang. Memang waktunya untuk tidur siang biasanya kalau lagi puasa.
Anin melihat Aksa yang di sampingnya sedang melihat handphone, dari tadi emang suaminya fokus ke handphone. Sampai ia digantung begitu saja, ia bosan.
Dan baru saja mau memejamkan matanya tapi suara Aksa yang membuat dirinya terbangun.
“Kalau mau tidur nggak papa, nanti aku bangunin.”
“Dari tadi diem baek, nggak ngomong. Giliran istrinya mau tidur diganggu,” cibir Anin dan Aksa hanya diam. Ia pun mengangguk, dan Anin meletakkan kepalanya di pundak Aksa.
“Nanti badannya pegel kalau begini, sebaiknya kamu selonjoran nah kepalanya di sini. Ada bantal di belakang kalau mau,” saran Aksa karena ia tak mau istrinya akan kesakitan apalagi melihat perutnya yang tak lama lagi akan membuncit besar.
Yang terpenting sehat adalah jaminan nomer satu bagi Aksa, dan Anin menggeleng.
“Nanti nggak bakal kebangun kalau pakai bantal,” tolak Anin.
Aksa menghela napas pelan, matanya mengelilingi setiap mobil dan mendapatkan stok makanan. Oke, ia sekarang sudah lapar sepertinya karena tadi pagi makannya biasanya kalau lebaran begini nambah porsi banyak.
Tidak apa yang penting dirinya gemuk, nanti bisa dikecilin lagi perutnya.
“Iya, kamu mau makan nggak?” tawar Aksa, sementara di depan sopirnya diam-diam pastinya memerhatikan dan mendengarkan. Kalau nggak dua itu dia lakukan pasti akan menjadi patung dirinya di dalam mobil ini.
Sebenarnya memang privasi dari majikannya, tapi kalau begini mau macem mana.
Ia tetap fokus tapi ya agak sedikit susah konsentrasi.
“Aku mau tidur bukan mau makan,” gertak Anin dan Aksa hanya menatap datar.
Sama-sama punya muka begini ya sudah, mending mundur saja.
Jangan terlalu pd untuk dekat dengan dua orang itu!
Dan Anin mulai kelamaan ia pun tertidur, Aksa melirik. Ternyata istrinya kalau tidur suka agak aneh sendiri lihatnya, dengan mulut sedikit terbuka dan mata agak kedip-kedip. Artinya kalau matanya masih bergerak menandakan belum tidur, bukan itu sebaliknya Anin malah tertidur pulas.
Sopirnya itu memberhentikan mesin mobilnya, lantaran sudah sampai di tujuan yang akan di datangi Anin dan Aksa, yaitu rumah bude bersama pakde. Di sana sudah banyak orang ternyata, mungkin tetangga ataupun saudara-saudara bude dan pakde.
Aksa menoleh ke arah istrinya, ia tidak berani membangunkan.
__ADS_1
Alhasil dirinya keluar dan lewat pintu sampingnya, dengan pelan ia meletakkan kepala Anin di pundaknya dan mengangkat tubuh istrinya, ia mengode sopirnya untuk membukakan pintu mobil karena sedikit sempit.
Aksa menggendong Anin dan ia bawa lewat pintu belakang, agak susah ternyata. Ia pun masuk tanpa permisi atau apa yang penting salah satu keutamaannya sekarang istrinya bisa tertidur di kamar yang sudah berbulan belum ia tindihi oleh tubuhnya.
Setelah Aksa meletakkan tubuh istrinya, ia keluar dari kamar dan menyalami pakde serta budenya. Sudah mulai sepi memang, sebab semua orang pastinya mau keliling satu kampung.
“Lah Anin nggak papa ‘kan?” tanya bude, ia sempat khawatir jika Anin tadi digendong dengan mata merem mana, dan Aksa menggeleng.
Ia pun duduk dihadapan pakdenya, dan meminta maaf sesuai yang tadi ia pelajari. Setelah selesai ia pun bergeser ke bude.
Bude justru menangis sampai matanya memerah, dan Aksa hanya menatap dalam diam. Mengingat budenya sangat sensitif untuk masalah rumah tangga. Memberikan nasehat kepada Aksa, harus menuntun istrinya ke jalan yang lebih baik lagi.
Karena mereka sudah dititipkan seperti itu.
“Nak gimana dengan pekerjaan mu?” Pakde memulai pembicaraan yang awalnya diam dan sepi, hanya suara isakkan. Saat itu bude milih untuk pergi dari sana untuk ke kamar mandi katanya.
Malu setelah nangis agak lama dan memberikan ultimatum untuk keponakannya ini yang selalu baik ada buat istrinya, belum tentu bisa menyelesaikan permasalahan yang selalu datang.
Aksa tersenyum tipis, “Ya baik lah pakde, ada perkembangan ...”
“Iya pakde bangga sama kamu, walaupun pakde nggak bisa apa-apa hanya bisa bantu do'a supaya bisnis dan semuanya maju terus sampai benar-benar kamu sukses, tapi juga jangan lupa itu istri harus diurus. Nggak harus mentingin pekerjaan,” ucap pakde dan terakhirnya pasti memberikan sebuah kata ancaman atau apalah yang penting happy kalau dikasih kata-kata.
“Assalamu’alaikum,” suara itu membuat mereka terdiam sesaat, dan melihat dari arah pintu serasa waspada. Aksa pun diam, ia melihat pakdenya yang berdiri dan menyambut orang itu dengan muka datarnya plus orang itu menundukkan kepalanya.
“Wa'alaik-kumsala-mm,” Bude tampak dari sorot matanya terkejut melihat kedatangan tamu yang tak diundang, laki-laki itu bukannya rautnya rasa kangen melainkan baik-baik saja.
Sungguh rada aneh, Aksa saja ia tidak mampu mengucapkan secuil kata ketika bertemu dengan orang ini, bisa saja ia berurusan dengan orang ini apalagi orang ini masih di bawahnya mau menduduki di atas Aksa.
Tidak heran lagi, pantas disebut orang hebat.
Laki-laki itu mengarah ke bude yang terpaku, sementara pakde tetap stay cool dan Aksa hanya berdecih pelan di hati. Kemana aja dulu?
Bermuka dua, bikin Aksa panas dan ia memilih untuk undur diri ke kamar istrinya. Ia tidak mau jika Anin terbangun, malah menuju ke ruang tamu secara nggak sengaja bertemu laki-laki ini yang nggak pantas dianggep kehadirannya pokok dari itu semua.
Sebelum itu, pria bermuka dua memanggilnya dan memberhentikan langkahnya.
“Mau kemana kamu menantu ku? Sebaiknya di sini dulu,” ucapnya dengan suara mengejek dan tatapannya saja bisa dilihat jika orang ini tidak main-main.
Catat bisa jadi orang ini bakalan ngambil hati Anin pelan-pelan, ah Aksa geprek ke tong sampah terus dibuang ke laut.
__ADS_1
Aksa mengabaikannya dan tetap berjalan ke kamar Anin.
Sedangkan pakde, ia memerintah bude membuatkan teh atau kopi dan Revino, laki-laki itu segera menyalami bude. Bahasa dia kakak iparnya, dan Revino mengerti.
“Nggak usah kak, nanti saja! Kakak di sini dulu,” Revino memberikan pengertian.
“Kak, anakku di sini ‘kan?” tanya Revino dengan Pakde membuat pakde menganggukkan kepalanya lalu Revino tersenyum smirk.
“Jangan macam-macam dulu Re, kamu sebaiknya dekati hati anakmu dulu baru mengklaim itu hak milik kamu.” Jawab Pakde membuat Revino melotot ke arah kakaknya.
“Klaim-klaim, benarnya itu anak saya bukan anak anda!”
“Hahah, iya-iya anak lu lah. Mending lu dekatin bukan secara terpaksa, begitu adikku sayang. Buat apa kamu jauh-jauh kuliah tapi nggak pinter,” membuat Revino serasa terpancing soalnya pakde lagi mau main.
“Sudah ini momen lebaran bukan berdebat! Oh iya istri mu mana kok nggak kamu ajak?” tanya bude, ada saja bude ini membuat Revino menggeleng dan sebagai tanda jawaban mukanya datar membuat bude bergidik ngeri.
Beh, tatapannya begitu setajam dan menukik lagi seperti smash bola Voli.
Sepertinya kalian harus diselamatkan dulu dari tatapan mengerikan itu.
“Oke, gimana kamu sama istri mu?”
“Biasalah kak ... masih panas, nggak nyaman aku sama dia.” Keluhnya dan begitulah kalau Revino di dekat kakaknya, dari sejak zaman kecil sellau mengeluh tanpa harus ada kepercayaan dalam dirinya buat ngerjain hal yang romantis gitu.
Gimana mau romantis, dekatin anaknya aja susah sendiri. Mau ngerasain anaknya sumpah mau ikut sama dia, pakde saja seperti itu merasa tertekan kalau ada di dekat adiknya serasa kek hawa dingin menyelimuti dirinya terus.
Nggak bisa dibantah soalnya, ia pernah dulu. Zaman beberapa tahun dulu, sampai pakde tertekan akhirnya ia mogok sampai beberapa hari dan adiknya itu tetap membiarkan, biarkan dia juga mau ngomong sendiri kalau butuh. Yak, buktinya butuh pakde salalu bergantung sama adiknya.
Emang dia sakit dulu, tapi sekarang masih ada dilanda kebingungan dan bisa jadi heran. Ya sebab Revino mendadak ke sini, tanpa diundang mana.
Bikin pakde dan bude ketar-ketir sendiri.
Bersambung....
Mau pulang lewat mana mbak? seperti bau-bau orang mau ketangkep ya🥰.
Hahaha jangan lupa kasih dukungan terus, supaya semangat buat up🤣
Oke, selamat bobo malem dan see you next episode:)
__ADS_1