Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 69


__ADS_3

Aksa, laki-laki itu gelisah. Mondar-mandir sampai beberapa kali ia resah di hatinya tak fokus untuknya jika bekerja dalam mode resah.


“Ngapa sih kok ada yang ngeganjel gini,” lirih Aksa memijit pelipisnya yang sedikit pusing kepalanya, ia menyandar di kursi sofa.


Tatapannya kemudian teralihkan kepada ponsel yang berdering di atas meja kerjanya. Ia ingin mengambilnya, tapi hatinya tidak mood untuk menerima telepon dari siapapun. Matanya kini turun ke pergelangan tangannya, melihat jam tangannya.


“Sudah jam sepuluh, oke. Boleh izin pulang mungkin ya,” monolog hatinya. Ia tidak suka kegelisahan dan kegundahan, maka harus melihat dari dua matanya jika tidak terjadi apa-apa sama Anin.


Semoga saja!


Binar matanya meredup ketika menatap layar handphone dan ia melotot tajam. Lantas ia mengantongi handphonenya ke saku jasnya, ia tanpa izin terlebih dahulu.


Ia akan pulang, keputusannya sudah bulat.


Aksa berjalan tergesa, sampai di depan lift tak disangka ia ketemu dengan sekretarisnya sebab itu ia akan meminta dan memberikan kepercayaan satu hari ini kepada sekretarisnya.


“Saya minta handle semua pekerjaan saya hari ini!” perintah Aksa dan sekretarisnya mendengar itu lantas ingin bertanya. Tapi, Aksa lebih dulu membungkam dan memilih untuk pergi masuk ke lift.


Sekretarisnya menatap datar, lagi dan lagi. Ia saja bosan di sini tidak ada yang bisa ia ajak atau dia usili kalau bosnya itu pergi. Seenaknya memang teman seperkantorannya kalau nggak ada bosnya, semena-mena tapi emang asyik sih kalau punya teman begitu.


***


Aksa bergegas pergi ke rumah, ia mendapatkan kabar jika bude dan pakdenya mengamuk di rumah Aksa sampai-sampai bikin ovt di jalan, setiap jalan Aksa sudah mengucapkan kalimat istighfar supaya tak terjadi masalah dengan Anin.


Itu saja, kalau masalah babak belur serahkan semuanya pada Tuhan.


Aksa tiba sampai rumah, melihat mobil avanza di depan rumah yang pastinya pemiliknya pakde dan bude yang sudah di rumah Aksa. Aksa masuk ke dalam rumah, tanpa memikirkan apa yang terjadi ke depannya.


Ia sampai depan pintu, tidak melihat siap-siap di luar. Bodyguard pada kemana?


Kerja buat dibayar kok, malah menyiakan begitu saja.


Aksa menghela napas pelan, ia langsung menuju ke ruang keluarga. Di sana bude sedang memangku kepala Anin, dan Anin menutup matanya terlihat wajahnya pucat pasi.


Aksa menghampirinya, sebelum menghampiri langkah Aksa terhenti.


“Kalau nggak becus buat jagain istri, mending nggak usah jadi suami...” sarkastik pakde dengan memandang tak suka ke manik mata Aksa dan Aksa hanya mempedulikan satu sekarang, ia pun menghampiri istrinya tapi dicegah oleh bude.


Sayup-sayup Anin memang sudah menutup matanya. Aksa lantas menggendong tubuh istrinya menuju ke kamar, agar lebih leluasa untuk istirahatnya.


Aksa menurunkan tubuh Anin di ranjang dengan pelan, menarik selimutnya untuk menyelimuti tubuh istrinya yang terlihat kering seperti tidak terurus. Padahal ia sudah memberikan apa yang Anin mau, tapi sepertinya Aksa tidak terlalu memerhatikan.

__ADS_1


Selalu istrinya beralasan klise agar menghindari tatapan Aksa.


Aksa sedikit pusing mengingat pekerjaannya kali ini di kantor banyak sekali, ditambah istrinya yang terbaring di sini. Bukan apa-apa, memang lelah jika ia harus bolak-balik apalagi dengan pekerjaannya yang nggak bisa ditunda.


“Jangan terlalu fokus sama pekerjaan! Fokus sama istri mu dulu,” dengkus pakde. Pakde sudah mengeluarkan aura yang mendominasi jika ayah kepada anaknya, yang tidak pernah berkumpul tapi sekali ngomong ngeluarin kata-kata pedas dan menusuk.


“Iya pakde,” balas Aksa tidak mengidahkan pandangannya.


Ia mengelus kepala Anin dengan lembut dan Aksa mengecup kening serta mengelus perut yang ada calon anak mereka yang sebentar lagi akan ditunggu kelahirannya.


Mempunyai anak memang tak semudah itu, tapi jika sudah punya anak maka rezeki selalu diatur untuk mengimbangi berapa anak, dan banyak anak maka rezeki mengalir banyak.


Aksa duduk dan melepaskan jas kantornya, perasaan ada AC tapi ia hari ini tetap tidak tenang dengan hatinya. Apalagi melihat istrinya seperti ini, ia meletakkan jasnya di kursi sofa yang tidak jauh dari ranjang.


“Pakde sama bude ke bawah dulu,” ucap bude menyeret tangan pakde agar segera keluar. Pakde sebenarnya tidak rela untuk meninggalkan, lantaran bude memaksa suaminya harusnya sih ya nurut.


Kalau nggak, nggak bakal jadi suami dari bude. Ancamannya begitu kuat dan didominasi dengan masa lalu yang nggak bakal hilang dari ingatannya.


Aksa menghela napas, ia mengepalkan kedua tangannya, menyatu dan ia menatap Anin yang tidak membuka matanya. “Apakah dia sudah diperiksa?” tanya dalam hatinya, tapi sepertinya kalau belum diperiksa mana mungkin pakde melihatnya dengan tatapan sinis.


“Ehm, maaf kalau aku terlambat.” Lirih Aksa, ia berbaring di samping Anin dan memiringkan tubuhnya ke arah Anin. Ia mengelus dahi Anin yang tertutup dengan hijabnya tetapi rambutnya sedikit terlihat.


***


Aksa menyandarkan tubuhnya ke salah satu kursi di ruang makan. Kedua mata pria itu melanglang buana ke arah di mana bude bersama pakde sedang diam tapi seperti pikiran mereka menyangkut.


Aksa sekarang masih mengenakan baju kantornya dan tampilannya sudah tidak bisa terbaca lagi. “Kamu sudah membicarakan tentang ayahnya Anin?” tiba-tiba Pakde bertanya seperti itu kepada Aksa yang sekarang tatapannya masih datar dan seperti orang yang tidak mempunyai nafsu makan.


Aksa menggeleng pelan dengan kedua matanya yang taiam. “Eum, sempat beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan ayahnya Anin. Tapi, di sana saya melihat dengan istrinya.”


Mendengar laporan itu pakde menautkan alisnya. “Mereka mau apa? Terus kamu dimana?” tanya pakde dengan beruntun.


“Iya saya membelanjakan Anin yang sedang ngidam. Jadi, saya turuti kemauannya terus saya tidak sengaja melihat pasangan itu.” Pakde dan bude saling berpandang.


Bukannya beberapa hari yang lalu, mereka menemui ada yang aneh dengan adeknya itu dan mereka menanyakan langsung. Terus Revino menjawab jika ia tidak cinta dengan istrinya, lah kok punya anak?


Terus itu anak siapa kalau nggak cinta dengan istrinya.


Tidak ambil pusing, Aksa sudah selesai makan. Ia pun bangkit, Aksa berjalan menuju ke kamar. Ia malas untuk ditanyai panjang lebar, “Sa mandi dulu. Kalau mau ke kamar, sekalian deh buat ngebahagiain istri mu itu.” Teriak bude kencang.


Aksa mendengarnya hanya sekilas menoleh dan mengangguk pelan. Ia memasukkan salah satu tangannya ke saku celana bahannya.

__ADS_1


Aksa masuk ke kamar, menatap istrinya yang di sana diam dan menatap kosong ke arahnya.


“Sudah pulang? Berarti inget rumah ya,” dengan diiringi tertawa remeh.


Anin berusaha untuk bangkit dari ranjang, tapi lebih dahulu Aksa yang mendekatinya.


Demi apa air mata dari kelopak istrinya merembes keluar dan segera Aksa memeluk istrinya sebagai tumpuan untuk istrinya menumpahkan segala unek-uneknya.


Ia akan mendengar, ia akan menyimak dan ia akan menjadi penyeimbangan di antara Anin dan Aksa untuk kembali seperti semula.


Air matanya sudah meluncur bebas dan hidungnya sudah merah tapi Anin tidak melepaskan pelukan itu. Aksa mengelus punggung istrinya supaya tetap tenang dan bisa sabar menghadapi dirinya yang agak tidak peka sedikit.


Sedikit ya, sekitar lima puluh persen mungkin.


Aksa mengubah posisinya menjadi duduk di ranjang, ia merasa tidak nyaman jika dipeluk dengan posisi berjongkok, pinggangnya serasa sakit dan menumpu tubuh dirinya agar tidak terhuyung ke belakang.


Anin meraih tangannya untuk mengelap air mata Anin, Aksa peka ia pun mengelap nya dengan senyum jahilnya, tak dirasa ia malah mencubit hidung Anin membuat sang empuk melirih sakit.


Anin membalasnya, dan Aksa hanya tersenyum lebar.


Anin, perempuan itu kemudian menatap manik suaminya yang tengah memikirkan kata-kata untuk membuka topik pembicaraan kali ini.


“Oh iya aku tadi nggak sengaja dengar kamu ngomong ayah, ayah siapa?” tanya Anin.


Anin tadi niatnya ingin turun ke bawah, karena Aksa sudah naik di atas jadi ia mau tak mau masuk ke kamar untuk tidak tertangkap basah dengan suaminya.


Sebenarnya memang tidak mendengar, hanya saja Anin mendengar ayah samar saja. Apa ia harus pergi ke THt untuk memeriksakan telinganya, bisa jadi terganggu.


Anin menatap intens, memberikan ruang untuk Aksa berpikir tapi kelamaan untuk menjawab akhirnya Anin pun bangkit dari ranjang.


Bersambung...


Oke, makasih buat kalian yang udah nunggu lama😂...


Hahaha, Oke jangan lupa follow IG Din yah.


@dindafitriani0911


Likement yah jangan lupa! 🤣


See you next episode 🤗

__ADS_1


__ADS_2