Samawa Till Jannah Season 3

Samawa Till Jannah Season 3
Episode 19


__ADS_3

Anin menurut saja, ia mengikuti langkah cepat suaminya itu. Marah, kali ini. Entah marah karena apa, Anin diam saja. Biarkan lah, dia tidak salah.


Menurutnya kali ini, ia sudah izin pula tapi suaminya tidak percaya.


Ia tidak memulai perbincangan, atau apapun. Biasanya ia yang paling membuat suasana mobil menjadi ceria apa nggak yah sedikitnya nggak dingin gitu.


Anin


Sedari ku awal sudah aku pikirkan, jika suamiku ini mode ngambeknya luar biasa. Ya, kalau kelepasan di ranjang sih, dia lupa dari awal apa kesalahannya. Dan aku ingin mendiamkannya seharian saja.


Apa dia bisa kayak begitu?


Sakit juga kalau didiemin itu, suamiku enak mikirnya gitu. Tapi, guenya? Mikir dong, ah kesel lama-lama gue. Alam aja kagak terima kalau dia ngediemin aku begitu, buktinya sekarang jalanannya macet. Weh, jadi saksi bisu kami dong. Dan pak supir?


Iya, sopir di rumah di telepon sama suami ku ini.


Weh, kurang kerjaan juga kalau gini.


Buktinya dia sekarang diam baek. Pak sopir itu diam-diam mencurigai kami, ya jelas lah. Lha wong, ini lho kami nggak pernah namanya berantem di depan orang-orang memungkinkan untuk dipendam di kamar.


Sampailah di depan rumah, suami ku itu tetap diam dan ia memilih keluar terlebih dahulu. Mas Aksa masuk ke dalam garasi mobil, mengambil mobil lain. Keluar, astaghfirullah.


Ini aku apa yak yang salah?


“Pak..”


“Iya neng, ada apa? Ini diletakkan dimana neng,” tanya sopir itu balik dan ku menghela napas pelan.


“Taruh aja di depan kamar pak, nanti biar saya bereskan.”


“Baik neng,” jawab sopir itu. Aku pulang di rumah ini kembali, sudah lama aku tidak menginjakkan kaki di sini. Semenjak kejadian itu, membuatku ogah pindah ke sini.


Tapi, apa boleh buat?


Ini sopir sudah menjadi anak buah dari mas Aksa sendiri, dan sementara aku diam bukan berarti terima saja.


“Hem, gimana ya?”


“Pak, tolong sopirin yah! Susul Tuan.” Aku memanggil salah satu pengawal yang ada di pintu itu sedang berjaga, dan pengawal itu menghampiri ku.


“Tapi non, itu ‘kan ada sopir sendiri...” Iya sih sebenernya sopir itu yang tadi, tapi bentar deh.


Kayak ada yang janggal, dulu yang jaga pintu itu orangnya tua terus ya agak galak sih kok ini beda.


Jangan-jangan ganti lagi, aku menatap pengawal itu atas sampai bawah.


“Ada yang salah non?”

__ADS_1


“Nggak kok, oh iya mau tanya dulu ‘kan orang yang jaga pintu agak tua'an gitu, orangnya kemana?” Pengawal itu mengeryit, tak mengerti apa yang ku sebutkan ciri-ciri aku bicarakan.


“Kamu ke sini udah berapa lama? Saya ‘kan di sini juga baru pulang, dan liat kamu sungguh asing bagi saya.” Ucap ku dengan sungkan, dan ia menatapku dengan senyuman.


Wey, ati-ati tu senyuman bisa diganti dengan senyumannya macan jangan itu yang ngamuk, ngeraung nggak jelas nantinya.


“Oh, saya di sini baru satu bulanan non. Kami melakukan pelatihan, dan kami disuruh untuk menjaga rumah tuan dan nona. Yang ditanyain nona tadi, orangnya sudah dirumahkan sama tuan, non.” Balasnya, aku pun menjawabnya dengan oh saja.


Berat juga sih menerima orang baru, apalagi dengan wajah dan badan atletis gini. Eum, bikin otak ngelag dulu kali ya.


“Pak, ini nona mau keluar. Mau ngikut tuan,” ucapnya dengan memberitahukan kepada sopir yang ku suruh tadi bawa tas ke kamar, koper maksudnya.


“Oke non, tapi non ... Non habis dari rumah sakit, saya dipesankan untuk menjaga nona agar di rumah. Istirahat,” tuturnya dengan lembut sekali. Ini kenapa beda sekali ya? Aduh jadi bingung, kayak di ospek gini bikin jantungan juga.


Aku maunya sih ngejar, tapi gimana yah? Apa aku tanya saja sama sopir nih, kayaknya begini ada yang salah atau tidak.


“Eh, pak... Boleh ngobrol bentar?” tanyaku dan bapak itu menggeleng.


“Engga non, saya malahan nanti dipecat lagi. Aduh, non beginian aja susah loh non cari kerjaan itu sekarang mah, bukannya lancang atau gimana. Tapi juga butuh uang.” Jelasnya dengan panjang, aku mengangguk.


Kasian ini bapak, belum lagi anaknya mau dikasih makan apa nantinya.


“Oke bapak, ya sudah silakan cuci saja mobilnya ketimbang nganggur, yah bapak ‘kan sopir sekalian deh nanti kalau mau cari kerjaan. Ini, cuci mobil! Dapet cuan nanti, uangnya nanti minta aja sama pak Aksa.” Enteng amat aku kalau ngomong, hahaha tapi sekali lagi aku ingin mengerjai suami ku itu. Gimana betah, nggak. Atau tidak betah, uh sayang sekali.


Tapi, nasib ku ke depan gimana.


“Non, kotor!” sentak dari mereka.


“Hust, kamu nih...”


“Kalian boleh pergi! Lanjut pekerjaannya ya, jangan sampai nanti dipecat!” ucap ku dengan mengingatkan mereka agar tidak menerima konsekuensinya. Apalagi di sini ada tangan kanan si Aksa itu, cepu sekali mulutnya.


Tukang ngadu lah, ya begitulah kerjaannya cuman melaporkan.


Kehidupan kali ini sungguh berbeda, amat-amat disayangkan emang.


Aku menatap rumah itu, kembali lagi ke rumah ini. Apa nggak salah sebelumnya? Aku sudah bilang tak ingin kembali apakah ini pertanda jika perkataan ku dulu dibalikkan.


Udah, mending masuk. Ngedugem, dan ngepet sekalian. Ajak para bibi buat jadi babinya, hahaha. Aku yang jaga lilin, apa nggak mereka. Aku tinggal duduk manis, udah beres. Kalau ketangkep ya tanggungan mereka. Yang melakukan toh mereka, bukan aku. Aku cuman perantara, biar jadi cepet kaya sama persis kederajatannya sama kek suami ku gini.


Ealah, mikir macem lagi.


Mataku sudah-sudah, karena menyisiri setiap sudut ruangan. Berbeda sekali, padahal baru sebulan ditinggal. Tapi, banyak berubah.


Aku duduk di ruang tamu, dengan memejamkan mata ku. Aku tertidur, dan bermimpi.


Author

__ADS_1


Sopir tadi yang lewat pas saja di ruang tamu, termenung dulu melihat nona majikan itu tertidur pulas dengan posisi kepala yang salah.


“Kasian non, non ditinggal gitu aja sama tuan. Emang sesibuk-sibuknya tuan, pasti tuan menyempatkan waktu untuk bertemu istrinya sendiri. Malah quality-time orangnya mesti milih istri ketimbang sama laptopnya itu.” Pak sopir itu menatap nelangsa, ada rasa kekhawatirannya.


Hah, nggak aman jika ditolong.


“Oke, siapa lagi jurus ampuhnya. Bibi, oke bibi... Karena di sini ada perempuan, ya sama-sama ngertilah masa nggak ngerti si tuan.” Gumamnya dengan berjalan ke dapur untuk memanggil bibi agar memindahkan nonanya ke kamar.


Suara decitan mobil di halaman rumah Aksa, dan itu dia orang yang ditunggu sudah pulang. Tuan rumah mesti ngerti ya apa yang harus dilakukan.


Tapi, apa?


Dicuekin begitu aja. Ditinggal ke kamar dan malah buang muka lagi, aduh nggak tahan mereka juga.


“Maaf, perhatian untuk pak Sudrajat, silakan bapak menghadap ke tuan di ruang kerjanya!” Pak Sudrajat dengan tatapan bingung, mengarah ke tangan kanan si Aksa itu yang memanggilnya.


“Ekhem, silakan!”


“Baik, ya saya siap.” Temannya menepuk pundak pak Sudrajat itu, SABAR DAN TENANG! Itu kunci mereka, jika tidak mereka akan terus-terusan diinterogasi oleh Aksa.


Berbeda, cukup jauh berbeda peraturan di rumah ini. Ingin mereka ganti, agar sadar itu bos mereka.


Anin yang enaknya tidur, ia pun terbangun secara tiba-tiba.


“Lah, kok gue tidur di sini?” ia menanyakan dengan sendirinya.


“Em, bentar! Itu ‘kan tas kerjanya mas Aksa. Berarti udah pulang dong?” Dengan senang hati, ia langsung meluncur ke kamarnya yang ada di sebelah sana.


“Loh kok kopernya masih di sini sih? Akh, sialan. Anjing lu mah, gue mau ketemu sama mas Aksa, malah disediain ginian.” Banyak sekali yang ia ucapkan, jika ia ketauan ngomong begini bisa di gunting beneran nih sama Aksa.


“Oke, bentar aku mau smedi dulu... Akh, sama aja.” Ia malah tidak fokus, dan bentar ini tanggal berapa bund? Kenapa ia marah-marah seperti orang kesetanan gitu, apa dia PMS? Oke, dicek di kamar mandi. Enyahlah pikirannya untuk suaminya itu, sekarang ia mau ngecek dulu.


“Benar, udah sekarang ganti aja...” Anin melangkah ke lemari yang ada di kamar mandi, dimana ia tidak melihat barang yang seharusnya disediain.


Tapi tidak ada. Membagongkan sekali hari ini, jenuh iya. Marah, iya. Moodnya seketika hancur.


“Gimana mau ngomongnya?”


Dia ngomong sama kaca, dan apakah kaca itu benda mati akan berbicara. Engga mungkin ‘kan, pertanyaan yang tak perlu dijawab.


Anin melangkah keluar dari kamar mandi, pandangannya beredar kemana-mana. Mencari posisi Aksa di kamar sepertinya tidak ada, apa di ruang kerjanya.


Sekarang mendarat ke sana.


...Bersambung... ...


Kalau nggak nge-feel moon maap. Ya udah, kalau mau ini ya boleh di like sama komen🤗.

__ADS_1


Makasih ❤️


__ADS_2