
“Iya sebentar...” Putri membukakan pintu rumahnya, dan di sana mamahnya membawa beberapa belanjaan.
Ambruk seketika, deru napas sangat kentara.
“Mamah habis ngapain? Garuk cangkul sampai satu hektare gitu?” Mamahnya langsung menoyor kepala anaknya.
“Ya enggak lah, enak aja kalau ngomong. Udah nih, mamah sekalian belanja tadi nggak tau terima kasih aja. Mamah capek, mau minum.” Putri menatap mamahnya dari atas sampai bawah.
“Mah, papah kemana?”
“Papah mu lagi di London.” Jawabnya singkat dengan menegak minuman yang mamah ambil dari kulkas.
“Loh, bukannya kemarin ‘kan masih ini yah marah-marah sama mamah?”
Mamahnya bingung ingin menjawab apa, dan hanya menggaruk tangannya.
“Kok kamu tau?”
“Yaelah mah, papah itu biasanya gitu kalau ada masalah pesti nggak ada namanya kelewatan untuk adu mulut sama mamah. Pesti papah marah masihan sama mamah?” Yap benar perkataan Putri ini, kini Putri membongkar belanjaan yang ada di dalam kardus.
“Udahlah mamah mending di sini aja... Nemenin aku, di rumah sepi amat tiap siang. Mamah emangnya nggak sepi apa? Di sana, tanpa ada papah gitu?” Putri mengambil beberapa wadah untuk mewadahi sayuran dan ia masukkan ke dalam kulkas.
“Maaf non, nyonya... Itu di luar ada tamu non,” Ucap bibi yang memberitahukan mereka, dan mereka bingung. Siapa yang datang?
Kok perasaannya masih menyatu dengan gemeteran sendiri badan.
“Siapa ya mah?”
“Udahlah jangan ditemuin nanti takutnya---!” Suara mengejutkan membuat mereka menoleh dimana sumber kebisingan berasal.
“Salah orang sepertinya...” Mereka pun bernapas lega dengan penuturan satpamnya.
Dan kembali masuk ke rumah.
“Suamimu pulang nggak nanti? Biar sekalian masak aja,”
“Iya. Nanti dia pulang dari Solo sana, entah ngapain. Aku pun nggak tanya sama dia, dia sik cuman ngomong gini aku mau ke Solo, kamu ikut nggak? Aku jawab nggak, ya udah. Gitu aja, singkat, padat dan jelas.” Mamah hanya menggelengkan kepalanya.
***
Anin di rumah sakit, remang-remang tatapannya. Burem sekali, apa yang terjadi? Kok suaminya tidur di sampingnya dan infus. Benar, jika dirinya dirawat di rumah sakit.
“Aws,” Ia memijat pelipisnya yang sedikit pusing.
Tidur Aksa merasa terganggu, dan ia mengerjapkan matanya.
“Kamu udah sadar?”
“Hm, iya. Aku udah sadar, tolong ambilin minum!”
Aksa mengangguk, dan ia mengambilkan Anin minum. Ia membantunya untuk memegang gelas tersebut. “Aku kok bisa ada di sini,”
“Iya, tadi kamu katanya dokter kena tipes dan harus dirawat beberapa hari ke depan, untuk melihat perkembangan kamu.” Jawab Aksa, Aksa pun meletakkan gelasnya.
__ADS_1
“Mau makan?”
“Nggak, aku maunya kamu di sini.” Aksa menoel pipi Anin, dan ada suara ketukan pintu, Pakde dan Bude masuk ke dalam ruang VVIP ini.
“Nak, ya Allah... Kok kamu bisa kena tipes gini, ini mesti ada apa-apa.” Sembarangan, batin Anin. Bude pun menerjang pelukannya dan Anin sesek dadanya, serasa ada yang menghantam. Tapi, ia tahan. Tetap tersenyum, dan Aksa memilih untuk mundur ke sofa yang masih satu ruangan.
“Kamu berantem sama Aksa? Hm,”
“Jangan su’udzon dulu napa Bude!” Desis Anin, ia malu jika Bude nya tetap macam-macam seperti ini. Membuatnya risih, dan tidak tenang rasanya.
“Ini makan dulu nak! Tadi, pakde mampir ke rumah makan padang. Terus beli nasi padang deh, mau nggak?” Pakde menawarkan kotak nasi padang itu, dan Aksa menerimanya dengan baik.
“Makasih sebelumnya Pakde.” Pakde mengangguk, ia pun memakannya dan gimana caranya makan, adakah sendok untuk makannya. Ini dibungkus kertas nasi, ia apa harus makan dicomot. Nggak mungkin itu bisa terjadi, sedari kecil dirinya sudah terbiasa untuk makan dengan sendok.
“Em, pakde sama bude mau keluar dulu. Ada urusan yang belum diselesaikan,” Mereka mengangguk dan untung saja pakde sama bude nya Anin keluar, jika tidak ia akan malu.
“Ini gimana makannya?” Anin pun melirik suaminya, tertawa pelan.
“Sini aku suapin, kalau nggak ada sendok.” Sahut Anin, ia bersedia tapi sebaliknya. Apakah mau Aksa makan dengan tangan istrinya.
“Kamu lagi sakit, nggak usah. Kayaknya tadi di makanan kamu ada sendoknya, boleh pinjam?” Anin mengangguk, memegangi perutnya hampir saja suara tawanya akan menggelegar kemana-mana.
***
Setelah makan, Aksa duduk di sofa, mengalihkan pandangannya ke handphone. Tidak melihat istrinya yang sedang kesusahan untuk bangun.
“Tolongin aku mas, ish... Pingin gue cokel itu mata, udah tau istrinya lgi kesulitan gini.” Ucapnya sambil meremat selimut rumah sakit, huh.
“Mas...” Aksa menoleh, ketika istrinya yang berupaya menahan senyumannya.
“Ke kamar mandi,” Gelagapan sendiri, Aksa pun dengan cepat membantu Anin.
“Ngapain sih nggak ngomong?”
Anin mencubit tangan suaminya, “enak aja kalau ngomong.”
Sampai di kamar mandi, Aksa menutup pintunya.
“Sudah apa belum?” Ia menunggui istrinya di depan pintu kamar mandi, dan Anin berdecak.
“Ish, kamu nih. Aku mau ini, tapi kesusahan. Tolong lah,” Aksa meneguk ludah. Mana si Bude nya belum kembali lagi ke ruangan Anin. Tapi, kasian jika istrinya menahan kencingnya.
“Udah...” Lega sudah, akhirnya istrinya berjuang dengan sendirinya. Dan Aksa membantu Anin untuk kembali ke ranjangnya.
“Kamu itu jangan terlalu fokus sama kerjaan, mas!” Anin menghela napas panjang, Aksa memegang pipi Anin dan mengecupnya.
“Tidak berdosa sekali kamu, mas?” Anin memilih untuk mengalihkan pandangannya, Aksa terkikik, ia ingin sekali menggigit pipi istrinya yang sudah memerah begitu.
“Udah ah, jangan di sini! Malu,”
“Sama istri sendiri boleh dong, kan kita udah sahabat di mata negara maupun agama. Kenapa malu sih? Kita nggak dosa kali,” Ucap Aksa dengan panjang.
“Aku nggak mau, tetap saja malu mas...” Pinta Anin, Aksa mengangguk.
__ADS_1
“Iya, oke fine. Sebaiknya kamu tidur, aku juga akan tidur dong samping kamu.” Aksa mengusap rambut Anin, lalu menciumnya dengan bau yang begitu membuatnya mabuk terpana. Ahahh, sabar kuncinya.
Anin pun naik ke atas ranjang, dan menidurkan tubuhnya.
“Terima kasih,” Hanya dibalas anggukan kepala.
***
Rifa'i melakukan perjalanan pulang, ia rindu istrinya dan ia di dalam mobil mengelu-elukan nama istrinya. Tiba-tiba pusing kembali menyerangnya, ia menepikan mobilnya.
“Em, kenapa ya?”
Akhir-akhir ini memang dirinya disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Dan sekarang ia pulang dengan sendirinya, tanpa ada sopir yang menyopiri di depan. Padahal, biasanya ia membawa sopir untuk menemaninya jika melakukan perjalanan jauh, di luar kota.
Ia pun membuka plastik yang berisi obatnya yang selama ini ia simpan untuk mencegah pusingnya yang semakin menjadi terkadang, akhir-akhir ini dirinya memang terlalu lelah untuk menangani sebuah proyek. Dimana setiap malam, ia kurang istirahat.
“Lanjut sekarang! Sebentar lagi sampai,” ia menghela napas dan membuangnya.
Melanjutkan perjalanan kembali sampai ke rumahnya, ia lupa jika harus membelikan martabak yang ada di pertigaan yang sebelah pasar tradisional.
“Sudahlah, ini malam. Mana mungkin Putri akan marah.” Ia sempat berpikir jika istrinya ngambek, itu membuatnya kebingungan sampai kalut. Memang Putri marahnya luar biasa, ia bisa mendiamkan suaminya itu selama satu minggu.
***
Sampai di rumah, rumah masih ada pencahayaan, apa belum tidur istrinya. Ia mengklakson mobilnya, untuk satpam rumah membukakan pintu gerbang, satpamnya pun tergesa-gesa membukakan pintu gerbangnya dan terbukalah lebar.
Di halaman rumah, ia pun memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Memastikan sebelumnya aman atau tidak, ia memberesi tasnya dan tak lupa ia masukkan plastik obatnya. Jangan sampai Putri tau dengan adanya obat ini.
“Pak, ini kuncinya.” Ia menyerahkan kunci mobil, dan menggeret kopernya.
Rifa’i berjalan ke pintu samping rumah, ia memiliki kunci pintu cadangan.
“Hm, belum tidur rupanya.” Ia memijat pelipisnya, pening sekali melihat penerangan rumah yang masih terang benderang.
“Loh mamah...” Ia membatin, kenapa si mertua sudah ada di sini?
“Oke, mungkin mamah lagi main aja. Kesepian di rumah, karena nggak ada teman.” Ucapnya dengan bergumam kecil, dan ia pun memunculkan wajahnya.
“Hai Mas, udah pulang kamu?”
“Iya, mah... Udah ke sini aja, baru kemarin padahal.” Ujarnya dengan menyalami mertuanya.
“Hem, mamah ke sini cuman kesepian aja. Gimana pekerjaan?” Rifa’i mengangguk, dan Putri melepaskan jaket yang masih menempel di tubuh Rifa’i.
“Aman, papah emangnya kemana mah?”
“Em, di London. Ada urusan, kamu agak pucet kenapa?” tanya mamahnya.
“Mungkin kena angin malam mah,” Sahut Putri.
“Anu, aku mau mandi dulu. Mah, mamah tidur aja nggak baik kalau mamah nggak tidur.” Ucap Rifa’i dan mamahnya mengangguk, mamah pun beralih pergi dari pandangan mereka.
“Nggak ada masalah ‘kan mas?”
__ADS_1
“Nggak, aku mau mandiri dulu.” Putri mengangguk, dan membuntuti suaminya dari belakang.
Bersambung...